
"Aku di kantor polisi sekarang."
"Hah?" Radit benar-benar terkejut mendengar ucapan dari Iyan. "Ada apa sebenarnya?"
"Aku hampir bunuh anak orang."
"Siapa?" desak Radit.
"Raffa."
.
Radit memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Ada-ada saja kelakuan adik iparnya ini. Namun, dari segi bicara Iyan seperti menyiratkan sebuah rahasia besar yang ingin dia kuak. Iyan memang tak banyak bicara juga tak banyak tingkah, tetapi sekalinya dia berbuat onar pasti akan menggemparkan. Dia melakukan itu semua pasti ada sebabnya.
Sebagai seorang kakak ipar, dia harus menjadi pelindung untuk Iyan. Apalagi sekarang anak itu sudah tidak memiliki siapapun. Radit memutuskan untuk pergi ke kantor Aksara.
"Kok bisa?" Terkejut, itulah reaksi dari Aksa.
"Gua juga belum tahu, dia cuma ngasih clue doang."
Sejenak Aksa berpikir. "Apa ada sangkut pautnya dengan Beeya?"
"Sepertinya," jawab Radit. "Tapi, jangan sampe istri kita berdua tahu.
Aksara hanya mengangguk mengerti. Dua pria dewasa tersebut tengah berkompromi. Mereka berdua juga sudah menyiapkan pengacara hebat agar bisa membebaskan Iyan dari jerat hukum karena Aksa dan Radit tahu, Iyan tidak bersalah. Hanya tengah membela seseorang yang pernah disakiti oleh Raffa.
Hingga malam datang, Iyan tak kunjung pulang. Beeya sedari tadi sudah sangat khawatir.
"Mah, Iyan ke mana sih?" Mata Beeya sudah berkaca-kaca. Dia benar-benar cemas.
"Tadi, Iyan bilangnya mau ke minimarket."
"Tapi, ini udah lama banget, Mah. Bee takut, terjadi sesuatu dengan Iyan."
"Kenapa kamu sekhawatir itu, Bee?" tanya Arya.
"Iyan adalah orang yang selalu membuat Bee nyaman beberapa hari ini. Dia yang selalu memberikan dukungan kepada Bee, mampu membuat Bee lupa akan kesakitan juga kesedihan yang pernah Bee rasakan karena kehadirannya di sini. Dia selalu ada untuk Bee, menjaga Bee."
Beby memeluk tubuh Beeya yang bergetar. Air matanya pun mengalir deras.
"Papah harap, kamu mau menuruti permintaan terakhir dari Ayah Rion, Bee. Menikah dengan Iyan karena apa yang diucapkan ayah Rion benar adanya. Usia Iyan memang lebih muda, tetapi dia mampu membuatmu merasa bahagia."
.
Iyan masih duduk di seberang kursi penyidik polisi. Dia masih membeku, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, kecuali jika polisi tak bertanya kepadanya. Satu nama yang ada di kepalanya saat ink, Beeya.
"Maafkan aku, Kak Bee. Jika, kamu tahu Raffa hampir mati di tanganku. Pasti kamu akan membenciku."
__ADS_1
Tiga jam berselang, dua pria tampan masuk ke dalam ruangan. Mereka melihat Iyan yang tengah terduduk tanpa berbicara apapun.
"Yan."
Suara Radit mampu membuat Iyan membalikkan tubuhnya. Kedua abang iparnya itu pun menghampiri Iyan dan menatap Iyan dengan penuh tanya.
"Maafin aku, Bang." Suara lemahnya terdengar. Dia pun hanya menunduk dalam. "Kalau Kak Echa dan Kak Ri tahu, pasti mereka akan kecewa."
"Gua tahu lu melakukan ini karena ada alasannya. Lu bukan orang yang suka main tangan tanpa sebab," ujar Aksara.
Dekat dengan Iyan sedari Iyan masih kecil membuat Aksa mengetahui sikap Iyan yang sesungguhnya.
"Selagi apa yang lu lakuin di jalan yang benar, gak perlu takut dan menyesal," tambah Radit.
Barulah Iyan menegakkan kepalanya. Dia menyerahkan sebuah ponsel kepada kedua kakak iparnya.
"Di ponsel itu ada sebuah file yang membuat aku bertindak seperti ini. Secret," papar Iyan.
Aksa dan Radit saling pandang. Beginilah adik dari istri mereka ini. Penuh misteri. Pihak kepolisian pun Sudan menerima laporan dari pihak Raffa untuk menangkap Iyan. Maka dari itu, Iyan harus menginap di kantor polisi untuk malam ini.
"Tolong ke rumah Papah Arya, katakan pada Kak Bee, jangan tunggu aku. Mungkin untuk malam ini dan seterusnya aku tidak akan kembali ke rumah itu dan akan menetap di hotel prodeo."
Iyan tersenyum hambar. Dia seakan tahu akibat dari perbuatannya ini akan membuatnya dibui dalam waktu yang lama. Namun, setidaknya dia merasa lega karena sudah memberikan pelajaran kepada Raffa. Dia pun menyesal, kenapa dia tidak membunuh Raffa saja dengan tangannya sendiri.
.
Radit dan Aksa sudah berada di dalam mobil. Mereka benar-benar penasaran apa yang ada pada ponsel yang Iyan berikan kepada mereka.
"Ini kali, ya."
Dia menunjukkan nama file tersebut ke arah Aksa. "Buka aja coba." Aksara memerintah.
Tangan Radit pun membuka file tersebut. Sontak matanya melebar dan dia segera menunjukkan kepada Aksa.
"Bang ke, emang!" pekik Aksa.
"Jadi, ini yang selama ini buat Beeya trauma?" ujar Radit bertanya-tanya.
"Pantas si Iyan murka banget," balas Aksa. Dia segera mengeluarkan benda pipih disakunya.
"Mau telepon siapa?" tanya Radit.
"Adek."
Banyak orang yang menyayangi Beeya selain Iyan, yaitu Aska. Partner gila Beeya sewaktu belia.
.
__ADS_1
"Pokoknya anak itu harus kita jebloskan ke penjara," perintah Rudi Alamsyah kepada pengacaranya.
Dia juga menatap ke arah wanita dengan perut yang sudah terlihat membukit walaupun sedikit dengan tatapan tidak suka. "Kamu harus memberatkan hukuman untuk anak itu." Kini, Rudi Alamsyah sudah memerintah kepada wanita itu dengan sorot mata penuh ancaman.
.
Kedatangan Aksa dan Radit membuat Arya dan Beby terkejut. Dahi mereka berdua mengkerut penuh tanya.
"Ada apa? Apa ada yang tejadi dengan Iyan?" Feeling Arya seperti ayahnya Iyan.
Radit dan Arya saling tatap. Mereka tidak langsung menjawab.
"Jawab, Dit!" seru Arya. "Jawab, Bang!"
Mendengar suara ayahnya yang sedikit meninggi. Beeya yang berada di kamar Iyan mencoba keluar kamar. Dia melihat ada dua pria di bawah. Namun, terlihat tidak asing kedua pria tersebut.
Rasa penasarannya membawa Beeya menuju ke lantai bawah. Dia terkejut karena di sana ada Radit dan juga Aksa.
"Iyan di kantor polisi."
Suara Radit itu mampu menghentikan langkah Beeya. Air matanya sudah menganak dan tubuhnya sudah sedikit lemah.
"Apa?" Arya dan Beby terkejut mendengarnya.
"A-apa yang sudah Iyan lakukan?" Suara Beeya membuat empat orang di sana menoleh. Terlihat wajahnya sangat sendu. "A-pa salah Iyan?"
Beby segera menghampiri putrinya dan memeluk erat tubuh Beeya. "Pasti ini hanya salah paham." Beby mencoba untuk menenangkan.
"Salah paham dari mana?"
Suara Barito terdengar. Semua mata tertuju ada sosok pria paruh baya yang baru saja masuk. Tubuh Beeya bergetar sangat hebat melihat pria itu.
"Bawa Beeya ke kamar." Beby pun menuruti perintah dari suaminya. Sudah pasti psikis Beeya kini terguncang lagi karena kehadiran Rudi Alamsyah.
"Anak itu sudah hampir membunuh anak saya!" serunya dengan penuh emosi.
"Baru hampir 'kan, belum sampai membunuh," balas santai Arya. Terdengar suara gigi Rudi Alamsyah yang dia rekatkan karena emosi.
"Harusnya Iyan membunuh anak Anda, Pak Rudi. Biar Anda juga merasakan penderitaan seperti yang saya rasakan," tekan Arya dengan tatapan penuh kemarahan. "Kehilangan seorang anak yang biasanya ceria, kini malah bagai orang gila!" Suara Arya memecah keheningan malam. Emosinya sudah meletup-letup.
Wajah Rudi sudah merah padam. Dia juga tak kalah murkanya. "Saya pastikan anak itu tidak akan pernah terbebas dari jerat hukum negeri ini," ancamnya.
"Lakukan sesuka hati Anda, Pak Rudi Alamsyah." Kini, Aksa yang sudah angkat bicara dengan seringainya.
"Ingat, di atas yang berkuasa masih ada yang paling berkuasa," ujar Aksa. "Tidak selamanya hukum itu tumpul ke bawah dan runcing ke atas," lanjutnya lagi.
"Ingatlah, di dunia ini berlaku hukum tanam-tuai. Hukum jual-beli. Jadi, jangan sombong dengan kekuasaan yang Anda miliki karena itu bisa jadi Boomerang untuk Anda sendiri."
__ADS_1
...****************...
Komen Dong ....