Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
99. Datangkan Ayahku


__ADS_3

Iyan sudah berada di dalam kamar. Dia tengah menatap langit kamar yang hanya memakai lampu tidur. Dia merasakan ada yang datang. Sudah pasti itu bukan manusia, melainkan teman-teman Iyan yang memang sudah Iyan panggil sedari tadi.


"Bagaimanapun Kak Echa itu kakak kamu. Sedari kamu kecil dia adalah pengganti ibu kamu," tutur Om Uwo.


"Hati seorang wanita itu lebih lembut dibandingkan dengan pria. Kak Echa hanya takut kelak kamu tidak akan bisa membahagiakan Beeya. Bagaimanapun Kak Echa sudah menganggap Beeya bukan orang lain, apalagi ayahnya. Kini, Kak Echa menganggap ayahnya Beeya seperti ayahmu." Jojo pun ikut membuka suara.


"Kalau kamu belum mendapat restu dari Kak Echa, jangan down. Harus menjadi kekuatan supaya kamu bisa membuktikan kepada Kak Echa bahwa kamu ini mampu. Kamu adalah pria sejati." Dev, anak dari almarhum ibunda Iyan dengan pria lain pun ikut angkat bicara.


"Apa kalian merestui aku?" Iyan bertanya kepada empat temannya yang kini sudah berdiri di samping tempat tidurnya.


"Jika, dia bukan wanita baik-baik sudah kami jauhkan dia dari kamu, Yan."


Iyan yang tengah menatap langit kamar itupun menoleh kepada sang om yang berkata dengan begitu lantangnya.


"Sama seperti Anggie," ucap Jojo.


Dahi Iyan mengkerut, tetapi Jojo tidak melanjutkan ucapannya. Meskipun Iyan memintanya.

__ADS_1


"Intinya, kami itu ingin melihat kamu bahagia, Yan. Kami juga ingin kamu mendapat jodoh yang terbaik. Bukan hanya sayang kepada kamu, kepada keluarga kamu juga. Apalagi kepada keponakan-keponakan kamu yang super duper," jelas om lagi.


Iyan malah tertawa mendengar ucapan dari Om Uwo. Walaupun mereka makhluk astral, tetapi mereka sangat pengertian kepada Iyan. Mereka menyayangi Iyan dengan begitu tulus seperti keluarganya sendiri.


"Kalau kamu bahagia kami juga ikut bahagia," ucap Jojo.


"Makasih semuanya."


Hati Iyan menghangat mendengar ucapan yang dikatakan oleh empat sahabatnya itu. Si kerdil hanya bisa menyeka ingusnya yang terus mengucur. Katanya, dia sedang terserang flu.


"Emangnya tuyul bisa pilek?" tanya Iyan heran.


Iyan dan tiga sahabat Iyan yang lain malah tertawa. Ada kalanya mereka seperti ini, saling mengejek dan juga tertawa bersama.


"Om, bagiamana kabar Ibu?"


Wajah Iyan mulai sendu ketika menanyakan sosok yang selalu membuatnya tenang. Sosok yang selalu membuat hatinya menghangat.

__ADS_1


"Ibu baik-baik saja. Ibu juga merindukan kamu," jawab Om Uwo. "Jika, kamu merindukan Ibu, datanglah ke rumah lamamu. Ibu ada di sana dan setiap malam dia selalu menangis karena merindukan kamu."


Kepala Iyan pun tertunduk, hatinya sangat sakit. Kehilangan ibu lebih menyakitkan dibandingkan kehilangan ibu kandungnya sendiri.


"Kita masih bisa ke sana, Yan. Kamu jangan sedih." Jojo mendekat dan duduk tepat di tepian tempat tidur


"Tugas Ibu menjaga kamu memang sudah selesai. Begitulah yang dikatakan oleh pesuruhnya," ungkap Jojo.


"Kamu ingin melihat Bunda tidak, Yan?" tanya Dev. Baru kali ini anak itu membahas bunda Iyan yang tak lain adalah ibu dari Dev sendiri.


"Terima kasih, Dev," tolak Iyan dengan begitu halus. "Untuk saat ini aku hanya ingin bertemu dengan Ayah. Aku ingin bercerita banyak hal kepada Ayah. Aku ingin bertanya serius perihal laki-laki. Aku butuh Ayah dan aku-"


Dada Iyan terasa sesak. Dia menarik napas berat sebelum melanjutkan ucapannya.


"Aku merindukan Ayah. Datangkan Ayahku ke dalam mimpiku."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2