
"Abeeya Bhaskara."
Beeya mendengar suara Iyan, tapi apa benar itu suara kekasihnya. Atau hanya rasa rindu yang menggebu. Pada akhirnya, dia merasa suara itu ada.
Dia juga sangat tahu bahwa kekasihnya itu tidak bisa bernyanyi. Tidak seperti kedua kakaknya yang memiliki suara merdu. Suara Iyan sangat fals bagai knalpot bajaj.
"Chagiya."
Beeya yang tengah fokus pada makanannya pun akhirnya mencari asal suara. Matanya nanar ketika melihat seorang pria sudah berdiri dengan membawa sebuket bunga mawar putih di tangannya. Senyum pun merekah di bibir merahnya.
"Dia manggil gua?" tanya Pipin seraya menyenggol tangan Beeya. Namun, Beeya tak menanggapi. Dia masih memandangi wajah tampan sang kekasihnya yang terlihat sepuluh kali lipat lebih tampan dari sebelumnya.
Pipin histeris ketika dia melihat Iyan melangkah ke arah meja mereka. Bibir Pipin merekah dengan sempurna. Hatinya sudah berbunga. Apalagi dia melihat Beeya bagai patung bernapas di sampingnya.
"Emaknya pas bunting ngidam apaan sih? Kenapa senyumnya begitu manis, bisa bikin gua diabetes ini mah," batin Pipin.
Pipin dan Beeya adalah dua manusia yang memiliki frekuensi yang sama. Mereka memiliki mulut pedas yang sama, juga kewarasan yang tidak sempurna. Maka dari itu mereka menjadi Bestie.
Perempuan yang cantik dengan riasan ala-ala wanita Korea sudah berdiri. Rasa percaya dirinya sangat tinggi. Arya dan Beby saling tatap dengan mengulum senyum mereka.
Pipin pun mulai memundurkan kursinya dan menghampiri Iyan. Jarak di antara Iyan dan Pipin sudah tinggal tiga meter lagi. Pipin tersenyum sangat manis ke arah Iyan, tetapi pemuda itu malah melewatinya begitu saja dan membuat Pipin tercengang.
"Hah?" PiPin mematung di tempatnya. "Terus itu anak-"
Pipin segera membalikkan tubuhnya dan dia terperangah ketika melihat Iyan berdiri di depan Beeya. Dia juga melihat mata Beeya sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Apa-"
Iyan memberikan bunga ke arah Beeya dan tidak ada pergerakan dari Beeya
"Maaf."
Itulah kalimat yang bisa Pipin dengar. Mata Pipin melebar ketika melihat Beeya bukan mengambil bunga malah memeluk tubuh jangkung Iyan. Beeya membenamkan wajahnya di perut Iyan karena posisi Beeya masih duduk di kursi meja makan. Pipin melihat ke arah kedua orang tua Beeya dan mereka terlihat biasa saja melihat sikap Beeya kepada Iyan.
"Ada apa dengan mereka berdua?" gumam Pipin.
"Aku takut," ucap Beeya. Iyan tidak menjawab. Dia mengecup ujung kepala Beeya. Apalagi tangan Beeya yang melingkar erat di pinggang Iyan.
"Aku tidak akan pernah mengingkari ucapanku."
Kedua orang tua Beeya saling pandang dengan senyum yang melengkung. Mereka sangat yakin Iyan adalah anak yang sangat bertanggung jawab dan tidak akan pernah mengingkari janjinya. Sekalipun dia tidak bisa sudah pasti dia akan memberi tahu.
"Jangan menangis."
Beeya pun mendongak dan mencoba untuk tersenyum ke arah sang pacar. Iyan menatap Beeya dengan sangat dalam. Tangan kanannya mengusap lembut rambut Beeya.
"Seperti lagu yang tadi diputar," katanya. Iyan masih menatap wajah cantik Beeya.
"Walaupun seribu wajah menggoda aku, yang akan ku ingat hanya wajah kamu. Janjiku ini tak pernah main-main, sekali kamu tetap kamu."
Senyum pun melengkung dengan sempurna di bibir Beeya ketika mendengar ucapan Iyan yang sangat tulus.
__ADS_1
"Aku tak perlu bahasa apapun untuk mengungkap aku cinta kamu," lanjutnya lagi.
"Ah, kenapa si Rian yang bilang begitu ke si lebah gua yang meleleh," gumam Pipin yang masih berdiri bagai patung selamat datang.
"Mau diambil gak bunganya?" tanya Iyan kepada Beeya.
"Aku gak butuh bunga segar ini."
Berkata tidak butuh, tetapi tangannya meraih buket bunga yang ada di pelukan Iyan.
"Aku butuh bunga bank," tukasnya.
Iyan tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari saku belakang celananya. Sebuah kartu Iyan berikan kepada Beeya yang sudah melebarkan matanya.
"Ini."
Iyan sudah memberikan kartu berwarna hitam kepada Beeya. Namun, Beeya masih tidak percaya melihatnya.
"Kamu boleh nyopet dari mana itu?"
Iyan pun tergelak mendengar ucapan Beeya. Dia mencubit gemas pipi Beeya. "Aku anak baik, ya. Aku bukan turunan copet," balas Iyan.
Beeya masih mematung tak percaya. Kartu itupun belum juga dia ambil dari tangan Iyan.
"Kartu ini sama dengan cinta aku sama kamu," ungkap Iyan. "Tak terbatas."
__ADS_1
...****************...