
"Ay, pulang sekarang. Aleesa ngamuk dan tangannya gak mau lepas dari rambut Anggie."
"Biarkan ajalah, Yang. Botak kayaknya lebih bagus." Jika sudah begini menandakan Radit sudah tidak respect lagi terhadap seseorang.
Pada akhirnya Iyan ikut pulang bersama Radit dan motornya dia tinggal di kantor sang Abang. Dua laki-laki ini sebenarnya sudah enggan dan malas. Namun, pekikan suara Echa mampu membuat dua laki-laki ini pulang.
Tibanya di rumah suara Aleesa sudah menggema. "Lu tahu itu barang kesayangan gua. Kenapa lu pecahin?" Wajah Aleesa sudah merah padam.
"Kakak Sa, Anggie tadi bilang dia gak sengaja. Lepasin, Nak."
"Bubu boleh baik sama wanita ini." Tangan Aleesa semakin kuat mencengkeram rambut Anggie hingga dia mengaduh dengan kencang. "Tapi, tidak dengan Kakak Sa."
Sebuah kotak kaca kecil yang didalamnya berisi air juga terdapat foto Aleesa dan Yansen.
"Kakak Sa," panggil sang ayah. Mata Aleesa sudah nanar dan air mata menganak di pelupuk matanya.
"Dia terlalu jahat, Ba. Kakak Sa ingin membunuhnya." Tangan Aleesa sudah beralih ke leher Anggie dan mencekik leher wanita yang tengah hamil tersebut.
"Kakak Sa, jangan!" teriak semua orang.
Radit dan Echa sudah menarik tubuh Aleesa sedangkan Iyan hanya menontonnya saja. Aleesa sama seperti dirinya, jika sudah marah semua makhluk yang menemaninya akan masuk ke dalam tubuhnya.
Akhirnya, tangan Aleesa pun bisa dilepaskan dan Anggie terbatuk-batuk. Aleeya segera memberikan mug berisi air kepada Anggie. Dia segera menyambar mug tersebut dan segera meminumnya. Seketika dia segera membuka mulutnya dengan tangan mengipas-ngipas lidahnya.
"Panas!"
Aleeya tertawa dan menatap tajam ke arah Anggie. "Harusnya lu disiram air panas," ejeknya.
Radit memeluk tubuh Aleesa. Dia menenangkan tubuh putrinya tersebut. Detak jantung putri keduanya sangatlah cepat menandakan dia memang tengah marah besar.
"Tenang ya, Kakak Sa."
"Kenapa harus ada dia di sini? Kenapa Baba gak usir wanita itu?"
Echa tersentak mendengar ucapan dari Aleesa. Sungguh putrinya sangat membenci Anggie.
"Kak." Anggie sudah memasang wajah terluka agar Echa iba.
Radit tahu Echa akan melakukan apa, tetapi gelengan kepala pelan dari Radit membuat Echa mengurungkan niatnya. Kini, Echa menatap ke arah Aleesa. Hanya seulas senyum yang Radit berikan.
Malam ini Anggie menang, Aleesa sudah dibawa ke kamarnya dan Anggie masih berada di rumah megah itu. Kini, hanya Anggie dan Iyan yang tengah saling pandang.
Tiba-tiba tubuh Anggie terkulai ke lantai. Iyan tidak langsung meraihnya karena di sampingnya ada Jojo. Dia mengatakan bahwa Anggie hanya berpura-pura. Namun, dia teringat akan rencana Radit tadi.
"Oke, mulai dari sini."
Iyan seperti memberikan angin segar kepada Anggie. Dia membawa tubuh Anggie ke dalam kamarnya. Namun, dia melihat sekelebat bayangan wajah tanpa lubang hidung juga bola mata yang hanya ada satu. Dahinya mengkerut. Namun, dia tidak ingin berlama-lama. Dia meletakkan tubuh Anggie di kasur miliknya. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Ketika Iyan hendak pergi, tangannya dicekal oleh Anggie.
"Temani aku di sini."
__ADS_1
Bukannya Iyan yang marah, melainkan Jojo. Dia memegang perut Anggie, seketika Anggie pun terpejam.
"Boleh gak sih aku bawa mati nih orang." Iyan tertawa mendengar celetukan Jojo.
Iyan pun memilih membersihkan tubuhnya di keran luar rumah. Bekas tubuh Anggie seperti najis berat yang menempel pada tubuhnya.
"Wanita itu sengaja membuat kegaduhan karena sedari tadi Aleesa selalu bersikap nyalang kepadanya." Jojo mulai menjelaskan.
"Dia juga sengaja memancing emosi kakakmu karena dia merasa bahwa dia akan dibela oleh kakak kamu. Namun, itu tidak seperti yang diharapkan."
"Maksudnya?" Kini Iyan menatap sahabatnya itu.
"Kakak kamu malah diam saja." Jojo dan Iyan pun tertawa.
"Hati-hati dengan wanita itu, Yan."
Suara berat menggelegar di telinga. Iyan menoleh kepada sosok yang ada di pohon mangga, yaitu Om Uwo.
"Iya, Om."
.
Pagi harinya Iyan menghela napas kasar ketika semua pesan yang dia dikirimkan tak kunjung dibalas oleh Beeya.
"Aku harus cepat menyelesaikannya. Aku harus cepat ke Bali."
Kebucinan Iyan sudah nampak terlihat. Sehari saja tak mendapat kabar juga mendengar suara Beeya terasa hidupnya sepi. Tangannya mulai mengetikkan sesuatu.
Untuk kesekian kalinya pesan itu hanya dibaca tanpa dibalas. Sungguh membuat Iyan mengerang kesal. Dia segera keluar dari kamar tamu dan menuju kamar sang kakak. Tangannya sudah mengetuk pintu.
"Abang ada?" Dahi Echa mengkerut ketika mendengar Iyan menanyakan suaminya. Tidak seperti biasanya.
"Di ruang kerja."
Iyan segera menghampiri kakak iparnya yang tengah bergelut dengan laptop.
"Bang, aku mau sekarang aja ngejebak tikusnya."
Radit terkejut, dia menatap Iyan dengan tatapan tak percaya.
"Aku ingin cepat kembali ke Bali." Terlihat wajahnya sangat sendu. Radit pun tersenyum dan dia mengangguk mengerti.
"Aku maunya ketemunnya di Moeda kafe aja," tawar Iyan.
Radit mengangguk setuju. Dia mengarahkan apa saja yang harus Iyan lakukan. Rencana yang tidak boleh mengalami kegagalan.
"Nanti Abang minta bantuan Wira juga." Iyan mengangguk.
Aleesa sudah tak ingin sarapan bersama di meja makan karena ada Anggie di sana. Namun, Iyan membujuknya dan Beeya pun mau sarapan bersama mereka semua. Hanya keheningan yang tercipta di sana. Hingga akhirnya Iyan membuka suara.
__ADS_1
"Nggie, nanti malam ada acara gak?"
Aleesa yang tengah mengunyah nasi goreng tersedak sedangkan Aleeya menjatuhkan sendok yang tengah dia genggam. Mereka berdua menatap tak percaya ke arah sang om.
Anggie terkejut mendengar pertanyaan Iyan. Dia menatap ke arah Iyan yang juga tengah menatapnya.
"Enggak ada," jawabnya sangat yakin. Tatapannya masih tertuju pada Iyan yang terlihat semakin tampan.
"Aku mau ajak kamu ke Moeda kafe. Pasti kamu jenuh 'kan di rumah terus."
Sungguh bahagia sekali hati Anggie mendengar ajakan dari Iyan. Sedangkan ketiga keponakan Iyan tercengang melihat sikap sang om.
"Nanti aku jemput kamu." Anggie pun tersenyum bahagia.
.
Beeya yang tengah bermalas-malasan sambil membuka sosial media di pagi hari yang cerah. Dia terkejut ketika melihat postingan dari perempuan ***-***. Terdapat foto Moeda kafe dan ada caption di bawahnya. Dia juga menandai sosial media milik Iyan.
"Diajak ke kafe calon suami nanti malam. Ya, pasti gak nolak lah."
Beeya tersenyum tipis membacanya. Tangannya dengan lincah mengetikkan sesuatu pada gawai miliknya.
Ting!
"Iya katanya. Tadi Pak bos besar bilang."
Beeya menghela napas kasar. Dia segera membuka Mbah Gugel dan melihat update penampilan terkini. Asyik mencari hingga akhirnya dia menemukan yang sesuai dengan gayanya.
.
Malam pun tiba, Anggie sudah cantik dengan penampilannya. Dia mengenakan pakaian longgar untuk menyamarkan kehamilannya.
"Kakak Sa, tebak-twbakan yuk," ajak Aleeya. "Dijemput om kecil pake motor apa mobil?" tanya Aleeya yang tengah memeluk camilan.
"Becak."
Aleena pun tertawa mendengar jawaban adik pertamanya itu. Masih terlihat jelas denda abadi di wajahnya.
"Dandanannya heboh bener kayak orang yang mau dangdutan." Lagi-lagi Aleena tertawa. Kini, ucapan adik bungsunya mampu mengocok perutnya.
"Aku sih berharapnya bukan om kecil yang jemput."
Belum kering ucapan Aleena, sebuah motor terparkir di halaman rumah. Mereka pun tertawa ketika pria itu membuka helm.
"Om Wira!"
...****************...
Komen dong ....
__ADS_1
Aku udah Up banyak ini. 😪