
Keluarga dari dua buah pihak kini sudah menatap nyalang ke arah Beeya dan juga Iyan. Terlihat wajah Iyan yang memucat. Sedangkan Beeya santai bagai di pantai.
"Sudah sejauh mana hubungan kalian berdua?" tekan sang kakak. Mereka semua langsung menuju ke TKP.
"Ih Kak Ri mah." Beeya terlihat sangat sebal. "Kaya gak pernah muda aja."
Mata Riana melebar mendengar yang dikatakan Beeya. Dia menoleh ke arah sang suami yang hanya tersenyum..
"Cipookan mah biasa. Benar gak, Sayang." Riana memukul lengan Aksara. Bukannya bersikap garang malah seperti ini. Iyan dan Beeya berbalik menatap tajam kepada Riana. Wanita yang masih cantik di usia tiga puluhan itu nampak kikuk.
"Tadi mah remnya blong, Kak. Sekaligus uji coba apa Iyan itu normal?" kelakar Beeya. "Benar gak, Pah?"
"Gak salah lagi ini mah anak Papah Arya," ucap Aksara. Beby hanya menggelengkan kepala. Sedangkan Iyan menatap jengah.
"Bee, wanita itu harus jaga kehormatan. Jangan asal menyerahkannya saja." Sang ibu menasihati anak perempuan yang otaknya setengah gila.
"Gak apa-apa, Mah." Beby terperanjat mendengar ucapan Beeya. Mata Arya pun sudah melotot.
"Suruh siapa Papah jadi penodong?" tukasnya. "Minta mahar dan seserahan aja gak kira-kira," omel Beeya lagi.
"Itu tandanya kamu itu barang mahal, Bee." Sang ayah tidak mau kalah.
"Walaupun mahal tetap saja Bee punya kecacatan di masa lalu." Suara Beeya terdengar pilu. "Harusnya Papah jual murah aja. Iyan gak pantas beli Bee semahal itu."
Iyan menggenggam tangan Beeya dan menarik tangan wanita itu untuk dia peluk. "Berapapun mahar yang akan Papah minta. Insha Allah aku akan bisa memenuhinya."
"Tapi-"
Tangan Iyan sudah mengusap lembut air mata yang jatuh membasahi pipi putih Beeya. Kepalanya menggeleng pelan.
"Aku akan terus berada di samping kamu. Berusaha menyingkirkan trauma yang kamu derita. Bahagia bersamaku sekarang dan untuk selamanya."
Beby dan Riana menyeka ujung mata mereka mendengar ucapan tulus dari Iyan. Usia lebih muda tidaklah menjadi jaminan bersikap kekanak-kanakan. Malah Iyan sangat dewasa di usianya yang lebih muda lima tahun dari Beeya.
"Kenapa sih kamu bisa meleburkan amarah Kak Ri?" Riana kesal sendiri dengan kelakuan sang adik. Iyan hanya tersenyum dengan tangan yang memeluk tubuh Beeya.
Trauma Beeya terkadang datang dengan sendirinya. Inilah contoh ketika traumanya muncul kembali. Hanya Iyan yang mampu membuat Beeya tenang. Pemuda itu masih berada di samping Beeya dengan tangan yang saling menggenggam..
"Sembuhlah, Chagiya." Kecupan hangat Iyan daratkan di kening Beeya yang kini sudah terlelap.
__ADS_1
.
Di restoran dalam hotel kedua orang tua Beeya juga kakak Iyan tengah menunggunya. Iyan menghampiri empat orang dewasa itu.
"Maafkan Iyan." Pemuda itu menunduk dalam. "Hampir Iyan kebablasan."
Beby tersenyum dan mengusap.lembut pundak Iyan. Dia tidak menyalahkan Iyan. Malah dengan kejadian ini dia sangat bersyukur. Dia menjadi tahu bahwa sedikit demi sedikit trauma Beeya sudah sembuh. Meskipun belum sepenuhnya.
"Kalau Kak Echa tahu perihal ini kamu akan dicekik hingga mati." Riana sudah membuka suara. Dia menatap tajam Iyan.
"Bolehlah ciuman, tapi jangan berlebihan. Jangan menimbulkan trauma baru untuk Beeya." Pesan dari sang kakak ipar dijawab dengan anggukan oleh Iyan.
"Jagain anak Papah, ya."
Iyan, Riana juga Aksara terkejut. Arya menghela napas kasar. Dia melihat ke arah istrinya. Beby pun tersenyum.
"Trauma Beeya teramat parah. Jangankan dicium, disentuh pun oleh Papah dan Mamah dia akan menjerit histeris." Iyan baru tahu akan hal ini.
"Maka dari itu, jaga Beeya ya, Yan. Mamah dan Papah tidak marah bukan berarti membolehkan kalian bertindak yang tidak-tidak. Tetap jaga putri Mamah. Lindungi dia dan tetap jaga keperawanannya."
"Kamu jangan khawatir. Beeya masih tersegel aman." Arya membuka suara. Setelah trauma itu kami melakukan tes keperawanan dan hasilnya membuat kami lega. Putri kami satu-satunya masih virgin."
"Besok kamu harus kembali ke Jakarta." Suara Aksa membuat senyuman Iyan menghilang.
"Sore ya, Bang." Iyan mencoba menawar. Dia belum puas bersama kekasihnya.
"Maaf gua bukan tukang cabe yang bisa lu tawar." Iyan menghela napas kasar. Dia mencoba meminta pertolongan sang kakak.
"Kak Ri akan pesankan tiket penerbangan sore." Aksa mencoba untuk memprotes. Namun, Riana meletakkan jari telunjuknya ke bibir Aksa.
"Kaya gak pernah muda aja." Semua orang pun tertawa.
.
Beeya membuka mata dan di sampingnya sang kekasih masih terlelap dengan begitu damai. Senyuman indah terukir di bibir Beeya.
"Ganteng banget kamu, Yang."
__ADS_1
(Lama-lama yang nulisnya yang baper ini mah sama Iyan) ðŸ¤
Ingin Beeya mengganggu sang tunangan. Namun, Suara ponselnya teramat mengganggu. Banyak sekali pesan yang dikirim oleh sang Bu'de. Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulutnya
"Aku harus ke toko," gumamnya.
"Akan aku temani." Tangan Iyan sudah melingkar di perut Beeya. "Ijinkan aku tidur lima menit lagi." Matanya masih terpejam. Beeya pun tersenyum dan mengusap lembut rambut Iyan.
Pemuda bertubuh tinggi itu menghampiri Beeya yang tengah memakai polesan bedak di wajahnya. Memeluk tubuhnya dari belakang.
"I Will Miss you more again." Tubuh Beeya menegang dan senyumnya pun memudar. "Just two days."
Beeya menggigit bibir bawahnya. Menahan laju air mata. Dia hanya bisa menatap Iyan yang tengah memejamkan mata seraya meletakkan dagunya di bahu milik Beeya dari pantulan cermin.
Lama Iyan memeluk tubuh mungil Beeya dari belakang. Beeya memejamkan matanya sejenak. Kemudian membalikkan tubuhnya yang tengah dalam posisi duduk. Mendongak menatap Iyan dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Kamu harus cepat mengumpulkan uang. Kalau perlu terima tawaran si unyil. Aku gak mau jauh dari kamu." Mata Beeya bekaca-kaca. Iyan tersenyum sembari bersimpuh di hadapan Beeya.
"Si kerdil. Bukan Unyil." Iyan meralat ucapan Beeya sembari membenarkan rambut sang tunangan. "Aku janji akan kerja keras lagi supaya cepat menikahi kamu." Beeya berhambur memeluk tubuh Iyan. Dia tidak masalah jika tunangannya bekerja sama dengan makhluk pencuri uang.
.
Check out dari hotel dan menuju toko Arina dengan menggunakan mobil yang sengaja Arya bawakan untuk anak dan calon menantunya. Iyan mengerutkan dahi ketika dia membuka seat belt dan Beeya malah memasangkan masker kesehatan kepada Iyan.
"Engap." Tangan Iyan ingin melepaskan, tapi pelototan Beeya membuatnya mengurungkan niat.
"Karyawan cewek di toko ini pada ganjen." Iyan mengukirkan senyum dari balik masker gang dia gunakan. Kemudian, dia mencium bibir Beeya.
"Gak kerasa, Ayang!" Iyan malah tertawa. Menurunkan masker yang dia gunakan ke dagu. Mengecup singkat, tapi tidak terlalu singkat di bibir pink milik Beeya.
"Kerasa?" Beeya mengangguk dan membuat Iyan tertawa.
Cup.
Sebuah kecupan di pipi membuat Iyan menatap ke arah Beeya. Tatapannya cukup tajam dan penuh makna.
"Jangan macam-macam!" ancam Iyan dengan wajah mesoemnya. "Mau mobil ini jadi mobil bergoyang."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Minta komennya dong ...