
"Simpanan itu lebih disayang dibandingkan dengan yang sah." Begitulah bisikan maut yang membuat seorang wanita luluh lantah. Tak apa martabatnya rendah, yang penting isi dompetnya tebal.
.
Suara klakson mobil membuat Beeya mengerang kesal. Itu membuat kedua orang tua Beeya menatap bingung ke arah sang putri.
"Bee," panggil sang ibu.
"Boleh gak Mah, pagi ini Bee berangkat sendiri."
Raut wajah Beeya membuat Beby tak bisa menolak. Dia sangat kasihan kepada anaknya, tetapi keinginan mendiang sang mertua tak bisa dia bantah.
"Bee-"
"Bee naik ojek online aja. Bee berangkat ya."
Beeya menuju pintu samping belakang agar tak ketahuan sang pacar. Kedua orang tua Beeya pun tak bisa melarang. Mereka juga menaruh kecurigaan yang cukup besar kepada putri semata wayang mereka.
Ketika dirasa aman, Beeya segera berlari dengan menjinjing sepatu hak tinggi miliknya. Dia terus berlari walaupun sudah keluar dari rumah.
Napasnya sudah mulai terengah-engah. Dia berhenti di sebuah warung kecil di pinggir jalan untuk membeli air mineral juga membeli sandal jepit dan meminta kantong keresek untuk tempat sepatunya. Dia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Raffa. Dia merasa jijik dengan apa yang dilakukan Raffa.
"Bu, air mineralnya-"
Seorang pria yang hendak membayar air mineral menghentikan ucapannya ketika melihat seorang wanita yang sangat dia kenali.
"Bu, saya mau plesternya, ya." Beeya tidak menyadari ada seseorang di sampingnya.
Si ibu pemilik warung memberikan dua buah plester ke arah Beeya.
"Masnya mau apa?"
Pada akhirnya Beeya menoleh ke arah orang yang ada di sampingnya. Beberapa detik dia menatap wajah tampan itu hingga air matanya memaksa untuk terjatuh. Namun, Beeya memilih untuk memutuskan kontak mata.
"Bu, saya numpang duduk dulu, ya."
"Silahkan, Neng."
Pria itupun membayar air mineral dingin yang sudah dia pegang. "Bu, tisu basahnya juga."
Setelah selesai membayar juga memegang tisu basah, pria itu menghampiri Beeya. Menyentuh kaki Beeya membuat Beeya tersentak. Dia ingin menolak, tetapi dia juga merindukan hal ini.
Tangan pria itu melepaskan plester di telapak kaki Beeya hingga Beeya pun mengaduh.
"Ini belum dibersihin."
Pria itupun langsung mengguyurkan air mineral dingin di tangannya ke arah telapak kaki Beeya. Hingga Beeya mengerang sakit.
"Cukup dalam," kata pria itu. Tangannya masih membersihkan luka yang ada di telapak kaki Beeya. Beeya hanya bisa menatap wajah pemuda itu tanpa berkata apapun.
"Selesai."
Beeya pun tersadar. Pemuda itu menatap Beeya dengan sorot penuh rindu.
"Pakai sendalnya. Kita ke klinik."
Sang pemuda membantu Beeya untuk memakai sandal. Kemudian, membantunya untuk berjalan.
"Udah bayar?" Beeya pun menggeleng.
__ADS_1
Tak ragu pemuda itu memberikan uang lembaran biru kepada si pemilik warung.
"Duduk menyamping aja, ya."
Jaket yang pemuda itu pakai dilepaskan begitu saja dan dia ikatkan kedua lengan jaket itu ke perut Beeya. Bagian tubuh jaket itu menjuntai ke bawah dan menutupi paha Beeya ketika berboncengan.
Motor pun melaju dengan kecepatan rendah. Mata Beeya sangat berkaca-kaca. Dia sungguh merindukan orang yang kini membelakangi tubuhnya. Ingin dia memeluknya, tetapi dia juga harus tahu aturan.
Tibanya di klinik, pemuda itulah ya g mendaftarkan. Tangannya masih memapah tubuh Beeya.
"Masih sakit?" Beeya hanya mengangguk.
Nama Beeya sudah dipanggil, Beeya tidak sendiri masuk ke ruang pemeriksaan. Pemuda itupun ikut masuk. Beeya meringis ketika kakinya mulai diperiksa.
Tak disangka, pemuda itu memeluk Beeya dan mengatakan, "jangan takut, ada aku di sini."
Tes.
Bulir bening itu menetes begitu saja.
"Aku antar pulang, ya." Beeya menggeleng.
Pemuda itu terdiam, lalu menatap serius wajah Beeya. "Ke kafe aja, ya. Kamu bisa istirahat di sana."
.
Dibantunya tubuh Beeya berbaring di kasur kecil yang sengaja dia persiapkan jikalau dia tidak ingin kembali ke kosan.
"Udah makan?" Hanya anggukan yang menjadi jawaban.
Pemuda itupun tersenyum dan mengusap lembut rambut Beeya .
Langkahnya terhenti ketika tangannya dicekal oleh Beeya. "Makasih, Yan."
Akhirnya Beeya membuka suara dan Iyan sangat merindukan suara itu. Dia pun berbalik badan dan melihat Beeya yang sudah menitikan air mata. Tanpa ragu Iyan segera memeluk tubuh Beeya.
Dua anak manusia itu berpelukan dengan sangat erat. Seperti tengah melepas rindu yang menggebu. Beeya hanya bisa menangis dan menangis.
Cukup lama mereka berpelukan, akhirnya Iyan mengurai pelukannya. Menghapus air mata yang membasahi wajah Beeya dengan sangat lembut.
"Istirahat, ya. Biar lukanya cepat sembuh." Bagai terhipnotis akan perkataan Iyan, Beeya pun mengangguk.
.
Urat-urat kemarahan hadir di wajah Raffa. Dia mendatangi kantor di mana Beeya bekerja.
"Di mana Beeya?"
Di mata Pipin, sahabat Beeya Raffa bukanlah pria baik. Namun, sahabatnya itu terlalu bodoh dan termakan oleh ucapan manis dari Raffa.
"Gak masuk." Pipin tidak pernah berkata manis. Selalu saja dia berkata sangat ketus kepada Raffa.
"Orang tuanya bilang kalau dia pergi kerja."
"Mana gua tahu!" Pipin berlalu begitu saja meninggalakan Raffa yang pastinya akan mengamuk.
"Di mana kamu, Bee?" geram Raffa.
.
__ADS_1
Anggie terus mendengkus kesal ketika pesannya tak pernah dibaca walaupun pria yang tengah dekat dengannya sedang online.
"Ih! Nyebelin."
Bibir Anggie tak hentinya tersenyum ketika mengingat kejadian semalam. Kejadian yang membuatnya dimabuk kepayang.
"Aku ingin mengulangnya," gumamnya.
Di Moeda Kafe, Wira sedikit curian kepada Iyan hari ini. Wajahnya sangat ceria melebihi sinar mentari pagi.
"Senang amat Pak kayaknya," ejek Wira. Iyan tak menjawab, dia hanya tersenyum.
Ketika makan siang tiba, Wira sedikit terkejut melihat seorang tukang ojek online membawa dua porsi makanan beserta minumnya. Wira tengah menerka-nerka karena di matanya Iyan terlihat mencurigakan. Iyan pun membawa makanannya ke lantai atas.
Dilihatnya Beeya masih terlelap dengan damainya di bawah selimut. Dia terus menatap Beeya hingga perempuan itu membuka mata.
"Makan siang dulu, yuk."
Iyan merasa ada yang berbeda pada diri Beeya sekarang ini. Lebih dari enam bulan tak berjumpa banyak hal yang berubah.
"Boleh aku di sini dulu?" tanya Beeya.
"Sesuka kamu, Kak."
.
Anggie yang merasa kesal dicueki oleh sang pria yang dia suka memilih datang ke Moeda kafe. Lebih baik dia bertemu dengan Iyan karena seharian ini Iyan tak pernah mengirim pesan kepadanya. Ada rasa kehilangan di hatinya.
"Hai, Iyan!"
Anggie sudah berada di dapur kafe membuat Iyan mengerutkan dahi. Tidak biasanya dia ke sini. Hanya ketika Iyan mengajak dia baru mengunjungi kafe.
Iyan pun melihat ada yang berbeda dari Anggie. Di lehernya ada beberapa tanda merah menghitam yang tidak tercover foundation.
Belum juga Iyan menjawab, seorang wanita lain masuk ke dalam dapur kafe. Langkahnya terhenti ketika melihat ada perempuan seusia Iyan di sana.
"Mbak, kapan ke sini?" tanya Wira.
"Dari pagi, Wir."
Wira pun terkejut mendengar ucapan Beeya. Wajah Beeya terlihat layu.
"Yan, aku pulang, ya. Makasih atas bantuannya."
Beeya tersenyum, lalu dia membalikkan tubuhnya untuk menjauhi Iyan. Terlihat langkahnya yang tertatih.
Iyan hendak mengejar Beeya, tetapi ditahan oleh Anggie dengan mencekal lengannya. "Kamu di sini aja temani aku." Mode manja Anggie tunjukkan.
Wira dan karyawan lain tengah menunggu jawaban dari Iyan. Akankah Iyan akan memilih Anggie atau Beeya?
Iyan tersenyum, tetapi tangannya melepaskan cekalan Anggie. Tanpa kata Iyan segera berlari untuk mengejar Beeya meninggalkan Anggie sendiri. Wira dan karyawan lain tersenyum bahagia. Sejatinya mereka lebih menyukai sosok Beeya dibanding dengan Anggie.
Langkah Iyan terhenti ketika melihat Beeya ditarik paksa oleh pria yang dia kenali juga. Wajahnya sudah menunjukkan kemarahan.
"Lepasin Kak Bee!"
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1