Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
28. Suara Pot Jatuh


__ADS_3

Arya menggelengkan kepala melihat kelakuan Iyan. Kedua pemuda-pemudi itu seperti orang yang tengah terciduk satpol PP.


"Iyan!"


Mata Iyan melebar ketika melihat sang kakak dari balik sambungan video Arya.


"Kakak pecat kamu jadi adik!" Suara sang kakak sudah memekik dengan sangat keras.


"Ih, Papah mah," omel Beeya. Arya hanya tertawa.


"Udah sih Kak, orang gagal juga." Iyan menoleh ke arah Beeya yang dengan santainya berbicara seperti itu kepada kakaknya yang paling garang.


"Kamu itu, ya!" geram Echa. Beeya hanya menunjukkan deretan gigi putihnya.


.


Malam pun tiba, wanita muda itu tengah menatap langit malam melalu jendela kamar Iyan. Dia benar-benar takut sendirian sekarang. Tidur bersama kedua orang tuanya pun dia tidak mau. Hanya Iyan, yang mampu membuatnya aman.


"Lagi apa?"


Iyan sudah berada di belakang Beeya. Meletakkan dagunya di kepala Beeya.


"Hanya tengah berbicara kepada penghuni malam," sahut Beeya.


Iyan tersenyum tipis mendengarnya. Dia tidak berbicara apa-apa. Menemani Beeya yang tengah menatap langit malam tanpa bersuara. Namun, tangannya memeluk tubuhnya seperti orang yang tengah kedinginan.


Tangan Iyan pun melingkar tepat di atas tangan Beeya. "Apa sudah merasa hangat?" Beeya hanya tersenyum tipis tanpa membalikkan tubuhnya. Membiarkan mereka berada pada posisi ini sejenak. Menghilangkan rasa takut yang sedikit demi sedikit menguar karena kehadiran Iyan.


Cukup lama berada di posisi seperti itu, tangan Iyan tiba-tiba menutup jendela kamar juga menarik gorden untuk menutupi kaca jendela. Beeya sedikit terkejut karena sekarang pemuda tinggi itu ada di hadapannya.


"Sekarang kita tidur, ya." Tangan Iyan mengusap lembut ujung kepala Beeya dengan penuh kasih sayang.


Namun, ketika Beeya hendak naik ke atas tempat tidur, Iyan mencekal lengan Beeya membuat mata Beeya menatapnya penuh tanya.


"Ganti pakai celana panjang. Aku gak suka kamu mempertontonkan lekuk kaki kamu, kecuali-" Iyan tiba-tiba terdiam. Tak melanjutkan ucapannya.


"Kecuali apa?" tanya Beeya penasaran.


"Kecuali pada seorang laki-laki yang nantinya menjadi imam untukmu, yakni suami kamu."


Beeya tertegun mendengar ucapan Iyan. "Apa calon suami aku itu kamu?"

__ADS_1


Iyan terkejut mendengar pertanyaan Beeya. Salah tingkah dan hatinya merasa berbunga ketika Beeya mengatakannya.


"Canda, Iyan." Beeya pun tertawa seraya mencubit pipi Iyan dengan gemas.


Seketika hati Iyan terasa sakit mendengar ucapan Beeya. Mimik wajahnya pun mulai berubah.


"Antar aku ke kamar buat ambil celana panjang." Beeya sudah menarik tangan Iyan dan sekecewa apapun Iyan, dia tidak bisa menolak permintaan wanita yang lima tahun lebih dewasa darinya.


Iyan hanya menunggu Beeya di ambang pintu. Menyandarkan tubuhnya pada daun pintu yang terbuka lebar.


Suara pecahan pot bunga membuat Beeya berteriak histeris. Kedua tangannya menutup telinganya.


"Jangan!" serunya. Kini, tubuhnya sudah berjongkok di depan lemari.


"Jangan! Aku tidak mau!"


Iyan segera memeluk tubuh Beeya yang tengah histeris kembali.


"Aku tidak mau! Tidak mau!"


Iyan semakin erat mendekap tubuh Beeya. Dia pun membawa tubuh Beeya duduk di atas ranjang. Namun, perempuan itu menggeleng dan malah memeluk tubuh Iyan dengan erat.


"Aku gak mau di sini. Bawa aku pergi." Mata Beeya benar-benar terpejam dengan sangat rapat. Ada trauma yang tidak bisa dia katakan. Iyan harus mencari tahu.


"Kenapa, Yan?" tanya Beby.


"Mah, Pah, coba cek ke balkon. Ada apa di sana?" ujar Iyan.


"Memangnya kenapa?" tanya balik Beby.


"Tadi ada suara benda jatuh gitu. Makanya Kak Bee jerit-jerit."


Arya segera memeriksa balkon kamar Beeya. Iyan pun membawa Beeya ke dalam kamarnya. Mencoba menenangkan perempuan yang kadang bisa menunjukkan sisi aslinya, dan terkadang berteriak histeris seperti orang ketakutan.


"Tidur, ya." Beeya menggeleng. Tangannya menarik tangan Iyan agar tetap menemaninya.


"Iya, aku akan tetap ada di samping kamu."


Ketika Beeya terlelap dengan damainya, Iyan tengah menerka-nerka apa yang sudah terjadi dengan Beeya. Dia memejamkan matanya sejenak dan hatinya memanggil-manggil nama para sahabatnya.


"Kenapa?" Jojo sudah ada di sampingnya.

__ADS_1


"Jaga Kak Bee, ya. Aku mau ke kamar Kak Bee dulu." Jojo mengangguk mengerti.


Tidak ada satupun foto yang terpajang di kamar Beeya. Namun, langkahnya membawanya ke sebuah meja yang ada di samping tempat tidur Beeya. Di sana hanya ada sebuah laptop juga buku catatan.


Iyan mencoba membuka buku catatan berwarna ungu muda tersebut. Dahinya mengkerut ketika hanya tulisan "aku takut" di sana. Tulisan itu sampai pada halaman tengah. Tulisannya pun sangat berantakan.


Masih belum terpecahkan, tiba-tiba Iyan teringat akan ponsel yang dipakai Beeya kemarin. Itu bukan ponsel yang biasa Beeya gunakan. Dia pun segera mencari ponsel yang bermerek apel separuh ke setiap sudut ruangan.


"Ketemu."


Iyan mendapati ponsel itu di bawah tempat tidur Beeya. Ponsel itu seperti sengaja Beeya buang. Iyan mencoba mencharger-nya. Namun, Iyan memutusakan untuk membawa ponsel itu ke kamarnya yang ditempati Beeya. Dia mengisi daya baterai di sana.


Setelah terisi dan bisa dihidupkan, Iyan segera menghidupkan ponsel tersebut. Dia terus mengutak-atik ponsel Beeya. Ada sebuah file yang berjudul secret. File itu Iyan buka. Sontak mata Iyan melebar.


"Ayo, Sayang. Kita pesta sekss siang ini."


Beeya yang tengah mengenakan bikini di tepian kolam renang semakin beringsut mundur karena bukan hanya Raffa yang ada di sana. Ada lima lelaki lain yang sama sekali tak dia kenali. Apalagi tubuh mereka sudah polos semua.


"Enggak! Aku gak mau!"


"Jangan! Pergi kalian!


Tubuh kecil itu tak mampu melawan enam pria yang bertubuh cukup atletis. Beeya seperti sudah terkurung dalam enam elang yang kelaparan. Dia terus memberontak dan enam pria itu semakin mendekatkan wajah mereka dan seperti ingin memangsa Beeya dengan sorot mata penuh napsu.


"Jangan! Aku mohon!"


Beeya terlihat terus memberontak dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya.


"Jangan sok suci kamu, Bee. Bohong jika kamu belum pernah melakukannya dengan pria yang kamu anggap seperti adik. Aku akan melepaskan kamu ketika kamu sudah rusak dan hancur."


Beeya terlihat menggigit bibir Raffa dengan sekuat-kuatnya. Lututnya juga sudah menendang bagian pamungkas dari dua pria yang sudah hampir melucuti pakaiannya. Raffa pun menjerit. Video itupun berakhir.


Urat-urat kemarahan muncul di wajah Beeya. Apalagi ketika Raffa berhasil mencium bibir Beeya dan tangan dua lelaki sudah menjamah tubuh perempuan berkulit putih itu.


"Berengsekk!"


Tangannya sudah mengepal dengan. sangat keras. Wajahnya sudah merah padam dan hatinya sudah dipenuhi kemarahan.


Iyan mencoba melihat pesan yang ada di sana. Kemarahannya semakin menjadi ketika membaca isi pesan yang dikirimkan oleh Raffa.


"Mereka akan datang lagi. Aku pastikan mereka akan berhasil menikmati tubuhmu."

__ADS_1


...****************...


Komen dong ...


__ADS_2