Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Berendam & Sarapan roti bakar


__ADS_3

Seluruh jendela dan beberapa pintu rumah panggung itu dibiarkan terbuka lebar. Sehingga membuat udara sejuk pagi hari menelusup masuk. Tirai-tirai tipis bergerak tertiup angin, begitu pula dengan benda-benda yang lain. Bahkan sang tuan rumah tak pernah menanggalkan pakaian hangat saat pagi menyapa, kala rasa dingin menusuk dari permukaan kulit sampai tulang.


Klek!!


Salah satu pintu ruangan terbuka, dan munculah Jovian dengan celana dan baju serba panjang, tak lupa dilapisi Hoodie dengan penutup yang juga pria itu kenakan.


Dia menatap Jonathan yang sudah duduk di kursi meja makan, dengan segelas teh panas di hadapannya. Kemudian beralih pada Leni yang sibuk mengupas beberapa jenis buah-buahan, lalu memotongnya kecil-kecil sebelum akhirnya dia masukan kedalam sebuah tempat.


"Goedemorgen. (Selamat pagi)" Jovian menyapa kedua orang tuanya, dengan senyuman khas seperti yang selalu pria itu berikan.


Jonathan dan Leni tersenyum.


"Pagi, Jo!" Sahut Jonathan.


"Lihat? Tadi Mami dan Bu Wiwin ke pasar untuk mencari buah-buahan ini!" Ujar Leni, seraya tersenyum sumringah.


"Dia sudah bangun?" Jonathan menatap putranya.


Tangan Jovian bergerak menyentuh ujung kursi berbahan kayu, menariknya, untuk kemudian dia tempati.


"Sudah. Sedang berendam air hangat!" Katanya sambil tertawa.


"Jangan dibiarkan terlalu lama, nanti Kiana kedinginan." Leni berkelakar.


Jovian menggelengkan kepala.


"Biarkan saja, … sudah tiga kali aku memintanya untuk segera keluar. Tapi dia malah merengek seperti anak kecil yang masih asyik bermain air."


Leni dan Jonathan saling diam dan menatap satu sama lain.


"Ya sudah, biarkan beberapa menit lagi. Setelah itu mintalah keluar dengan segera, atau dia akan masuk angin." Kata Jonathan.


Yang segera Jovian jawab dengan sebuah anggukan kepala pelan. Kemudian pandangannya beralih pada sosok yang sedang fokus berkutik dengan bahan-bahan masakan, berdiri di dekat meja kompor yang menyala, bahkan paci di atasnya terlihat mengepul mengeluarkan uap yang cukup banyak.


"Bi?"


"Iya, Den?" Wiwin menoleh.


"Tolong buatkan kopi hitam, boleh?"


Wiwin tersenyum, kemudian menganggukan kepala sembari mendekati salah satu laci, dimana tersimpan beberapa toples berisikan; gula, kopi, teh dll.


"Gulanya sedikit? Airnya juga?"


Jovian mengangkat satu ibu jarinya.


"Yups, … kental dan jangan terlalu manis." Katanya.


Sementara itu di dalam kamar mandi sana.

__ADS_1


Kiana terlihat masih asik berendam air hangat. Bahkan sesekali dia terlihat membubuhkan sabun cair pada telapak tangan, mengusap perlahan sampai menghasilkan busa yang cukup banyak.


"Emmmmm, … wangi sabunnya enak sekali!"


Raut wajahnya terlihat sangat berbinar. Matanya terpejam seraya menghirup aroma yang dihasilkan dari sabun itu dalam-dalam.


Kemudian pandangannya menunduk, menatap dirinya yang saat ini tidak memakai sehelai benangpun. Sampai perut ratanya terlihat dengan begitu sangat jelas.


Seulas senyuman tipis terbit.


"Bagaimana? Kamu senang? Kamu suka?" Dia mengusap perutnya sendiri.


Kiana membayangkan jika dua janinnya dapat mengerti apa yang dirinya katakan. Dan itu menghadirkan rasa yang begitu luar biasa, tidak hanya bahagia, melainkan rasa yang lebih besar lagi.


"Sudah ya! Jangan membuat Mama mual lagi, kasihan Nenek, … dia sudah masak tapi Mama tidak bisa menikmati makanannya." Ucap Kiana lagi.


Kepala Kiana kembali terangkat, ketika mendengar suara handle pintu yang ditekan. Membuat dua pasang mata itu kembali saling menatap, bahkan Jovian tersenyum samar kepada istri cantiknya yang tengah asik berendam.


"Baby? Sudah selesai?" Jovian langsung bertanya.


Membuat Kiana yang semulanya bersandar pada pinggiran bathtub, menjadi duduk tegak.


"Sudah." Dia menganggukan kepala.


"Baiklah."


Jovian meraih bathrobe yang menggantung di tempatnya, membawa benda itu mendekat kepada sang istri.


"Oh, … baiklah."


Jovian berdiri di ambang pintu, menunggu Kiana yang sedang membersihkan sisa-sisa busa yang masih terlihat menempel di kulit tubuhnya yang terlihat begitu terawat.


Tubuh semampai yang saat ini terlihat lebih berisi, juga rambut pirang yang mulai memanjang, membuat rambut-rambut hitamnya mulai terlihat.


"Idih! Senyum-senyum." Cicit Kiana saat melihat Jovian yang sedang menatapnya secara diam-diam.


Senyum itu perlahan surut, dengan kaki yang mulai melangkah mendekat.


"Sudah! Tidak boleh lama-lama." Jovian mematikan kran air, yang seketika membuat kucuran air shower berhenti. "Sudah cukup main airnya! Sekarang ayo kita sarapan, ada roti bakar isi coklat, keju, pisang."


Jovian mengusak rambut Kiana, lalu membantu perempuan itu untuk memakai jubah mandinya.


****


Sepasang calon orang tua itu berjalan beriringan, keluar dari dalam kamar, menuju ruang tengah, dimana area dapur, tempat berkumpul, dan meja makan berada disana.


"Selamat pagi, Mami, … Papi?"


Kiana menyapa.

__ADS_1


"Selamat pagi sayang." Leni menyahut.


"Pagi Kia." Jonathan menatapnya, lalu tersenyum.


Jovian menarik satu kursi untuk Kiana, dan tanpa banyak bicara perempuan itu duduk disana.


"Kamu tahu? Bibi tidak memakai bawang dalam masakannya kali ini. Dan itu Papi yang meminta, karena tidak tega kamu terus mengalami mual dan muntah karena mencium bau bawang." Jovian sambil duduk.


"Nasinya juga, sudah Mami dinginkan lebih dulu sampai tidak ada lagi uap yang sudah pasti membuat kamu mual juga." Sambung Leni.


Dan Kiana tersenyum saat mendengar penjelasan tersebut. Betapa mereka menyayanginya, sampai mau mengalah dalam hal apapun. Bukankah dirinya sangat beruntung? Diterima dengan begitu baik oleh keluarga suaminya? Bahkan di era gempuran ketidakharmonisan hubungan antara menantu dan sang mertua.


"Mungkin mereka melakukan ini hanya karena mereka takut. Bukankah kejadian di masa lalu cukup buruk? Dan membuat Tante Eva memutuskan untuk pergi dari suamimu, Kiana? Jadi bisa saja apa yang mereka lakukan hanya untuk membuat kamu bertahan."


Satu sisi dari hatinya berbicara.


"Tidak mungkin. Tidakkah kamu melihat ketulusan mereka? Lihat! Bahkan Jovian terus berusaha menunggumu saat aku pergi, lalu kedua orang tuanya menangis haru saat kamu tiba? Lalu apa yang kamu ragukan Kiana?"


Hati yang lain ikut berbicara.


"Mami buatkan roti bakar isi selai coklat, keju dan pisang. Semoga kamu suka, … ayo dimakan."


Leni menggeser satu piring berukuran sedang ke hadapan Kiana.


Namun, perempuan itu diam dengan pandangan kosong.


"Kia?"


"Kia? Kamu baik-baik saja?"


"Baby?"


Jovian menepuk pundak Kiana cukup kencang, membuat perempuan itu segera tersadar dari lamunannya.


"Hemmm?"


"Kenapa melamun? Apa sesuatu membuat kamu merasa mual lagi?" Tanya Jovian.


"Ya sudah, biarkan roti bakarnya, biar Mami ambilkan buah-buahan yang sudah disiapkan tadi."


Leni hampir saja bangkit dan beranjak pergi, tapi panggilan Kiana segera menghentikannya.


"Nggak usah, Mam. Aku nggak mual, ibu aku mau makan." Kiana tersenyum.


"Terus kenapa melamun? Kamu tidak betah?" Jonathan ikut bereaksi.


"Tidak juga, … aku hanya sedang berpikir. Mungkin akan lebih baik jika Mama dan Papa datang kesini untuk berkunjung, mumpung aku juga ada disini." Kiana mulai menggigit ujung rotinya, dan mengunyah dengan perlahan-lahan.


Dan itu cukup bagus karena tidak menimbulkan rasa lain. Selain rasa manis, asin, dan aroma dari pisang itu sendiri.

__ADS_1


"Ide yang bagus." Kata Jonathan.


Acara sarapan pun terus berjalan, di selingi obrolan ringan, dan gelak tawa yang tentu saja membuat suasana rumah itu terasa semakin hangat.


__ADS_2