
Persiapan pernikahan sudah tujuh puluh lima persen. Iyan menyerahkan hampir semuanya kepada keluarganya. Dia sudah lelah dengan pekerjaan, sudah tidak ingin lelah dengan hal yang lain. Biarlah pernikahannya sang kakak dan calon mertua yang atur. Iyan akan setuju saja. Tentu saja calon istrinya juga ikut andil.
"Kapan mau nyari cincin?" tanya sang kakak ketika Iyan baru saja menarik kursi di meja makan.
"Setelah pulang kerja kayaknya. Hari ini cukup paday." Echa hanya dapat mengangguk. Dia tahu bagaimana bekerja di WAG grup.
Perihal karyawan julid mereka sudah insaf. Tidak pernah berbicara aneh-aneh lagi sekarang. Dia juga tidak terlalu peduli. Dia bekerja untuk mencari uang bukan mencari pencitraan.
Jam dua belas siang, Iyan memilih untuk merebahkan tubuh di dalam ruangannya. Dia enggan sekali keluar. Makan pun belum berselera. Sebuah pesan masuk membuatnya membuka mata. Dahinya mengkerut ketika melihat video yang dikirimkan oelh Wira.
"Apaan sih?" Ketika dia buka, mulutnya langsung beristighfar. Dia disuguhkan dengan dua manusia polos dengan posisi saling menghisap. Sungguh teman biadab.
"Parah nih. Ijab kabul juga belum. Ngirim-ngirim beginian."
Iyan meletakkan kembali ponselnya. Memejamkan matanya sejenak. Siapa tahu pusing di kepalanya mendadak hilang.
Baru Lima belas menit dia terlelap. Iyan merasakan ada benda kenyal yang menyentuh bibirnya. Dia mencoba membuka mata dan sang calon istri sudah tersenyum nakal.
"Lelah, ya?" Wajah cantik Beeya mampu Iyan lihat. Dia pun menganggukkan kepala. Bekerja ditemani oleh calon istri. Begitulah Iyan sekarang.
Menjelang Maghrib Iyan baru selesai mengerjakan pekerjaannya. Itupun diganggu Beeya karena sedari tadi bibir Beeya tak mau diam. Terus mengajak Iyan beradu mulut. Membuat Iyan semakin tidak fokus. Namun, mampu membuat mood-nya kembali.
"Kalau udah nikah, kita kerja rodi, ya." Iyan mengusap lembut bibir Beeya yang basah. Wanita mungil itu masih berada di pangkuan Iyan.
"Ini bukan zaman penjajahan, Ayang," jawab Beeya. "Mana ada kerja rodi," sanggahnya.
Iyan tertawa. Dia menatap intens wajah sang tunangan. "Aku pasti akan menemukan tempat di mana aku merasa tidak ingin keluar dari tempat itu."
__ADS_1
"Tempat apa?" tanya Beeya penasaran.
"Nanti juga kamu akan tahu, dan bukan hanya aku yang betah di sana. Kamu juga akan merasakan hal yang sama. Bedanya kamu tidak akan pernah ingin melepaskan benda itu." Beeya bingung dengan ucapan Iyan.
"Tau, ah! Aku gak ngerti."
.
Mereka menuju sebuah mall yang terbilang besar. Beeya memilih cincin pernikahan untuknya juga Iyan. Pemuda itu mempercayakan cincin pernikahan kepada calon istrinya. Sedangkan untuk seserahan baru besok rencananya Beeya, Riana dan Echa akan shopping. Tak tanggung-tanggung, mereka akan belanja ke Singapura. Bukan permintaan Beeya, melainkan keinginan dua calon kakak iparnya. Tentu saja tiga keponakan cantik Iyan akan ikut. Sedangkan dua keponakannya yang lain akan diasuh oleh sang Abang ipar.
Iyan membiarkan Beeya memilih cincin mana yang dia mau dan menurutnya bagus. Dia tidak akan pernah komplain. Tangan Iyan yang sedari tadi merengkuh pinggang Beeya membuat wanita itu tersenyum bahagia.
"Ayang, hampir dua ratus juta," ucapnya pada Iyan tentang cincin yang Beeya pilih.
Tanpa banyak bicara, Iyan mengeluarkan kartu hitam yang dia bawa. Karyawan di sana pun hanya menggelengkan kepala. Baru kali ini ada pelanggan yang berani membeli cincin kawin ini.
"Aku pengen istirahat, tapi di rumah kita." Mata Beeya sudah memicing. Dia takut jika ini hanya akal-akalan Iyan saja. Dia takut Iyan akan memaksa membuka segel.
"Jangan modus deh." Kedua alis Iyan menukik. Calon istrinya sungguh tidak peka.
"Kamu lihat gak wajah aku kayak gimana?" Iyan mengarahkan telunjuknya ke arahnya. "Aku capek. Kalau istirahat di rumah gak tenang ada lima keponakan aku. Ditambah empat anak Bang Aska. Itu rumah udah kaya tempat nongkrong. Berisik!" Beeya pun tertawa.
"Mana si Bala-bala cerewet banget. Pusing aku," keluh Iya lagi.
Akhirnya dia menyetujui apa yang Iyan inginkan. Dia juga kasihan kepada calon suaminya ini yang benar-benar kerja bagai kuda demi pernikahan mereka. Beeya menggandeng tangan Iyan dan memilih keluar dari mall tersebut.
"Gak mau makan dulu?"
__ADS_1
"Aku ingin nasi goreng pinggir jalan." Iyan tersenyum dan mengecup ujung kepala Beeya ketika berada di eskalator.
Beeya memesan apa yang dia inginkan ketika berada di tukang nasi goreng. Sedangkan Iyan hanya ingin memakan mie goreng saja. Terlihat Iyan l tak berselera membuat Beeya harus menyuapi Iyan agar mau makan.
"Makan dong, Yang." Beeya sudah menatap Iyan. Dia meraih piring yang ada di hadapan Iyan. Kemudian, mulai menyuapinya.
"Jangan sampai sakit loh. Pernikahan kita tinggal menghitung hari." Tak segan Beeya memberikan kecupan singkat di bibir Iyan.
Mereka sudah tiba di rumah baru mereka. Rumah yang tidak terlalu besar, tapi memiliki desain yang luar biasa bagusnya. Iyan membawa Beeya ke kamar utama dan dia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur. Beeya hanya tersenyum. Rumah yang nantinya akan diisi oleh mereka berdua terasa sangat nyaman dan sejuk.
"Ya ampun," Beeya tak percaya ketika menoleh ke arah tempat tidur. Calon suaminya sudah terlelap dengan begitu damai. Terlihat betapa lelahnya wajah Iyan.
"Kamu sudah sangat bekerja keras, Ayang." Usapan lembut Beeya berikan di rambut Iyan. Pria itu semakin nyaman dan semakin nyenyak. Sebuah kecupan Beeya berikan di kening Iyan.
Beeya tidak menyangka jikalau Iyan menjadi pria yang sangat bertanggung jawab seperti ini. Pria pekerja keras tanpa pernah peduli dari mana dia berasal. Beeya juga sangat bangga karena Iyan bukanlah anak penikmat harta orang tua. Juga tidak mengandalkan kedua kakaknya walaupun kedua kakaknya bukan orang biasa. Begitu juga dengan dua iparnya yang sudah terkenal di dunia perbisnisan juga kesehatan.
Beeya tidak ingin mengganggu sang calon suami. Dia memilih menjauh dan duduk di sofa. Meraih iMac yang ada di meja. Beeya membuka iMac tersebut dan melihat folder yang tersimpan di sana. Ternyata itu bukan untuk kerja, melainkan untuk pribadi. Hanya ada foto keluarga Iyan di sana. Ada juga foto Iyan dengan dirinya dari dia kecil hingga saat ini.
"Sungguh manisnya dirimu, Ayang." Lengkungan senyum terukir di wajahnya. Namun, dia melihat ada satu folder yang dinamai aneh. TUTORIAL, itulah nama foldernya. Jiwa kedetektifan Beeya muncul. Tak ragu dia membuka folder tersebut. Banyak video yang ada do folder itu.
"Nyimpen video apaan sih." Beeya sangat penasaran. Akhirnya dia buka video tersebut. Mata Beeya melebar ketika melihat video tersebut.
"Ah ... ahh ... emm ... emm ... aw!"
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1