
"Dokter Iqram Al Mumtadz," gumam Radit.
"Lu kenal?" Aska berbisik kepada kakak iparnya itu. Radit hanya mengangguk. Sesaat kemudian, matanya melebar ketika melihat siapa yang turun dari kursi penumpang. Pria yang belum lama ini bertemu dengannya.
"Gila! Benar-benar gila!" batinnya.
Bukan hanya Radit yang terkejut, pria itupun terkejut karena melihat Radit di sana.
"Kok ada Pak Radit?" Begitulah batinnya berkata.
Dokter Iqram Al Mumtadz disambut hangat oleh Giondra. Mereka berpelukan dengan sangat hangat.
"Subhanallah, saya tidak menyangka akan besanan dengan Anda, Tuan."
Gio tertawa dan mengusap lembut pundak dokter Iqram. Sedari dulu sikap rendah hati dokter Iqram tak pernah berubah.
"Saya malah merasa sangat beruntung bisa menambah keluarga seperti dokter." Mereka berdua saling memuji
Terlihat Kano dan dokter Iqram pun sangat dekat. Juga Aksa mengenal dokter tersebut. Kano megajak calon besan beserta rombongan masuk ke dalam rumah besar miliknya. Sontak semua wanita yang berada di sana terkagum-kagum pada sosok yang teramat tampan yang berjalan bersama Radit. Echa bukannya kagum, dia malah syok melihatnya.

"Apa gua gak salah lihat?"
"Om dokter ganteng!" teriak Aleeya. Anak itu berlari dan menghampiri pria tersebut, disambut dengan senyuman hangat oleh pria yang dipanggil Aleeya tersebut.
__ADS_1
"Dedek kenal Om?" tanya Kano bingung.
"Iya, Papih Kano. Kemarin ... Kemarinnya lagi Dedek ketemu sama Om dokter di rumah Opa." Kano dan Sheza pun terkejut mendengarnya. Gio dan Aksa saling lirik. Akhirnya, Radit menarik putrinya untuk menjauh dari sana.
"Kenapa, Ba?"
"Boleh gak Baba minta tolong ke Yaya?" Radit sudah mensejajarkan tubuhnya dengan Aleeya.
"Boleh."
"Jangan bilang kalau Yaya, Sasa dan Nana pernah ketemu dengan Om dokter di rumah Opa ke Aunty Key. Apalagi bicara masalah Om Ipang di depan Aunty Key, ya. Apa Yaya bisa tolong Baba?" Anak itu terdiam sejenak dan berakhir menganggukkan kepala.
"Tapi, Yaya boleh 'kan main sama Om ganteng." Radit mengangguk.
"Okay."
.
Keluarga dokter Iqram tidak penuh dengan basa-basi. Terlebih dokter Iqram mengatakan bahwa dia ingin memperkenalkan putra pertamanya dengan putri petama dari Kano. Namun, dokter Iqram meminta supaya putri pertama dari Kano hadir di tengah-tengah mereka agar putranya bisa melihat dan berbincang sejenak dengan wanita pilihan dirinya.
Sheza pun memanggil Keysha di kamar. Kedua anaknya tengah bergenggaman tangan.
"Kak," panggil sang mamih.
Keysha pun berdiri dan dia sudah tahu bahwa sekarang sudah saatnya dia keluar.
__ADS_1
"Mamih dan Papih juga keluarga calon kamu belum memutuskan apapun. Sekarang, waktunya kamu bertemu dan akan kami beri waktu untuk kalian memutuskan berdua."
Keysha tidak menyangka jika akan tejadi seperti ini. Dia kira akan langsung dipasangkan cincin tunangan tanpa persetujuan. Kali ini sangat berbeda.
Keysha memasuki ruang tengah yang sudah terdapat dua keluarga di sana. Terdengar suara derap langkah kaki membuat semua orang menoleh ke arah suara tersebut. Sang pria yang mengenakan baju batik pun tak berkedip ketika melihat perempuan cantik bergaun pink.

"Bukan hanya parasnya yang cantik. Abi yakin hati dan sikapnya pun secantik wajahnya," bisik sang ayah ke arah laki-laki itu.
"Ya Allah, jika memang dia wanita pilihan-Mu untuk menjadi tulang rusukku, bukalah hatiku untuknya."
Keysha pun terpana melihat seorang pria yang tengah menatapnya. Tatapannya seakan membuatnya merasa tenang
"Ya Allah ... Jika, memang dia calon imamku. Bukalah mata dan hatiku untuk menerimanya dengan ikhlas tanpa dibayang-bayangi masa laluku. Juga hapuskan nama dia di dalam hati dan pikiranku."
"Sepertinya sudah ada setrum menyetrum," celetuk Gio. Dokter Iqram dan Kano pun tertawa.
"Key, sini Sayang." Kano memanggil putrinya. Keysha lun mendekat dan duduk di samping sang ayah.
"Kenalkan dia adalah Fareeq Al Mumtadz." Keysha memandang wajah tampan itu dan tidak Keysha sangka pria itu mengulurkan tangannya.
...***To Be Continue***...
Komen dong...
__ADS_1