Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
56. Berobat Lagi


__ADS_3

Hari ini Beeya ikut bersama Iyan ke kafe. Kedatangan mereka disambut hangat oleh pegawai di sana.


"Kerjanya ditemani Ayang." Beeya dan Iyan pun tertawa mendengarnya.


Tangan Beeya tak melepaskan genggaman tangan Iyan. Mereka berdua menuju lantai atas.


"Aku kerja dulu, ya."


Beeya mengangguk dan dia duduk di sofa. Memainkan ponselnya dengan sangat serius. Beeya mendapat pesan dari psikiater bahwa waktunya untuk liburan sudah selesai. Beeya ditunggu dua kali dua puluh empat jam untuk datang lagi ke Bali. Hanya hembusan napas berat keluar dari mulutnya.


Beeya menatap ke arah Iyan. Namun. pacarnya terlihat sangat serius. Dia tidak ingin mengganggu Iyan. Dia mencoba bernegosiasi bersama sang Bu'de. Namun, bu'denya tidak bisa memberi keringanan.


Apalagi, ayah dan ibunya sudah memberitahukan bahwa tiga hari lagi mereka harus ke Bali untuk mengecek kesehatan rutin Beeya. Mau tidak mau Beeya hanya menjawab iya. Namun, dia belum membicarakannya kepada sang pacar.


Jam istirahat tiba, Iyan mengajak Beeya makan di luar. Di restoran tak jauh dari Moeda kafe. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan Iyan. Melihat Beeya makan tidak seperti biasanya. timbul tanya dalam benak Iyan.


"Kamu sakit?" tanya Iyan.


Beeya menggeleng, lalu dia mengusap lembut punggung tangan Iyan yang berada di depannya.


"Lusa, aku harus terbang ke Bali lagi."


Kunyahan Iyan berhenti seketika. Dia menatap penuh tanya kepada Beeya.

__ADS_1


"Meninggalkan aku lagi?"


Beeya tidak bisa menjawab. Dia hanya menunduk dalam.


"Aku juga tidak ingin."


Iyan hanya terdiam, dia tidak bisa mengungkapkan apapun. Hatinya tidak rela ditinggal pergi oleh kekasih tercinta.


"Lanjutkan makannya."


Mereka berdua tak banyak bicara. Mereka menikmati makanan tanpa suara. Selezat apapun makanan mereka, tetapi terasa hambar di lidah mereka berdua.


Menuju kafe kembali pun mereka masih saling berdiam diri. Tangan Beeya yang pada perjalan menuju kafe memeluk erat pinggang Iyan, kini malah sebaliknya. Mereka bagai tulang ojek dan penumpang. Saling berjauhan.


"Lebih baik aku pulang," ujar Beeya.


Sontak Iyan menoleh dan menukikkan kedua alisnya. Beeya hanya menatap Iyan sekilas dan segera meninggalkan Iyan di sana.


"Jujur salah, apalagi bohong," keluhnya sembari melanjutkan langkahnya.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Iyan. Dia segera mengejar Beeya yang sudah keluar dari kafe. Berlari mengejar Beeya dan segera menarik tangan Beeya sehingga membuat Beeya sedikit terkejut.


"Ikut aku!"

__ADS_1


Iyan menarik tangan Beeya. Perempuan itu terus berontak, tetapi tak Iyan hiraukan.


"Lepaskan aku," pintanya.


"Enggak!"


Iyan menyuruh Beeya naik ke atas motor dan satu tangan Iyan menarik tangan Beeya ke depan, yang awalnya Beeya memberontak kini dia malah terdiam. Apalagi tangan Iyan yang terus mengusap lembut punggung tangan Beeya.


"Aku pasti merindukan pelukan kamu." Pelan, tetapi masih mampu terdengar di telinga Beeya.


Tak ayal dia memeluk pinggang Iyan dengan begitu erat. Dia juga meletakkan dagunya di bahu sang pacar.


"Aku juga akan merindukan momen ini," sahut Beeya.


Beeya menatap wajah Iyan melalui kaca spion. Laki-laki yang teramat sabar yang pernah Beeya temui. Laki-laki yang benar-benar tulus mencintainya. Keinginannya untuk sembuh semakin besar.


Pikiran Iyan tengah berkelana ke sana ke mari. Terbesit satu hal di kepalanya.


"Apa aku melamarnya saja?"


...****************...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2