Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
190. Tamu Sudah Pergi


__ADS_3

Rio menyenggol lengan Restu ketika mereka sudah berada di dalam mobil dan melanjutkan perjalanan menuju bandara.


"Jaket lu ke mana?" Rio mulai tersadar ketika sang sahabat sudah tidak mengenakan jaketnya.


"Ada." Jawaban yang begitu singkat.


Di mobil yang berbeda, seorang remaja perempuan tengah mengenakan jaket berbahan denim. Echa mengerutkan dahi ketika ada yang berubah dari penampilan putrinya.


"Bukannya kamu tadi gak pakai jaket?" tanya sang ibu.


"Jaketnya Kakak Sa simpan, Bu." Jawaban Aleesa mampu membuat Radit mengulum senyum.


"Dasar anak zaman sekarang."


.


Di kamar hotel, seorang pria sudah terlelap dengan dua keponakannya. Beeya yang baru saja mengantar Kirani hingga pintu kamar hotel pun tersenyum ketika menghampiri tempat tidur yang sudah berantakan dengan kertas kado. Beeya memungutinya satu per satu dan setelah bersih barulah dia duduk di samping suaminya yang sudah terlelap. Dia mengecup kening Iyan dengan begitu dalam. Hingga pria itupun mengerjapkan mata. Tangannya langsung memeluk tubuh Beeya.


"Kamu belum makan, Ayang." Tangan Beeya sudah mengusap lembut rambut sang suami.


"Aku pengen ennen." Beeya pun tertawa sedangkan tangan Iyan sudah menelusup ke dalam baju Beeya.

__ADS_1


"Aku belum ganti beha, Yang." Tangan Iyan sudah memelintir chocochips yang sebelah kanan.


"Jangan pakai," balas Iyan.


"Iya. Akunya ganti dulu, ya."


Walaupun ada dua keponakannya, Iyan tak peduli. Dia ingin tidur nyenyak dengan meminum susu langsung dari sumbernya.


"Sshh! Pelan-pelan, Ayang." Rakusnya sang suami membuat Beeya meringis.


Beeya tersenyum ketika melihat suaminya bagai anak bayi. Tangannya yang satu sibuk memelintir chocochips yang lainnya.


.


Seminggu sudah usia pernikahan Beeya dan juga Iyan. Selama seminggu ini Beeya dan Iyan masih harus tinggal di rumah sang ayah. Belum boleh pindah ke rumah yang diberi oleh Iyan. Arya yang meminta, tapi dia juga ya b melarang putrinya jauh darinya.


Mobil sudah berbelok ke arah rumah Arya. Hari sudah petang karena dia harus lembur sebentar. Iyan masuk ke dalam rumah dan sepi tak ada siapa-siapa di sana. Langkah Iyan langsung menuju ke kamar mereka. Senyumnya mengembang ketika melihat Beeya baru keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil melilit di kepala.


"Sudah selesai?" Suara Iyan mengagetkan Beeya dam senyum nakal terpampang nyata di wajah suaminya. Iyan melangkah dengan cepat ke arah sang istri tercinta. Beeya langsung meraih tangan Iyan dan menciumnya. Iyan pun mengecup kening Beeya dengan begitu dalam. Kemudian turun ke bibir berwarna pink milik sang istri.


"Tamunya sudah pergi?" Iyan sudah merengkuh pinggang sang istri.

__ADS_1


"Baru aja." Iyan pun tersenyum lebar.


"Bisa 'kan kita unboxing malam ini." Beeya tersenyum dan berjinjit untuk mencium bibir sang suami.


"Sepuas kamu, Ayang." Mata Iyan berbinar mendengarnya. Dia menciumi setiap inchi wajah Beeya hingga Beeya kegelian.


"Mandi dulu." Beeya sudah mendorong tubuh suaminya.


"Habis mandi langsung, ya."


"Aku pengen jajan. Pengen nyari cemilan." Mode manja Beeya membuat Iyan akan selalu mengikuti permintaan sang istri tercinta.


"Ya udah, tapi jangan lama-lama nyari jajannya" Beeya pun mengangguk. "Sekalian aku juga mau beli jamu kuat," kelakarnya. Beeya hanya tertawa.


Ketika pintu kamar mandi tertutup, Beeya membuka laci tempat menyimpan barang dirinya. Dia meriah sesuatu di sana. Melihat arah belakang dari benda tersebut yang bertuliskan nama-nama hari juga anak panah. Hembusan napas berat keluar dari mulut Beeya.


"Maafkan aku, Ayang."


...***To Be Continue***...


Boleh minta komennya gak?

__ADS_1


__ADS_2