Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
162. Temu Rindu


__ADS_3

H-1 pernikahan Iyan dan Beeya membuat keluarga Echa dilanda kesibukan yang luar biasa. Terlebih Echa yang harus menyiapkan semuanya. Bagaimana tidak, dia harus memastikan seserahan Iyan tidak ada yang terlewat sama sekali. Bisa-bisa akan ditolak oleh Arya.


"Gak sekalian bawa roti buaya beserta anak dan cicitnya," ucap Aska ketika melihat seserahan yang luar biasa banyaknya.


"Sekalian pindahin penangkaran buaya ke rumah Om Arya," timpal Radit.


Aksa menggelengkan kepala sebelum menghela napas berat. Dulu, ketika dia menikahi Riana permintaan ayah mertuanya tidak separah ini. Ternyata Arya lebih matre dibandingkan almarhum ayah mertuanya. Apalagi barang yang diminta untuk seserahan bukan barang biasa.


"Kayaknya Papah sudah tahu isi rekening tabungan Ayah." Aksa sudah membuka suara.


"Idem," sahut adiknya.


"Ini kunci apa?" tanya Aleeya.


"Mobil, satu lagi rumah." Echa sudah menjawab.


"Kak Bee menang banyak ini mah," cetus Aleesa.


"Itu kalau diduitin jadi berapa, Bu?" tanya Aleena.


"Pokoknya nol di belakangnya banyak."


.


Di lain rumah, Arya belum juga mau keluar kamar. Hatinya terasa sesak ketika waktu semakin cepat membawanya menuju hari pernikahan putri satu-satunya. Bukannya tidak rela melepas Beeya, dia hanya tidak ingin menjabat tangan Iyan, putra dari sahabatnya. Apalagi, calon menantunya itu sudah menjadi anak yatim piatu. Membayangkannya saja sudah teramat sakit.


Arya menatap album foto lawas di mana dirinya dan Rion berfoto bersama ketika berada di kampus. Wajah mereka masih sangat muda dan ketampanan mereka pun masih tetap sama.


"Lu adalah orang berengsek, tapi gua malah nyaman berteman dengan lu." Tangan Arya sudah mengusap lembut foto yang sudah pudar warnanya.


Lembaran album foto berikutnya Arya buka lagi. Dia tersenyum bahagia ketika melihat mereka berdua tengah wisuda. Mengingat perjuangan mereka berdua kuliah, ada air mata yang mulai menetes di pipinya.


"Kita dulu miskin. Kuliah hanya bermodal nekat, tapi kita bisa lulus. Kita terharu sekaligus tidak menyangka pada waktu itu."


Arya menyeka ujung matanya. Dia teringat bagaimana hidupnya ketika lulus SMA. Sok-sokan ingin hidup mandiri dan pada akhirnya dia harus kerja sampingan bekerja di toko roti. Padahal Arya bukanlah anak dari orang miskin. Ayahnya adalah pengusaha kaya raya. Namun, prinsip hidupnya teramat keras hingga dia menolak kemudahan yang ayahnya berikan.


"Dari sini ya, kita menjadi sahabat yang tak terpisahkan."

__ADS_1


Teramat sakit hati Arya. Dia belum sepenuhnya ikhlas. Terkadang dia lupa bahwa sahabatnya itu sudah meninggal. Dia menghubungi nomor ponsel Rion. Ketika suara operator yang menjawab, kesadarannya mulai kembali. Di sana dia tersenyum kecut. Ternyata sahabatnya sudah tiada.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Rian Dwiputra Juanda bin R--" Mulutnya kembali tercekat. Dadanya mulai sesak. Sungguh dia tidak sanggup. Dia ingin menyerahkannya kepada penghulu, tapi dia ingin menikahkan anaknya sendiri walaupun dibimbing oleh pak penghulu. Pada nyatanya hatinya terlalu rapuh.


Di lantai bawah suara Arina sudah terdengar. Keluarga Arya sayu-satunya itupun nampak tidak sabar ingin melihat keponakannya menikah.


"Sunarya di mana, Beb?" Beby tengah melakukan perawatan dengan memanggil ahli kecantikan ke rumahnya hanya mengatakan di kamar. Itupun dengan suara yang begitu dalam.


Arina malah ke kamar atas di mana Beeya berada. Sudah pasti anak itu juga tengah melakukan treatment. Benar dugaan Arina. Beeya malah tertidur sangat pulas.


"Bisa-bisanya ya tuh anak tidur pules." Arina menggelengkan kepala.


"Abis dilakukan pemijatan tubuh, Nyonya. Mungkin terasa lebih enak tubuhnya." Arina hanya tersenyum. Dia memilih masuk ke kamar Arya.


Ketika tangannya menekan gagang pintu, tubuh Arina menegang karena melihat tubuh Arya yang bergetar. Dia memeluk sebuah figura di dadanya.


"Apa dia menangisi Papih?" batin Arina.


Perlahan dia mendekat ke arah adiknya. Terlihat sekali Arya menangis.


"Dek." Panggilan yang tidak pernah keluar dari mulut Arina membuat Arya menoleh dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.


"Apa gua akan kuat ketika menjabat tangan Iyan? Melihat wajah Iyan saja selalu membuat hati gua sakit."


Arina dapat merasakan kesedihan yang mendalam. Adiknya benar-benar tulus menyayangi Rion.


"Jangan cengeng begini," ujar Arina seraya mengusap lembut punggung Arya. "Kasihan Iyan. Jangan buat dia semakin sendirian."


Suasana pun mendadak hening. Arina masih memeluk tubuh Iyan dengan begitu erat. Baru kali ini dia melihat Arya secengeng ini.


"Rion sudah tenang di alam sana. Jadi, jangan pernah buat Rion sedih. Dia juga pasti akan melihat dari surga sana anaknya menikah. Gua yakin itu."


"Gua pengen ketemu dia," lirih Arya. "Gak apa-apa walau hanya di dalam mimpi juga."


Perihal ini Arina tidak bisa berkata. Dia bingung harus bicara apa. Tangannya terus mengusap lembut punggung Arya. Dari sini Arina tahu jikalau Rion adalah benar-benar sahabat Arya.


.

__ADS_1


Mata Iyan masih terpejam ketika semua orang sudah ramai di lantai bawah. Dia enggan terbangun karena dia tengah bersama kedua orang tuanya. Sang bunda mengusap lembut kepala Iyan dan sang ayah tengah menceritakan hal yang membuatnya tertawa. Usapan lembut di rambutnya terasa begitu nyata. Membuatnya semakin memejamkan mata.


"Anak Bunda sudah besar. Maaf, Bunda baru bisa jenguk kamu." Suara yang begitu lembut keluar dari mulut Amanda. Dia tersenyum penuh cinta kepada putra keduanya.


"Kenapa Bunda gak pernah datang kepada Iyan?" Rasa penasaran masih memenuhi relung hati.


"Bunda malu," lirih Amanda. "Bunda tidak pantas datang ke dalam mimpi anak baik seperti kamu. Bunda sudah jahat sama kamu." Iyan menggeleng pelan. Dia memeluk tubuh ibunya yang memakai pakaian serba putih dengan hijab di kepala.


"Jangan bicara seperti itu, Bun. Iyan gak benci Bunda. Malah Iyan rindu sekali Bunda."


Temu rindu antara anak dan ibu. Juga sang ayah yang hanya bisa tersenyum bahagia melihat putranya berdamai dengan sang ibu.


"Jadilah suami yang baik, Nak. Jadi imam yang baik untuk istri kamu. Jangan pernah khianati dia karena itu akan sangat menyakitkan." Sebuah nasihat yang ibunya berikan.


"Tidak akan, Bun. Iyan tidak akan menyakiti hati istri Iyan."


"Bagus," sahut sang ayah. "Jangan seperti Ayah, Yan. Hanya penyesalan yang nantinya kita dapatkan."


"Insha Allah Iyan tidak akan seperti itu, Ayah," tegasnya. "Tegurlah Iyan jikalau Iyan salah langkah." Rion hanya tersenyum, dan dia memeluk tubuh putranya yang jangkung.


"Maafkan kami karena tidak bisa menyaksikan hari bahagia kamu. Maafkan kami juga karena tidak bisa mendampingi kamu di pelaminan nanti." Ananda berucap dengan senyum penuh paksa.


"Ketika kata sah diucapkan para saksi, peluklah tubuh Daddy. Kemudian, peluklah tubuh Mommy. Kamu akan merasakan bahwa di sana Ayah dan Bunda ada."


🎶


Dan teringat saat kepergianmu


Ku taburi bunga mawar untukmu


Ku berdoa untuk merelakanmu


Ayah ...


Berlinang air mataku.


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2