Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Open minded.


__ADS_3

Sedan putih milik Kiana yang saat ini ada di bawah kendali Jovian melamban, kemudian berbelok memasuki gerbang utama salah satu perumahan elit yang ada di kawasan BSD.


"Eh, kok malah masuk kesini!?" Kiana sedikit memiringkan tubuhnya, menatap Jovian yang saat ini tengah fokus berkendara.


Jovian melirik sekilas, tersenyum dan kembali menatap lurus kedepan. Dimana beberapa cluster dengan bangunan super mewah berada di dalam kawasan itu. Namun yang membuat Kiana semakin terkejut adalah keberadaan danau buatan yang cukup besar berada di dalamnya, dengan air mancur yang berada di tengah-tengah sana.


"Kamu punya unit disini?"


"Yang benar saja. Uangnya belum cukup! Tapi nanti kalau sudah terkumpul aku ambil satu buat kita. Aku kamu dan anak-anak, … tidak mungkin kita tinggal di apartemen terus menerus, sementara anggota keluarga sudah bertambah." Jelas pria itu dengan senyuman merekah di kedua sudut bibirnya.


Dan setelah beberapa menit berkendara. Akhirnya Jovian memberhentikan mobilnya di salah satu kawasan ruko. Dimana beberapa restoran, cafe juga gerai jajanan berada di sana.


Kiana hendak mengatakan sesuatu perihal ucapan suaminya beberapa saat lalu. Namun, Jovian lebih dulu keluar, berjalan cepat memutari mobil, lalu membukakan pintu untuk istri cantiknya.


"Aku kira kita mau ke danaunya!" Pandangan Kiana mengasah, menatap pria tinggi yang saat ini berdiri memegangi pintu mobil.


"Iya. Kan setiap ruko bisa tembus ke danau, … kamu bisa beli apa saja dan makan di area danau."


Kiana mengangguk, dia tersenyum, membuka sabuk pengamannya yang masing melingkar erat di tubuh, meraih tangan Jovian yang terulur, lalu keluar. Suasana disana terasa begitu asri. Riuh dedaunan yang bergerak di terpa angin terdengar, membuat suhu di daerah Tangerang yang panas, terasa sedikit lebih sejuk.


"Eh ada Lawson!" Kiana dengan raut wajah berbinar.


"Sudah aku katakan! Jangankan Lawson, minimarket, restoran, laundry, … bar saja ada tahu!" Kata Jovian sambil terkekeh.


"Ya sudah, aku mau jajan Odeng dulu. Soalnya kalau mau masuk bar, ini masih sore." Kiana tertawa.


Pria itu mengangguk, dia menekan remot yang menggantung di kunci mobilnya, hingga kendaraan itu berbunyi dengan lampu berkedip sebanyak dua kali.


Jovian mendorong pintu kaca itu segera, dan membiarkan Kiana masuk terlebih dahulu.


"Selamat datang, silahkan."


Seseorang menyapa saat Kiana dan Jovian masuk ke dalam sana. Berjalan mendekati meja dimana Odeng, Suki, dan makanan-makanan lainnya berada di dalam satu wadah dengan kuah yang terlihat segar.


Tanpa menunggu lama Kiana langsung memesan beberapa tusuk Odeng. Yang di letakan di dalam satu wadah, beserta kuah hangatnya. Sementara Jovian hanya memesan satu cup ice coffe dan air mineral untuk istrinya.


"Mbak, boleh makan di belakang?" Tanya Kiana.


Perempuan itu mengangguk.


"Boleh, Ka."

__ADS_1


Dan setelah mengantongi izin. Kiana segera berjelan mendekati satu pintu kaca yang tertutup rapat, membukanya dan keluar dari dalam sana. Beberapa bangku dan meja sudah tersedia di area itu, mengarah pada danau yang tampak berkilau, saat cahaya matahari menyorot ke sana pada sore hari ini.


"Sayang, aku pesan odengnya tiga. Jadi ayo makan bersama-sama." Pinta Kiana.


"Kamu saja." Tolak Jovian, pria itu menggeleng-gelengkan kepala.


"Ini enak tahu." Kiana mendekatkan makanan itu ke arah Jovian.


Sempat diam untuk beberapa detik, memperhatikan jenis makanan berkuah itu dengan raut wajah aneh.


"Bau amis, Baby!"


"Mana ada bau amis. Ini bukan bakso ikan, tahu!" Kiana terkekeh.


Dia semakin mendekatkan makanya ke arah mulut Jovian. Sampai akhirnya pria itu menyerah, dan membuka mulutnya untuk menerima makanan yang Kiana sodorkan.


"Aku aja suka, masa kamu nggak suka. Enak lho ini, apalagi kalau dimakan sore-sore begini!" Tukas Kiana, dan menjejalkan makanan tadi kedalam mulutnya sendiri.


Jovian mengangguk, pertanda setuju dengan ucapan istrinya.


Suasana di sekitaran danau itu terlihat sedikit lengang, hanya terdapat beberapa orang yang sedang berjalan santai, memutari danau. Entah itu bersama pasangannya, teman, keluarga atau bersama hewan peliharaan mereka.


Tak hentinya Jovian menatap raut wajah Kiana. Kadang perempuan itu terlihat melamun dengan mulut yang tak berhenti mengunyah, terkadang juga memperlihatkan ekspresi menggemaskan, ketika melihat beberapa orang di sekitarnya.


Dan tentu saja perempuan cantik berambut pendek itu tidak menyadari tatapan Jovian, yang saat ini terkunci ke arahnya.


"Baby?"


"Hum?" Pandangan Kiana langsung tertuju kepada suaminya.


"Malam ini kita akan tidur dimana?" Entah kenapa tiba-tiba saja Jovian ingin menanyakan hal ini.


Kiana tidak langsung menjawab. Dia meraih botol minum terlebih dulu, membukanya dengan segera, dan meminumnya beberapa tegukan.


"Aku bisa dimana saja. Di rumah Papa Mama ayo, di apartemen kamu juga boleh." Kiana tersenyum penuh arti.


Memori kejadian tadi malam tentu saja masih sangat jelas. Dimana mereka melakukan sesuatu yang sangat gila untuk pertama kalinya. Pesona Duda tampan di hadapannya terus terpancar, sampai Kiana tak mampu mengendalikan dirinya sendiri.


"Jadi mau bagaimana? Tetap di rumah Papamu? Atau pulang ke apartemen?" Suara Jovian terdengar rendah.


Lalu tangannya terulur, menyentuh tangan Kiana, untuk dia genggam dengan erat.

__ADS_1


"Aku bisa dimana saja. Tapi karena kamu senang kita di apartemen. Jadi, sepertinya kita pulang saja nanti malam yah!" Ucap Kiana.


Senyuman di bibir Jovian semakin merekah. Dadanya berdebar-debar, dengan desiran yang terasa dari ujung kepala sampai ujung kaki, menghadirkan sebuah rasa seperti sengatan-sengatan listrik tegangan rendah.


"Kamu pengertian sekali, Baby!"


"Hemm, … kamu sedang senang kalau kita berduaan saja kan? Ya sudah, aku lakukan itu agar kamu bahagia."


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Agar kamu merasa bahagia?" Tanya Jovian.


Kiana mengulum senyum.


"Cukup terus bersama aku saja. Dan jangan membuat hati aku kecewa. Ini bukan tentang orang yang sempat ada di masa lalu lho yah! Orang ketiga kan bisa siapa saja, … entahj itu teman, sahabat atau siapapun."


Jovian mengangguk.


"Aku kira kamu cuek, tentara kamu pencemburu juga."


"Jangan salah. Aku ini egois, … aku hanya mau milikku tetap milikku." Tegas Kiana.


"Tentu saja. Memangnya kamu pikir aku akan membagi diriku dengan siapa?" Pria itu terkekeh.


Kiana tidak menjawab lagi. Dia hanya kembali fokus pada makanannya.


"Kamu tidak mau meminta aku membelikan sesuatu untuk mu?"


"Kan sudah. Tiga cincin berlian, uang, dan mobil. Memangnya aku harus minta lagi? Ih rakus sekali!" Cicit Kiana.


"Kamu belum meminta aku untuk membelikan mu rumah."


"Ada apartemen kamu. Ada rumah Papa juga, … toh kita masih berdua, kecuali sudah ada anak. Baru kita harus pikirkan soal itu."


Dan jawaban itu lagi-lagi membuat Jovian terdiam, dengan rasa bahagia yang terus dia rasakan.


Begitu beruntung dirinya ini. Selain cantik dan muda, tenyata Kiana memiliki pemikiran yang sangat luas, sampai dia dapat mempertimbangkan segala sesuatu dengan tidak terburu-buru.


"Ah, … aku sangat mencintaimu, Kiana!"


......................


Jangan lupa like, komen hadiahhhhhh ...

__ADS_1


__ADS_2