Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
76. Perpisahan Sementara


__ADS_3

"Ke kamar mandi yuk. Aku ingin mencium kamu."


Sontak tangan Beeya mencubit gemas perut Iyan. Tatapannya pun sangat tajam dan mampu membuat Iyan tertawa walupun perutnya terasa panas.


"Bercanda, Chagiya."


Beeya menatap tajam ke arah pacarnya yang masih menyunggingkan senyum.


"Aku tunggu di Bali," ucap Beeya. Kini, dia yang berjinjit dan membisikkan sesuatu. "Ketika di Bali, kamu boleh sepuasnya cium aku."


Iyan memeluk tubuh Beeya dan dibalas oleh wanita yang lebih pendek darinya itu.


"Aku akan secepatnya menyelesaikan pekerjaanku."


"Aku tunggu kamu di sana," balas Beeya.


Perpisahan pun harus terjadi. Lambaian tangan Iyan yang dibalas oleh Beeya menjadi awal perpisahan sementara mereka. Iyan menghela napas berat dan berbalik badan menjauhi tempat itu.


"Rian!"


Suara perempuan membuat langkah Iyan terhenti sejenak. Namun, dia tak membalikkan tubuhnya sama sekali. Dia mendengar langkah seseorang berlari ke arahnya.


"Gua ikut lu, ya."


Wajah Pipin sudah ada di depannya. Hanya wajah datar yang Iyan berikan.


"Maaf, saya bukan tukang ojek."


Iyan berlalu begitu saja dan membuat Pipin terperangah. Pipin menggelengkan kepala karena dua melihat satu orang yang sama, tetapi memiliki dua kepribadian yang berbeda.


"Si lebah pake pelet apaan sih?" gumam Pipin. "Bisa-bisanya buat bucin kang es balok."


Iyan memilih untuk memesan ojek online dibandingkan menaiki mobil keluarga Beeya. Lagi pula motornya sudah dibawa oleh Deki. Ternyata pria yang bernyanyi di restoran tempat Beeya makan siang adalah Deki.


Tibanya di kafe, Iyan segera memasuki ruangannya. Dia mengirim pesan kepada sang kekasih. Mengatakan bahwa dia sudah sampai kafe. Iyan pun kembali fokus pada pekerjaannya. Berkali-kali Iyan menghembuskan napas kasar. Banyak sekali pekerjaan untuk dua Minggu ke depan. Namun, lengkungan senyum terukir di wajahnya ketika ada jadwal pergi ke Bali.


"Urusan sama si Bang Radit mah gampang, beda sama Bang Aksa," gumamnya.


.


Iyan mencari sang kakak ipar ketika baru sampai di rumah.


"Baba lagi di rumah Mimo, ada Uncle dan Om di sana."


Aleena tahu omnya mencari siapa. Iyan mengangguk dan segera menuju rumah yang ada di samping rumahnya. Ketika memasuki rumah itu, dia disambut oleh anak perempuan comel dengan rambut di kuncir kuda.

__ADS_1


"Om kangen gak sama Adek?" Iyan tersenyum dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Ghea.


"Kangen dong. Adek 'kan keponakan Om yang paling imut."


Ghea pun melengkungkan senyum dan mencium pipi putih Iyan. Sang om hanya tersenyum senang. Walaupun keponakannya itu sangat jahil, tapi tak membuat Iyan membencinya.


"Baba ada di dalam?" Ghea pun mengangguk.


"Lagi sama Daddy juga Ayah."


Ayah yang dimaksud oleh Ghea adalah Aska. Iyan mengusap lembut rambut sang keponakan dan meminta ijin untuk bertemu tiga pria dewasa itu.


"Minta uang tapinya."


Adik dari Mas Agha itu sudah menengadahkan tangannya ke arah sang om yang sudah tertawa. Tanpa banyak bicara Iyan mengeluarkan dompetnya dan menyuruh keponakannya untuk memilih yang mana yang dia inginkan.


"Adek mau yang biru, tapi dua."


Iyan tertawa mendengar jawaban keponakannya. Dulu, Mas Agha yang sering memalak sang om, yakni Aska. Tak main-main seribu dollar Singapura yang Mas Agha pinta. Kini, giliran Iyan yang selalu menjadi target adik dari Mas Agha. Dua lembar uang yang berwarna biru. Iyan mengambil dua lembar uang berwarna biru dan memberikannya kepada Ghea.


"Makasih, Om." Mata anak itupun berbinar.


"Kiss dulu," pinta Iyan. Dia sudah memberikan pipinya ke arah sang keponakan. Ghea pun mencium pipi kanan dan kiri Iyan.


"Anak pintar."


Kedatangan Iyan membuat tiga pria dewasa itu memicingkan mata. Tak biasanya pemuda itu datang ke rumah besar ini jika tidak ada maksud terselubung.


"Gua mencium aroma-aroma gak enak," sindir Aska. Iyan tidak menjawab. Dia malah duduk di samping Radit.


"Kenapa?" tanya Radit. Dia sudah bisa menebak apa yang akan Iyan katakan melalui gerak-gerik adik iparnya itu.


"Jadwal ke Bali biar aku yang berangkat aja, ya."


"Bisaan modusnya," cibir Aksa.


"Sambil nyelam minum air," tambah Aska.


Radit hanya tersenyum tipis mendengar ucapan dari Iyan. Dia meraih cangkir kopi dan menyesapnya. Namun, matanya masih tertuju pada Iyan.


"Kamu mau gantiin Abang?" tanya Radit setelah meletakkan cangkir itu di atas meja. Iyan mengangguk dengan begitu cepat.


"Sayangnya, itu tidak bisa diwakilkan," balas Radit. "Mereka meminta owner Moeda kafe yang datang. Mereka sudah meminta dari jauh-jauh hari. Mereka rela menunggu hingga Abang memiliki jadwal kosong."


Aksa dan Aska tertawa sangat puas. Sedangkan Iyan melirik dua manusia kembar itu dengan tatapan tajam. Raut wajahnya sudah berubah.

__ADS_1


"Emang belum puas tadi nganter Beeya," ucap Radit dengan tatapan biasa.


"Kerja yang benar dulu. Ngumpulin duit yang banyak," ujar Aksara. "Biaya nikah itu gak murah," lanjutnya lagi.


"Dengerin tuh Sultan ngomong," sambung Aska.


Iyan pun berdecih kesal. Dia meraih gelas yang berisi minuman berwarna milik Askara.


"Punya gua itu," ujar Aska. Namun, Iyan tetap meminumnya.


"Ngapain pusing sama biaya nikah," sahut Iyan setelah meminum air berwarna itu. Dahi ketiga pria dewasa itu mengerut mendengar ucapan Iyan.


"Punya dua kakak ipar super tajir masa iya gak mau nyumbang buat acara pernikahan adiknya," lanjutnya.


Radit dan Aksa saling pandang sedangkan Aska sudah tertawa. Dia mengacungkan jempol ke arah Iyan.


"Bang Radit yang bayar uang gedung sama catering." Radit menukikkan kedua alisnya. "Bang Aksa yang nyiapin mahar serta seserahan." Aksa pun ikut menukikkan kedua alisnya. "Kak Echa bayar biaya semua baju dan Kak Riana bayar EO."


Kedua pria itu menggelengkan kepala mendengar penjelasan dari Iyan. Aska malah tertawa puas.


"Pintar amat otak lu dalam hal itung-itungan," katanya, dan Aska masih tertawa.


"Aku cuma mengambil peluang," sahut Iyan.


"Peluang pala lu peyang!" seru Aksa.


"Yang jadi pertanyaan Abang, kalau semua kami tanggung ... kamu bermodal apa?" sergah Radit.


"Modal stamina yang kuat biar bisa ngehasilin anak-anak yang imut."


Aska tersedak ketika mendengar ucapan dari Iyan. Sungguh pemuda ini sangat berbeda sekarang.


"Kacau," ucap Aksa seraya menggelengkan kepala.


"Bubu, Iyan parah nih," teriak Radit. "Pikirannya udah terkontaminasi sama virus mesoem." Iyan membekap mulut sang Abang.


"Sayang, adik kamu minta disunat dua kali," teriak Aksa. Sontak mata Iyan melebar. "Katanya mau bikin adonan anak-anak yang lucu buat kita."


Dua orang wanita yang tengah di dapur pun segera menghampiri tempat di mana teriakan itu terdengar. Riana sudah membawa pisau di tangannya dan Echa sudah membawa teflon di tangan kanannya dan membuat Iyan menelan ludahnya. Apalagi melihat kedua wajah kakaknya sangat sangar bagai ibunya si Sinchan.


"Mau dipotong jadi berapa bagian, Yan?" tekan Riana. Tangannya sudah menyentuh ujung pisau tersebut.


"Apa mau Kakak pukul pakai belakang teflon panas burung kecil kamu itu?" Echa sudah memegang pegangan teflon tersebut dengan kedua tangannya.


...****************...

__ADS_1


Komen atuh ...


__ADS_2