
Iyan merasa iri ketika sang kakak bercerita perihal didatangi oleh mendiang ayahnya di dalam mimpi. Dia ingin bertemu juga dengan sang ayah. Dia rindu ayahnya.
Iyan masih terngiang perihal perintah sang kakak untuk membeli testpack. Dia mencoba berpikir. Apa keanehan istrinya termasuk ke dalam ciri-ciri wanita yang tengah hamil muda? Iyan pun segera mencari tahu perihal itu di mesin pencarian. Matanya melebar dan tubuhnya sedikit menegang.
"Kalau benar ... bagaimana dengan Chagiya?" Iyan mengkhawatirkan istrinya. Belum siapnya sang istri membuatnya takut jika nanti kehamilan Beeya akan mempengaruhi janin yang ada di dalam perut juga kondisi psikisnya.
Iyan mulai mengecek cctv kamarnya yang tersambung ke ponsel. Sang istri tengah asyik rebahan dan di sampingnya ada es jeruk peras juga mangga muda ditambah sambal rujak tanpa cabai, tapi dengan asam Jawa yang banyak. Itulah yang disukai oleh Beeya sekarang. Iyan memijat pangkal hidungnya yang teramat pusing.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Iyan merebahkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Mencoba memejamkan matanya barang sejenak.
"Manusia hanya bisa merencanakan, tapi Tuhan yang menentukan."
Suara yang sangat Iyan kenali. Suara yang Iyan rindukan. Perlahan mata Iyan terbuka dan sang ayah sudah tersenyum ke arahnya. Rion Juanda mengenakan pakaian serba putih dengan rambut hitam klimis.
"Ayah!" Iyan berhambur memeluk tubuh sang ayah. Orang yang selalu Iyan rindukan di setiap harinya.
"Sudah waktunya, Yan." Ucapan sang ayah membuat Iyan melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Rion Juanda yang sangat tampan.
"Hadiah itu tidak bisa kamu tolak. Itu akan menjadi penyempurna rumah tangga kalian."
"Apa maksud Ayah?" Iyan benar-benar belum mengerti.
Rion menarik telapak tangan Iyan. Dia memberikan lima buah kerikil berwarna biru dan merah muda.
"Apa ini, Ayah?" Rion hanya tersenyum dan mengusap lembut pundak sang putra.
"Sesuatu yang akan menjadi aset berharga untuk kamu dan istri kamu. Tabungan dunia dan akhirat kamu."
Iyan masih belum mengerti. Dia menatap wajah ayahnya dan Rion segera memeluk tubuh Iyan.
"Jangan khawtirkan perihal istri kamu. Dia sudah sembuh dan cukup kamu mendampinginya, mensupport-nya dia akan baik-baik saja dan nantinya akan senang." Rion berkata seraya mengusap lembut punggung Iyan.
"Dengarlah, Nak." Rion mengendurkan pelukannya. Dia menatap ke arah sang putra bungsu. "Banyak yang menanti kebahagiaan dari kamu." Rion berkata teramat serius.
"Selagi kamu bisa membahagiakan mereka, berikanlah kebahagiaan itu. Niscaya hidup kamu juga akan dipenuhi kebahagiaan yang tak terkira."
Mimpi indah itu harus berakhir ketika terdengar suara teriakan anak kecil. Iyan membuka mata dan ternyata sudah ada sang keponakan cantik di sana.
"Tidurnya kaya buabi ngepet. Ngorok." Anak itu mengomel. Iyan malah tertawa.
"Sama siapa ke sini?" Iyan sudah menghampiri keponakannya itu dan mensejajarkan tubuhnya dengan Ghea.
"Diantar Pak Joe."
"Udah bilang sama Mommy?" Ghea mengangguk.
__ADS_1
"Tadi, Adek ke ruangan Daddy. Gak boleh masuk katanya Daddy lagi meeting." Ghea menjelaskan. "Jadinya, Adek ke ruangan Om dan boleh masuk sama Tante yang di depan." Iyan mengusap lembut rambut Ghea. Dia suka sekali dengan anak kecil terlebih anak perempuan.
Iyan bekerja ditemani Ghea di penghujung sore. Anak itu terus mengoceh, tapi tak membuat Iyan risih. Dia malah suka.
"Daddy lama, ya." Ghea sudah mengeluh.
"Emangnya Adek mau ngapain ke Daddy?" Ghea masih memainkan iPad yang dia bawa.
"Daddy janji mau ajak Adek beli mainan, tapi sampai jam segini Daddy belum juga keluar." Wajah muram Ghea nampak terlihat jelas.
"Belinya sama Om dan Tante centil mau?" Tawaran Iyan membuat Ghea berteriak cepat.
"Mau!"
"Tapi, ada syaratnya." Kedua alis Ghea pun ditekuk.
"Apa?" tanya anak itu dengan polos.
"Adek nginep di rumah Om." Ghea menimbang-nimbang sejenak. Tak lama dia pun mengangguk.
Iyan ingin membuat kejutan kepada istrinya dengan membawa Ghea. Siapa tahu istrinya akan lebih bahagia karena ada teman. Sebelumnya, dia mengabari sang kakak ipar jikalau Ghea dia bawa ke rumahnya. Dia juga meminta ijin terlebih dahulu kepada sang kakak.
"Besok Adek dijemput Pak Joe di rumah Om." Riana sudah berkata kepada Ghea. Sang Putri pun hanya mengangguk.
"Jangan nakal. Jangan buat Tante centil marah." Ghea berpikir sejenak. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri dengan wajah yang menggemaskan.
Sang putra pertama menghampiri Iyan, adiknya dan juga sang mommy dengan membawa iPad di tangan.
"Mas, mau ikut juga?" Iyan sudah bertanya kepada kepoankan tampannya.
"Ogah!" jawabnya sangat ketus. "Yang ada Mas dianiaya di sana sama Tante centil bin resek."
Iyan dan Riana pun tertawa. Semakin dewasa Gavin Agha Wiguna semakin mirip dengan sang ayah. Mulutnya yang judes dan berbisa. Dingin melebihi es batu dan tidak banyak bicara.
"Kenapa semakin ke sini kamu mirip Daddy kamu sih?" Iyan heran sendiri. Ketika Gavin kecil, dia sangat menggemaskan. Sedangkan sekarang dia menjelma menjadi anak yang menyebalkan.
"Plek ketiplek banget," tambah Riana.
"Mas itu bukannya gak mau ikut nginep di rumah Om," timpal Ghea. "Dia mau chatan sama cewek." Ghea berubah sengit pada Gavin.
"Apa sih, Dek?" Gavin mulai kesal dengan ucapan sang adik.
"My, coba cek ponsel Mas. Banyak banget chat dari cewek. Sekalian bilangin ke Daddy." Ghea seperti cemburu sang kakak berbalas pesan dengan teman perempuannya.
Riana sudah menatap tajam ke arah Gavin. Anak laki-lakinya menggeleng pelan.
"Mereka yang chat Mas duluan. Mas jarang bales." Gavin pun berkata jujur.
__ADS_1
Iyan malah menggelengkan kepala melihat tingkah Ghea dan Gavin. Dua keponakannya ini seperti orang pacaran. Sama-sama posesif. Ghea terus nyerocos bagai tak ada rem membuat Iyan menggendong Ghea dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Ih, Om mah!" Ghea terlihat kesal sekali. "Adek belum selesai marahin Mas." Iyan malah tergelak.
"Jangan dimarahin. Kasihan loh Mas-nya." Ghea malah menekuk wajahnya dan membuat Iyan semakin gemas. Dia pun mencubit gemas pipi Ghea.
Baru saja hendak menyalakan mesin mobil, sang kakak menghubunginya. Iyan melihat tidak ada sang kakak di teras rumahnya.
"Iya, Kak."
"Ambil uang untuk jajan Adek. Tadi Kak Ri lupa ngasih." Iyan hanya berdecak kesal
"Gak usah, Kak. Kayak ke siapa aja. Ghea keponakan Iyan. Masa iya itung-itungan."
Mobil pun melaju ke rumah Iyan dan Beeya. Dia tidak memberitahu terlebih dahulu kepada Beeya bahwa Ghea datang. Ketika dia masuk rumah, keadaan sepi. Iyan mengajak Ghea naik ke lantai atas. Sebelumnya dia mengecek istrinya sedang apa. Ternyata sang istri tengah rebahan.
Mata Beeya tertuju pada suara pintu yang terbuka. Dia tersenyum kepada Iyan. Namun, ketika melihat di belakangku Iyan ada Ghea Beeya malah berteriak bahagia.
"Adek!"
Beeya berlari dan memeluk tubuh Ghea. Sang keponakan pun terlihat sangat bahagia bertemu dengan Beeya.
"Tante centil, ajarin Adek PR matematika, ya." Beeya pun terperangah. "Kata Mommy Tante centil pintar banget matematikanya."
"Pinter dari mana, matematika gua aja palingan dapat dua atau tiga. Nyindir kelas atas nih Kak Ri," omel Beeya di dalam hati.
"Tante centil," panggil Ghea lagi.
"Tante mah cuma bisa tambah-tambahan dan perkalian, Dek. Gak bisa pengurangan dan pembagian."
"Loh?" Ghea dan Iyan bertanya dengan kompak.
"Iya dong, Tante itu cuma tahu uang Tante ditambah bukan dikurangi. Juga uang Tante dilipat gandakan bukan dibagi."
Iyan melirik Beeya dengan kesal sedangkan Ghea menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Wis angel!!" erang Iyan. Beeya malah tertawa.
"Kok Om panggil nama teman Adek sih." Kini, sepasang suami istri itu terdiam.
"Iya, teman Adek ada yang namanya angel tapi dipanggilnya Enjel." Beeya tertawa sedangkan Iyan sudah menatap dua perempuan di depannya dengan tatapan lelah.
"Kak Ri, ini kenapa anaknya mirip banget gesreknya sama istri Iyan!"
...***To Be Continue***...
Komen dong...
__ADS_1