Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
82. Kekhawtiran


__ADS_3

Echa duduk terdiam dengan hati yang bergejolak di tepian tempat tidur sang ayah. Dia baru saja membaca sebuah surat yang ada di dalam sebuah kotak yang ayahnya berikan untuk Iyan.


"Sebegitu sayangnya Ayah sama Om Arya. Sampai ingin Iyan menikah dengan Beeya."


Echa menghembuskan napas dengan kasar. Inginnya Echa yakni Iyan menikah di usia ke-25 agar dia matang dalam segala hal. Namun, sepertinya pernikahan Iyan harus dipercepat. Melihat betapa seriusnya Iyan tehadap Beeya. Sakit pun tidak dia rasa saling ingin bertemunya dengan Beeya.


"Bubu," panggil Radit. Sedari tadi dia mencari sang istri karena tidak ada di ruangan manapun.


Radit melihat wajah istrinya yang sudah sendu. Setiap kali Echa, Riana ataupun Iyan masuk ke dalam kamar Rion, mereka akan menunjukan wajah yang sama. Waktu tidak akan pernah bisa menghapuskan kesedihan mereka bertiga. Itu menandakan bahwa Rion memang sangat berharga untuk mereka.


Sedalam apapun luka yang pernah Rion torehkan kepada Echa. Tak membuat Echa membencinya. Echa malah semakin menyayanginya. Menutup luka yang pernah ayahnya goreskan karena rasa sayangnya melebihi rasa sakit hati yang Echa terima. Sampai kapanpun ada darah sang ayah yang mengalir ditubuh Echa.


Radit duduk di samping sang istri. Matanya tertuju pada sebuah kertas putih yang Echa genggam. Radit mengambilnya dan lengkungan senyum terukir di wajahnya.


"Ayah sudah mempersiapkan jodoh untuk Iyan," ucapnya.

__ADS_1


Echa masih bergeming, ada rasa takut di hatinya melepaskan adiknya. Apalagi usianya masih sangat muda. Dia takut, Iyan tidak bisa mengemban tanggung jawab sebagai seorang suami.


"Kamu berat?"


Pertanyaan Radit membuat Echa menoleh. Ada sorot yang menunjukkan ketidakrelaan yang Echa perlihatkan.


"Iyan masih sangat muda," sahutnya dengan suara yang lemah.


"Lalu? Masalahnya di mana?" sergah Radit. "Iyan sudah mapan. Kehidupan Beeya bisa Iyan jamin."


Hembusan napas berat keluar dari mulut Echa. Dia mengalihkan pandangannya, dan menatap lurus ke depan.


Kekhawatiran yang Echa rasakan. Itu merupakan hal wajar. Selama dua puluh dua tahun mengenal sang adik, baru kali ini dia melihat Iyan jatuh cinta. Dia hanya takut, Iyan hanya mengalami cinta monyet belaka. Serius hanya untuk sekarang saja.


"Aku yakin Iyan akan menjadi suami yang bertanggung jawab," jawab Radit.

__ADS_1


Dia sudah mengusap lembut pundak sang istri tercinta. Radit tahu, buka hanya ketakutan ini yang Echa rasakan. Dia takut, pernikahan Iyan sama seperti pernikahan ibunya dengan ayahnya. Menjalin hubungan tak lama, dan berakhir ayahnya mengkhianati ibunya. Bagaimanapun ada gen Rion Juanda dalam tubuh Iyan.


"Iyan adalah Iyan," imbuh Radit. "Dia bukan ayah," lanjutnya lagi.


Echa menatap ke arah sang suami kembali. Masih ada raut ketakutan yang dia tunjukkan.


"Dari surat yang ayah tulis tangan sendiri ini aku melihat bahwa ayah memang sangat menginginkan Iyan bersanding dengan Beeya. Sekalipun Iyan bersikap seperti ayah waktu muda, Beeya pasti akan bisa mengatasinya karena Beeya bukan wanita lemah. Dia lebih berani dari seorang pelakor," terang Radit.


Kini, Radit sudah menggenggam tangan Echa. Dia menatap dalam manik mata istrinya.


"Justru kita harus mewaspadai sikap Iyan sekarang kepada Beeya." Dahi Echa mengkerut mendengar ucapan dari Radit. Dia sama sekali tidak mengerti.


"Biasanya ... kalau orang yang pendiam itu lebih cenderung agresif jika tengah berduaan." Mata Echa pun melebar mendengar penuturan dari sang suami.


"Bohong 'kan kalau mereka lagi berduaan cuma sekedar bercerita. Pasti adalah acara bersilat lidah juga."

__ADS_1


...****************...


Maaf, semalam error' otaknya. 🙏🏻


__ADS_2