
Jika, kemarahan sudah menguasai hati Iyan. Tidak akan ada yang bisa mengendalikan kemarahan itu, kecuali ayahnya. Iyan akan menjelma bagai monster yang menyeramkan. Tubuhnya seperti orang kesetanan jika sudah marah. Aura kemarahannya memancing para teman-temannya yang tak kasat mata masuk ke dalam tubuh pemuda itu.
Iyan memejamkan matanya sejenak dan menghembuskan napas kasar. Dia menghampiri Beeya yang tengah terlelap.
"Aku tidak rela kamu disentuh oleh laki-laki manapun, termasuk Raffa."
Iyan menatap lekat wajah Beeya di depannya. Tangannya mengusap lembut kepala Beeya dengan sorot mata penuh kesedihan. Kini, Iyan menelisik setiap inchi wajah Beeya. Jarinya mulai mengusap lembut pipi Beeya, semakin turun dan kini ibu jarinya ada di bibir mungil Beeya yang berwana pink. Ada kemarahan di wajah Iyan ketika menyentuh benda yang kata orang itu sangat manis rasanya.
Wajahnya mulai Iyan dekatkan dan kini bibirnya pun menyentuh bibir Beeya dengan cukup lama. Mata Iyan terpejam seakan dia tengah menghapus memori tidak mengenakan di kepala Beeya.
"Aku akan membersihkan segala kenangan buruk antara kamu dan si berengsek itu."
Iyan mengecup kembali bibir Beeya. Benar kata orang sangat manis dan seakan tak mau lepas dari benda mungil itu.
Merasa sedikit terganggu, Beeya membuka matanya dan dia melihat dengan jarak sangat dekat wajah Iyan. Iyan pun menyadari terjaganya Beeya. Mulut Beeya terbuka sedikit, terkejut atau memang ingin membalas kecupan itu.
Iyan sesap dengan lembut dengan tangan yang sudah mengusap lembut kepala Beeya. Tidak ada penolakan dari perempuan itu.
Pagutan itu Iyan lepaskan. Mata mereka saling pandang. Tak Beeya
sangka Iyan mengecup keningnya sangat dalam hingga dia merasakan kenyamanan yang tak bisa diungkapkan.
"Istirahat lagi, ya." Beeya mengangguk dan dia memejamkan matanya kembali. Namun, dengan tangan yang sudah menggenggam tangan Iyan.
Semalaman ini Iyan tidak menutup matanya sama sekali. Pandangannya hanya tertuju pada sosok wanita yang ada di sampingnya. Tangan Iyan pun terus membelai lembut ujung kepala Beeya.
Pagi menjelang, perlahan mata Beeya terbuka. Dia tersenyum ketika melihat Iyan ada disampingnya.
"Udah bangun?"
"Aku gak tidur semalaman." Jawaban Iyan membuat Beeya melebarkan mata. "Aku takut terjadi apa-apa sama kamu."
Hati Beeya terenyuh mendengar ucapan tulus dari Iyan. Perempuan itu menarik tangan Iyan agar merebahkan tubuh sejajar dengannya. Mereka berdua saling berhadapan tanpa ada yang berbicara satupun.
__ADS_1
"Sekarang kamu tidur, ya." Tangan Beeya mengusap lembut pipi Iyan. Pemuda itu tidak menjawab apapun.
Sebuah kecupan Beeya berikan di kening Iyan sangat dalam. Mata Iyan pun terpejam untuk sejenak. Beeya tersenyum manis ke arahnya.
"Tidur, ya. Nanti kamu sakit."
Iyan membenamkan wajahnya tepat di atas dada Beeya. Mencari tempat yang hangat dan juga nyaman. Jika, bersama Iyan seolah tubuhnya tak bisa menolak. Apapun yang Iyan lakukan akan membuat Beeya bahagia dan kembali ceria.
.
Turun seorang diri ke lantai bawah membuat kedua orang tua Beeya serta Arina menukikkan kedua alis mereka.
"Iyan mana?" tanya Arya.
"Dia baru aja tidur," jawab Beeya. "Semalaman dia terjaga, takut Bee kenapa-kenapa."
Ketiga orang dewasa itupun terdiam mendengar ucapan Beeya. Pemuda itu sungguh luar biasa dalam menjaga Beeya. Jika, keadaan Beeya sudah membaik seperti ini mereka tidak akan menanyakan perihal yang semalam. Beeya seperti memiliki dua kepribadian saat ini. Bisa biasa saja dan tiba-tiba bisa histeris tanpa sebab.
Sepiring nasi goreng lengkap sudah jadi. Beeya sudah meletakkannya di atas piring. Kemudian, dia menutupnya dengan plastik makanan. Dibawanya ke kamar atas dan Iyan masih terlelap dengan begitu damai.
Beeya naik ke atas tempat tidur dan dia tersenyum melihat pemuda yang sangat tampan tengah terpejam.
"Calon suami kecilku sekarang semakin tampan," gumamnya seraya tersenyum.
Beeya melihat ponsel Iyan di atas nakas. Dia segera meraihnya. Apa password ponselnya masih sama seperti dulu? Beeya pun meraihnya dan dia ketikkan angka yang pernah dia ketahui dulu. Lengkungan senyum terukir di wajahnya.
"Anak ini," gumamnya seraya tersenyum sangat lebar.
Mata Beeya melebar ketika melihat wallpaper ponsel Iyan. Fotonya bersama Iyan yang tengah tertawa lepas. Pikirannya seakan flashback. Mereka banyak sekali memiliki kenangan bersama. Hanya karena satu orang, hubungan mereka mulai merenggang dan semakin menjauh. Dulu, mereka sedekat Desember ke Januari. Namun, sekarang mereka bagai Januari ke Desember.
"Maafkan aku, Yan." Beeya menyesali semuanya.
Kini, dia menatap wajah Iyan dengan raut penuh bersalah. Tanpa Beeya sadari, mata Iyan mulai terbuka dengan pelan. Tangan Iyan sudah mengusap lembut wajah Beeya yang terlihat sendu.
__ADS_1
"Maaf," ucapnya pelan.
Iyan menggelang dan menarik tangan Beeya ke atas tubuhnya. "Kamu tidak salah. Hanya kita yang dijebak oleh manusia berengsekk."
Beeya mulai bangkit dari tubuh Iyan. Dia mengambil piring berisi makanan yang sudah dia masak.
"Aku masak buat kamu." Wajah Beeya terlihat sangat cerah. Iyan membalasnya dengan senyuman indah.
Beeya sudah duduk di samping tempat tidur dengan mamangku piring berisi nasi goreng. Iyan pun sudah bersandar di kepala ranjang.
Tangan Beeya sudah menyendokkan nasi goreng dan akan menyuapi Iyan. Bukannya membuka mulut, Iyan malah meletakkan sendok yang sudah Beeya arahkan ke mulutnya. Tangannya menarik dagu Beeya dan mulai mengarahkan bibirnya ke bibir mungil perempuan lima tahun lebih tua darinya.
Bersatu dan memagut. Menyesapp bibir itu dengan sangat lembut dan membuat Beeya yang awalnya pasif kini malah mampu membalas sentuhan hangat bibir Iyan.
Iyan seakan tengah menghilangkan bekas jejak si berengsekk yang membuat Beeya berteriak ketakutan. Dia benar-benar ingin membuat Beeya memiliki kenangan baru dan melupakan kenangan lamanya yang membuatnya dilanda trauma yang yang tak berkesudahan.
Napas mereka semakin menipis, bibir mereka pun mulai menjauh. Namun, pandangan mereka masih saling terkunci. Kini, Beeya yang mulai mendekatkan wajahnya. Menyesapp bibir Iyan dengan begitu lembut membuat Iyan sedikit terkejut. Akan tetapi, dia mulai menikmati apa yang dilakukan oleh Beeya. Rasanya sangat berbeda ketika Beeya sedikit memaksanya sewaktu SMP.
Sapuan lembut saling memagut mereka berikan dan membuat mereka semakin nyaman. Tangan Beeya pun sudah melingkar di leher Iyan, begitu juga dengan Iyan yang sudah mengusap lembut punggung Beeya.
Mereka seakan tengah mentransfer energi baru di pagi hari. Sarapan nikmat yang membuat Iyan maupun Beeya tak ingin menyudahinya. Perut mereka seakan tidak pernah kenyang dengan sarapan seperti itu.
Iyan dan Beeya pun menyudahinya dan mereka berdua masih saling pandang. Lengkungan senyum terukir di wajah Iyan dan menular kepada Beeya.
"Aku akan menggantikan kenangan buruk yang pernah menghampirimu dengan kenangan manis yang akan selalu membuatmu selalu tersenyum ketika mengingatnya."
Beeya berhambur memeluk tubuh Iyan dengan begitu erat, membuat sudut bibir Iyan terangkat dengan sempurna.
"I love you, Abeeya Bhaskara."
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1