Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
32. Bisa Tanpa Aku


__ADS_3

Iyan masih terjaga di hening dan dinginnya malam. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Namun, matanya enggan terpejam.


Duduk di kursi panjang dengan kepala yang bersandar ke dinding. Matanya nanar bukan karena menyesal. Akan tetapi, dia tengah merindukan sosok ayah yang biasanya selalu ada bersamanya. Menemaninya dan selalu berada di garda terdepan. Kali ini, dia sendirian hanya kedua kakak iparnya yang menjaganya.


"Maafkan Iyan, Ayah," batinnya lirih. "Ini semua Iyan lakukan karena Iyan ingin membalaskan rasa sakit yang kak Bee dapatkan."


Pemuda itupun menunduk dalam. Dia tengah membayangkan jikalau dia membusuk dalam penjara. Sudah pasti dia akan dibenci oleh kedua kakaknya.


"Maafkan Iyan, Kak."


Usapan lembut di pundak Iyan membuatnya sedikit demi sedikit menegakkan tubuhnya. Seorang pria sudah tersenyum ke arahnya dan dia pun menyerahkan jaket kepada Iyan.


"Lu udah melakukan hal yang benar. Gak perlu takut." Dukungan dari Askara yang baru saja tiba di pos polisi di mana Iyan diamankan.


"Lu ikuti prosedur yang ada aja dulu. Tenang aja, gua, Abang sama si Bandit akan bantuin lu. Lu jangan takut karena di mata kita lu gak salah."


.


Keesokan paginya Iyan sudah ditetapkan sebagai tersangka dan harus memakai baju berwarna oranye yang bertuliskan tahanan.


Dari lain tempat dua orang itu tertawa puas. Kini, saatnya bagi mereka untuk menjual berita tersebut dengan tujuan menjatuhkan keluarga Iyan. Serta mempermalukan keluarganya.


Namun, apa yang dilakukan Rudi gagal. Berita itu sama sekali tidak muncul di berita online maupun televisi. Dia pun terus mengumpat kesal.


Tiga orang pria tertawa sangat puas ketika pihak Rudi tidak dapat menembus pertahanan mereka.


"Otaknya kurang di laundry," ujar Aska.


Aksa dan Radit pun tertawa. Rencana Rudi sudah terbaca oleh pihak mereka. Jadi, tidak ada yang perlu ditakutkan. Radit dan Aksa memiliki saham cukup besar di berbagai media online dan juga televisi. Jadi, tidak akan berita itu menembus semuanya. Kecuali, mereka ingin gulung tikar hari ini juga.


.


Di sudut kamar seorang perempuan terus menangis sambil membenamkan wajahnya di atas lutut. Nama Iyanlah yang selalu dia sebut.


"Bee," panggil Beby. Beeya tidak menoleh sama sekali. Dia terus menangis. Tubuhnya bergetar.


"Kamu mau bertemu dengan Iyan?" Suara yang berbeda yang Beeya dengar. Dia sangat mengenali suara itu. Perlahan, wajahnya dia dongakkan dan dia segera berhambur memeluk tubuh Askara.


"Udah ya, jangan nangis terus. Kakak akan bawa kamu bertemu dengan Iyan."

__ADS_1


Pelukan Beeya pun dia longgarkan. Dia menatap tak percaya ke arah Askara yang sudah tersenyum.


"Beneran?"


Aska mengangguk, lalu dia memeluk tubuh Beeya lagi. Pantas saja Iyan semurka itu, dia saja yang melihat Beeya yang sangat jauh berbeda terasa sakit hatinya.


"Sekarang kamu ganti baju dulu, ya. Biarkan Kak Aska nunggu kamu di bawah." Beeya pun menuruti apa yang diucapkan oleh sang ibu.


Askara menghembuskan napas kasar ketika bokongnya sudah duduk di atas sofa empuk yang ada di ruang keluarga.


"Pantas saja Iyan marah," ucap Aska. "Jika, Adek jadi Iyan Adek tidak akan mengampuni semua dosanya. Lebih baik Adek kirim laki-laki itu ke neraka." Aska meluapkan kekesalan juga kemarahannya.


Selama satu tahun ini Aska sibuk mengurus perusahaan yang berada di Singapura. Maka dari itu, dia baru tahu kondisi Beeya seburuk ini.


"Papah juga ingin sekali membunuh laki-laki itu. Papah seperti sudah kehilangan sosok Beeya yang periang, biang onar, dan sekarang Beeya bagai orang lain." Sangat sendu ucapan dari pria paruh baya tersebut. Seharusnya di usianya yang sudah senja dia hanya tinggal memetik kebahagiaan, tapi tidak dengan Arya. Dia malah dirundung duka dan pedih yang tidak tahu sampai kapan akan pergi.


"Kami sedang berusaha maksimal, Pah. Iyan tidak salah, dia hanya tengah membalaskan dendam semua anggota keluarga kita." Arya mengangguk setuju dengan ucapan Aska.


"Pengacara terbaik Papah juga hari ini tiba di Bali. Bagaimanapun Papah sekarang ini adalah ayah kedua untuk Iyan. Papah akan melakukan yang terbaik untuk Iyan."


"Maafkan gua dan anak gua, bro. Gara-gara kita berdua anak lu jadi anarki," keluhnya dalam hati. "Tapi, gua janji gua akan berusaha semaksimal mungkin buat bebasin anak lu. Sekalipun nyawa yang jadi taruhannya."


.


"Kak, mampir dulu ke toko kue, ya." Aska mengangguk seraya tersenyum. Pandangannya masih fokus ke jalanan.


"Ke restoran Bento juga, Kak. Iyan pasti lapar."


Aska melihat jika Beeya memiliki dua kepribadian saat ini. Di matanya sekarang, Beeya menjadi Beeya yang dia kenal. Ceria dan selalu penuh semangat. Berbeda dengan Beeya yang tadi di rumah.


Mobil sudah terparkir di kantor polisi. Tubuh Beeya sedikit bergetar ketika hendak turun. Aska berjongkok dan menatap wajah Beeya dengan hangat. Dia menggenggam erat tangan Beeya.


"Gak usah takut, kamu akan baik-baik saja." Tangan Aska pun mengusap lembut punggung tangan Beeya. "Di dalam ada Iyan. Pasti dia sudah menunggu kamu."


"Iyan," ulang Beeya. Askara pun mengangguk.


Perempuan itu akhirnya mau turun dari mobil. Tangannya Aska genggam karena dia takut Beeya akan kabur dari sana.


Mereka berdua menunggu di kursi panjang. Salah seorang polisi yang berjaga tengah memanggil Iyan.

__ADS_1


"Rian Dwiputra Juanda."


Suara seorang polisi membuat Iyan menoleh. Dia mulai bangkit dari duduknya dan menghampiri polisi tersebut.


"Ada keluarga Anda yang ingin bertemu."


Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Satu jam yang lalu, dia baru saja dipertemukan dengan ayah dari Raffa.


"Saya mau memberikan penawaran kepada kamu." Seringai di wajah Rudi pun muncul.


Iyan masih diam. Dia masih mencoba mendengarkan. "Kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang. Lebih baik kamu menerima penawaran saya ini," ujarnya. "Berikan Beeya kepada Raffa," bisik Rudi yang sudah mencondongkan wajahnya ke arah telinga Iyan.


"Jangan mimpi!" Jawaban itu seperti menghina Rudi. Urat-urat kemarahan pun muncul di wajah Rudi.


"Anak bau kencur aja sok-sokan jadi pahlawan. Kamu yang harusya bangun dari mimpi kamu," bentak ayah dari Raffa seraya menunjuk ke arah wajah Iyan.


"Pahlawan itu membela kebenaran, bukan menutupi kebenaran. Apalagi, malah mendukung kejahatan."


Plak!


Tamparan keras Rudi layangkan ke wajah kanan Iyan hingga sudut bibir Iyan mengeluarkan darah. Iyan masih bisa tersenyum dan berkata, "suatu hari nanti, jejak di sudut bibir saya akan membuat Anda mendekam di penjara dalam waktu yang sangat lama."


Iyan memilih kembali ke dalam sel dari pada meladeni pria paruh baya yang selalu membenarkan perbuatan anaknya, sekalipun anaknya salah.


# off.


Iyan berjalan mengikuti petugas dari belakang. Nektra mata Iyan bertemu dengan nektra indah milik Beeya yang sudah berkaca-kaca.


Tanpa Iyan duga Beeya berlari ke arahnya dan segera memeluk tubuhnya. "Aku rindu kamu, Yan."


Mendengar ucapan tersebut membuat hati Iyan terasa sakit. Dia tidak menjawab, dia hanya memeluk tubuh Beeya lebih erat.


"Maafkan aku."


Beeya memundurkan tubuhnya dan dia mendongak menatap wajah Iyan. Namun, matanya tertuju pada sudut bibir Iyan yang lebam. Tangan Beeya pun menyentuh sudut bibir tersebut. Terdengar ringisan kecil dan tangan Iyan pun malah menggenggam tangan Beeya yang tengah ada di sudut bibirnya.


"Terus berjuang untuk sembuh ya, walaupun nanti aku gak bisa nemenin kamu. Aku yakin, kamu bisa tanpa aku."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2