Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
214. Restu (Semuanya)


__ADS_3

Boleh minta komennya gak? Gratis kok.


...****************...


"Oh iya, kok bisa kalian ada di sini?" tanya Beeya yang merasa aneh kepada semua keluarga Iyan.


Wanita yang memakai baju rumahan itu menatap kepada semua orang yang sudah ada di meja yang berisi banyak makanan.


#Flashback on.


Tes.


Bulir bening pun menetes begitu saja dari pelupuk mata Echa. Dia sangat melihat betapa Iyan sangat serius dengan perkataannya. Tidak ada keraguan dari perkataan dari adiknya itu. Hanya ketegasan yang Iyan tunjukkan.


"Kak, Iyan akan hargai semua keputusan Kakak. Iyan juga tidak ingin menjadi anak yang durhaka karena orang tua yang Iyan miliki saat ini hanya Kakak dan Kak Ri."


Hati Echa semakin sakit mendengarnya. AIr matanya menetes dengan lancar membasahi pipinya. Iyan segera berpindah tempat tanpa melepaskan genggaman tangannya kepada sang kakak tercinta.


"Jangan pernah meneteskan air mata hanya karena Iyan." Pemuda itu segera memeluk tubuh kakaknya dengan sangat erat.


Bulir bening menetes begitu deras membasahi wajah Echa. Hatinya tersentuh mendengar apa yang dikatakan oleh Iyan. Adiknya sungguh memiliki hati yang tak dia duga. Samar terlihat ada siluet wajah sang ayah yang tersenyum ke arah Echa. Tubuh Echa pun menegang dan matanya masih tertuju pada sosok yang sangat dia rindukan. Kemudian sang ayah menganggukkan kepala dan berkata, "restuilah!"


Namun, bayangan itu tak bertahan lama. Sekejap bayangan itu hilang dan semakin membuat Echa mengeratkan pelukannya kepada sang adik. Usapan lembut di punggungnya membuat air mata tak kunjung reda.


Setelah kakaknya merasa tenang, Iyan mengurai pelukannya dan mengusap lembut air mata yang membasahi wajah sang kakak.


"Iyan tidak ingin membuat Kakak terpaksa merestui Iyan."

__ADS_1


Echa menangkup wajah sang adik dengan air mata yang belum juga surut. Sang kakak pun menggeleng dan mengecup kening adik sangat dalam, mampu membuat Iyan memejamkan mata untuk sejenak. Dia seperti dicium hangat oleh sang bunda.


"Tidak ada alasan untuk Kakak tidak merestui hubungan kamu."


Iyan tak percaya dengan apa yang kakaknya ucapkan. Namun, wajah Echa terlihat sangat serius. Apalagi senyum Echa sudah terukir di wajah cantiknya.


"Kakak tidak bercanda?" tanya Iyan dengan raut yang tidak bisa ditebak.


"Daddy yang akan melamarkan kamu kepada papahnya Beeya."


Tubuh Iyan menegang ketika mendengar suara seseorang yang sangat dia segani. Iyan pun menoleh ke belakang dan Gio sudah berjalan ke arahnya. Mata Iyan pun berkaca-kaca.


"Jangan sungkan kepada Daddy," ujar Gio. "Anggap Daddy seperti ayah kamu." Tangan Gio menepuk pundak Iyan dengan begitu lembut.


"I-iyan gak mimpi 'kan." Pemuda itu masih tidak percaya dan Gio memeluk tubuh Iyan dengan begitu eratnya.


Bulir bening pun menetes begitu saja di pelupuk mata Iyan. Dia tidak menyangka Gio hadir di Bali.


"Kami hanya ingin melihat kamu bahagia, Yan."


Suara Aska terdengar di telinga. Dia melihat lurus ke depan. Di mana kedua Abang iparnya, kakak keduanya, Aska dan juga lima keponakannya pun datang.


"Kalian-"


"Kami merestui kamu, Yan." Ucapan Riana membuat Iyan semakin menangis cukup keras. Terlihat betapa anak itu membutuhkan sosok ayah. Juga sangat menghargai keputusan sang kakak.


"Sekarang cepat hubungi Beeya, suruh dia ke kafe ini," titah Radit.

__ADS_1


#flashback off.


Itulah kenapa Iyan menelpon Beeya dengan suara berat. Dia tengah terharu, apalagi semuanya sudah disiapkan oleh keluarga besarnya.


Beeya terharu mendengar apa yang dijelaskan oleh Iyan. Iyan menggenggam tangan Beeya yang ada di atas meja. Mengusap lembut punggung tangan calon istrinya.


"Makasih, semuanya." Beeya menyeka ujung matanya. Dia sangat terharu dengan apa yang dilakukan oleh semua orang yang menyayangi Iyan.


"Kakak titip Iyan, ya." Beeya mengangguk dengan pelan.


"Kapan kalian ke sini?" tanya Arya. Dia pun disuruh ke kafe itu karena dihubungi Gio. Ternyata akan ada acara lamaran dadakan.


"Sudah dari tiga hari yang lalu," sahut Gio.


"Jadi, yang aku lihat di pantai itu emang beneran si triplets?" sergah Iyan. Si triplets hanya menyunggingkan senyum dan Iyan hanya menggelengkan kepala.


"Parah," ucap Iyan. "Terus kamu, Mas," tunjuk Iyan kepada Gavin. Anak itu hanya mengangguk.


Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Iyan. Namun, ada segelumit kebahagiaan yang dia rasakan. Keluarganya sangat kompak sekali.


Mereka pun berbincang santai dengan dua sejoli yang baru saja selesai melakukan lamaran. Apalagi Ghea yang bagai perangko kepada Beeya.


"Besok, Iyan harus ikut kami kembali ke Jakarta."


Kalimat itu membuat tubuh Beeya menegang.


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2