
Kehilangan ayahnya bagai mimpi buruk bagi Iyan. Itu sangat menyakitkan, membuatnya tidak mau menjauh sedikitpun dari jasad ayahnya.
Mobil jenazah sudah mengantarkan Rion ke rumahnya. Mendiang akan disemayamkan terlebih dahulu di rumahnya. Dimandikan di rumahnya, dan disolatkan di masjid komplek. Masih menunggu keluarga juga kerabat yang lain.
Sedari tadi Iyan hanya memandangi wajah ayahnya dengan sorot mata penuh kepiluan. Echa yang tak hentinya tak sadarkan diri dan Riana yang terus menitikan air mata seakan air matanya tak pernah surut.
"Yan."
Usapan lembut, tepukan pelan pun tak terasa pada tubuh Iyan. Tubuhnya seakan sudah mati rasa. Air matanya tak tumpah, tapi hatinya sangat hancur berantakan. Dunianya seakan berhenti berputar.
"Terlalu sakit, Ayah. Kenapa Ayah tak menunggu Iyan? Kenapa Ayah pergi dengan sangat cepat?"
Hanya pertanyaan itu yang terus memutari hatinya. Sedih jangan ditanya. Perih sudah pasti. Iyan merasakan itu semua.
"Aa!"
Suara sang Tante membuat suasana kembali haru biru. Nisha baru saja tiba dan segera berhambur memeluk jasad Rion dengan sangat erat.
"A, aku nanti siapa? Kenapa Aa tega ninggalin aku sendirian di sini? Kenapa, A?"
Nisha melihat kearah seberangnya. Di sana ada keponakannya yang hanya terdiam masih menatap wajah ayahnya.
"Iyan," panggil Nisha.
Pemuda itu menoleh, dia tersenyum perih. "Ini hanya mimpi, Tante."
Semua orang pun menangis kembali mendengar ucapan Iyan yang begitu lirih. Riana menghampiri Iyan dan memeluk tubuhnya.
"Ikhlaskan Ayah, Yan."
"Kenapa hanya Kak Ri yang melihat kepergian Ayah?" Iyan bertanya tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun dari ayahnya.
"Kakak tidak melihatnya, tetapi Kakak hanya mengantarkan Ayah ke rumah sakit. Kakak tidak tahu seperti apa Ayah menghembuskan napas terakhirnya." Riana berucap dengan suara yang sangat bergetar dan berat.
"Ayah pasti kesakitan. Ayah pasti menginginkan kita ada di sampingnya. Ayah-"
Tangis Iyan pun pecah. Riana memeluk tubuh adiknya yang bergetar hebat. Pertahanan Iyan runtuh seketika. Air matanya membanjiri wajah tampannya.
Echa yang sedari tadi hanya terkulai lemah meminta kepada suaminya untuk membawanya kepada Iyan. Echa memeluk tubuh adiknya dengan sangat erat.
"Andai Kakak bisa mengulang waktu, Kakak tidak akan pergi ke kantor. Lebih baik Kakak menemani detik-detik terakhir Ayah." Suara Echa sudah serak. Dia terlalu lama menangisi pria yang menjadi cinta pertamanya.
__ADS_1
"Kita harus kuat walaupun Ayah telah pergi. Kita harus tetap akur walaupun Ayah sudah tidak ada lagi bersama kita. Kamu, kamu adalah penjaga Kakak dan juga Kak Ri." Echa masih mencoba menguatkan Iyan sedangkan hatinya pun masih sangat teramat sakit. Sangat sulit menerima kenyataan pahit.
Tiba sudah Rion dimandikan. Iyan yang setia mendampingi ayahnya. Wajah pucat ayahnya, tubuh kaku ayahnya membuat hati Iyan hancur berkeping-keping.
Setiap air mengalir yang membasahi tubuh ayahnya air matanya ikut mengalir dengan begitu deras. Dia seperti kehilangan arah untuk saat ini. Dia seperti tidak memiliki pegangan. Dia terombang-ambing dalam lautan duka yang entah kapan akan menghilangnya.
"Ayah, apa Iyan akan kuat menghadapi dunia yang kata orang kejam ini? Apa Iyan akan mampu menjadi sosok pria pelindung untuk Kak Echa dan juga Kak Ri."
Setelah dimandikan, jenazah pun dikafani. Hati ketiga anak Rion sangat sakit melihatnya.
"Sebelum ditutup, silahkan anak-anak almarhum jika ingin mencium ayah kalian untuk terakhir kalinya. Namun, dengan satu catatan. Jangan sampai menitikan air mata."
Anak pertama, Echa yang mencium kening ayahnya untuk terakhir kalinya. Echa memejamkan matanya menghayati sentuhan bibirnya di kening ayahnya yang tidak akan pernah bisa dia ulang lagi.
"Selamat jalan, Ayah. Surga pasti tempat Ayah. Echa yakin itu."
Dirasa air matanya hendak menetes, Echa segera menjauhkan bibirnya dan kembali berdiri. Kembali memeluk tubuh suaminya.
Riana, dialah orang kedua yang akan mencium kening sang ayahanda tercinta. Hatinya bergejolak tak karuhan.
"Ri, akan merindukan Ayah. Khusnul khatimah Ayah. Tunggu Ri di surganya Allah."
Kini, anak bungsu Rion yang mencium kening jasad ayahnya sebelum dikebumikan. Sekelebat bayangan masa lalu berputar di kepala Iyan.
"Bertahan, Nak. Bertahanlah."
"Tenanglah di sana, Ayah. Meskipun berat, Iyan harus bisa menerimanya. Terima kasih atas segala kasih sayang yang Ayah berikan kepada Iyan. Iyan sayang Ayah dan selamanya akan menyayangi Ayah. Datanglah ke mimpi Iyan, Ayah. Hanya itu yang mampu mengobati rasa rindu Iyan kepada Ayah."
Mobil jenazah pun menuju sebuah pemakaman elite di negeri ini. Semuanya sengaja Echa dan Riana persembahkan untuk ayah tercinta. Pria yang sudah mengajarkan mereka banyak hal. Memberikan kasih sayang yang tulus dan tak terhingga kepada mereka.
Kasih sayang orang tua sepanjang masa sedangkan kasih sayang anak kepada orang tua hanya sepanjang galah. Hanya dengan cara itu yang mampu Echa dan Riana lakukan. Tak tanggung-tanggung satu petak pemakaman saja bisa mencapai ratusan juta bahkan milyaran rupiah. Namun, itu tak masalah. Kasih sayang ayahnya tak bisa dibalas dengan uang.
Jenazah pun sudah diturunkan. Iyan meminta untuk mengadzani ayahnya. Tangis keluarga pun pecah kembali. Adzan yang sangat menyayat hati di telinga keluarga.
Kini, di depan keluarga serta kerabat yang mengantar Rion ke tempat peristirahatan terakhir, hanya ada gundukan tanah yang masih basah. Hanya ada foto mendiang ayahnya yang tengah tersenyum.
Echa menyiramkan air mawar di pusara sang ayah. Riana menaburkan bunga juga Iyan yang masih mengusap nisan ayahnya dengan raut kesedihan yang mendalam.
"Ini semua seperti mimpi."
Batin Iyan berkata. Matanya hanya bisa menatap kosong ke arah foto sang ayah. Belum ada lima menit tubuh ayahnya ditimbun dengan tanah.
__ADS_1
Usapan lembut di pundaknya tak membuat Iyan menoleh. "Yang sabar ya, Yan." Tidak ada jawaban dari pria itu hingga tangan itu memeluk tubuh Iyan dari samping. "Ayah sudah bahagia di sana."
"Aku belum siap kehilangan Ayah aku, Kak Bee." Iyan menangis dan meletakkan kepalanya di bahu sempit Beeya. Arya yang menyaksikan kepedihan Iyan hanya dapat menyeka ujung matanya. Anak yang sangat malang. Anak yang masih membutuhkan kasih sayang ayahnya, kini malah ditinggal untuk selama-lamanya.
🎶
Kemarin engkau masih ada di sini
Bersamaku menikmati rasa ini
Berharap semua takkan pernah berakhir
Bersamamu ... Bersamamu
Kemarin dunia terlihat sangat indah
Dan denganmu merasakan ini semua
Melewati hitam-putih hidup ini
Bersamamu ... Bersamamu
Kini sendiri di sini
Mencarimu tak tahu di mana
S'moga tenang kau di sana
Selamanya
Aku s'lalu mengingatmu
Doakanmu setiap malamku
S'moga tenang kau di sana
Selamanya
Song by. Seventeen-Kemarin
...****************...
__ADS_1
Komen dong ....