Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Pria dewasa.


__ADS_3

“Kevin sakit!” Kiana terlihat merintih saat Kevin terus menariknya ke arah sebuah kursi taman tanpa membiarkannya terlepas sedikit pun.


Namun Kevin tetap tidak mendengar, dia terus mencengkram tangan Kiana dengan sangat kencang dan membawa gadis itu menjauh dari teman-teman pelajar lainnya.


“Vin!?”


Gadis itu bertahan sekuat tenaga, lalu menyentakan tangan cukup kencang sampai benar-benar bisa terlepas dari cengkraman tangan Kevin.


Kiana meringis, menatap pergelangan tangannya yang meninggalkan bekas cengkraman yang sangat merah.


“Lo kenapa sih?” Tegas Kiana sembari terus mengusap pergelangan tangan yang terasa sakit.


“Gue mau bicara.” Balas pria itu dengan ekspresi marah yang sangat jelas terlihat.


“Ya bicara aja, kenapa harus tarik-tarikan kaya gini? Sakit tau nggak?”


Kevin menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali, memejamkan mata, dan berusaha menekan rasa tidak nyaman di dalam dadanya.


“Gue mau bicara, … tapi nggak disini!”


Kevin kembali meraih tangan Kiana, dan membawanya ke arah taman yang berada di area kempus sana. Kiana hanya menurut saja, karena memberontak pun hanya percuma.


“Duduk!” Dia melepaskan tangan Kiana, dan meminta gadis itu untuk duduk, sementara Kevin berdiri melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan tajam penuh ketidak sukaan.


Mereka diam untuk beberapa menit, saling menatap satu sama lain. Dan teman-temannya yang lain memperhatikan dari jarak yang cukup jauh.


“Apa maksud dari semua ini? Kevin menatap Kiana tajam.


“Maksud yang mana?”


“Postingan yang kamu kirim pagi ini. Cincin dari siapa itu? Dan apa maksud dari hastag yang kamu cantumkan?”


Tanya Kevin, seolah sedang mengintrogasi kekasihnya yang dia dapati berselingkuh dengan pria lain.


“Ini?” Kiana menunjuk cincinya yang Jovian berikan beberapa waktu lalu saat mereka melakukan makan malam romantis.


Kevin mencengkram tangan Kiana, berniat merebut cincin itu dan melepaskannya. Namun, dengan sigap Kiana menarik tangannya dengan segera.


“Apaan si lo!?” Kiana balik menatap Kevin tajam.


“Lepasin, nanti gue ganti sama yang lebih bagus.” Pria itu kembali meninggikan suaranya.


Kevin berniat melepaskan cincin yang Kiana pakai saat ini secara paksa, tapi lagi-lagi gadis itu dapat menjauhkan tangannya dari Kevin.


“Kevin stop!!” Kiana meninggikan intonasi suaranya, membuat Kevin segera terdiam dengan tatapan yang di tujukan kepada wajah cantik salah satu temannya.


Pria itu diam untuk beberapa saat, menatap Kiana dengan perasaan sesak juga kecewa di waktu bersamaan.


“Lo bohong sama gue!” Suara Kevin terdengar lirih. “Lo bilang belum tertarik menjalin hubungan serius dengan pria manapun termasuk gue. Tapi apa ini? Lo nerima lamaran Bodyguard lo, yang bahkan jauh dari kata …”


“Stop!” Kiana berteriak, dia menutup kedua daun telinganya dengan telapak tangan. “Ini hidup gue, jadi terserah gue. Lagian kenapa? Kemarin-kemarin lo sama sahabat-sahabat lo jauhin gue, … nah sekaranng ngotot mau deketin gue lagi!”


Kiana meluapkan kekesalannya. Bahkan kini sorot mata gadis itu terlihat berubah, kilatan amarah jelas terlihat disana, dan itu cukup membuat Kevin bungkam seribu Bahasa.


“Perasaan itu nggak bisa di paksain, Vin. Lo Baik, dulu gue juga nyaman sama lo, … tapi bukan buat di jadiin pasangan, rasa nyaman yang gue rasain hanya sebatas teman aja, nggak lebih.” Kiana menatap Kevin lekat-lekat.


Sementara Kevin hanya diam dan mendengarkan.


“Dan satu lagi. Lo tau dari mana laki-laki yang mau nikahin gue itu Bodyguard gue sendiri, huh? Belum ada yang tahu soal ini selain orang tua gue.”


“Hanya menerka-nerka. Foto yang gue lihat di papan pengumuman udah bisa gue tebak, … mungkin itu nggak cuman skandal, tapi emang kalian bener-bener ada hubungan sejauh itu.” Dia terlihat semakin kecewa.


“Kalau iya kenapa?”


Kiana sudah benar-benar muak. Suara perdebatan keduanya jelas menyita prthatian para siswa lain, sampai mereka berkerumun sambil berbisik-bisik satu sama lain.


Kevin tertawa kencang.


“Kiana? Sepertinya mata kamu butuh penanganan Dokter spesialis. Bisa-bisanya kamu nolak aku hanya untuk menerima pria setua dia!?” Sindir Kevin dengan suara yang tiba-tiba berubah menjadi lembut.


Gadis itu menatap dengan tajam, memperhatikan Kevin yang sedang terus tertawa mengejeknya.


“Lihat aku! Pria yang ada di hadapanmu ini!” Kevin menunjuk dirinya sendiri.


Kiana bungkam.


“Aku tampan, aku kaya. Dan kita setara dalam hal ini! Aku bisa memberimu apapun yang kamu inginkan, … ingat! Aku anak tambang batubara juga sama sepertimu, bukan ajudan pribadi seperti dia. Mau diberi makan apa kamu? Nasi kemarin dan telur dadar, hmm?” Kevin semakin tidak terkendali.

__ADS_1


Plakk!!


Kiana melayangkan satu tamparan di pipi kiri Kevin sangat kencang. Membuat pria itu sedikit terhuyung ke samping, bahkan tangan pria itu menyentuh pipinya saat dia merasakan sakit dan panas di are sana.


“Berhentilah membual! Kau menghabiskan waktu makan siangku. Sudah sejak saat itu aku memutuskan untuk tidak dekat dengan siapapun lagi. Entha itu Zayna, Sharla, Hilmi, Starla ataupun kamu, … Jadi tidak usah peduli lagi, basi tau nggak!?” Kiana menegaskan.


Dia mundur beberapa langkah, kemudian berbalik badan, dan meninggalkan Kevin begitu saja.


“Apayang dia berikan? Sampai kamu menjadi sebuta sekarang?” Pria itu kembali berteriak.


Membuat langkah Kiana terhenti, dan menoleh.


“Apa istimewanya dia Kiana?”


Gadis itu kembali berjalan mendekati Kevin, sampai keduanya tak berjarak sama sekali.


Kiana menengagahkan pandangan, memberikan ekspresi datarnya, tanpa merasa gentar sedikit pun. Amarahnya benar-benar bergejolak, persis seperti air mendidih yang meletup-letup.


Rasanya ingin sekali mencengkram leher Kevin dengan sangat kuat, seperti halnya yang dia lakukan kepada Hendi beberapa waktu lalu, atau hanya memberinya tendangan cukup kencang sampai dia tidak dapat berjalan mungkin sampai berminggu-minggu lamanya. Namu dia tahan, agar orang-orang yang berada di dekatnya tidak terkena masalah. Terutama Jovian yang tidak akan tinggal diam.


“Dia memang bukan dari kalangan sepertimu. Keluarganya sangat sederhana. Kamu bisa melakukan apa saja, menggunakan kekuasaan uang orang tuamu untuk mendapatkan apa yang kamu mau. Satu hal yang bisa dia berikan, … yaitu rasa nyaman yang sudah pasti aku tidak dapatkan darimu!” Jelas Kiana Panjang lebar.


Kevin menundkan pandangan, mentap Kiana yang sedang berkata banyak hal. Bahkan gadis itu kembali berdiri di hadapannya hanya untuk membela pria yang mungkin saat ini sudah memenuhi dunianya.


“Cinta itu bukan soal uang, Kevin. Tapi sebuah rasa yang tidak pernah kamu temukan sebelumnya. Dia memang lebih dewasa, bahkan usianya sangat jauh di atasku. Tapi apa kamu tahu? Dia membuat aku menjauhi apa yang sebelunya aku lakukan, … dia bisa membuat hubungan aku dan Papa menjadi lebih baik, berbeda dengan kalian yang membuat aku dan orang tuaku bertengkar bahkan hampir setiap kami bertemu.”


Dan setelah mengatakan banyak hal. Kiana segera beranjak pergi, meninggalkan Kevin yang saat ini masih terdiam dengan perasaan yang sudah benar-benar hancur.


“Padahal aku selalu melarangmu untuk melakukan hal buruk. Tapi kenapa kamu tidak pernah melihat itu?” Ucap Kevin seraya menatap punggung Kiana yang terlihat semakin menjauh.


“Primadona ngambek guys!!” Salah satu siswa yang berada diantara kerumunan itu berbicara. Lalu saling memandang dengan senyum mengejek.


“Drama apa lagi dah! Cape banget mantengin mereka kaya begitu, kalo nggak rebut satu sama lain, ya urusannya sama polisi. Hidup terlalu bebas juga nggak baik ternyata.” Seseorang menimpali.


Dan umpatan-umpatan itu mampu di dengar oleh sahabat-sahabat Kevin yang masih berdiam diri disana.


“Baru kali ini. Fisik dan materi kalah sama om-om!” Celetuk Starla dengan suara cukup kencang.


“Heh! Udah diem nggak usah banyak ngomong.” Zayna memperingati.


Tepat pukul 14.30 menjelang sore hari.


Semua pelajar berhamburan, berjalan ke arah dimana sebuah parkiran yang luas berada di area sana. Termasuk Kiana yang segera pergi dengan langkah cepat, mendekati sebuah mobil sedan yang sudah terparkir tidak jauh dari gerbang masuk.


Tidak lama setelah itu Jovian keluar, dengan setelan jas dan kacamata hitamnya seperti biasa. Pria itu tampak tersenyum menyambut kedatangan Kiana.


Sementara gadis itu terlihat sedikit murung, tidak ceria seperti hari-hari sebelumnya yang selalu terlihat antusias kala mereka bertemu.


“Terjadi sesuatu?” Jovian berjalan memutari mobil.


Lalu membukakan pintu untuk Kiana.


“Kita harus cepat, Om.” Kiana mengalihkan pandangan ke arah lain. Di mana Kevin dan kawan-kawannya datang mendekati parkiran, sambil memperhatikannya dengan ekspresi aneh.


Dengan segera gadis itu masuk, kemudian menarik pintu mobilnya. Sementara Jovian segera kembali mendekati pintu mobil sebelah kanan, dan menyusul Kiana yang sudah duduk di kursi samping kemudi dengan nyaman.


“Ada sesuatu yang mengganggumu?” Jovian menutup pintu mobilnya, lalu menarik tali sabuk pengaman dan memasangkannya dengan benar.


Kiana menoleh sekilas, lalu kembali mengarahkan pandngan lurus kedepan. Dimana Kevin terus memperhatikan pergerakan mobilnya.


“Ya masa harus di omongin. Kalau tersinggung gimana? Tapi kalau nggak di omongin juga mustahil, … Om Jovian pasti banyak nanya.” Batinya berbicara.


Tangan kanan Jovian bergerak memutar setir mobil, sementara sebelah tangannya lagi dia gunakan untuk mengendalikan perseneling.


“Mereka membuat kamu kesal?” Jovian bertanya lagi.


Mobil yang mereka tumpangi sudah benar-benar keluar dari area parkiran universitas. Dan melaju dengan kecepan sedang di jalanan utama, yang selalu ramai di jam-jam tertentu, karena hampir semua pelajar membawa kendaraan pribadi masing-masing.


“Kiana? Apa kamu tidak mau berbagi cerita kepada saya? Teman-teman kampusmu mengejek lagi? Apa perlu saya datang kesana?”


Namun, Kiana segera menjawab dengan gelengan kepala.


“Cuma Kevin. Tapi dia benar-benar membuat mood aku menjadi sangat buruk.” Akhirnya Kiana membuka suara.


“Ada apa dengan anak itu?” Jovian kembali bertanya dengan pandangan yang terus dia tujukan ke arah depan, dimana sebuah lalu lintas terlihat padat merayap


“Banyak. Termasuk membahas cincin ini!” Dia langsung menundukan pandangan, menatap cincin pemberian Jovian.

__ADS_1


Jovian menoleh sekilas.


“Kenapa? Dia tidak suka kamu memakai cincin pemberian dari saya?” Pria itu masih terlihat santai seperti biasa.


Kiana mengangguk, dan dia segera menceritakan apa saja yang membuat moodnya menjadi benar-benar buruk, terlebih ucapan Kevin terasa terus berputar-putar di dalam ingatannya.


Jovian terkekeh pelan. Menurutnya sangatlah lucu, Ketika seseorang yang tidak mengetahui latar belakangnya berkomentar demikian, bebicara seolah merekalah yang hanya mampu menghidupi seorang gdis yang terlahir dari keluarga yang serba berkecukupan.


“Kamu membela saya?”


Namun dia cukup bangga, Ketika Kiana membelanya habis-habisan, hanya agar membuat dirinya tidak serendah yang Kevin pikirkan.


“Om nggak asik, malah ketawa-ketawa.” Cicit Kiana kepada pria di sampingnya.


“Lalu kamu mau saya bagaimana? Mendatangi anak itu? Lalu mengatakan banyak hal dan memberikan sebuah peringatan?” Jovian meraih tangan Kiana, lalu menggenggamnya.


“Atau menghajarnya? Sebegaimana para laki-laki menuntaskan sebuah amarah?” Pria itu kembali bersuara.


Kiana menatap Jovian dengan pikirannya sendiri. Sedikit heran Ketika dirinya tidak dapat melihat ekspresi tersinggung dari pria di sampingnya. Tapi inilah nilai plusnya, pria dewasa memang mempunyai cara tersendiri untuk meredam masalah agar tidak semakin melebar kemana-mana.


“Om nggak marah? Kevin mengatakan itu semua?” Kiana kembali menatap wajah tampan calon suaminya.


“Untuk apa?” Jovian balik bertanya.


“Cemburu, mungkin. Soalnya kan calon istri Om di godain orang lain.” Ucap gadis itu sambil menahan senyum.


Entah kenapa rasanya masih tidak percaya dia akan benar-benar masuk ke dalam hidup seorag pria dewasa yang sangat menawan, bahkan sangat tampan di usianya yang sangat matang.


“Dia hanya membual, … saya akan meberinya peringatan kepada anak ingusan itu jika sudah benar-benar keterlaluan, sampai mengancam seseuatu yang saya akan saya miliki.”


Jovian mengalihkan pandangan ke arah Kiana. Menatap gadis yang juga sedang menatapnya, lalu tersenyum.


“Mengerti? Saya akan bertindak jika memang dia sudah meakukan hal yang sangat keterlaluan.” Jovian memperjelas ucapannya.


Kiana mengulum senyum, kemudian menganggukan kepala.


“Baiklah, sepertinya saya harus membawamu ke salah satu tempat untuk mengembalikan mood yang hancur hanya karena mendengarkan anak bau kencur itu berbicara banyak hal.” Jovian tersenyum lagi.


Kiana mengangguk antusias, dengan raut wajah yang mulai terlihat ceria seperti biasa.


“Emsidi ya, Om!” Pinta Kiana.


Dan pria itu segera mengangguk, pertanda setuju dengan apa yang Kiana usulkan.


“Butuh sesuatu?” Tanya Kiana.


“Sesuatau?”


Kiana mengangguk, gadis itu menekan salah satu tombol berwarna merah di sisi kana bagian bawah, membuat tali seatbeltnya segera terbuka, dan dengan leluasa Kiana mendekatkan diri kepada Jovian, lalu mendaratkan sebuah kecupan basah di pipinya.


“Jangan mulai Kiana, … nanti saya tidak fokus! Kita akan ada dalam bahaya jika kamu terus melakukan hal ini secara tiba-tiba.” Pria itu salah tingkah.


“Sama-sama.” Kiana tertawa pekan.


“Oke baiklah, … terimakasih!” Jovian tertawa.


Dia kembali duduk, merapatkan punggung pada sandaran kursi mobil, dan memasangkan sabuk pengamannya kembali seperti semula.


“Kemarin mau gigit! Giliran di cium malah salah tingkah.” Sindir Kiana.


“Sepertinya kamu ingin sekali saya gigit.” Jovian membalas ucapan konyol Kiana.


“Boleh. Kapan-kapan kita coba yah!”


Dan ucapan itu membuat Jovian menghela nafasnya, merusaha menetralisir sebuah perasaan yang terasa semakin menggebu-gebu.


“Tapi jangan kenceng-kenceng yah!” Kiana masih membahasnya.


“Astaga. Sepertinya usulan saya meminta acara akad di undur adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal.” Jovian menggeram frustasi.


Semenetara Kiana tertawa sangat kencang, saat menyadari obrolan konyol keduanya.


......................


Jangan lupa sawerannya guyssss ...


Dukung othor terus yah 😘😘

__ADS_1


__ADS_2