Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
106. Bha-Gonk


__ADS_3

Anggie yang masih berada di food court tersebut sedang menunggu Iyan kembali. Dia sangat yakin Iyan akan kembali lagi. Iyan pasti memiliki hati yang baik. Belas kasihan pun sudah datang dari para perempuan yang ada di food court. Tanpa Anggie ketahui, gerak-geriknya tengah dipantau oleh tiga sahabat Iyan.


"Coba deh jadi artis sinetron," ujar Dev.


"Gak menjual, cantik juga enggak," sahut si kerdil.


Jojo hanya tertawa. Dia masih menatap Anggie dari kejauhan. Dia juga melihat ada sesuatu yang Anggie pegang di tangannya. Sepertinya akan ada kejadian yang tidak diinginkan.


Lama Jojo memandangi Anggie, dia juga sengaja tidak terkoneksi dulu dengan Iyan. Dia ingin tahu apa rencana Anggie kali ini.


Kesabaran Anggie pun sudah habis. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang karena Iyan tak kunjung datang. Jojo terus mengikutinya hingga dia melihat Anggie menghubungi seseorang.


.


Iyan baru selesai berganti baju dan menghampiri Beeya juga Ghea. Matanya memicing ketika melihat ada seorang SPG bersama kekasihnya. Terlihat mereka juga berbincang akrab.


"Papap," panggil Ghea dengan riang gembira. Iyan mengerutkan dahinya ketika anak itu menghampirinya sambil berlari.


Dia mencari sosok pria yang di panggil papap tersebut. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Malah Ghea memeluk tubuh Iyan dengan begitu erat. Iyan pun merasa heran dengan keponakannya ini.


Belum juga bertanya, Anak itu menarik tangan Iyan agar sejajar dengannya. "Pura-pura jadi ayah Adek," bisiknya. "Si Mbak itu nyangkanya Adek anak Tante Centil." Ghea menunjuk ke arah SPG dengan mulutnya.

__ADS_1


Iyan pun tersenyum mendengar bisikan dari sang keponakan. Dia mengacungkan jempolnya menandakan setuju. Deretan gigi susu yang rapi pun Ghea tunjukkan. Akting mereka akan dimainkan.


"Mamim, ayo pulang." Iyan menghampiri Beeya dengan berkata seperti itu dan mampu membuat Beeya tercengang.


"Mamim?" Begitulah batinnya berkata. Beeya menatap penuh tanya ke arah sang pacar.


Iyan mengangkat kedua alisnya dan Beeya mengerti akan kode itu. Dia tersenyum dan mengambil tisu basah dari dalam tasnya untuk membuat Iyan steril dari kuman-kuman wanita bhagonk.


"Bersihin dulu tangannya." Beeya benar-benar tidak mau memegang tangan Iyan yang bekas dipegang oleh wanita bhagonk tadi.


"Iya, Mamim sayang."


"Udah," ujar Beeya. Iyan pun tersenyum dan mengusap lembut ujung kepala Beeya.


Iyan sudah mengulurkan tangannya ke arah Beeya dan disambut hangat oleh sang kekasih.


"Mau ke mana lagi kita?" tanya Iyan yang tak segan mengecup ujung kepala Beeya. Ini adalah kesempatan untuknya.


"Makan," jawab Ghea sangat lantang.


Beeya pun tersenyum begitu juga dengan Mbak SPG yang ikut bahagia melihat keluarga kecil di depannya. Apalagi Beeya sangat ramah juga Iyan yang sangat tampan.

__ADS_1


"Mbak, saya duluan, ya."


"Hati-hati, Kak," sahut Mbak SPG.


Beeya dan Ghea tertawa setelah keluar dari toko baju tersebut. "Berarti kamu sudah pantas jadi ibu," ucap Iyan.


"Belah duren juga belum. Gimana mau jadi ibu."


Iyan menghentikan langkahnya diikuti oleh Beeya. Dia menatap Beeya dengan sorot tak bisa diartikan.


"Kenapa?" tanya Beeya bingung.


"Mau belah duren sekarang?" Mata Beeya melebar mendengar ucapan dari Iyan kali ini. Dia memukul keras lengan Iyan hingga pemuda itu mengaduh cukup keras.


"Adek mau juga ikut belah duren. Pasti enak."


.


...****************...


Komen dong ..

__ADS_1


__ADS_2