Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
104. Najis Mughaladzah


__ADS_3

Beeya menikmati semua wahana bermain yang ada di mall tersebut bersama Ghea. Sedangkan Iyan tengah menjadi fotografer. Iyan ikut tersenyum ketika melihat dua wanita kesayangannya bahagia.


"Iyan."


Suara lirih terdengar dan membuat Iyan menoleh. Sudah ada Anggie di samping Iyan dengan wajah sendunya. Tanpa aba-aba Anggie memeluk tubuh Iyan dan mata pemuda itupun melebar.


Dada Beeya sudah berdegup sangat cepat ketika melihat wanita laknat memeluk tubuh pacarnya dengan begitu lancangnya.


"Mau apa lagi dia?" gumamnya penuh kegeraman.


Sayangnya dia baru saja naik wahana tersebut. Ingin meminta turun pun kasihan kepada Ghea yang terlihat sangat menikmati.


"Baiklah, masih gua lihatin. Belum gua tonjokin," batinnya kesal.


Dia melihat jikalau sang kekasih merasa risih, tapi tidak dengan wanita itu. Semakin Iyan menolak semakin dia memeluk erat.


"Aku bingung harus bagaimana, Yan?" keluhnya dengan suara yang bergetar hebat. "Aku tidak ingin melahirkan tanpa seorang suami," lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Nih cewek kudu diapain ya enaknya?" bisik Dev ke arah Jojo.


"Dia sama si berengsekk yang udah enak-enak, sampe kuping kita pengeng dengernya tiap malam di kontrakan. Eh, malah dia yang merasa terdzolimi," sambung si kerdil sambil menyeka ingusnya.


"Kalau kuping si Iyan gak kita tutupin tiap malam, udah pasti tuh si Iyan murka dan gak mau dekat sama pelatjoer itu," sungut Dev.


Jojo masih belum membuka suara. Dia masih memperhatikan gerak-gerik wanita yang masih memeluk erat tubuh Iyan. Tak lama berselang, tubuh Anggie terhuyung ke belakang dan hampir terjengkang.


"Kenapa diam aja?" sergah Beeya kepada Iyan. "Tubuh kamu sekarang ini penuh najis mughaladzoh," lanjutnya lagi.


Jojo tersenyum puas mendengar ucapan dari Beeya. Begitu juga dengan Dev dan juga si kerdil. Mereka lupa jikalau pacar Iyan adalah wanita yang tahan banting. Ternyata Beeya yang sudah menarik tubuh Anggie dari Iyan. Tak segan juga dia mendorong tubuh simpanan mantan kekasihnya.


"Chagiya." Iyan sudah ingin merangkul pundak Beeya. Namun, Beeya tidak mau disentuh oleh Iyan.


"Jangan sentuh aku!" cegah Beeya. "Aku gak Sudi disentuh sama kamu yang udah disentuh sama manusia berwajah bhagonk!"


Tak tanggung-tanggung perkataan Beeya kali ini. Dia benar-benar marah. Kali ini, dia menatap wajah Anggie dengan sorot mata penuh kemurkaan.

__ADS_1


"Mau nyari iba di sini, iya?" hardik Beeya. Perempuan itupun mulai mendekat dan tangannya sudah mencengkeram dagu Anggie dengan begitu kuat.


"Jangan memanfaatkan anak yang ada di kandungan lu. Dia masih suci jangan lu kotori dengan perbuatan keji yang emak bapaknya lakuin," sentak Beeya.


Semua mata tertuju pada Beeya sekarang. Hampir seratus persen orang membela Anggie dan menyalahkan Beeya. Namun, Beeya masih bergeming. Dia tidak takut dipandang jelek oleh orang lain.


"Dasar wanita gak punya hati. Ini ibu hamil," omel salah seorang ibu yang ada di sana. Dia juga membantu Anggie untuk berdiri.


"Stress nih orang," sergah ibu yang lain.


"Jaga bicara kalian!"


Iyan sudah mulai membentak dua ibu-ibu yang membela Anggie tersebut. Dia pun menatap tajam ke arah dua ibu-ibu bermulut kejam.


"Jangan pernah mencibir calon istri saya karena orang yang kalian bela adalah orang yang salah. Orang yang sudah membuat hati calon istri saya terluka cukup dalam," terang Iyan dengan begitu lantangnya.


Beeya menoleh kepada sang kekasih yang sudah menggenggam tangannya. "Maaf," ucap Iyan pelan. "Setelah ini aku janji akan menghilangkan najis yang ada di tubuhku."

__ADS_1


...****************...


Komen dong ....


__ADS_2