Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
187. Belum (Belah Duren)


__ADS_3

"Chagiya--"


Iyan memberi kode lewat matanya yang menunjuk ke arah air yang sedikit berubah warna. Beeya yang baru saja membuka mata pun sedikit terkejut. Dia berdiri dan ternyata ada darah yang mengalir di kaki bagian dalamnya. Anaconda Iyan berubah kembali menjadi cacing.


Beeya menatap ke arah suaminya, sorot matanya terlihat penuh penyesalan. Namun, Iyan hanya tersenyum. Sedari jauh-jauh hari Beeya sudah mengatakan bahwa ketika hari H mereka berdua, tamu bulanan Beeya akan datang. Kini, terbukti sudah.


"Maaf," sesal Beeya ketika mereka sudah rapi dengan baju santai yang mereka gunakan. Baju dengan warna yang senada.


"Gak apa-apa, Chagiya." Wajah merasa bersalah pun terlihat begitu jelas di wajah sang istri. Iyan menarik tangan Beeya dan memeluknya dengan begitu erat.


"Pasti kamu kecewa," liirhnya


"Mungkin kita belum diperbolehkan melakukannya, Chagiya. Setelah kamu selesai 'kan aku bisa tancap gas." Beeya tersenyum mendengarnya. Dia semakin mengeratkan pelukannya kepada pinggang Iyan.

__ADS_1


"Aku 'kan masih bisa ennen. Jadi, gak apa-apa." Beeya terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Iyan. Dia mengendurkan tubuhnya dan menatap ke arah Beeya dengan ekspresi tak terbaca.


"Ennen kamu enak, Chagiya. Pokoknya kalo tidur malam, gak boleh pakai kacamata kuda. Aku mau ennen sepuasnya." Beeya malah tergelak. Sekarang dia memiliki bayi besar.


"Tapi, pelan, ya. Jangan banyak bikin tanda merahnya. Lama hilangnya," ujar Beeya. Iyan pun mengangguk.


Beeya berjinjit mengecup bibir Iyan dengan begitu mesra. Iyan tak membiarkan pagutan itu terlepas. Tangan Iyan malah sudah bergerilya ke sumber asi yang kini menjadi tempat favoritnya.


"Boleh ennen gak?" Terlihat mata Iyan sudah sayu.


Puas di sana, Iyan mengecup bagian atas dan memberikan mawar merah sebagai bentuk cintanya. Menyusuri leher putih sang istri dan berakhir di bibir Beeya. Adegan Meraka saling panas apalagi ketika merasakan anconda itu berdiri lagi.


"Ayang, punya kamu udah tegang lagi."

__ADS_1


"Gak apa-apa, Chagiya. Tandanya itu aku normal."


Puas mengegerayangi sang istri tanpa bisa memasukkan anaconda ke dalam lubang tikus. Akhirnya, mereka keluar dari kamar dengan tangan yang saling menggenggam. Mereka menuju kolam renang di mana keluarga mereka berada.


Ghea dan Balqis sudah memanggil Iyan. Namun, Beeya menggeleng pelan. Menandakan dia tidak ingin ditinggalkan.


"Perut aku suka sering sakit kalo lagi halangan." Mode manja Beeya tunjukkan. Iyan pun tersenyum. Mengusap lembut perut Beeya dan sesekali mengecup ujung kepala sang istri.


Arya dan Beby terlihat bahagia melihat putri mereka bahagia seperti itu. Terlebih Iyan yang begitu sabar menghadapi Beeya yang mood-nya terkadang berubah-ubah. Sesekali anaknya bergelayut manja dan membuat Iyan tersenyum juga.


"Ayang, sakit," keluh Beeya. Iyan pun mengajak istrinya duduk di pangkuannya. Iyan mengusap lembut perut Beeya yang sangat rata. Sedangkan Beeya sudah menenggelamkan wajahnya di dada Iyan.


"Manja banget sih," ujar Aska kepada Beeya. Dia mengacak-acak rambut sepupunya itu.

__ADS_1


"Istri Iyan lagi datang bulan, Kak. Perutnya lagi sakit." Aska malah tertawa mendengarnya.


"Belum belah duren dong?" Aska malah terbahak mengejek dan Iyan mendengkus kesal.


__ADS_2