Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
97. Restui


__ADS_3

"Ke Bali lah," pinta seorang pemuda. Kini dia bagai anak kecil yang tengah merengek kepada empat pria dewasa yang berada di layar laptopnya.


"Mau ngapain?" tanya Aksa.


"Lu kira gua pengangguran," omel Aska. "Minta gua datang ke Bali."


Sudah biasa Iyan akan diperlakukan seperti ini oleh dua pria yang wajahnya mirip ini. Namun, dia tidak pernah merasa sakit hati. Iyan tahu dua pria itu berbeda dari yang lain dalam hal mengungkapakan rasa sayang.


"Terus aku harus minta tolong sama siapa?" Wajah Iyan sudah terlihat sendu dan mampu membuat mereka berempat merasa ngilu.


"Aku serius sama Beeya. Aku ingin kalian menjadi waliku," jelasnya.


Mereka berempat terdiam. Apalagi Iyan menundukkan kepalanya kali ini. Hati mereka sangat sakit.


"Kapan kamu mau melamarnya?"


Suara Gio kini terdengar. Iyan menggeleng kecil. Sesungguhnya hati kecil Iyan masih ragu. Ucapan kakaknya masih berputar di kepala.


"Pastiin dulu, Yan." Kini, Radit yang berbicara. "Kalau kamu sudah yakin jangan ditunda-tunda lagi," ujarnya lagi.


"Jangan nambah dosa mulu lu," hardik Aska.


Mata Iyan melebar mendengar ucapan dari Aska. Apa mungkin sepupu dari kekasihnya ini mengetahui semuanya. Wajah panik Iyan membuat empat orang yang berada di dalam layar laptop mengulum senyum. Iyan ternyata masih sangat polos. Padahal mereka semua laki-laki. Pernah berada di posisi seperti Iyan. Suhu mesoem di antara mereka berempat adalah Aksara.


"Ketahuan 'kan," goda Aska. "Udah lu apain sepupu kesayangan gua," lanjut Aska lagi. Dia sudah menunjukkan wajah garangnya. Padahal di dalam hatinya dia tertawa sangat puas.

__ADS_1


"Baru sampe ci po kan. Belum sampe icip-icip," sahut Iyan enteng. Padahal dalam hatinya sudah bergemuruh sangat kencang.


"Eh ba-jing!" sungut Aska.


Tiga pria yang lain menggelengkan kepala. Mereka kira Iyan adalah anak yang alim, eh ternyata dzolim.


"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sama halnya dengan anak ini, otaknya adalah otak bapaknya," kelakar Gio.


"Mertua lu , Ndit," seru Aksa.


"Mertua lu juga be go!" omel Radit.


Mereka pun tertawa, beginilah cara mereka membalut kesedihan yang tengah mereka rasakan. Hampir dua tahun berlalu kenangan mereka bersama Rion Juanda masih tetap ada.


.


"Kamu belum tidur, Bee?" tanya sang mamah yang ingin mematikan lampu dapur.


Beeya melihatnya ke arah jam dinding. Jam panjang sudah menunjukkan pukul sembilan malam lebih sedikit.


"Bee masih nungguin bocah bandel," ucap Beeya dengan begitu ketus.


Beby hanya tertawa mendengar ucapan dari putrinya itu. Dia mengacak-acak rambut Beeya dengan gemas. Sedewasa apapun putrinya, dia tetap anak kecil bagi Beby.


Sang ibu malah ikut duduk di samping Beeya. Menatap wajah anaknya yang sudah mulai berubah. Tidak seperti dulu.

__ADS_1


"Bee, apa kamu bahagia bersama Iyan?" Pertanyaan sang ibu membuat Beeya menoleh dan dahinya mengkerut mendengar ucapan dari ibunya sendiri.


"Kenapa Mamah bertanya seperti itu?" Ada segelintir kekhawatiran. Dia takut ibunya tidak akan merestui hubungannya dengan Iyan.


"Mamah hanya bertanya aja," jawab Beby. "Wajah kamu sekarang sangat berbeda." Kini, kedua alis Beeya menukik tajam. Apa maksudnya? Begitulah batinnya berkata.


"Kamu terlihat sangat bahagia ketika bersama Iyan. Beda halnya ketika kamu-"


Beby tidak mau melanjutkan ucapannya lagi. Dia menatap wajah sang putri tercinta yang juga sedang memandangi wajah Beby.


"Mamah sudah lama kehilangan anak Mamah, dan kini anak Mamah kembali lagi. Keceriaan kamu akhirnya datang lagi." Mata Beby sudah berkaca-kaca ketika mengatakan itu.


Beeya segera memeluk tubuh sang ibu dengan begitu eratnya. Dia merasakan tubuh mamahnya bergetar.


"Bee sudah kembali, Mah," kata Beeya. "Ini berkat Iyan."


Beby semakin erat memeluk tubuh putrinya. Bertahun-tahun kehilangan putrinya yang ceria dan kali ini putrinya kembali lagi adalah kebahagiaan yang luar biasa.


"Mamah percaya gak, kalau kita berkumpul dengan orang baik pasti akan terbawa baik. Jika, berkumpul dengan orang yang kurang baik ataupun buruk, pasti kita juga akan tertular." Beeya tersenyum ke arah sang ibu.


"Jadi, kamu tertular dengan kebaikan-kebaikan Iyan?" tanya Beby. Beeya pun mengangguk dengan seulas senyum yang terukir di wajahnya.


"Iyan anak baik, restui hubungan Bee dengan dia ya, Mah."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2