
Di lain tempat, Iyan dan Beeya malah tengah asyik memakn pesanan yang baru saja mereka pesan. BUKAN hanya mereka berdua, dua MUA di sana pin ikut menikmati makanan yang Iyan pesan. Sang keponakan pun sangat menikmati.
Echa berkacak pinggang melihat kelakuan sepasang suami istri yang baru sah ini
"Sebentar lagi acara mula, Rian Dwiputra Juanda!!"
"Bubu, jangan marah-marah. Nnati cepat tua," sahut Ghea. Sontak mata Echa melebar.
"Mending makan cake cokelat ini." Anak itu sudah membawa boks kue itu ke arah Echa. Menawarkannya kepada sang bubu.
Melihat Echa diam saja Ghe mengambilkan cake itu menggunakan sendok. Sia berjinjit dan menyuruh Echa membuka mulut. Iyan dan Beeya pun tertawa.
"Enak 'kan?" Echa pun mengangguk.
"Makan duku, Kak. Kasihan MUA-nya juga. Apalagi entar kita berdua berdiri terus." Echa pun menghela napas kasar. Dia malah mengambil minuman sang adik ipar. Meminum es kopi kesukaannya.
"Ini masih ada dua lagi, Kak?" Echa pun menggeleng ketika Iyan menawarkan es kopi yang belum dibuka.
"Udah Aleesa gak ada, kalian juag belum apa-apa," ujar Echa.
"Udah, Kak. Tinggal rambut doang," sahut Beeya.
"Maksudnya belum beres, Bee."
"Emangnya Aleesa ke mana?" tanya Iyan.
"Katanya nyari angin. Sekarang mah udah ada." Iyan mengangguk pelan. Joji membisikkan sesuatu kepada Iyan dan bibir Iyan pun melengkunh dngan sempurna.
"Kenapa kamu senyum-senyum?" sergah sang kakak. Iyan menggeleng. Beeya pun ikut kepo. Hanya isapan lembut yang Iyan berikan.
Ponsel Beeya berdenting menandakan ada ada sebuah pesan masuk. Bibir Beeya melengkung dengan sempurna ketika melihat para bridesmaid cantik-cantik.
"Lihatlah!" Beeya menunjukkan foto Pipin bersama si triplets. Ketiga keponakan Iyan sangat cantik dan berbeda dari biasanya.
"Senyuman Aleesa beda 'kan." Jojo berbisik lagi. Iyan pun mengangguk pelan..
Namun, mata Iyan memicing ketika melihat senyum yang begitu sendu dari Aleena.
"Sasa cantik banget, ya." Ghea sudah membuka suara.
Echa lun setuju dengan ucapan Ghea. Dia memperbesar wajah Aleesa.
"Kalau orang lagi bahagia pasti auranya terpancar." Echa, Ghea, juga Beeya menoleh ke arah Iyan. Mereka tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Iyan.
"Emangnya kenapa?" Tanya Echa heran.
"Tanya aja sama anaknya." Iyan menjawab dengan tersenyum.
__ADS_1
Echa berfikir sejenak. Setahunya yang-tengah berbahagia ialah Aleea, putri bungsunya. Dia baru mendengar dari Satria jika putrinya itu menjalin hubungan dengan Kalfa. Sebenarnya Echa belum memperbolehkan. Begitu juga dengan Radit. Namun, Satria menjanjikan bahwa Kalfa tidak akan membawa pengaruh buruk untuk Aleeya.
Radit dan Echa hanya tersenyum penuh keterpaksaan. Mereka belum berbicara kepada putri mereka. Waktu dan kondisinya belum memungkinkan. Ketika acara sudah selesai mereka berdua akan berbicara kepada Aleeya.
"Tapi, kok wajah Nana terlihat sendu." Ghea bagai micro ekspresi. Beeya pun mulai menelisik wajah keponakan pertamanya. Sang ibu hanya terdiam. Dia tahu apa yang tengah Aleena rasakan.
"Mungkin Aleena lelah," jawab sang bubu. Namun, Iyan merasakan ada hal yang berbeda. Iyan menatap ke arah sampingnya di mana Jojo berada. Jojo hanya tersenyum.
"Cinta segitiga." Begitulah jawabnya. Iyan hanya menggelengkan kepala namun di hatinya ada sebuah rencana.
"Selesaikan makan kalian. Lanjutkan kembali hiasannya acara sudah akan dimulai." Dua MUA itu pun mengangguk.
Setelah Echa pergi, mereka selesai makan kegiatan rias-merias pun dilanjutkan kembali. Beeya menatap ke arah sang suami.
"Kenapa dengan Aleena? Tidak biasanya dia seperti itu." Iyan yang tengah fokus pada layar ponselnya pun menatap ke arah sang istri.
"Nanti juga kamu akan melihat apa yang terjadi sebenarnya," jawab Iyan dengan begitu serius.
.
Para groomsmen sudah siap dengan penampilannya. Begitu juga dengan para bridesmaid. Wira sudah mengajak para grup semen berfoto ria. Dia pun tak lupa mengirimkan kepada sahabatnya, yakni Iyan.
"Kayak manusia lu," balas Iyan melalui pesan singkat. Alhasil Wira pun menggerutu kesal.
Dari tadi Rio menatap tajam ke arah Kalfa yang sibuk dengan merapikan penampilannya. Anak itu memang tampan, tapi jangan terlalu over lah. Begitulah yang Rio inginkan. Befa halnya dengan Rangga yang hanya terdiam dan tidak banyak bicara. Namun, dia pun adalah pemerhati yang ulung. Begitu juga dengan Yansen. Tidak pernah dia melihat anak itu mengeluarkan ponsel. Walau hanya untuk berfoto.
"Kalian masih pada ngapain di situ? Cepetan keluar!" Suara aksara menggema. Mereka pun mulai merapikan penampilan masing-masing.
"Cantik nggak, Sen." Aleesa sudah meletakkan kedua telapak tangannya di bawah dagu dengan mata yang berkedip cepat bak boneka. Yansen pun tergelak.
"Enggak ada manis-manisnya kamu, Sa ... Sa," cibir Rio.
"Malah aku gatel, Kak," ujar Aleesa seraya tertawa. "Mana ini sendal tinggi banget dah." Semua orang pun terbahak.
Yansen segera menghampiri Aleesa dan mengulurkan tangannya ke arah Aleesa. Dia membantu Aleesa untuk berjalan.
"Teman rasa pacar. An jai!!!!" ledek Kalfa. Yansen hanya tertawa. Dia tidak pernah marah diledek apapun oleh semua orang.
"Beb, kamu nggak mau nolong aku jalan?" Kini Aleea sudah berucap manja. Semua mata tertuju pada Aleeya yang tatapannya tengah tertuju pada Kalfa.
Tubuh Kalfa pun membeku ketika ditatap tajam oleh adik serta sepupu dari Aleena. Yansen menatap ke arah Aleesa, dan sebuah anggukan kecil yang menjadi jawaban. Yansen merasa kasihan kepada Aleena. Pantas saja wajahnya tidak terlihat bahagia. Padahal ini hari bahagia sang Paman tercinta.
"Rangga, tolong bantu Aleena, ya." Suara Echa terdengar. Rangga pun terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Aleena tidak terbiasa menggunakan hak tinggi. Kamu harus jaga Aleena ya, Ga." Kini ayah dari Alina lah yang berbicara.
"Denger nggak?" ucap Rio. Dia melihat Rangga sedari tadi tercengang dan tidak bergerak sama sekali. Dia terlihat sangat terkejut.
__ADS_1
"Jaga sepupu gua. Barang mahal itu." Echa dan Radit pun ikut tertawa ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Rio. Beda halnya dengan Aleena, dia menunjukkan wajah yang datar dengan senyum yang dia paksakan.
"Sekarang gandeng tangan pasangan kalian masing-masing, sesuai dengan pasangan yang telah ditentukan di butik ketika fitting baju. Tidak ada yang boleh merubah tak terkecuali." Icha berkata dengan sangat tegas.
Tangan Aleesa sedari tadi sudah merangkul mesra di lengan Kalfa. Namun, Kalga malah menatap sendu ke arah Aleena yang sudah mulai merangkulkan tangannya di lengan Rangga.
"Andai kamu tahu keinginanku yang sebenarnya, Na," batin Kalfa begitu lirih.
Jangan ditanya bagaimana Aleesa dan juga Yansen. Mereka sudah dari tadi tertawa karena Aleeaa selalu hampir jatuh ketika berjalan menggunakan hak tinggi.
"Bubu, kakak Sa pakai sendal yang nggak terlalu tinggi, ya. Kakak saya bawa kok. Warnanya juga sama," tawar Aleesa kepada sang ibu. Aleeaa mencari aman daripada setelah acara selesai kakinya terkilir.
Untungnya sang ibu pun mengizinkan dia tahu bagaimana Putri keduanya itu. Aleesa selalu berpenampilan tomboy jarang sekali memakai pakaian wanita.
Aleesa pun langsung membuka sepatu hak tingginya dan berlari menuju kamar hotel yang dia tempati. Tanpa dia sadari sedari tadi ada yang memperhatikannya. Seorang laki-laki yang masih setia menggunakan masker juga topi. Dia menyaksikan interaksi Yansen dan Aleesa yang begitu akrab dan juga dekat. Terlihat juga sorot mata mereka berdua berbicara. Ada sebuah rasa yang tengah mereka ungkapkan melalui sorot mata. Seketika hatinya sakit seperti dicubit.
Akhirnya pria itu mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan sang sahabat. Dia memilih kembali ke lantai paling atas yang hotel itu miliki. Duduk di pinggiran helipad dengan menyesap rokok dalam-dalam. Untung saja masih ada satu bungkus rokok yang tersimpan di saku jaketnya.
Kepulan asap rokok yang dia keluarkan seperti melepaskan perasaan untuk seseorang. Juga membuang beban pikiran yang selama ini menggelayuti hidupnya.
"Hanya rokok yang selalu setia sama gua. Dia yang nggak akan pergi dari gua. Beda halnya dengan manusia," gumamnya dengan senyum getir.
.
Di ruang khusus merias pengantin, Iyan sedari tadi terpana dengan kecantikan yang dipancarkan oleh Beeya. Istrinya begitu cantik bagai boneka dengan balutan baju pengantin yang sangat pas di tubuh Beeya. Mata Iyan tak berkedip dengan bibir yang terus melengkungkan senyum begitu lebar. Wajah Beeya pun merona karena ini pertama kali Iyan menatapnya dengan tatapan yang sangat berbeda. Tatapan yang penuh dengan cinta, beda seperti biasanya.
"Ayang, udah ih. Aku malu," ucap Beeya.
Iyan tertawa, sejak kapan wanita di depannya itu memiliki malu. Bukankah urat malunya sudah putus.
"Suamiku juga sangat tampan," puji Beeya dengan begitu tulus.
Dia terpana melihat Iyan yang baru memakai jasnya.
Jas yang senada dengan baju yang Beeya kenakan. Dia terlihat gagah bak opa-opa Korea ataupun aktor drama China.
"Gantengnya suamiku itu nggak ada obat," ucap dia seraya tersenyum bahagia.
Iyan pun menghampiri istrinya dan menatap lekat wajah bia dari jarak dekat. "You're so beautiful." sepasang suami istri itu pun melengkungkan senyum dengan begitu lebarnya mereka berdua nampak bahagia di hari pernikahannya ini. Senyum mereka pun menular kepada dua MUA yang sudah berhasil mengubah mereka menjadi raja dan ratu semalam.
"I want you kiss me." Kedua MUA menutup mulut mereka tak percaya. Akankah mereka melihat adegan yang tidak seharusnya lagi?
"No kiss kisan." Suara ketus terdengar dari seorang pria. Siapa lagi jika bukan sang ayah mertua dari Iyan, Arya Bhaskara.
"Atuh lah, Pah! Waktu pacaran gak boleh. Sekarang udah saya juga masih dilarang," rajuk Beeya
"Cepetan keluar! Jangan menunda-nunda waktu," bentak Arya. "Gedung ini dibayar bukan bukan punya bapak moyang bisa seenak jidat kalian." Jika, sudah marah hadiah seperti ibu-ibu komplek yang tengah ditagih oleh Bang emok.
__ADS_1
Beeya pun berdecak kesal sedangkan iya hanya tersenyum. Iyan merasa sangat bersyukur bisa dijodohkan dengan seorang wanita yang bisa menyempurnakan hidupnya. Dia juga berterima kasih kepada sang ayah karena sudah memilihkan jodoh yang baik untuknya jodoh yang sebenarnya tidak dia inginkan tetapi Tuhan malah mengiyakan. Wanita yang memang tidak sempurna, tapi Iyan tidak menuntut kesempurnaan darinya.
Bagi Iyan dia adalah pelipur segala lara. Beeya Adalah penyemangat hidupnya. Beeya adalah penyempurna dari kekurangan yang dia miliki. Beeya selalu memberikan keceriaan dan dia berharap dia akan memberikan warna di dalam rumah tangganya nanti.