
Sebuah ancaman yang mengerikan dan mampu membuat nyali Iyan tergoyahkan. Dari pada ATM diblokir pas sedang bersama pacar, lebih baik mengajak si kurcil jalan-jalan Kedua anak Aksara ternyata sangat berbahaya.
Akhirnya Iyan mau diajak ke mall. Bocah enam tahun itu sangat antusias. Apalagi, ini hari terakhir dia berada di Bali. Malam nanti dia akan dijemput oleh ayahnya dan akan kembali ke Jakarta.
Iyan yang tengah memainkan ponselnya tercengang ketika dia menoleh karena ada seseorang yang memanggilnya. Penampilan modis dan juga cantik dari dua wanita yang ada di depannya. Matanya tak berkedip apalagi melihat Beeya yang mengenakan celana di atas lutut berwarna putih juga kaos sedikit longgar yang sangat cocok untuk tubuhnya.
"Cantik gak?" tanya Ghea. Iyan tersenyum dan mensejajarkan tubuhnya dengan Ghea. Dia mengusap lembut pipi gadis kecil itu.
"Kamu itu seperti Mommy kamu. Selalu cantik memakai apapun," sahut Iyan. Ghea tak segan memeluk tubuh sang paman dan mencium pipi Iyan.
"Boleh ya Adek belanja." Anak itu sudah mengeluarkan Puppy eyes dan mampu membuat Iyan tertawa.
"Iya boleh."
"Asyik!" Kegirangan Ghea membuat Iyan bahagia. Kini, dia beralih pada sosok wanita yang sudah tersenyum hangat ke arah Iyan. Namun, Iyan menunjukan wajah tidak sukanya.
"Aku gak suka cara berpakaian kamu." Tidak ada basa-basi sama sekali. Iyan langsung menembak pada inti.
Beeya melihat ke arah tubuhnya. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Ayang, aku pake ini karena pergi sama kamu."
Beeya merengek layaknya anak kecil. Dia juga sudah merangkul manja lengan sang kekasih. Dia tahu Iyan tidak suka melihat Beeya mengumbar aurat.
"Kulit kamu terlalu indah untuk dipandang oleh semua mata," tekan Iyan.
Ghea yang sudah merasakan hawa tidak enak akhirnya memilih untuk pergi.
"Adek tunggu di bawah."
Perdebatan masih terjadi. Beeya tetap tidak ingin mengganti pakaiannya. Sedangkan Iyan memilih diam.
Iyan masih bergeming. Dia malah melipat kedua tangannya di atas dada dengan duduk di sofa yang ada di kamar Beeya. Keteguhan hati Iyan tidak akan bisa tergoyahkan.
Akhirnya satu ide cemerlang hadir di kepala Beeya. Dia mendekat ke arah sang kekasih dan mulai duduk di pangkuan Iyan. Tangannya sudah merangkul leher Iyan dengan begitu erat.
"Jangan goda aku!"
Beeya tersenyum tipis mendengar ucapan dari Iyan. Mungkinkah Iyan tidak akan tergoda oleh bibir manisnya ini.
__ADS_1
"Kalau aku gak boleh goda kamu, berarti boleh dong aku goda laki-laki lain." Mata Iyan pun melebar. Dia menatap tajam manik mata kekasihnya. Tangannya pun sudah menarik dagu Beeya dengan cukup kasar.
"Jangan bicara macam-macam, Beeya!" geramnya. Beeya malah semakin memancing.
"Aku seriusan, mantan pacar aku juga selalu puas dengan permainan bibir aku."
Amarah Iyan sudah menggebu-gebu. Dia benar-benar murka dan segera dia loemat bibir pink kekasihnya. Awalnya kasar, tetapi karena balasan Beeya yang lembut membuat Iyan pun memperhalus permainan bibirnya. Beeya tersenyum penuh kemenangan.
Udara yang mereka hirup sudah menipis. Mereka berdua memundurkan wajah mereka dengan napas terengah-engah.
"Boleh, ya. Aku pakai celana ini ketika pergi bersama kamu doang. Aku juga gak berani pakai pakaian seperti ini tanpa kamu."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Iyan. Namun, akhirnya dia pun menganggukkan kepalanya dan membuat Beeya tersenyum bahagia.
"Kiss me again," pinta Iyan.
"Dengan senang hati, Ayang."
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...