Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
148. Pengiring Pengantin


__ADS_3

Mempersiapkan pernikahan itu ternyata tidaklah sesederhana yang Iyan dan Beeya pikirkan. Apalagi ada campur Arya yang membuat kepala Iyan makin terasa kening. Belum lagi pekerjaan Iyan yang menumpuk. Dia baru boleh libur di H-4 pernikahan.


"Maaf ya, Yang."


Beeya merasa tidak enak karena sudah membuat ulah ayahnya. Iyan hanya tersenyum. Dia mengusap lembut rambut Beeya.


"Tidak apa," sahutnya.


Mereka tengah berada di jalan menuju sebuah hotel. Arya sudah menunggu mereka di sana. Sudah ada juga WO yang akan diajak meeting. Arya sudah menyiapkan pernikahan impian untuk putrinya.


Tibanya di sana, Arya sudah mengajak Beeya juga Iyan melihat ruangan yang akan menjadi tempat resepsi mereka. Iyan hanya mengangguk saja. Tubuhnya sudah lelah juga otaknya masih harus bekerja keras.


"Tunggu pihak cathering dulu, jangan pulang!" Beeya menatap ke arah Iyan yang sudah semakin pusing. Rapat kecil mereka adakan perihal menu apa yang akan ada di acara resepsi. Lagi-lagi Iyan hanya mendengarkan. Begitu juga dengan Beeya.


Iyan sangat tahu jikalau Arya sangat antusias di pernikahan putrinya. Pasalnya ini adalah pernikahan pertama juga terakhir yang Arya gelar karena anaknya hanya satu. Jadi, terserah mertuanya saja.


"Besok harus fitting baju." Arya memperingatkan.


"Papah duluan aja, besok Iyan ada rapat yang tidak bisa ditinggal." Beeya membenarkan. Dia sudah melihat bagaimana padatnya jadwal kerja Iyan.


"Ya udah," sahut Arya. "Untuk pendamping pengantin kelurga kamu ada empat belas." Iyan hanya mengangguk. Dia tidak akan mempermsalahkan.


Sesuai dengan yang dikatakan Iyan, pagi ini dia harus ke kantor. Sang kakak sudah menunjukkan wajah penuh tanya.


"Katanya kita mau fitting baju?" Echa pun bingung dibuatnya. Sedangkan Iyan tengah mengoleskan selai di atas roti.


"Kakak duluan aja bareng Papah, Iyan ke sananya setelah urusan Iyan selesai."


.


Setelah si triplets pulang sekolah mereka dijemput dan menuju rumah busana yang Echa maksud. Ikut juga Yansen bersama mereka. Wajah bahagia Aleena tidak bisa dibohongi. Begitu juga dengan Aleeya. Mereka akan bertemu dengan seorang laki-laki tampan.


Tiba sudah mereka di rumah busana tersebut. Yansen berjalan beriringan dengan Aleesa. Sedangkan Aleena berjalan bersama Aleeya. Lambaian tangan seseorang membuat Aleena tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Aleeya.


Namun, Aleena kalah cepat oleh Aleeya. Dia hanya dapat tersenyum dengan lirih ketika Aleeya sudah menggandeng tangan Kalfa terlebih dahulu..


"Memangnya jumlah bridesmaid dan groomsmen berapa?" tanya Aleesa. Anak itu menghitung hanya sekitar tiga belas.


"Empat belas."


Aleesa terkejut. Dahinya mengkerut ketika mendengar jawaban dari Arya. "Satu lagi siapa?" tanya Aleesa.


"Rangga."


Tubuh Aleena menegang ketika mendengar nama Rangga disebut. Dia merasa sangat bersalah kepada laki-laki tersebut.


"Bukannya dia sekolah tinggi penerbangan di Jogja?" Aleesa mencoba untuk menyanggah.


"Kebetulan hari ini datang ke Jakarta untuk menarik berkas. Makanya, sekalian Bubu ajak untuk fitting baju."


Laki-laki yang tengah mereka obrolkan datang. Rangga mencium tangan mereka yang lebih tua darinya. Akhirnya mereka memakai baju masing-masing. Ada yang harus dikecilkan ada juga yang sudah pas di badan.


Para pengiring pengantin sudah mencoba baju mereka. Echa meminta mereka semua untuk berbaris. Sungguh cantik-cantik dan juga tampan. Echa ingin mengabadikan momen tersebut dan akan dia kirim kepada Aska.


Arya mengatur posisi bridesmaid, Yansen dengan Aleesa, Kalfa dengan Aleeya dan Rangga dengan Aleena..


"Kalau begini 'kan cocok."


Deg.


Ada dua anak manusia yang merasa jantung mereka berhenti berdetak.


...******...


Seseorang tengah melamun sambil menghisap rokoknya. dia memandang langit sore hari dengan mata yang yang teduh. Dia teringat akan pertemuannya dengan seorang anak yang berbeda dengan yang lainnya. dia melihat ketika acara ulang tahun mendiang Kakek Addhitama. itulah kali pertama dia bertemu dengan anak perempuan itu.


#flashback on.


Malam pun tiba, Gio sudah berada di kediaman Addhitama. Dia tidak ingin Addhitama datang sendirian.


"Tumben banget sepi, Om," tanya Gio.


"Emang seperti ini 'kan. Selalu sendiri dan paling juga bersama Rifal. Itu juga kalau dia gak ke luar Kota."


Terlihat gurat sedih di wajah tua Addhitama. Jika melihat seperti ini Gio seperti melihat ayahnya sendiri. Sudah pasti ayahnya juga Merakan kesepian yang sama.


"Apa Om gak kesepian?" tanya Gio.


"Kesepian adalah teman sejati, Om."


Sungguh teriris hati Gio mendengarnya. Andai, ketiga anak Addhitama ini mendengarnya sudah pasti mereka akan menangis. Gio tidak mau berlama-lama, dia segera mengajak Addhitma menuju sebuah restoran mewah. Semuanya mengenakan baju serba putih.


Addhitama melengkungkan senyum melihat dekorasi restoran yang serba putih. Itu adalah warna kesukaannya.


"Malam, Om," sapa Rion.


Addhitma sedikit terkejut melihat kehadiran Rion. Ketika dia melihat ke sekelilingnya semua tamu undangan dia kenali.


"Kamu juga ada di sini?" tanya Addhitama .


"Tentu, Om. Kalau acara pesta begini mah pasti saya datang duluan. Itung-itung makan gratis dan cuci mata," gurau Rion. Dia duda senja pun tertawa.


"Hai brother!"


Suara yang sangat Addhitama kenali. Bibirnya melengkung dengan sempurna ketika melihat Genta menyapanya. Pelukan penuh kerinduan tercipta.


"Kamu ...." tunjuknya pada laki-laki tampan di samping Genta.


"Dia cucuku, Aksara."


"Ya ampun ... kharisma mu sungguh luar biasa," puji Addhitama.


"Terima kasih, Kek." Aksa menyunggingkan senyum tulus.


Pesta mewah dengan makanan serba mahal tersaji untuk para tamu undangan. Apalagi musik yang dimainkan adalah musik-musik lawas.


"Ini seperti acara reunian kita," kelakar Addhitama kepada Genta. Kedua kakek yang masih sangat gagah itu pun tertawa puas. Bagai kembali ke masa muda.


Mereka berdua pun tertawa. Kesedihan Addhitma melebur begitu saja tatkala para sahabatnya semasa sekolah hadir dan menyapanya. Obrolan ringan dan gelak tawa terukir di wajah renta Addhitama. Dari kejauhan ketiga anak Addhitama tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Baru kali ini melihat wajah Papih yang sangat berseri," ucap Rifal.


Radit dan Rindra mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan oleh Rifal. Request lagu lawas Addhitama minta dan semua tamu yang tumbuh di era tersebut bernyanyi bersama. Echa merangkul lengan sang suami. Dia menatap haru ke arah sang mertua.


"Ternyata selama ini Papih hanya pura-pura bahagia di hadapan kita. Berbeda dengan Papih yang sekarang kita lihat. Rona bahagianya sangat terlihat jelas."


Radit tidak bisa berkata. Dia hanya mengangguk pelan dan hatinya selalu berdoa untuk kesehatan sang Papih tercinta.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Semua para tamu undangan sudah duduk di tempatnya masing-masing. Begitu juga dengan Addhitama yang sudah duduk di kursi paling depan. Dahinya mengkerut ketika semua tamu sudah diatur duduknya.


"Sekarang, kita telah sampai pada acara puncak," ucap pembawa acara.


Tiba-tiba lampu di ruangan itu mati, dan terdengar suara piano. Lampu sorot menyoroti seseorang yang baru keluar dari belakang panggung. Addhitama terdiam ketika melihat putra pertamanya.


🎶


Engkaulah nafasku


Yang menjaga di dalam hidupku


Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik


Mulut Addhitama Kelu ketika mendengar Rindra bernyanyi satu bait lagu. Di belakang Rindra, Rifal sudah memegang microphone dan menyanyikan bait lagu selanjutnya


🎶


Kau tak pernah lelah


Sebagai penopang dalam hidupku


Kau berikan aku semua yang terindah


Addhitama tak bisa bicara. Tubuhnya seperti terkunci. Melihat dua anaknya tengah bernyanyi di depannya.


🎶


Aku hanya memanggilmu ayah


Di saat ku kehilangan arah


Aku hanya mengingatmu ayah


Jika aku tlah jauh darimu


Suara Radit terdengar dan memuat semua orang menitikan air mata ketika dia menyanyikan reff lagu Ayah dari band Seventeen.


Dari arah kiri dan kanan kedua menantu Addhitama menggandeng tangan anak-anaknya yang membawa bunga Lily putih. Addhitama tercengang karena cucu-cucu dan kedua menantunya hadir juga di sini. Meraka memberikan bunga lili putih itu kepadanya.


"Selamat ulang tahun, Opa," ucap keempat cucu-cucunya dengan kompak.


Air mata Addhitama mengalir sangat deras. Cucu-cucunya memeluk tubuh Addhitama dengan sangat erat.


"Don't cry, Opa," ucap Rio, cucu pertama Addhitama. Tangan kecilnya mengusap lembut air mata sang kakek.


Begitu juga dengan si triplets yang sudah mencium pipi Addhitama.


"Semoga Opa sehat telus," ucap Aleena.


"Selalu temani kami," tambah Aleeya.


Hati Addhitama benar-benar bahagia. Semua orang yang menyaksikannya pun tak kuasa menahan tangis.


"Selamat ulang tahun, Papih," ucap Echa dengan senyum yang mengembang.


"Terima kasih, sudah menerima kami menjadi menantu Papih. Bagian dari keluarga Papih," lanjut Nesha.


Air mata Addhitama semakin berjatuhan dan kedua menantunya itu memeluk tubuh Addhitama.


"Sehat terus ya, Pih." Doa yang Echa panjatkan untuk mertuanya yang sangat luar biasa.


"Kami masih butuh bimbingan Papih," ujar Nesha.


Addhitama sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya sangat terharu sekaligus bahagia.


"Papih ...." Suara Rindra kembali terdengar. Ketiga anaknya masih berada di mini panggung. Semua orang kini beralih menatap ke arah panggung. Tiga pria tampan masih memegang microphone-nya masing-masing.


"Tidak ada kata yang bisa Abang ucapkan, selain terima kasih. Tidak ada kalimat yang bisa Abang utarakan atas semua kasih sayang juga jasa Papih selama ini, selain terima kasih. Hanya jutaan kata terima kasih yang bisa Abang ucapkan. Sampai kapan pun Abang tidak akan pernah bisa membalas semua kasih sayang yang sudah Papih berikan." Suara Rindra sudah terdengar berat. Kedua adiknya sudah menunduk dalam.


"Ketika Abang nakal, Papih tidak marah. Ketika Abang berada di jalan yang salah, Papih dengan sabar membawa Abang ke jalan yang benar. Papih adalah pria yang sangat hebat yang ada di dalam hidup Abang. Papih adalah ayah sekaligus ibu luar biasa." Air mata Addhitama mengalir deras. Kedua menantunya merangkul tangan Addhitama dari arah kiri dan kanan.


"Disaat seorang suami yang ditinggal istri tercinta berlomba-lomba mencari pasangan yang baru, Papih malah sibuk mengurus kami yang nakal. Kami yang dengan watak berbeda-beda, Papih terus berusaha menjadi ibu untuk kami. Walaupun Papih tahu, Papih tidak akan pernah bisa menjadi seperti Mamih." Addhitama mengangguk dengan derai air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Selamat ulang tahun, Pih. Sehat selalu dan panjang umur. Terus temani Abang dan kedua adik Abang karena kami masih membutuhkan, Papih."


Rindra turun dari mini panggung dan sedikit berlari menuju tempat di mana sang ayah duduk. Dia bersimpuh di hadapan Addhitama dan mencium tangan sang Papih sangat lama.


"Abang, sayang Papih."


Addhitama memeluk tubuh putra sulungnya. Mereka menumpahkan rasa haru dan bahagianya dalam tangisan.


"Papih juga sangat menyayangi kamu."


"Papih ...." Kini suar Rifal yang terdengar.


Addhitama dan Rindra yang telah berpelukan mengurai pelukan mereka, menatap ke arah mini panggung di mana Rifal yang biasanya kocak berubah sendu.


"Semuanya sudah dipaparkan oleh Abang. Hanya ucapan terima kasih yang bisa Ipang ucapkan kepada Papih. Papih adalah orang yang sangat berjasa dalam karir Ipang saat ini. Papih juga adalah orang tua tunggal yang paling hebat yang Ipang miliki. Mampu menyembunyikan semua kesedihan Papih di depan Ipang dan juga dua saudara Ipang. Papih mencoba untuk baik-baik saja di tengah rasa sedih yang tidak ada ujungnya. Ipang tahu, kepergian Mamih membuat Papih sangat terpukul. Hanya demi kami ...." Suara Rifa bergetar. Dia menjeda ucapannya sejenak.


"Papih bertahan dan menjadi manusia kuat. Hanya demi kami ... Papih melawan rasa sedih itu." Rifal mendongakkan kepalanya ke atas menahan air mata yang ingin sekali terjatuh. Semua undangan sudah menyeka ujung mata mereka.


"Jangan pernah bosan untuk menegur dan memarahi Ipanh dan juga saudara Ipang jika kami salah. Jangan pernah berhenti mendidik kami agar kami bisa seperti Papih." Rifal mencoba tersenyum ke arah Addhitama yang sudah menangis.


"Satu hal yang Ipang minta kepada Papih. Temani Ipang hingga Ipang ke pelaminan. Tidak ada yang Ipang miliki lagi, selain Papih." Air mata Rifal menetes juga.


"Selamat ulang tahun, Pih."


Rifal berlari ke arah Addhitama dan memeluk erat tubuh sang Papih. Dia menumpahkan segala rasa yang ada di hati termasuk rasa sedihnya.


"Temani Ipang hingga ke pelaminan. Sama seperti Papih menemani Abang dan juga Radit. Cukup Mamih yang pergi." Inilah isi hati sesungguhnya anak kedua dari Addhitama. Semuanya dia simpan rapat, termasuk ketakutannya. Dia takut, jika Addhitama tidak bisa melihatnya mempersunting wanita pujaannya.

__ADS_1


"Sehat terus, Pih," lirih Rifal.


Malam yang penuh haru yang dirasakan oleh semua tamu undangan. Senyum melengkung indah di wajah Radit yang masih berada di atas panggung.


"Papih ...." Raditya sudah menunjukkan suaranya. Mata Addhitama kini beralih kembali ke arah panggung. Belum juga mendengar ucapan Radit, Addhitama sudah menangis.


"Terima kasih sudah mau menerima Radit ketika semua orang menyebut Radit sebagai pembunuh Mamih. Terima kasih sudah berusaha menyembuhkan luka tak kasat mata yang pernah Radit derita. Walaupun pada waktu itu ... Radit menginginkan kematian. Radit ingin menyusul Mamih. Terlalu sakit, ketika semua teman-teman Radit memiliki foto bersama sang ibu, tetapi Radit tidak memiliki kenangan apapun tentang ibu kandung Radit sendiri. Ibu yang telah melahirkan Radit ke dunia ini juga mengorbankan nyawanya untuk Radit." Air mata Radit sudah menganak. Suaranya sudah bergetar.


"Jika, Radit bisa menawar kepada Tuhan ... lebih baik Radit yang meninggal dari pada Mamih yang harus tidak selamat dan meninggalkan dua orang anak yang masih sangat membutuhkan perhatian Mamih. Juga meninggalakan suami yang sangat menyayanginya." Radit mencoba mengatur napasnya, sebelum melanjutkan ucapannya.


"Di antara kedua kakak Radit, Radit lah yang memiliki kisah yang sangat pilu. Radit sama sekali tidak mengenal sosok seorang ibu. Tidak pernah merasakan sentuhan hangat tangannya, air susunya, juga gendongannya. Radit tumbuh dan besar dengan hanya kasih sayang seorang ayah yang berusaha mengambil alih tugas seorang ibu."


"Papih adalah ayah yang sangat luar biasa. Disela kesibukan, Papih masih menyempatkan waktu untuk menyuapi ketiga anaknya. Ketika kami sakit, Papihlah yang terus terjaga menjaga kami. Membawa kami semua ke rumah sakit. Padahal Papih baru pulang dinas."


"Kasih sayang Papih kepada kami tidak pernah bisa kami balas. Kasih sayang Papih sepanjang masa, sedangkan kasih sayang kami hanya sepanjang galah. Terima kasih, Pih. Terima kasih atas segalanya."


"Selamat ulang tahun, tetap dampingi Radit hingga cucu-cucu Radit lahir."


Addhitama berdiri dan merentangkan tangannya ke arah Radit. Putra bungsunya itu berlari dan memeluk tubuh Radit dengan sangat erat.


"Makasih, Nak. Telah tumbuh menjadi anak yang membanggakan meskipun, hanya setengah kasih sayang yang kamu terima." Radit tidak bisa berucap.


Kedua saudara Radit ikut memeluk tubuh tubuh Radit dan juga Papih mereka. Inilah bentuk kasih sayang mereka bertiga kepada sang Papih.


"Selamat ulang tahun, Pih," ucap mereka serentak.


Semua tamu undangan memberikan tepuk tangan yang gemuruh. Seseorang datang membawa kue ulang tahun ke arah Addhitama, yaitu Satria.


"Selamat ulang tahun, Kak Addhit."


Sungguh kebahagiaan yang tak terkira yang Addhitama rasakan. Di ulang tahunnya yang ke enam puluh dia merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kasih sayang yang anak-anak juga para menantunya berikan.


Acara terus berlanjut, alunan musik terus terdengar. Mereka menikmati makanan yang sudah tersedia di sana. Begitu juga dengan ketiga anak Radit yang sudah mengambil ini dan itu. Echa yang sudah bermanja dengan ayah dan juga Papahnya. Serta Radit yang sudah bercanda dengan kedua saudaranya. Hanya Nesha yang tidak memiliki keluarga di sini. Dia hanya tersenyum miris.


Tiba-tiba keponakannya menggenggam tangan Nesha. Membawanya ke arah pojok.


"Ada apa Aleesa?" tanya Nesha.


"Aunty Mamih sedang lindu sama ibu Aunty Mamih 'kan?"


Pertanyaan Aleesa membuat Nesha sedikit tersentak. Dia menatap penuh tanya ke arah Aleesa, anak yang memiliki kemampuan di luar nalar manusia biasa.


"Sebental," tukas Aleesa.


Anak itu memejamkan matanya. Seperti tengah berkomunikasi dengan makhluk lain. Nesha sedikit bingung ketika dia melihat Aleesa menitikan air mata.


"Aleesa, kamu kenapa, Sayang?" Nesha sudah mulai cemas.


"Pegang pundak Kak Sa," titahnya.


Nesha mengikuti apa uang diperintahkan oleh Aleesa. Seketika dia melihat ibunya tengah tersenyum manis ke arah Nesha.


"Jangan merasa sendiri, Sha. Selama ini Ibu selalu ada di samping kamu."


"I-ibu," lirih Nesha.


Rasa rindu yang menggebu yang Nesha pendam sendirian kini terobati karena ibunya ada di hadapannya.


"Ibu bahagia karena kamu sudah bahagia sekarang. Mendapat pendamping hidup yang sangat luar biasa. Keluarga suamimu juga sangat baik. Ibu sudah tenang, Sha."


Nesha tidak bisa berkata, dia hanya bisa menitikan air mata. Menatap lekat ibunya untuk dia simpan di memori otaknya agar dia tidak melupakan pertemuan ini.


Bruk!


Tiba-tiba tubuh Aleesa terjatuh dan dia pingsan. Nesha berteriak hingga semua orang berhambur ke arahnya. Terutama Rindra, dia segera menghampiri Nesha begitu juga dengan kedua saudaranya.


Radit melebarkan matanya ketiak melihat putri keduanya telah tak sadarkan diri. Dia segera membawanya ke belakang panggung tempat yang sepi.


"Maafkan Mbak, Dit," sesalnya.


Radit tersenyum dan menggeleng. Echa sudah memangku putri keduanya, sedangkan Iyan tengah memeriksa kondisi Aleesa.


Rindra merangkul pundak sang istri. Dia tahu Nesha sedang ketakutan karena takut disalahkan.


"Aleesa tidak bisa terlalu lama menjadi perantara," ucap Iyan.


Echa dan Radit saling pandang. Mereka tahu, bahwa Aleesa telah melakukan sesuatu.


"Sebentar lagi juga pulih," lanjut Iyan.


Sekarang Iyan menatap Nesha, dia mendekat dan meraih tangan Nesha.


"Ibu Tante mau pamitan," ucap Iyan.


Semua orang menatap ke arah Iyan yang sudah menggenggam erat tangan Nesha. Mereka juga melihat Nesha menangis dengan sangat pilu.


"Ibu pergi ya, Nak. Tugas Ibu berada di samping kamu sudah selesai." Senyum mengembang di wajah ibu Nesha.


"Om Rindra, pegang tangan Iyan sebelah lagi." Rindra mengikuti apa yang diperintahkan Iyan.


Mata Rindra melebar dengan sempurna ketika melihat seorang wanita yang selalu ada di dompet istrinya.


"Ibu."


"Jaga Nesha dan Rio ya, Nak. Ibu pergi."


Iyan melepaskan tangannya. Nesha sudah menangis dan Rindra sudah memeluk tubuh istrinya.


"Acara yang banyak menumpahkan air mata kebahagiaan," ujar Rifal.


"Bubu ... Kakak Sa lapal."


Ucapan Aleesa yang ternyata sudah sadar dari pingsannya membuat semua orang tertawa.


#off.


Jika, mengingat hal itu dia akan tertawa lucu sekali anak itu dia kira anak itu pingsan sungguhan. Ternyata hanya pingsan kelaparan


Komen dong ....

__ADS_1


.


__ADS_2