
Boleh minta komennya gak? Gratis kok.
...****************...
Sepanjang perjalanan tak hentinya Beeya merapalkan doa. Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Iyan. Sesampainya di kafe tersebut, Beeya segera masuk dan tubuhnya menegang ketika melihat apa yang terjadi di sana. Air matanya meluncur begitu saja. Formasi lengkap dari keluarga besar Iyan sudah menyambutnya. Begitu juga dengan keluarganya.
Jadilah pasangan hidupku ...
Suara Radit terdengar sangat merdu dan terlihat Iyan sudah berjalan pelan ke arah Beeya yang mematung. Senyum mengembang di wajah Iyan. Penampilannya pun sudah berubah. Terlihat sangat formal.
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Sungguh lagu yang sangat mengena ke dalam hati. Air mata Beeya tak henti menetes.
Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Ku ingin melamarmu
Iyan sudah bersimpuh di depan Beeya. Menatap manik mata yang cantik dan penuh air mata.
"Aku sangat mencintaiku kamu, Abeeya Bhaskara," ucapnya dengan begitu yakin. Semua orang tersenyum bahagia mendengar apa yang dikatakan pemuda yang baru berusia dua puluh dua tahun itu.
"Maukah kamu menerima pinangan dar laki-laki yang seharusnya jadi adikmu ini?"
__ADS_1
Pertanyaan Iyan membuat semua orang melebarkan mata. Mereka tidak menyangka Iyan akan melontarkan kalimat seperti itu. Suasana pun mendadak hening.
"Maukah kamu menyempurnakan hidupku? Mengisi sebagian besar hatiku yang kosong dan membutuhkan kenyamanan juga kehangatan darimu."
Echa dan Radit saling pandang dengan tangan Echa yang sudah merangkul manja lengan suaminya.
"Adik kita sudah dewasa." Echa hanya menganggukkan kepalanya.
"Abeeya Bhaskara, maukah kamu menikah denganku? Laki-laki yang tidak sempurna, tapi insha Allah akan bisa membahagiakan kamu hingga ke surga."
"Set dah, kalimatnya bikin hati gua meleyot, kalah gua," gumam Aska dan mampu didengar oleh Aksara.
"Itu terbukti kalau si Iyan turunan Rion Juanda, jelmaan buaya," balas Aksara.
Riana mencubit perut sang suami karena sudah berani mengejek almarhum ayahnya yang tak lain mertua dari Aksara sendiri.
"Ampun, Sayang." Aska malah tertawa dan terus menyukuri sang Abang yang garang di luar, tapi suami takut istri di dalam.
Beda halnya dengan Aleesa yang tengah menggelengkan kepala ke arah teman-teman Iyan yang ada di belakang Iyan. Mata Aleesa pun memicing ketika melihat Om poci dan anteu pocita sudah ada di sana.
"Lah gimana tuh dua pocong bisa sampe Bali? Masa iya dia lompat-lompat dari Jakarta ke Bali. Emangnya gak capek?" Ucapan bodoh keluar dari mulut Aleesa. Dia tidak habis pikir saja jikalau semua teman sang om ikut hadir di acara ini.
Mendengar ucapan Iyan yang begitu tulus dan tidak hanya modus, membuat Beeya menatap ke arah kedua orang tuanya juga bu'denya. Terlihat sang mamah sudah dirangkul sang ayah dengan wajah yang penuh keharuan. Wajah sang ayah pun sudah menunjukkan wajah yang berbeda. Ada rona kebahagiaan yang dia tunjukkan.
"Abeeya Bhaskara, Maukah kamu menikah denganku?" ulang Iyan lagi.
"Cepet jawablah Tante," balas Gavin yang sudah sangat pegal karena sedari tadi berdiri dan memegang buket bunga yang cukup besar.
"Gak ngerti lah ini buket bunga apa karangan bunga, gede banget," keluhnya lagi.
__ADS_1
Suasana yang sedang tegang-tegangnya malah dibuat tertawa oleh ucapan sang keponakan yang sedari kecil mulutnya pedas bak cabe setan.
"Aduh Bang, anak lu makin gede makin parah," ucap Aska sembari menggelengkan kepala.
Cincin bermata indah itu sudah menanti untuk diambil oleh Beeya. Mata Iyan pun masih penuh harap memandang wajah cantik sang kekasih hati walaupun tanpa polesan make up, hatinya pun masih berdegup cepat.
"Chagiya, cepat jawab. Kram nih kaki aku," ucap Iyan dan semuanya pun semakin tergelak.
"Lamaran macam apa ini?" gerutu Arya. Awalnya romantis, semakin ke sini semakin kacau.
Beeya langsung memeluk tubuh Iyan yang masih bersimpuh dan memegang kotak cincin persegi yang di dalamnya ada cincin bermata indah.
"Aku mau!" Bukan jawaban pelan, melainkan sebuah teriakan dan membuat semua orang menutup telinga mereka.
"Lamaran terparah sih ini mah." Aska menggelengkan kepala.
"Mau sih mau, Chagiya. Jangan buat kaki aku semakin kram," kata Iyan.
Beeya pun segera melonggarkan pelukannya. Dia menatap wajah Iyan yang terlihat sedikit menahan sakit.
"Maaf," sesal Beeya.
Iyan menampilkan senyum yang dihiasi ringisan. Tak tega melihat calon suaminya seperti itu, Beeya memberikan obat paling ampuh dan mampu menghilangkan segala macam penyakit.
Cup.
Sebuah kecupan Beeya berikan di bibir Iyan, dan mampu membuat semua orang berteriak keras.
"Beeya!"
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa komen