Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
66. Lambe


__ADS_3

Kedua anak manusia tengah berbahagia di lantai atas. Sedangkan kedua pria dewasa tengah berbincang serius di ruang keluarga.


"Apa traumanya akan semakin parah?" tanya Arya dengan begitu serius.


"Dia hanya syok saja, Om. Tidak akan mempengaruhi traumanya," papar Radit.


Helaan napas lega keluar dari mulut Arya. Dia sering berbincang dengan Radit perihal Beeya. Apa yang Radit katakan hampir sama dengan psikiater yang menangani putrinya. Untung saja Radit selalu bersedia mendengarkan keluh kesah Arya tentang Beeya.


"Trauma itu akan lama sembuhnya. Memerlukan proses dan memakan waktu. Om masih ingat 'kan bagaimana Radit harus menyembuhkan luka yang diderita Echa dulu."


Arya mengangguk, dia masih ingat betapa Echa sangat keras kepala dan menganggap Radit seperti nemau. Namun, ternyata anggapan itu berubah dan menjadikan mereka bersatu hingga sekarang.


Ada satu hal yang mengganjal di hati Arya semenjak dia menginjakkan kaki di Jakarta. Banyak kabar burung yang dia dan istrinya dengar. Jabat itu sangat membuat hatinya terluka.


"Dit, apa perkataan orang tentang Beeya akan mempengaruhi traumanya?"


Radit menatap bingung ke arah Arya. Sorot matanya membutuhkan penjelasan lagi.


"Tetangga di sekitar sini menganggap Beeya gila," terang Arya dengan nada lirih.


Radit hanya tersenyum dan mengusap lembut pundak Arya.


"Biasanya, psikiater itu akan menjelaskan apa itu gila dan apa itu psikis yang terganggu. Jadi, Om jangan khawatir," jelasnya. "Aku yakin Beeya sudah mengerti akan hal itu."


Wajah sendu Arya masih terlihat jelas. Radit merasa tidak tega. Dia mulai menjelaskan sesuatu yang paling dasar kepada ayah dari Beeya.


"Orang yang sehat malah yang sering mendatangi psikiater karena mereka merasa hatinya tak tenang atau ada permalasahan yang tidak bisa dia ungkapkan akhirnya mengganjal dan menjadi penyakit pada jiwanya." Banyak juga yang Radit katakan pada Arya. Bukan hanya untuk menghibur, melainkan memang itu teorinya.


Penjelasan Radit harus terhenti ketika Beby membawakan Radit dan suamianya dua cangkir kopi dan tak lupa dia mengucapakan terima kasih.


"Iyan ada di atas," ucap Beby kepada Radit.

__ADS_1


"Biarin aja, Kak. Aku juga dulu pernah muda, pernah ngerasain kaya Iyan sekarang."


Beby setuju dengan apa yang dikatakan oleh Radit. Sebagai orang tua dia juga tidak boleh menjadi orang tua yang kolot, yang terpenting anaknya tahu batasan.


"Besok siang bisa ikut makan siang bareng?" tanya Arya.


"Besok jadwal aku padat, Om. Banyak meeting," jawabnya.


"Kalau Echa?" tanya Beby.


"Besok dia harus ke Bogor, tadi asistennya sudah hubungi aku."


Helaan napas kasar keluar dari mulut Arya juga Beby.


"Padahal kami ingin makan bersama kalian," ucap lirih Beby.


Radit melihat ke arah arlojinya. Senyuman terukir indah di wajahnya.


"Makan di rumah aku aja," ajak Radit. Beby dan Arya saling tatap.


Ketiga anak Radit merasa kesepian karena kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya. Om-nya selalu pulang malam. Untuk mengurangi kebosanan mereka, banyak permintaan yang mereka minta kepada Radit dan dengan senang hati Radit akan mengabulkannya.


Seringnya mereka meminta bakar-bakaran di rumah. Hanya bertiga atau berempat bersama Yansen bakar-bakar di halaman samping sambil mendengarkan musik. Namun, tetap dalam pengawasan cctv sesungguhnya juga cctv berjalan.


Radit terus membujuk kedua orang tua Beeya dan akhirnya mereka mau. Radit memilih pulang duluan karena dia harus menjemput istri tercinta.


Baru saja Radit hendak membuka pintu mobil, suara seorang ibu memanggilnya. Sontak Radit kebingungan. Namun, dia tetap menghampiri seorang ibu yang melambaikan tangan ke arah Radit. Ternyata, ibu itu mengenalnya.


"Kenapa sama si Beeya? Gilanya kumat lagi, ya."


Dahi Radit mengkerut dan kedua alisnya menukik amat tajam. Ternyata Arya bertetangga dengan manusia super kepo. Untung saja ayah mertuanya memilih menjual rumahnya yang ada tak jauh dari rumah Arya. Jika, tidak pindah sudah pasti akan menjadikan bahan pergunjingan ibu-ibu seantero komplek.

__ADS_1


"Maaf ya, Bu. Beeya itu tidak gila," ralat Radit dengan bahasa yang masih sopan.


"Alah, pesikisnya terganggu sama aja dia gila. Sama-sama kena mental dan situ 'kan dokter khusus menangani orang gila," cerocos ibu sok tahu.


Mata Radit tak berkedip mendengar ucapan dari ibu yang tidak tahu apa-apa, tapi merasa paling benar seorang diri.


"Itu ada motor anaknya pemilik bakery terkenal. Mau-mau aja ya tuh cowok macarin si Beeya. Kaya gak ada cewek lain aja," sungut ibu berbadan gempal. "Apa dia juga sama-sama gak waras."


Perkataan akhir ibu itu membuat Radit tidak bisa tinggal diam.


"Cukup ya, Bu. Jangan selalu menggunjing orang lain. Apalagi memfitnah orang lain," tegas Radit.


"Siapa yang fitnah? Orang kenyataan."


Radit menghela napas kesal dan dia menatap tajam ke arah ibu itu.


"Cowok yang ibu maksud itu adalah adik ipar saya." Mata si ibu itupun hampir terlepas dari tempatnya.


"Saya suami dari kakaknya pacar Beeya, nama saya Raditya Addhitama." Mulut ibu itu menganga tak percaya.


"Ibu tahu siapa Addhitama?" tanya Radit dengan tatapan nyalang. "Saya adalah anak bungsu dari beliau."


Terlihat tubuh ibu itu bergetar. Siapa yang tidak mengetahui sosok Addhitama dan ternyata suami si ibu itu bekerja di salah satu anak cabang perusahaan ADT corp.


"Satu hal lagi yang harus ibu tahu, kakak ipar kedua dari cowok yang ibu anggap gila adalah penerus pertama dari Wiguna Grup. Ibu tahu bagaimana kejamnya keluarga dari Wiguna?" sergah Raditya.


"Bagaimana jadinya jika keluarga Addhitama bergabung dengan keluarga Wiguna? Dengan mudahnya mulut ibu bisa kami tarik, bahkan nyawa ibu pun bisa kami hilangkan tanpa jejak."


Ibu itupun lari terbirit-birit mendengar ucapan dari Radit. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Lambenya masha Allah banget."

__ADS_1


...****************...


Komen atuh


__ADS_2