Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
80. Asin


__ADS_3

Beeya turun dari kamarnya tanpa mencuci wajah terlebih dahulu. Muka bantalnya sangat terlihat jelas.


"Anak perawan bangun tidur bukannya langsung cuci muka," omel sang Bu'de yang tengah berada di dapur. Namun, Beeya tak menghiraukan. Dia malah mengambil mangkuk berukuran sedang dan diisi dengan air es.


"Buat apa itu?" tanya Arina.


"Iyan demam." Beeya dengan cepat membawa mangkuk itu ke lantai atas dan Arina tersenyum melihat sang keponakan yang tengah khawatir.


"Keponakanku sudah dewasa."


-


Beeya sudah memasukkan handuk kecil ke dalam mangkuk berisi air dingin. Iyan pun sudah tertidur di atas tempat tidur milik Beeya. Handuk kecil itu diperas dan kemudian diletakkan di dahi Iyan. Wajah Iyan terlihat sangat pucat.


"Kita ke dokter, ya." Iyan menggeleng dengan mata yang terpejam.


"Aku gak mau kamu kenapa-kenapa, Pacar." Suara Beeya sudah terdengar bergetar.


"Aku gak apa-apa, Chagiya."


Iyan mencoba membuka matanya. Dia menatap wajah Beeya yang terlihat sendu. Dia raih tangan Beeya dan mengusap lembut punggung tangan perempuan yang dicintainya.


"Cukup kamu di sampingku. Itu adalah obat yang paling mujarab untuk aku."


Beeya pun memukul lengan Iyan hingga Iyan mengaduh. "Aku itu tengah sakit, Chagiya," keluh Iyan. "Malah disiksa begini."


Beeya pun tertawa dan kini malah mencubit pipi gemas sang kekasih.


"Chagiya," keluhnya lagi.


"Lagian sakit juga masih aja ngegombal. Mana receh banget gombalannya." Beeya tertawa dan terbesit rasa iba ketika dia melihat wajah pucat pacarnya.


"Pacar."


Beeya sudah menggenggam tangan Iyan. Pemuda yang ingin terpejam pun kini membuka matanya kembali. Dia menatap intens wajah Iyan.

__ADS_1


"Aku penasaran jika kamu sakit di rumah. Siapa yang merawat kamu?"


Pertanyaan Beeya membuat Iyan tersenyum perih. Dia memang memiliki kakak yang baik, ayah yang pengertian. Namun, dia juga bukan anak yang manja.


"Aku gak pernah menunjukkan sakit aku di depan kedua kakakku juga ayahku."


Jawaban yang membuat dahi Beeya mengkerut. DIa menatap kekasihnya dengan raut penuh penasaran.


"Kalau aku udah drop, aku memilih tidur di kafe. Aku gak mau buat keluargaku khawatir. Biarkan sakitku aku tahan sendiri karena aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini."


Hati Beeya perih mendengarnya. Dia semakin menggenggam erat tangan kekasihnya. Dia juga tahu bagiamana kisah sedih sewaktu kecil.


"Kamu boleh menyembunyikan sakitmu kepada keluarga kamu, tapi jangan pernah sembunyikan segala sakitmu di hadapanku."


Iyan pun tersenyum dan mengangguk pelan. Dia membawa punggung tangan Beeya untuk dia kecup dengan sangat mesra.


"Makasih."


Beeya pun tersenyum, dia mendekatkan wajahnya ke dahi Iyan. Kecupan hangat penuh cinta dia bubuhkan di kening Iyan. Dua insan manusia itu tengah menguatkan satu sama lain.


"Apakah ini yang namanya cinta sungguhan?" batinnya.


Beeya memilih turun ke lantai bawah. Dia segera ke dapur dan ternyata sang ibu sudah ada di sana.


"Mah, Bee mau cari bubur ayam ya ke depan."


Beby menukikkan kedua alisnya ke arah Beeya. Dia memang sudah tahu jika Iyan tengah demam. Namun, dia tidak habis pikir jikalau Beeya akan berkorban seperti itu.


"Daripada beli mending bikin, yuk." Arina sudah mendorong tubuh Beeya untuk masuk ke dapur. Dia memasangkan celemek ke bagian depan tubuh Beeya.


"Belajar masak biar nanti disayang suami terus."


Beby hanya tersenyum melihat sang


Kakak ipar mengajarkan Beeya memasak. Anak itupun menjelma menjadi anak yang penurut.

__ADS_1


"Buah buburnya di magic com aja," imbuh Arina.


Bu'de dari Beeya itu seperti petunjuk arah. Dia yang selalu menyuruh Beeya memasukan ini. Memotong itu dan lain sebagainya. Dua jam berkutat di dapur akhirnya bubur ayam buatan Beeya sudah jadi.


"Chagiya."


Suara berat Iyan terdengar. Beeya segera menoleh dan benar Iyan sudah menuruni anak tangga. Beeya segera menghampirinya dan berkata, "kenapa turun?"


"Kamu gak ada di kamar." Masih terlihat wajah Iyan yang masih pucat.


Beeya membantu Iyan untuk berjalan menuju kursi yang ada di meja makan. Beeya menarik.kursi itu dan dengan perlahan Iyan duduk di sana.


"Aku udah buatin bubur buat kamu," ucap Beeya. Perempuan itu segera mengambil mangkuk bubur yang berada di samping kompor. Membawanya ke meja makan.


Semangkuk bubur sudah ada di depan mata Iyan. Dia sedikit heran dan menatap ke arah sang pacar.


"Itu aku buat dengan penuh cinta."


Iyan pun tersenyum. Dari segi penampilan lumayan. Iyan penasaran dengan rasanya.


"Habiskan ya, Pacar."


Iyan mulai menyendokkan bubur dan mulai memasukkan bubur ke dalam mulutnya. Sudah payah Iyan mencoba untuk menelannya. Ingin rasanya dia muntah, tetapi tetap dia tahan karena tidak tega melihat kekasihnya.


Beeya sudah tersenyum sangat bahagia karena sang pacar sudah menghabiskan bubur buatannya.


"Enak gak?" tanya Beeya.


Iyan pun tersenyum. Namun, dia juga tidak boleh berdusta agar Beeya terus belajar lagi.


"Sedikit asin."


"Itu tandanya pengen cepat-cepat dihalalin," sergah Arina.


...****************...

__ADS_1


komen dong ...


__ADS_2