Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
27. Takut


__ADS_3

Beeya terus melengkungkan senyum dengan tangan yang merangkul manja lengan Iyan. Sungguh orang tidak akan menyangka jika Beeya berusia lima tahun lebih tua dari Iyan dengan penampilan barunya.


Iyan terus mengikuti kemauan Beeya. Dari mencicipi segala makanan juga bermain di zona waktu bagai anak kecil yang kurang bahagia sewaktu kecil. Senyum yang begitu lebar juga manis Beeya tunjukkan. Sungguh membuat Iyan benar-benar bahagia.


"Yan, aku ingin ice cream cone," tunjuknya pada salah satu kedai es krim. Tanpa banyak kata, Iyan pun menuruti kemauan Beeya.


Satu es krim dimakan berdua sungguh membawa sensasi yang berbeda.


"Mau ke mana lagi?" tanya Iyan ketika selesai membersihkan sudut bibir Beeya menggunakan ibu jarinya.


"Pulang, aku takut Mamah dan Papah khawatir."


Iyan menyetujui keinginan Beeya. Dia beranjak dari tempat itu dengan tangan Beeya yang terus merangkul lengan Iyan. Namun, kali ini tangan kiri Iyan menurunkan tangan Beeya yang tengah merangkul lengannya. Beeya pun sedikit terkejut, tetapi tangan itu malah Iyan genggam dengan begitu erat membuat hati Beeya menghangat dibuatnya. Senyum pun terus melengkung pada wajah Beeya yang cantik nan imut.


Mereka sudah memasuki parkiran dengan tangan yang masih saling bertautan.


"Beeya!"


Tubuh Beeya menegang ketika mendengar panggilan itu. Langkah Iyan pun terhenti karena tidak asing dengan suara tersebut.


Iyan merasakan telapak tangan Beeya sangat dingin dan tubuhnya bergetar hebat.


"Kak Bee," panggil Iyan.


Wajah Beeya sudah pucat pasi membuat Iyan mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Ada apa?" Tangan Beeya seakan semakin menggenggam erat telapak tangan Iyan.


"Ternyata kamu di sini."


Iyan menoleh dan benar tebakannya bahwa itu suara Raffa.


"Bee, ayo kita-"


Tubuh Beeya tiba-tiba menggigil membuat Iyan dan Raffa terkejut secara bersama. Raffa sudah mendekati Beeya, tetapi dilarang keras oleh Iyan.


"Jangan pernah mendekat!"


Suara lantangnya menggema dan tatapanIyan berikan ketika Iyan sudah memeluk tubuh Beeya dengan sangat erat di depan mata Raffa.


"Pu-pulang." Suara Beeya seperti orang ketakutan.

__ADS_1


"Iya, kita pulang."


Iyan malah menggendong tubuh Beeya menuju mobilnya membuat Raffa semakin murka.


Selama perjalanan pulang, Iyan terus menggenggam erat tangan Beeya. Dia sengaja mengatur kursi penumpang depan sedikit diturunkan untuk kenyamanan Beeya. Pelukan yang cukup lama yang Iyan berikan mampu membuat Beeya terlelap sekarang. Namun, ada tanda tanya besar di kepalanya. Apa yang sudah Raffa lakukan kepada Beeya hingga wanita di sampingnya ini bergetar hebat.


Tibanya di rumah, Iyan segera membawa tubuh Beeya ke dalam kamarnya. Kedua orang tua Beeya terlihat terkejut ketika melihat Beeya yang sudah Iyan bopong.


"Kenapa dengan Beeya, Yan?" tanya Beby.


"Tolong bukakan pintu kamar kak Bee dulu."


Iyan sudah meletakkan tubuh Beeya di atas tempat tidur. Pandangannya masih tertuju pada sosok perempuan di sampingnya sekarang.


"Katakan Yan, ada apa?" Arya benar-benar penasaran dengan apa yang telah terjadi. Wajah putrinya itu sangat terlihat berbeda.


"Bang Raffa ada di sini."


Mata Arya dan Beby melebar mendengarnya. Mereka tidak percaya selama beberapa bulan ini mereka mengasingkan Beeya, kini Beeya kembali bertemu dengan pria bejat itu.


"Tubuh Kak Bee tiba-tiba menggigil dan pucat pasi."


Beby duduk di pinggiran tempat tidur. Mengusap lembut kepala Beeya dengan penuh cinta.


"Papah akan menghubungi orang-orang kepercayaan Papah. Kamu tetap jaga Beeya, ya." Iyan mengangguk


Ternyata kedua orang tua Beeya pun tidak tahu apa yang membuat Beeya trauma separah ini. Seperti ada hal ganjal yang sudah Raffa lakukan kepada Beeya. Beeya bagai orang ketakutan parah.


Beby meninggalkan Beeya dan Iyan berdua di kamar. Dia juga meminta bantuan kepada kakaknya agar bisa melindungi Beeya.


Iyan masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba Beeya menjerit histeris membuat Iyan yang tengah mengeluarkan air kemih segera menyudahinya dan membersihkannya. Dia segera keluar dari kamar mandi dan terlihat Beeya sudah menundukkan kepada di atas lutut dengan tubuh yang bergetar.


"Kak Bee."


Wanita itu menoleh dan segera memeluk tubuh Iyan dengan deraian air mata.


"Aku gak mau di sini. Aku takut." Suara Beeya terdengar seperti orang ketakutan. "Bawa aku pergi dari sini, Yan."


"Ke kamar aku aja, ya." Iyan mengusap lembut air mata Beeya dengan sangat lembut. Kemudian dia menggendong tubuh Beeya bagai kanguru. Tangan Beeya pun merangkul leher Iyan dengan wajah yang dia benamkan di dada Iyan.


"Di sini dulu, ya." Beeya mengangguk.

__ADS_1


Iyan tersenyum dan mengusap lembut pipi Beeya. Dia masih bersimpuh di depan Beeya. Menatap lamat mata Beeya dengan penuh tanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Iyan dengan sangat hati-hati.


Bukannya menjawab, mata Beeya berkaca-kaca kembali. Iyan menggenggam erat tangan Beeya. Mencoba meyakinkan Beeya.


"Katakan saja, Kak Bee. Bukankah di antara kita berdua tidak boleh ada rahasia."


Mulut Beeya masih kelu. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Iyan sekarang. Dia masih terdiam dan mengunci mulutnya.


"Ya udah, kalo Kak Bee belum siap. Aku gak akan maksa." Iyan tersenyum ke arah Beeya. Tangannya mengusap lembut punggung tangan wanita tersebut.


Iyan mulai melepaskan genggaman tangannya membuat Beeya sedikit terhenyak. Apalagi, dia mulai menjauhi Beeya membuat rasa takut itu hadir kembali. Beeya segera turun dari tempat tidur dan mengejar Iyan. Menyambar punggung Iyan dengan melingkarkan tangan dari belakang.


"Jangan pergi!" lirih Beeya lagi.


Iyan terdiam sejenak mendengar ucapan dari Beeya. "Maaf, aku belum bisa mengatakannya. Aku masih terlalu takut." Suara Beeya terdengar sangat berat juga serius.


Pemuda itu membalikkan tubuhnya dan menatap Beeya dengan pandangan yang berbeda.


"Aku tidak akan memaksa. Terserah kamu kalau kamu ingin terus seperti ini. Membuat kedua orang tuamu sedih terus-terusan," papar Iyan.


"Kamu juga secara tidak langsung telah menyakiti diri kamu sendiri," lanjutnya lagi.


Beeya hanya menunduk dalam. Apa yang dikatakan Iyan itu benar. Namun, dia belum siap. Rasa takut masih mendominasi hatinya.


Iyan merasa bersalah ketika melihat Beeya menunduk seperti itu. Dia menangkup wajah Beeya dan menatapnya dengan sangat hangat.


"Maaf, aku terbawa emosi." Beeya tidak menjawabnya membuat Iyan menarik tangan Beeya ke dalam pelukannya.


"Mencoba terbukalah walaupun hanya kepadaku. Aku siap jadi pendengar yang baik untuk kamu dan semua permalasahan kamu," ujarnya.


"Aku juga siap untuk bertanggung jawab atas luka kamu."


Mendengar ucapan Iyan, Beeya sedikit memundurkan kepalanya dan mendongak, menatap Iyan dengan raut tak mengerti.


Mata mereka saling terkunci. Wajah Iyan mulai mendekat dan hembusan napasnya mampu menyapu kulit wajah Beeya. Wanita itu pun sudah memejamkan mata ketika tinggal beberapa centimeter lagi bibir pemuda itu bertemu dengan bibirnya.


"Jangan mencari kesempatan dalam kesempatan, Iyan!" seru pria paruh baya yang sudah berada di ambang pintu.


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2