
Jauh di lubuk hati yang terdalam, Iyan menginginkan untuk melamar Beeya agar mereka bisa terus bersama. Perihal trauma Beeya, Iyan tidak akan menjadikan itu masalah besar. Dia sangat yakin jikalau Beeya akan sembuh. Itu hanya masalah waktu saja. Dia juga akan membantu Beeya sembuh dan keluar dari trauma yang masih membelenggu.
Namun,masih ada keraguan di hatinya, yakni keluarganya. Dia harus berbicara kepada kedua kakaknya. Dia hanya takut jika Echa maupun Riana melarangnya. Di mata kedua kakaknya Iyan belum memiliki bekal apapun. Apalagi usianya yang masih sangat muda.
Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Dia ingin mengikat Beeya, tetapi dia juga masih ragu. Bukan hanya keluarganya yang membuatnya ragu, juga perempuan yang dia cintai. Dia takut ditolak karena masa lalu Beeya yang menyebabkan dia trauma.
Iyan terus bergelut dengan pikirannya sendiri. Dia bingung siapa yang bisa dia ajak bertukar pikiran akan hal ini.
"Beeya sudah tidur?" tanya Beby.
Iyan sedikit terkejut, lalu dia mengangguk. Beby duduk di tepian tempat tidur. Terlihat tangan Beeya tak melepaskan tangan Iyan. Lengkungan senyum terukir indah di wajah Beby, walaupun matanya terlihat nanar.
"Kamu tahu gak," ujar Beby kepada Iyan. Pemuda yang sedari dulu sudah dianggap anak oleh Beby pun menoleh.
"Beeya ingin kembali ke Bali karena dia ingin sembuh. Dia tidak ingin membuat kamu merasa malu karena memiliki pacar yang psikisnya terganggu," papar Beby.
Dahi Iyan mengkerut, lalu dia menatap sang pacar yang tengah terpejam.
"Kata Beeya, kamu adalah laki-laki yang sangat sabar dan menyayanginya apa adanya. Mencintai Beeya dalam keadaan tidak stabil seperti ini," lanjut Beby lagi.
Iyan tersenyum kecil mendengarnya. Ada kelegaan di hati Iyan ketika mendengarnya. Tangannya menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Beeya.
"Yan," panggil Beby. Sang empunya nama pun menoleh lagi. Beby tengah menatapnya dengan nanar.
"Jika, kamu sudah bosan dengan Beeya, bicaralah. Jangan sampai menyakiti Beeya lagi," lirih ibunda dari Beeya. Iyan cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Beby. Kini, pandangannya tertuju pada Beby.
__ADS_1
"Mamah tidak ingin melihat anak Mamah kembali terpuruk dan kehilangan jati dirinya untuk kedua kali."
Tidak ada seorang ibu yang menginginkan anaknya bersedih terus-terusan. Sekiranya Beeya tidak memiliki suami pun karena sebuah trauma yang masih melekat, Beby dan Arya tidak akan pernah mempermasalahkannya. Mereka hanya ingin melihat Beeya sembuh.
"Kenapa Mamah bicara seperti itu?" tanya Iyan. Kini, Iyan mengusap lembut punggung tangan Beby.
"Aku tidak akan pernah menyakiti Kak Bee. Aku akan berusaha membuat Kak Bee bahagia dan akan selalu menjaganya."
Beby merasakan sebuah ketulusan dari ucapan yang keluar dari mulut Iyan. Sorot matanya pun tak menunjukkan kebohongan.
"Aku ingin menghilangkan traumanya. Aku ingin mengubah masa lalu yang menyakitkan menjadi masa depan yang dipenuhi kebahagiaan."
Arya yang memang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Beeya merasa tersentuh mendengar ucapan yang sangat tulus dari Iyan. Matanya sudah berkaca-kaca. Satu nama yang sekarang melekat di kepalanya, Rion.
"Bro, makasih sudah mendidik anak lu menjadi anak yang luar biasa. Kalau lu lihat Iyan, pasti lu akan sangat bangga."
Terlihat Beeya yang sudah terlelap dan tangannya pun sudah melepaskan tangan Iyan. Akhirnya, Iyan memutuskan untuk pulang. Sebelumnya dia sudah berpamitan kepada kedua orang tua Beeya. Baru saja motornya keluar dari rumah Beeya, motor yang dikendarai Iyan dihadang oleh lima orang ibu-ibu.
"Hei, Dek, ganteng-ganteng kok mau sih deket sama perempuan gak waras."
Mata Iyan melebar mendengar ucapan ibu-ibu yang super sadis. Dia pun membuka helm-nya. Menatap tajam ke arah ibu-ibu yang berbicara sangat tidak pantas itu.
"Udah gila, jadi pelakor lagi!"
Urat-urat kemarahan sudah hadir di wajah Iyan. Tangannya sudah mengepal dengan sangat keras.
__ADS_1
"Siapa yang kalian maksud tidak waras?"sergah Iyan.
"Siapa lagi kalau bukan Beeya," sahut ibu-ibu yang memiliki tahii lalat di atas bibir. "Dia 'kan stres karena gak jadi kawin sama anak pengusaha itu," lanjutnya.
"Iya benar tuh, sekarang malah turun tahta dapatin cowok yang cuma bawa motor," tambah yang lain.
"Daripada gak ada 'kan," cibir yang lainnya lagi.
Brugh!
Helm yang Iyan pegang dia banting dengan sangat keras. Lima ibu-ibu itupun terkejut bukan main. Wajah Iyan sudah merah padam.
"Kalian boleh hina saya, tapi jangan pernah hina PACAR SAYA!" ucapan Iyan penuh dengan penekanan.
"Beeya itu bukannya tidak waras, dia hanya mengalami TRAUMA," tekannya lagi.
Wajah Iyan masih terlihat murka. Kemarahannya sudah tidak bisa dia tahan.
"Satu hal lagi, ponsel kalian semua sudah pintar 'kan. Coba kalian cari di mesin pencarian A&R bakery."
"Kenapa dengan toko kue langganan kami itu?" tanya salah seorang ibu-ibu yang seakan menantang.
"Saya adalah anak bungsu dari pemilik toko kue itu," tukasnya. Kelima ibu-ibu itu pun melebarkan mata tak percaya.
"Jaga bicara kalian atau saya tidak akan segan memasukkan kalian ke dalam penjara dengan tuduhan pencemaran nama baik," ancam Iyan tak main-main.
__ADS_1
...****************...
Komen dong ...