Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
121. Sibuk


__ADS_3

Iyan mnengesampingkan kekhawtirannya. Dia masih fokus pada layar segiempat yang masih menyala. Padahal sekarang sudah jam sebelas malam. Kini, dia menempati ruangan kerja sang ayah. Dia merasakan bagaimana jadi pegawai kantoran sesungguhnya. Tidak hanya bekerja di belakang layar, tetapi dia harus terjun langsung. Bergelut dengan berkas juga kata.


Terkadang dia menghela napas kasar, tetapi dia juga sadar jika sekarang dia harus kerja serius. Biaya nikah itu tidak murah. Sudah pasti keluarga Beeya akan menuntut pernikahan yang tak biasa. Apalagi Beeya adalah anak tunggal juga cucu satu-satunya Anthony Bhaskara.


Suara pintu terbuka dan sang kakak sudah membawa nampan berisi makan malam yang telah Iyan lewatkan.


"Jangan siksa diri kamu, Yan."


Iyan hanya tersenyum menyambut kedatangan kakaknya yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.


"Tanggung, Kak."


Echa menggeleng dan meletakkan nampan di atas meja kerja sang adik. Dia juga menarik kursi yang ada di depan meja kerja Iyan.


"Makan dulu." Echa sudah mengangkat sendok yang sudah berisi nasi, lauk juga sayur dan membuat Iyan tersenyum. Ada kebahagiaan yang tak terkira di hatinya.


"Iyan bisa sendiri, Kak."

__ADS_1


Tetap saja Echa tidak membiarkan adiknya makan sendiri. Dia menyuapi Iyan agar perutnya terisi dan pekerjaannya cepat selesai.


Echa melihat ke arah ponsel Iyan yang berbeda dari ponselnya sebelumnya. Tidak biasanya Iyan menghambur-hamburkan untuk membeli ponsel baru.


"Hape lama kamu ke mana?" Iyan menoleh ke arah kakaknya yang sudah menatapnya.


Mata Iyan kini tertuju pada ponsel yang ada di atas nakas. "Itu dari Bang Aksa," ucapnya. Echa mengangguk mengerti. Jika, Aksara sudah memberikan ponsel kepada seseorang pasti perihal pekerjaan yang tak bisa terbantahkan.


"Udah malam, lanjut lagi besok," ujar Echa kepada sang adik.


"Sedikit lagi, Kak."


"Apakah kamu sudah menghubungi lebah resek?"


Mendengar lebah resek membuat Iyan terdiam sejenak. Akibat pekerjaan yang banyak dia melupakan seorang wanita yang pastinya menunggu kabar darinya.


"Boleh sibuk, tapi jangan lupa juga kasih kabar kepada calon istri kamu."

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu Echa segera pergi meninggalkan Iyan, dan pemuda itupun menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran sang ayah. Dia meraih ponsel pribadinya yang sedari tadi dia letakkan di dalam laci dengan mode senyap. Ketika dia menghidupkan ponselnya helaan napas kasar keluar dari mulutnya.


Lima puluh panggilan dari kekasihnya. Juga lebih dari tiga puluh pesan singkat dari sang kekasih yang terus memanggilnya. Iyan melihat ke arah jam dinding dan sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Itu berarti di sana sudah jam satu pagi.


"Apakah dia masih terjaga?"


Iyan cukup ragu untuk menghubungi Beeya. Baru juga hendak menyentuh gagang telepon, ponsel pemberian dari Aksara berdering dan membuat Iyan menghela napas sangat kasar.


"Iya."


"Harus selesai malam ini." Perkataan yang tak bisa dibantah. Iyan hanya menjawab dengan anggukan walaupun tidak bisa Aksara lihat.


Ponsel pribadinya pun dia letakkan kembali dan mulai fokus pada pekerjaannya lagi dan lagi. Jarum jam terus bergerak ke arah kiri, tak terasa kini sudah jam tiga pagi dan sebuah kalimat syukur Iyan ucapkan.


Pemuda itupun mulai merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Matanya sudah sangat berat dan dia memilih untuk tidur di sofa yang ada di ruang kerja sang ayah. Tanpa menunggu lama matanya pun mulai terpejam.


.

__ADS_1


Beeya terus menunggu Iyan menghubunginya. Hingga pagi menjelang dia hanya terlelap untuk beberapa jam saja. Terus mengecek ponselnya. Namun, tidak ada pesan balasan ataupun telepon dari kekasihnya itu.


"Ke mana kamu, Yan?"


__ADS_2