Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
173. Keharuan dan Kebahagiaan


__ADS_3

Iyan dan Beeya tidak diperbolehkan untuk bersatu terlebih dahulu. Bahaya begitulah kata Echa. di depan penghulu pun Beeya tidak tahu malu. Mereka masih harus dipisahkan hingga acara resepsi selesai.


"Atuh lah, Kak," rengek Beeya. " 'kan udah sah masa iya begini terus, " kata sang adik ipar yang ke barbarannya sangat luar biasa.


"Enggak ada rengekan. Enggak ada penawaran. Harus ikut sesuai prosedur peraturan." Echa pun tak kalah tegas.


Beeya ingin merengek kepada sang ayah. Namun, tatapan tajam sang ayah membuat nyalinya ciut. Hembusan nafas kasar lah yang keluar dari mulutnya


"Terus aku ngapain dong? Masa iya cuman pegangan tangan, gak asyik," sungutnya. "Enggak mungkin juga 'kan ******* di depan kalian."


"ABEEYA!!!" seru kedua kakak juga ayah dan ibu Beeya. Bukannya kabur. Beeya malah tertawa terbahak-bahak


Iyan hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang di luar ekspektasi manusia. Namun, itulah yang membuat Iyan cinta kepada wanita itu. Dia adalah wanita yang apa adanya, selalu membuat suasana menjadi ceria dan hangat.


Iya juga terlohat sangat bahagia karena sang ayah hadir dalam acara pernikahannya,walau hanya sebentar itu tak jadi masalah. Juga Ibu, Jojo, Dev, Om Uwo, om poci, Ante pocita serta si kerdil ikut hadir menyaksikan. Kebahagiaan Iyan hari ini sangatlah lengkap. Ditambah sang istri yang selalu menjadi pelipur lara untuknya. Beeya yang selalu datang tepat pada waktunya. Ketika dia sedih, dia selalu datang menghibur. Ketika ia menangis dia selalu meredakan.


"Mending kalian siap-siap untuk resepsi nanti," titah sang papah. "Butuh tenaga ekstra. Makan yang banyak karena kalian akan terus berdiri menyambut tamu yang sangat banyak," ucap sang ayah dengan begitu tegas


"Amplopnya juga banyak dong, Pah," tanya Beeya. Anak itu pun tertawa seakan mengejek sang ayah.


"Waktu ngadonin si Beeya pakai bahan apa sih, Om?" tanya Echa. "Kenapa bisa jadi anak yang kayak gini modelannya." Echa terheran-heran.


Semua orang pun tertawa. Ya, begitulah mereka tidak ada yang bisa berbicara lembut. Hanya kata-kata sangat tajam dan juga menyakitkan yang keluar


dari mulut mereka. Namun, mereka tidak pernah memasukkan ucapan siapapun ke dalam hati. Begitulah kekeluargaan mereka.


.


Di lain tempat,


Ucapan Aleesa masih tangiang yang di telinga Restu. Hatinya terasa sakit, dadanya terasa sesak. "Kenapa ucapan si galak itu membuat gue hancur, ya." Restu tersenyum tipis.


Namun, dia juga bersyukur karena ayah dari sahabatnya akan mengirim dia ke Swiss. Di mana dia akan meninggalkan negara ini dan perlahan melupakan rasa yang dia miliki untuk Aleesa. Untungnya rasa itu belum cukup besar, belum tumbuh dengan banyak. Jadi, dia bisa menghilangkan rasa itu dengan mudah


Rindra mendatangi Restu kembali setelah menghadiri acara akad nikah Beeya dan juga Iyan. Sekarang Rindra tidak sendiri, di bersama istrinya yakni Nesha. Rondra mengatakan apa yang tadi Rio katakan.


"Kamu harus bersiap untuk pergi ke Swiss. Di sana tempat yang cocok untuk kamu. Kamu akan dididik dan ditempa menjadi apa yang kamu inginkan."


Restu hanya mengangguk, dia akan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Rindra, ayah dari sahabatnya. Pria itu memang dingin, tapi memiliki rasa kasih sayang yang teramat luar biasa untuknya. Walaupun dia bukan darah daging Rindra sendiri.


"Jaga diri kamu baik-baik, ya. Di sana jangan banyak merokok. Kasihan paru-paru kamu." Nasihat dari seorang ibu untuk putranya.

__ADS_1


"iya, Tante. Aku usahakan, tapi aku tidak janji." Begitulah Restu. Dia belum bisa lepas dari yang namanya rokok. Rokok adalah sahabatnya.


"Jangan lupa hubungi Tante jika sudah sampai di sana, dan jangan melupakan tante karena bagaimanapun kamu adalah kakak dari dari Rio."


Ucapan dari Nesha selalu saja membuat hati Restu mencelos. Jujur masuk ke dalam keluarga Rindra membuatnya bisa mewujudkan mimpi, yaitu memiliki keluarga yang bahagia bersama ayah dan ibu yang sama-sama menyayanginya.


"Kapan Restu berangkat, Pih?" tanya Nesya kepada sang suami.


"Kemungkinan lusa dia sudah harus pergi ke Swiss."


"Apakah lukanya sudah sembuh?" Ada kekhawatiran yang Nesha tunjukkan.


"Dia itu turunan kucing, punya nyawa sembilan." Restu pun tertawa dengan candaan sang ayah angkat.


"Jangan lupakan Rio juga, ya. Dia masih butuh kamu."


"Pasti, Tante. Aku tidak akan pernah melupakan Rio. Ketika aku kembali ke Jakarta pun aku janji aku akan tetap bersama Rio. Menjaga Rio, adikku." Nesha pun tersenyum mendengarnya. Iniilah yang dia suka dari Restu. Kata orang Restu adalah berandalan tapi baginya Rasul adalah anak yang bisa diandalkan


.


Di salah satu kamar hotel, Kalga mendatangi kamar Rio. Sang penghuni kamar mengerutkan dahi melihat siapa yang datang ke kamarnya.


"Bicaralah tidak ada yang melarang." Rio menjawab dengan sangat ketus juga tatapan sinis


"Ada masalah apa Kak Rio denganku? Kenapa Kak Rio seakan tidak menyukaiku dekat dengan Aleena?" Rio tersenyum tipis dia pun berdecih hampir tak terdengar.


"Masih nanya kenapa? Apa kamu tidak sadar apa yang telah kamu lakukan?" Rio balik bertanya kepada Kalfa.


"Jangan pernah menjadi lelaki yang tidak tahu diuntung," sindir Rio dengan begitu ketus.


"Kenapa membahas masa laluku?" sergah Kalfa.


"Siapa yang membahas masa lalu kamu? Aku tidak peduli siapa kamu dulu, yang aku pedulikan siapa kamu sekarang. Kamu seolah menjadi lelaki yang tak tahu terima kasih. Tidak ingin melepaskan salah satu diantara mereka."


"Aku tidak ingin keduanya, tapi Aleeya lah yang terus memaksa," akui Kalfa.


"Harusnya kamu tegas Siapa yang ingin kamu pertahankan. Jangan kamu memberi harapan pada akhirnya mereka akan merasa tersakiti oleh sikap kamu yang katanya tidak enakan." Kalfa pun terdiam.


"Aku sayang Aleena, Kak," ucapnya begitu lemah. Dan Rio pun tertawa ada orang sayang tapi ragu


"Kalau sayang buktikan, bukan hanya dari ucapan. Sudah nggak zaman," ketus Rio untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Tapi, aku nggak mau Aleeyaa juga terluka." Tawa Rio menggema


"Kemaruk, itulah kamu," tegas Rio. "Berkata tidak ingin menyakiti Aleeya, tapi kamu sayang sama Aleena. Halo apakah kamu akan menggilir mereka? Laki-laki aneh," sungut Rio.


"Ingat, ya. Jangan pernah kamu sakiti Aleena ataupun Aleeya. Aku akan mencari kamu hingga ke lubang semut sekalipun," tekan Rio sepupu Aleena dan Aleeya.


"Kenapa mainannya ancaman sih? Kenapa jadi ketularan si brandal?" sarkas Kalfa.


"Tidak usah membahas perihal si berandalan. Dia tidak ada sangkut pautnya. Sikapku yang brandal ataupun alim, itu urusanku. Sekarang urusanku dengan kamu, perihal sepupuku. Tidak ada seorang kakak yang menginginkan adiknya disakiti. Bukan hanya aku yang tidak akan tinggal diam. Om Aska, Kak Iyan dan pastinya Uncle Radit akan mencari kamu jika sampai kamu membuat Aleena menangis ataupun membuat Aliya bersedih. Ingat itu."


Niat hati ingin meminta bantuan kepada Rio malah dia yang terkena ancaman. Terlihat jelas bahwa Rio tidak menyukainya.


"Satu hal lagi, ada pria baik yang telah mengejar Aleena. Siap-siap kamu akan tersingkir jika kamu masih seperti ini. Hidup dalam kebimbangan dan menginginkan keduanya untuk menjadi milik kamu."


"Siapa? Rangga?" tebak Kalfa.


"Dia beda kasta dengan kita. Mana mungkin Om Radit mau menerima dia." Kalfa berkata dengan sangat percaya diri.


Sombong sekali Kalfa, dia tidak sadar dari mana dia berasal. itulah yang membuat Rio terkadang kesal.


"Kenapa harus memandang kasta? Ketika cinta datang, semuanya seolah menghilang. Cinta itu buta, Bro. Apalagi jika yang datang memawa cinta yang tulus dan menjanjikan sebuah kebahagiaan bukan datang hanya untuk menyakitkan."


Ucapan yang sungguh menusuk ulu hati. KAlfa tidak bisa berkata apapun. Mulut Rio ternyata tajam seperti mulut ayahnya. Diam-diam dia memperhatikan tanpa memperlihatkan.


"Intinya pilihlah salah satu. Jika, kamu menyukai Aleena, pilihlah dia. Jika, kamu menyukai Aleeya pilihlah Aleeya. Jujurlah dengan perasaan kamu. Jujurlah kepada mereka agar mereka bisa move on dari kamu yang ternyata hanya memberikan harapan palsu," papar Rio.


.


Aleena dia masih terdiam di dalam kamar hotel. Masih mengenakan pakaian yang diperkhususkan bridesmaids untuk acara akad nikah sang paman. Dia mendengar sendiri betapa ayah dari Kalfa itu memuji Aleeya. Ya, hanya Aleeya yang dipuji. Padahal ada dirinya di sana. Bukannya Aleema haus akan pujian, tetapi lihatlah dia sebentar. Dia ada di antara mereka. Namun, tetap saja Satria tidak melihatnya. Sakit sudah pasti, dan Kalfa pun hanya mengajak berbincang Aliya dan mengabaikannya. Kehadiran Aleena tadi di antara kalfa Aleeya dan juga Satria hanya sebagai butiran debu yang tak terlihat.


"Apa ini tandanya aku harus menyerah? Tidak ada Restu dari Opa Satria untuknya." Aleena tersenyum kecut. Ya dia ingin menyudahi perasaannya.


Lagi pula Aleeya sudah terang-terangan ingin memiliki Kalfa. Jadi, lebih baik dia menyerah untuk membahagiakan adiknya.


Rangga dia memilih duduk di taman hotel dia melihat jelas betapa sedihnya Aleena ketika diabaikan oleh tiga orang yang tadi bersamanya di akad nikah. Sebenarnya Rangga ingin menarik tangan Aleena, membawanya pergi dari sana. Namun, dia sadar diri. Dia siapa? Dia hanyalah anak angkat dari seorang Aksara.


Rangga tidak menyalahkan Kalfa. Tidak ada yang menyalahkan Aleena juga. Perasaan merekalah yang salah, termasuk perasaan Rangga yang masih menyukai Aleena yang jelas-jelas menyukai orang lain. Sakit memang, tapi Rangga malah bahagia mempertahankan perasaannya. Hingga dia mencatat sebuah mimpi yang harus dia gapai setelah dia lulus sekolah di sebuah buku yamg dia namakan dream book. Mimpi pertama, dia ingin menjadi pilot dan bisa beekeliling dunia. Mimpi kedua dia ingin mempersunting Aleena. Konyol memang, tapi itulah mimpi yang Rangga miliki.


Mencintai dalam diam itu sakit dan sulit, tapi tidak ada yang bisa menggeser posisi Aleena di hatinya. Banyak wanita yang mengejar Rangga akan tetapi diabaikan dan dia tolak. Dia masih mempertahankan Aleena, cinta pertamanya sedari kecil. Walaupun dia tidak pernah dianggap ataupun dilihat. Rangga masih setia. Biarkanlah dia dan Tuhan yang tahu tentang perasaannya yang sesungguhnya. Bagaimana rasa cintanya kepada Aleena sesungguhnya. Biarkan waktu yang menjawab semuanya.


Tepukan di pundak membuat Rangga menoleh. Senyum mengembang dari wajah sang paman, yakni adik dari ayah angkatnya yaitu Askara. Pria itu sangat humble walaupun bergelimang harta. Dia itu sangat sederhana, walaupun dia kaya raya Aska selalu berpesan kepada Rangga agar dia menjaga Aleena. Firasatnya seakan tajam. Aska pernah bilang, "suatu saat nanti akan ada air mata yang mengalir di wajah Aleena. Tolong hapus air mata itu. Saya yakin kamu bisa menghapusnya. Kamu bisa membawanya menuju sebuah pintu kebahagiaan. sSaya percayakan Aleena kepada kamu. Sekalipun Aleena tidak percaya sama kamu, percayalah cinta akan membawa kamu pada orang yang tepat begitu juga dengan Aleena."

__ADS_1


__ADS_2