
"Mohon maap, Iyan sudah saya pelet pakai pelet paling bagus dan paling manjur. Jadi, jangan harap dia membalas cinta Andah apalagi melihat Andah karena di mata Iyan, hanya ada saya, saya dan saya. Cintanya hanya untuk saya. Andah paham?"
Deta auto kicep mendengar ucapan nan menusuk relung hati terdalam yang keluar dari bibir mungil Beeya. Jika, dia punya penyakit jantung sudah pasti dia akan mendadak Anfal.
"Sekarang, Om dan Tante sudah jelas 'kan. Saya udah punya pacar dan kemungkinan besar akan saya halalkan dan akan saya bawa ke pelaminan."
Keempat kakak Iyan terkejut mendengarnya. Begitu juga dengan keempat keponakannya yang menganga tak percaya.
"Gercep banget Om kecil," bisik Aleeya kepada Aleesa.
Kedua orang tua Deki pun hanya mematung mendengar ucapan dari Iyan. Namun, mereka masih bisa menyanggahnya. Padahal, Deki sudah mengajak mereka untuk pulang.
"Kalau kamu menikahi wanita itu, kamu harus mengeluarkan uang banyak. Berbeda jikalau kamu menikahi anak saya."
Pria paruh baya itu masih bersikukuh. Apalagi terlihat Deta sudah terkena mental akan ucapan Beeya.
"Sudah kewajiban pria untuk memberikan mahar kepada wanita 'kan. Bukan wanita yang menyiapkan mahar untuk laki-laki. Adat yang saya pegang bukan adat seperti itu," terang Iyan.
Kedua orang tua Deki pun tidak bisa berkata lagi. Deki sudah memberikan kode untuk kesekian kalinya agar mereka pergi dari rumah Iyan.
"Kenapa Kak Iyan tega?"
Kini, Deta mulai angkat bicara. Suaranya terdengar sangat bergetar. Ketiga keponakan Iyan sudah melipat tangannya di atas dada. Menyaksikan drama apa yang akan perempuan itu mainkan.
"Aku mencintai Kak Iyan dari empat tahun lalu. Aku masih mempertahankan perasaan ini demi Kak Iyan. Kenapa Kak Iyan begitu jahat sama aku?"
Air matanya sudah menetes dengan begitu deras. Deki sudah menepuk keningnya. Kepalanya mendadak pening melihat tingkah laku adiknya itu.
"Aku tidak menyuruh kamu untuk mencintaiku. Aku juga tidak menyuruh kamu untuk bertahan. Jadi, kenapa kamu menyalahkan aku? Aku saja tidak mengetahui perasaan kamu terhadapku."
Luar biasa sekali jawaban dari Iyan. Ketiga keponakannya sangat salut dengan apa yang dikatakan oleh om kecil mereka. Sungguh jelas dan padat. Mampu meruntuhkan hati yang tak tahu diri. Sekarang Iyan melipat kedua tangannya di atas dada. Menatap datar dan dingin ke arah Deta.
"Jikalau, aku tahu perasaan kamu kepadaku pun, aku tidak akan pernah mau bersama dengan kamu. Sedari dulu, hatiku sudah terkunci pada satu sosok wanita yang tadi berbicara dengan kamu melalui sambungan video."
Keempat kakak Iyan menghela napas kasar mendengar kebucinan dari Iyan. Mereka kompak menggelengkan kepala. Anak yang diam, tak banyak bicara ternyata parah juga.
"Udah yuk, Mah, Pah. Kita pulang aja," bujuk Deki. Dia benar-benar malu terhadap keluarga Iyan.
"Apa kamu tidak punya hati sampai tega membuat putri saya menangis seperti ini?" Ayahh Deki sudah sedikit meninggikan suaranya.
Ibunda dari Deki sudah mengusap lembut punggung Deta. Dia juga memeluk tubuh putri bungsunya tersebut.
__ADS_1
Apa Iyan takut dengan sergahan dari ayah Deki? Tentu tidak, dia masih bersikap santai dan masih menyunggingkan senyum ke arah ayah Deki yang sudah memasang wajah garang.
"Apa Om juga tidak punya hati? Terus memaksa saya untuk menikah dengan putri Om. Padahal, sudah jelas saya katakan bahwa saya tidak memiliki perasaan apapun kepada adik Deki itu," balas Iyan. Mulut ayah Deki pun terbungkam.
Jika, dilihat sepintas Iyan memang pria diam. Tak banyak berkata dan berlaga. Namun, dia memiliki bisa yang mematikan dan seketika akan menghancurkan mental orang yang mengajaknya berdebat. Apalagi, berdebat masalah unfaedah.
"Hoam!"
Aleesa menguap dengan cukup keras membuat kedua orang tuanya menatap tajam ke arah putrinya tersebut.
"Ngantuk, Ba," ucapnya pada sang ayah.
"Ngantuk, Bu," ujarnya pada sang ibu.
Sebenarnya ini kode keras yang Aleesa keluarkan agar keluarga aneh di depannha itu segera pulang.
Deki terus membujuk kedua orang tuanya untuk pulang. Dia sudah sangat malu karena memiliki orang tua yang tak tahu malu.
"Kak Iyan jahat!"
Deta berdiri dari duduknya. Menghampiri Iyan dengan air mata yang berlinang.
Tangannya berhasil menampar pipi kiri Iyan. Suaranya terdengar sangat nyaring dan mampu membuat Radit dan Aksa menegang pipi mereka masing-masing.
"Mantab," ucap Aksa.
"Panas itu," sambung Radit.
Iyan hanya tersenyum sambil memegang pipinya yang nampak merah. Tamparan Deta cukup keras dan berbekas.
"Kamu yang menyimpan perasaan kepadaku. Kamu juga yang menampar aku. Apa kamu sudah gila?" Ucapan Iyan penuh dengan penekanan.
"Iya, aku gila! Aku gila karena mencintai kamu."
"Kudu diruqyah," celetuk Aleena, si manusia yang jarang bicara. Aleesa dan Aleeya pun tertaw mendengarnya.
Deki sudah menarik tubuh Deta dan membawanya pergi dari rumah Iyan. Walaupun Deta mengamuk, Deki tetap berusaha membawanya keluar dari rumah besar itu.
Iyan membanting tubuhnya dengan kasar ke atas sofa. Masih memegangi pipinya yang terasa panas.
"Lu sih, bukannya diterima aja," ujar Radit. "Lumayan 'kan kagak usah kerja keras cuma ongkang-ongkang kaki kayak juragan," lanjutnya lagi..
__ADS_1
Decakan kesal keluar dari mulut Iyan. Dia menatap tajam ke arah sang kakak ipar pertama.
"Mohon maaf, pria diciptakan untuk menjadi tulang punggung bukan tulang rusuk. Sudah diwajibkan untuk berkerja keras, bukan menengadah kepada wanita," sahutnya.
"Ini bukan sinetron Dunia Terbolak, Bang. Di mana suami jadi bapak rumah tangga dan istri jadi TKW," lanjutnya lagi.
Riana dan Echa saling pandang dengan senyum lebar. Mereka tidak menyangka jikalau adik bungsu mereka sudah bisa berpikiran dewasa. Memikirkan masa depannya.
"Ayah, lihatlah ... putra kebanggaan Ayah sudah besar. Dia sudah sangat dewasa sekarang. Echa saja bangga kepadanya."
"Ayah, Iyan kita kini tumbuh dengan luar biasa. Jika, Ayah masih ada pasti Ayah akan sangat bangga kepadanya. Ri dan Kak Echa tidak bisa berkata akan perubahan Iyan yang signifikan."
"Gak nahanlah sama gaya bicaranya sekarang ini," goda Aksara. Iyan menatap jengah ke arah kakak ipar keduanya.
"Bocah kecil udah bisa pacaran," ejeknya lagi. Mata Iyan melebar mendengar ejekan dari Aksara.
Kini, kedua kakak perempuannya menatap ke arah Iyan. Seakan tengah menginterogasi dirinya.
"Kamu pacaran sama Beeya?" tanya Riana dengan tatapan mautnya. Iyan hanya kicep mendengar pertanyaan Riana. Seketika tubuhnya mematung.
"Jawab, Iyan!" seru sang kakak pertama.
Kakak kedua yang bertanya, kakak pertama yang emosi. Iyan hanya bisa menghela napas kasar.
"Jawab, Om kecil," tambah Aleeya.
"Bukan hanya Bubu dan Aunty yang penasaran, tapi kita semua pun sama," sambung Aleesa.
Keponakan Iyan dua ini bagai lambe murah. Selalu kompak dalam menjatuhkan orang lain.
"Iya."
Ketiga keponakannya bertepuk tangan. Namun, berbeda dengan kedua kakak perempuan Iyan.
"Sudah sejauh mana hubungan kalian?" Iyan seperti diinterogasi oleh Echa.
"Sejauh Matahari ke Neptunus." Iyan pun memilih segera beranjak dari pada harus dicecar pertanyaan lainnya oleh kedua kakaknya.
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1