Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
50. Manis


__ADS_3

"I love you, Iyan."


Tubuh Iyan menegang tatkala mendengar kalimat tersebut. Dia segera mengurai pelukannya dan menatap intens wajah Beeya.


"Bisa diulang?"


Beeya menggeleng, tetapi lengkungan senyum terukir indah di wajah cantik Beeya.


"Pengulangan itu tidak akan sama seperti pertama kali diucapkan."


Iyan tersenyum bahagia dan dia memeluk tubuh Beeya dengan sangat erat. Beeya memejamkan matanya sejenak, mencoba untuk membuka hatinya kembali pada satu sosok pria yang memang sedari dulu memiliki ruang khusus di hatinya.


"Aku juga mencintai kamu."


Cinta yang terbalas membuat Iyan benar-benar merasakan kebahagiaan yang seutuhnya. Dia tidak menyangka akan mencintai seseorang yang dulu sangat dia hindari.


"Aku lapar."


Suara Beeya membuat Iyan melepaskan pelukannya sejenak. Dia mencubit gemas pipi Beeya.


"Mau makan apa?" Iyan menatap wajah Beeya dengan sorot mata penuh cinta.


"Apapun, asal kamu yang masak.


Iyan pun tertawa, dia mengecup ujung kepala Beeya dan membawanya menuju dapur. Tempat di mana mereka selalu bercanda dan tertawa.


"Aciye ...."


Para karyawan yang bertugas di dapur meledek Iyan dan Beeya. Apalagi tangan Iyan yang tak melepaskan tangan Beeya di genggaman tangannya.


"Saya kira cupu, ternyata suhu."


Semua orang pun tertawa mendengar ledekan dari salah satu karyawan di sana. Begitu juga dengan Beeya yang tertawa lebar membuat Iyan tak berhenti menatapnya. Merasa diperhatikan seperti itu, Beeya menghentikan tawanya dan menatap wajah sang pacar.


"Kenapa?"


"Aku rindu tawa kamu."


Kalimat itu mampu membuat Beeya terdiam. Dia menatap nanar ke arah Iyan. Dia juga merasa selama ini dia selalu menyembunyikan kesedihannya di balik tawa palsunya.


"Tawa kamu kali ini benar-benar seperti Abeeya Bhaskara, putri dari papa Arya."


"Don't make me cry."


Iyan mengusap lembut ujung kepala Beeya dan tersenyum ke arahnya.


"Kembalilah pada sosok Beeya yang kami rindukan."


Semua karyawan pun menatap bingung ke arah pasangan baru ini. Raut wajah mereka nampak berubah seketika.


"Pak manager, traktir atuh. Pan udah jadian," ucap Wira sambil menarik turunkan kedua alisnya.


Iyan hanya tersenyum dan tidak menjawab ucapan Wira. Dia malah membawa Beeya ke meja panjang yang ada di dapur.


"Kak Bee, PJ atuh." Kini, Wira sedang membujuk Beeya.

__ADS_1


Sedangkan Beeya sudah duduk di kursi yang ada di depan meja panjang. Memperhatikan sang pacar sedang berkutat di depan wajah.


"Pacar, karyawan kamu malak PJ nih." Lapor Beeya kepada Iyan.


Kata pacar membuat semua orang tersenyum gemas. Sangat manis sekali panggilannya di telinga mereka.


"Tunggu saja nanti akan ada waktunya," jawab Iyan sembari menoleh kepada Beeya.


"Tuh, dengar 'kan." Beeya sudah berbicara pada Wira.


"Pokoknya kami tunggu." Beeya hanya tertawa mendengarnya.


Para karyawan Iyan membuat Beeya merasa nyaman dan punya banyak teman. Semuanya ramah-ramah. Tengah asyik memasak, ponsel Iyan berdering.


"Chagiya."


Beeya pun menoleh. Sedangkan semua karyawan melebarkan matanya mendengar panggilan Iyan kepada Beeya.


"Berasa nonton drama Korea," celetuk salah satu dari mereka.


"Ambil ponsel aku di saku. Takut Kakak atau Abang yang telepon."


Beeya pun mendekat ke arah Iyan. Dia mengambil ponsel Iyan di saku celananya. Ketika dilihat ternyata Deki yang memanggilnya. Beeya memperlihatkan panggilan tersebut ke arah Iyan.


"Terserah kamu, mau dijawab atau enggak," ujar Iyan yang kini fokus pada masakannya.


Beeya membawa ponsel itu dan meletakkannya di atas meja. Selama menunggu Iyan menyiapkan makanan untuk Beeya, terdengar Beeya yang tertawa lepas sembari berbincang dengan para karyawan di dapur. Tidak ada jarak di antara mereka. Saling meledek dan menghujat. Berakhir dengan tawa bahagia.


Namun, Beeya merasa sedikit risih ketika ponsel Iyan terus berdering. Tangannya yang sedari tadi anteng, kini malah sudah gatal ingin membuka ponsel itu.


Beeya meraih ponsel Iyan. Baru saja dia hendak membuka kunci ponsel, Iyan sudah membawa makanan yang dia masak untuk Beeya. Alhasil, niatnya dia urungkan.


"Pengen jus kiwi pakai susu."


Iyan mengusap lembut rambut Beeya dan segera membuatkan minuman yang Beeya inginkan.


"Kak, kok Pak manager manis banget sih."


Beeya hanya tertawa. Dia malah menatap punggung Iyan dengan penuh kebahagiaan.


"Dia minim bicara, tapi maksimal dalam tindakan."


Sungguh jawaban yang membuat para karyawan menutup mulutnya tak percaya. Seperti apa yang mereka lihat. Dia membawakan jus kiwi campur susu untuk Beeya.


"Makasih."


Iyan tersenyum dan mengambil sedotan stenless untuk Beeya. Sebelumnya dia membersihkan sedotan itu dengan tisu. Di mata para karyawan tindakan sederhana yang Iyan lakukan membuat hati mereka meleleh.


Beeya menyantap makanan yang Iyan buat. Sedari tadi Iyan memandangi wajah Beeya sembari memangku tangannya di pipinya.


"Kenapa liatin?" tanya Beeya yang masih asyik mengunyah.


"Cantik."


Pipi Beeya terlihat merona dan Iyan pun tersenyum. Tangannya mengusap lembut rambut Beeya sehingga membuat Beeya menoleh ke arah pacarnya tersebut.

__ADS_1


"Aku sangat bahagia."


"Aku juga."


Beeya membalas senyuman Iyan dengan sangat manis. Dia menyodorkan sendok berisi makanan yang Iyan masak untuknya. Iyan pun membuka mulutnya dan memakannya.


"Habis ini mau ke mana?" tanya Iyan yang tengah mengusap ujung bibir Beeya dengan ibu jarinya.


"Aku mau pulang. Aku capek, mau istirahat."


Tibanya di rumah Beeya, Iyan menahan tangan Beeya sejenak sebelum keluar dari mobil. Beeya pun memandang manik mata Iyan dengan penuh cinta.


Dia mencium pipi Iyan dengan cukup lama membuat Iyan mematung seketika.


"Kita turun."


Beeya mengajak Iyan untuk turun dan masuk ke dalam rumahnya. Mereka berdua disambut oleh kedua orang tua Beeya.


"Papa dan Mama jahat gak kasih tahu aku kalau ke Jakarta," ucapnya.


Arya dan Beby hanya tertawa mendengarnya. Mereka mengusap lembut pundak Iyan.


"Beeya yang melarang. Katanya mau ngasih kejutan."


Iyan menatap ke arah Beeya sekarang. Perempuan itu hanya tersenyum seraya memandang balik wajah Iyan.


"Berhasil 'kan."


Tawa Beeya pecah dan mampu membuat kedua orang tua Beeya menatap Beeya dengan nanar. Mereka merasa anak mereka sudah kembali. Tawa itu adalah tawa khas yang dimiliki Beeya. Bukan hanya tawa yang berpura-pura.


Beeya menghampiri Iyan dan memeluk pinggang Iyan karena pacarnya terlihat sedikit kesal.


"Maaf," katanya seraya mendongak ke arah Iyan.


"Nakal!"


Iyan mencubit hidung Beeya dengan cukup keras. Terpancar Rina bahagia di wajah mereka berdua. Kedua orang tua Beeya menatap haru ke arah dua muda-mudi di depan mereka. Terlihat betapa tulusnya mereka saling menyayangi.


"Aku ke atas dulu, ya. Ganti baju dulu." Iyan mengangguk.


"Love you, Pacar," bisik Beeya.


Ingin rasanya Iyan mengejar Beeya dan memeluk tubuhnya lebih lama lagi. Namun, di sana ada kedua orang tua Beeya dan tidak mungkin dia melakukannya.


"Apa kalian berdua berpacaran?"


Pertanyaan Beby membuat Iyan sedikit terkejut. Dia menatap ke arah ibunda dari kekasihnya itu.


"Emangnya kamu punya apa berani macarin anak Papa?" Kini Arya menambahkan ucapan dari istrinya.


Iyan menelan ludahnya. Baru kali ini dia merasa takut menghadapi kedua orang tua Beeya. Iyan menarik napas panjang sebelum menjawabnya.


"Aku punya cinta yang tulus untuk anak Papa."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


Kalau banyak komen aku UP lagi.


__ADS_2