
"Aku masih mencintai kamu, Bee."
Tubuh seseorang yang datang dengan hati bahagia pun menegang seketika. Dia melihat jelas siapa yang ada di depannya. Urat-urat kemarahan sudah muncul ketika melihat tangan Beeya dipegang oleh Kenzo. Dia masih berdiri. Menontoni drama apa yang akan terjadi.
Tak dia sangka Beeya membalikkan tubuhnya. Bertepatan dengan itu, nektra mata mereka berdua bertemu. Beeya terlihat terkejut, berbeda dengan dirinya yang hanya memandangi wanita itu dengan tatapan datar.
Mata Beeya melebar dan dengan cepat dia menghentakkan tangannya dengan cukup keras agar cekakan tangan Kenzo terlepas.
"Lepas!" pekik Beeya.
"Enggak!" Kenzo tetap bersikeras.
Beeya menggelengkan kepalanya pelan. Berharap orang yang tengah berdiri di depan pagar membantunya. Namun, dia masih terdiam.
"Ijinkan aku untuk menjadi kekasih kamu lagi, Bee."
"Ehem!"
Deheman keras terdengar. Kenzo membalikkan tubuhnya dan cekatan tangannya pada Beeya mulai mengendur. Kedua alisnya menukik denga teramat tajam.
"Iyan!" serunya.
Kenzo tercengang ketika melihat Beeya berlari ke arah Iyan dan segera memeluk tubuh Iyan dengan begitu eratnya.
"Aku sangat merindukan kamu," ucap Beeya seraya membenamkan wajahnya di dada bidang Iyan. Tidak ada jawaban dari Iyan. Namun, Beeya juga enggan untuk melepaskan.
"Apa kabar?" Iyan memicingkan mata ketika Kenzo sudah mendekat padanya. Tangan Beeya semakin erat memeluk pinggang sang tunangan. Berharap Iyan akan peka.
"Lu kerja di sini juga?" Iyan tidak menjawab. Dia masih menatap Kenzo yang sok akrab dengannya.
"Malam begini ngapain ke sini?" Beeya mengedipkan matanya dengan cepat mendengar ucapan Iyan. Tanpa mau melepaskan pelukannya terhadap sang tunangan.
"Lu sendiri ngapain?" tanya balik Kenzo.
"Cuma mampir." Jawaban Iyan membuat Beeya memundurkan tubuhnya, tapi tangannya masih melingkar di pinggang Iyan. Beeya menatap tajam ke arah Iyan.
__ADS_1
"Mampir?" Pertanyaan yang penuh penekanan. Namun, Iyan tak menggubris.
"Gua mau balikan sama Beeya. Lu pasti ijinin 'kan."
Mata Beeya hampir terlepas dari tempatnya. Dia tidak menyangka jikalau Kenzo akan seberani ini. Beeya tidak berani melihat reaksi Iyan. Tunangannya itu akan berubah menjadi monster.
"Benar 'kan, Bee," tanya Kenzo.
"ENGGAK!" Beeya mulai menatap wajah sang tunangan. Mendongakkan kepala dengan mata yang berkaca. "Enggak gitu," jelas Beeya dengan pelan.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Iyan. Dia pun menundukkan kepala menatap wajah Beeya yang penuh ketakutan.
"Selesaikan masa lalu kalian." Kalimat yang amat dingin dan mampu melepaskan lingkaran tangan Beeya pada pinggang Iyan.
"Jadi, lu setuju 'kan." Iyan tidak menjawab. Wajahnya masih datar bak papan bangunan.
Tanpa ada jawaban Iyan pun melangkahkan kakinya menjauhi Beeya. Kenzo pun malah tersenyum bahagia. Namun, Beeya segera mengejar Iyan dan memeluknya dari belakang.
"Jangan pergi!" Mohon Beeya dengan begitu lirih. "Maafkan aku," lirihnya lagi.
"Selesaikanlah!" Begitu lemah suara Iyan di telinga Beeya.
"Enggak ada yang perlu diselesaikan. Semuanya sudah selesai," sahut Beeya. Iyan merasa baju belakangnya basah. Sudah pasti wanita yang tengah memeluknya itu menangis.
"Ada, Bee." Kenzo tetap bersikukuh.
Iyan meraih tangan Beeya yang tengah memeluknya dari belakang. Dia mencoba untuk tenang. Membalikkan tubuhnya secara perlahan. Menatap manik mata yang berair milik wanita di hadapannya.
"Bicaralah dengannya," titah Iyan. "Aku ingin istirahat."
Beeya memggeleng dengan cepat. Dia malah kembali memeluk tubuh jangkung Iyan. Kembali menangis di atas dada bidang tunangannya. Kenzo mulai mendekati Beeya, dan tangannya ingin menarik tangan Beeya. Namun, mata Iyan melebar dan terlihat sangat menakutkan membuat Kenzo mengurungkan niatnya.
"Kita ke dalam." Iyan merangkul pundak Beeya dan matanya juga mengisyaratkan jikalau Kenzo harus mengikutinya.
Mereka bertiga kini ada di ruang tamu. Beeya tak mau melepaskan lengan Iyan. Di mata Kenzo itu hal biasa. Beeya dan Iyan memang begitu dekat.
__ADS_1
"Kamu mau mengatakan apa?" tanya Iyan kepada Kenzo.
"Lu tahu 'kan hubungan gua sama Beeya belum ada ujungnya." Kenzo berbicara dengan sangat percaya diri.
"Lalu?"
"Gua mau merajut masa lalu yang belum usai bersama Beeya kembali." Iyan masih menatap lekat Kenzo. Dia juga merasakan tangan sang tunangan sudah sangat dingin.
"Kalau Beeya udah punya calon suami, apa kamu mau terus memaksa mengukir masa lalu itu?" Beeya menatap ke arah Iyan yang tengah menunjukkan wajah seriusnya.
"Sebelum jalur kuning melengkung, masih bisa gua tikung." Iyan tersenyum tipis.
"Jangan sembarangan kalau ngomong!" Beeya angkat suara sekarang. "Aku udah menjadi tunangan orang lain. Aku juga sangat mencintai dia." Iyan menatap ke arah Beeya sekarang. Terlihat wajah Beeya yang sangat geram karena Kenzo tidak mau diam.
"Bee, aku tahu kamu masih menyayangi aku. Sorot mata kamu tidak bisa berbohong."
Helaan napas kasar keluar dari mulut Iyan. Dia pun beranjak dari duduknya. Sontak mata Beeya melebar dan tangannya menggenggam erat tangan Iyan.
"Waktu tidak akan mundur ke belakang. Masa lalu cukuplah menjadi kenangan. Kalau bisa kuburlah dalam-dalam."
Beeya pun terdiam mendengar perkataan Iyan begitu juga dengan Kenzo. Air muka Iyan sudah berubah drastis.
"Aku ingin menata masa depan dengan pria yang sangat tulus yang pernah aku temui.. Aku tidak ingin kembali ke masa lalu yang belum tentu membuat aku bahagia." Beeya menimpali ucapan Iyan dengan tangan yang menggenggam erat tangan sang tunangan.
"Apa ada pria yang lebih tulus dari aku?" Kenzo tetap bersikukuh.
"Tentu ada, dan aku mendapatkannya sekarang."
"Siapa?" Rasa penasarannya sudah ke ubun-ubun. "Aku ingin mengenalnya."
Iyan mengulurkan tangannya dan membuat Kenzo bingung dibuatnya.
***
Komen dong ...
__ADS_1