Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Sebuah kisah


__ADS_3

Semua orang tua terlihat asyik berbincang-bincang membahas berbagai hal, salah satunya tentang dunia bisni yang memang digeluti Danu, Ilyas dan Jonathan meskipun di bidang yang berbeda.


Sementara Axel yang sudah mulai membuka bungkusan besar hadiah yang Kiana berikan, bersama Jovian juga Javier. Dan para perempuan tampak masih menikmati beberapa hidangan penutup, dengan suasana sedikit canggung. Terutama untuk Kiana juga Eva yang saat ini berada kembali di satu tempat yang sama, setelah pertemuan pertama keduanya beberapa bulan lalu.


"Emmm, … aku sudah selesai!" Kiana bangkit, seraya membawa wadah berbentuk gelas kecil, dimana sebelumnya terisi puding berperisa mangga.


"Kemana?" 


Jovian yang sedang duduk di lantai beralaskan karpet itu menengadahkan pandangan, menatap Kiana yang bersiap untuk pergi.


"Cuci tangan!" Kiana memperlihatkan telapak tangannya yang terbuka. "Lengket, tadi aku pegang sedikit fla nya." Ujar Kiana, yang langsung mendapatkan anggukan dari Jovian.


Kiana meletakan tempat puding yang sudah habis tanpa sisa, lalu berjalan ke arah dapur untuk membasuh tangannya. Sementara Jovian kembali fokus pada setiap potongan Lego yang siap untuk di rakit.


"Hari ini kamu tidak sibuk? Maksudku tidak biasanya kamu menghabiskan waktu diluar daripada di salon, apalagi dengan waktu yang tidak sebentar?" Adline tersenyum.


Eva mengangkat tangan sebelah kirinya, menatap arloji yang melingkar disana. Dimana jarum jam sudah menunjukan pukul 15.00 sore hari.


"Ah aku sudah telat ternyata." Wanita itu tertawa canggung. "Kalau begitu, aku numpang ke toilet dulu. Aku harus segera ke salon untuk pembukuan." Jelas Eva.


Adline mengangguk.


"Kamu boleh memakai toilet kamar tamu saja, Va!" Titah Adline.


"Gampang." Balas Eva, lalu menyimpan piring kecil bekasnya memakan beberapa potongan brownies.


Sementara di area dapur rumah itu.


Kiana tampak berbincang-bincang dengan seorang asisten rumah tangga, menatap layar handphone yang pekerja itu sodorkan sebelumnya.


"Sudah." Kiana tersenyum lalu memberikan benda pipih itu kembali.


"Wah, terimakasih Ka!" Wajahnya berbinar, menatap Kiana dengan senyuman yang tiada hentinya. "Aku tahu Kakak pas Viral waktu itu, tapi nggak nyangka bisa ketemu sekarang!" Katanya lagi.


Membuat tawa Kiana menyembur kencang.


"Viral gara-gara berkendara ugal-ugalan yah! Ah masa kamu senang sama manusia nakal seperti itu." 


Ingatan Kiana tertarik mundur. Dimana ia yang masih suka membuat orang tuanya khawatir, dan para polisi jengah sendiri karena dirinyalah yang selalu tertangkap tanpa merasa jera. Lalu berita tentang dirinya yang sempat muncul akan segera tenggelam dengan berita lain, dan tentu saja itu ada campur tangan Danu, sang ayah.


"Hemmm, … tapi waktu itu orang-orang tidak fokus pada kasus ugal-ugalannya, tapi kecantikan Kak Kiana." Seorang Asisten rumah seusianya terus berbicara.


"Astaga!" Kiana menyapu wajahnya cukup kasar. Menyembunyikan pipi yang mulai terlihat merona.

__ADS_1


"Nggg, … kalau begitu aku beresin kerjaan dulu ya Kak! Terimakasih untuk foto dan Follow back nya."


Kiana yang saat ini berdiri, dan bersandar pada pembatas wastafel hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Dia hampir saja kembali, sebelum akhirnya Eva datang, dengan senyuman yang dia perlihatkan ke arahnya.


"Hey?" Dia menyapa, lalu mengulurkan tangan.


Kiana diam, menatap bergantian telapak tangan Eva yang terbuka lebar dengan wajahnya.


"Dengar dari Adline. Hari ini kamu lulus dengan nilai yang cukup bagus?"


Kiana masih belum menjawab, dia menatap Eva lekat-lekat. Tidak tahu kenapa dia tidak bisa berprasangka baik terhadap wanita di hadapannya.


Merasa diabaikan. Eva tertawa pelan, kemudian menarik tangannya kembali dan mengurungkan niat untuk mengucapkan selamat kepada istri dari mantan suaminya.


"Ah, … kamu gadis yang sangat sulit didekati yah!" Kata Eva sedikit kencang.


Kiana memasukan kedua telapak tangannya ke dalam kantong celana, menegakkan tubuh, lalu berjalan meninggalkan Eva begitu saja tanpa sepatah katapun.


"Kiana!" Namun, lagi-lagi Eva memanggilnya, bahkan dia sempat mendekat, meraih pergelangan tangan Kiana sampai membuat perempuan itu berbalik badan.


"Kamu tidak suka aku mempunyai hubungan baik disini? Di keluarga suamimu?" Eva menatap wajah Kiana dengan raut wajah cukup serius.


Kiana diam, balik menatap Eva tak kalah tajamnya.


"Apa kamu tidak bisa berdamai dengan keadaan? Atau menerima sesuatu yang sudah menjadi ketentuan? Seharusnya kamu mengerti bagaimana kami dulu! Jadi …"


Eva mengatupkan mulutnya sampai tertutup rapat.


"Berhentilah berbicara yang tidak-tidak! Karena saya tidak pernah melakukan atau merasakan apapun." Perempuan itu mempertegas.


Sorot mata Kiana terlihat semakin tajam, dan itu cukup membuat Eva tahu jika istri dari mantan suaminya sekarang bukan gadis belia sembarangan


"Berhentilah menjadi bayang-bayang semua orang. Anda terlihat berlebihan dalam hal ini!" Kiana memperingati.


Eva tidak menanggapi, dua justru tersenyum miring.


"Oh iya. Apa kamu pernah dengan Kisan Justin Bieber dan mantan kekasihnya?" Tiba-tiba saja Eva mengalihkan topik pembicaraan.


Membuat dahi Kiana mengkerut karena tidak mengerti.


"Selena Gomez dan Justin Bieber! Kamu tidak tahu kisah mereka? Bukankah seharusnya gadis sebaya kamu menjadikan mereka sebagai idola? Lalu kenapa sepertinya kamu tidak tahu apa-apa?"


Kiana semakin tidak mengerti. Dia hendak kembali melangkahkan kaki untuk menjauhi Eva. Namun wanita itu sepertinya belum selesai, apalagi saat melihat suasana dapur yang sunyi, Eva seolah memanfaatkan keadaan, dimana semua orang berkumpul di ruang tamu, dan para asisten rumah sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing.

__ADS_1


"Astaga!" Cicit Kiana, seraya menarik lengannya yang kembali Eva cengkram. 


"Jadi kamu tidak tahu? Peribahasa cinta seseorang akan habis di cinta lamanya?" Eva terlihat sangat serius. "Kisah mereka seperti kisah kami, dimana Jovian sudah menghabiskan cintanya kepadaku, dan menikah denganmu hanya sesi untuk bertahan hidup. Upss!" Eva menutupi mulutnya dengan telapak tangan, dan membuat raut wajahnya semakin menyebalkan.


"Aku tidak peduli!" 


Perempuan itu kembali melangkahkan kaki, tapi lagi dan lagi Eva meraih dan menarik tangannya.


"Mau sebaik apapun orang baru yang hadir, tetap masa lalu yang jadi pemenangnya." Eva tersenyum penuh arti.


"Sudah aku katakan aku tidak peduli. Dan berhentilah mengganggu, ini acara spesial Axel, dah jangan pernah mencoba untuk merusaknya!" Tegas Kiana.


"Santailah dulu, aku hanya ingin mengatakan sebuah kebenaran." Eva merendahkan suaranya, sambil terus tersenyum miring.


Perdebatan mereka berlangsung dengan suara rendah, membuat semua orang tidak menyadari jika keduanya sedang terlibat adu mulut.


"Jika Tante Eva mau berpikir jika Jovian masih menyukai Tante. Silahkan saja, … aku tidak pernah merasa keberatan, karena pada kenyataannya saat ini dia memilih hidup dengan saya, istri sah nya." Balas Kiana.


Dan itu jelas menohok hati dan pikiran Eva. Apalagi saat melihat Kiana tersenyum, kekesalan yang belum sempat hilang di dalam hatinya atas kabar pernikahan sang mantan suami terus semakin menggunung.


"Jovian tidak pernah mencintai kamu Kiana! Dia hanya sedang berusaha melanjutkan hidupnya. Dia menikahimu hanya untuk uang, tidak untuk …"


Kiana maju satu langkah, lalu mencengkram leher Eva dengan satu tangannya, membuat wanita itu segera berhenti berbicara.


"Cukup! Atau semuanya akan semakin kacau!" Kiana memberi peringatan.


Kilatan amarah sudah sangat jelas terlihat. Namun itu tidak membuat nyali Eva menciut, justru inilah tujuannya, memancing emosi Kiana agar perempuan itu tidak bisa mengendalikannya.


Kiana segera melepaskan cengkraman tangannya, berbalik badan dan berusaha tidak menggubris setiap provokasi yang terus Eva lontarkan.


Namun, langkahnya segera terhenti. Kala Eva kembali mengucapkan sesuatu, yang jelas sudah menginjak-injak harga diri keluarganya.


"Ayah macam apa yang tega menyodorkan putrinya kepada seorang Bodyguard pribadi? Lalu menawarkan sesuatu hanya agar Jovian mau menikahimu, apa kamu seburuk itu Kiana? Sampai ayahmu takut jika tidak dengan Jovian, kamu tidak akan bisa menikah?"


"Tahu apa kamu tentang hal itu?" Kiana kembali menatap Eva.


"Semua. Salah satunya adalah Jovian yang akan berusaha mencintai kamu, saat dia masih mencintai saya." Setelah mengatakan itu Eva tersenyum penuh arti.


Tanpa banyak berbasa-basi Kiana langsung menerjang Eva, mendorong tubuh wanita itu dengan keras ke arah belakang, membuat Eva terjatuh dengan Kiana yang kini berada duduk di atasnya.


Di waktu yang bersamaan beberapa asisten rumah berjalan mendekati dapur, membawa keranjang berisikan gelas-gelas kotor.


...****************...

__ADS_1


Maaf yah, udah bikin kalian nungguin sambil nahan rindu.


Cuyung kalian, jangan lupa seperti biasa😘😘


__ADS_2