Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Teh hangat di pagi hari.


__ADS_3

Langit hitam mulai memudar, digantikan dengan warna biru kehijauan yang begitu mempesona. Belum lagi awan-awan putih yang terlihat seperti lukisan, membuat suasana di desa itu benar-benar terasa sangat berbeda.


Jendela-jendela sudah di buka lebar, begitu pula dengan semua pintu, hingga hilir angin yang begitu segar berhembus masuk hampir ke seluruh celah, membuat seorang gadis yang masih terlelap, semakin merapatkan selimutnya karena merasakan hawa yang sangat dingin.


Sementara Jovian sudah duduk di kursi kayu depan rumah bersama sang ayahanda, di temani dua cangkir teh manis yang Leni sediakan.


"Calon istrimu masih merajuk?" Jonathan menoleh, menatap anak keduanya dengan senyuman tipis.


"Papi tahu?"


"Perselisihan kalian sangat berisik semalam." Pria tua itu terkekeh.


Jovian meraih cangkir teh miliknya, meminum dengan sangat perlahan, kemudian dia letakan kembali di atas meja bundar, yang menjadi penghalang antara kursinya dengan Jonathan.


"Kiana hanya sedang cemburu. Dan ternyata meredakan rasa cemburu pada gadis belia seperti Kiana justru malah lebih susah." Jelasnya dengan suara yang terdengar pelan.


Namun Jonathan masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.


"Mungkin, bagi kita para laki-laki itu terlihat hal yang sangat sepele. Kita hanya cukup berpikir bahwa tidak ada hubungan apapun kita dengan seseorang, … tapi tidak dengan perempuan, memorinya akan terus tersimpan, otaknya akan terus berputar memikirkan hal yang paling buruk. Sudah Papi beritahu, wanita itu makhluk hidup yang menggunakan perasaan di dalam setiap hembusan nafasnya, … jadi kamu tidak bisa menganggap perasaan Kiana kepadamu juga Eva adalah berlebihan."


Jovian diam, menatap ayahnya sambil mendengarkan.


"Apa kamu serius dengan ucapanmu kemarin?" Jonathan seolah tengah menggali perasaan putranya lebih dalam lagi.


"Memangnya apa yang Papi lihat sampai bertanya seperti itu? Apa kalian juga merasa ragu kepadaku?"


Jonathan menatap Jovian lekat-lekat, menyelami netra anak keduanya dan berusaha mencari sebuah kebohongan yang mungkin dia sudah lakukan.


"Untuk Kiana. Papi tidak melihat rasa ragu sama sekali, bahkan dia terlihat seperti gadis yang baru saja merasakan bagaimana indahnya jatuh cinta. Tapi kamu, … kita semua tahu keluhanmu 2 tahun belakangan seperti apa. Lalu tiba-tiba datang dengan membawa seorang gadis, yang kamu perkenalkan sebagai calon istrimu! Apa kami tidak merasa ragu? Sebelumnya kamu selalu membicarakan Eva tanpa mengenalkan Kiana." Jonathan berujar.


"Hubungan kami masih baru. Dan aku takut jika terlalu di umbar justru tidak akan berhasil." Pria itu menjawab dengan santai seperti biasa.


"Berhasil atau tidak, itu tergantung dari diri kamu sendiri. Selama apapun kalian menjalin hubungan, serapat apapun kamu menyembunyikannya, tetap tidak akan berhasil jika kamu tidak pernah benar-benar membuka hati." Jonathan menasehati.


"Aku sedang mencoba." Sahut Jovian yang berusaha meyakinkan ayahnya.


Dia mulai merasa tidak nyaman ketika hampir semua orang meragukan tindakannya. Termasuk Kiana yang mulai mundur dengan sangat perlahan, karena merasakan hal yang sama.


"Kamu akan benar-benar berakhir ketika Kiana mengetahui ini!" Jonathan merasa tidak percaya.


"Kiana sudah tahu." Dan jawaban itu yang langsung Jovian katakan.


Yang tentu saja membuat Jonathan kehilangan kata-kata lagi untuk berbicara. Dia hanya menatap pria muda di sampingnya sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan perasaan tidak percaya.


"Bagaimana dengan orang tuanya?"


Jovian menatap ayahnya.


"Justru mereka yang meminta aku menikahi Kiana."


"Dan kamu menerimanya begitu saja?" Jonathan sedikit meninggikan intonasi suara.


Jovian menimpali dengan anggukan.


Pria tua itu menghela nafasnya, pandangannya dari Jovian seketika dia alihkan ke arah depan, lalu menyapu wajahnya perlahan.


"Apa yang kamu lakukan, Jovian. Papi tidak pernah mengajarkan kamu mempermainkan hati seorang gadis. Lihat Kiana! Dia begitu polos untuk kamu sakiti seperti ini." Katanya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.


Jonathan benar-benar terlihat kecewa atas sikap putranya. Dan mungkin kekecewaan itu akan semakin bertambah, jika dia mengetahui apa yang Danu janjikan hanya karena membuat Jovian mau menikahi putrinya.


Sebuah saham yang dia dapatkan sampai 10%, dan itu cukup besar untuk sekelas perusahaan batubara yang dipasarkan hingga kancah internasional. Tentu saja, tambang batubara yang Danu kelola sudah berdiri kokoh, dan penghasilannya tidak main-main.


"Awalnya memang aku hanya ingin mencoba, Pih. Tapi sekarang sepertinya aku mulai menyukai dia."


"Tidak. Kau hanya sedang berusaha harus menyukai dia, tidak benar-benar menyukai Kiana." Sergah Jonathan, dia menyangkal ucapan putrnya.


"Kalian tidak mengerti, … sudah aku katakan jika Kiana mulai masuk kedalam hati dan pikiran aku. Mungkin belum sebesar waktu aku mencintai Eva, tapi percayalah perlahan aku akan benar-benar mencintai dia." Cicit Jovian.

__ADS_1


"Dia gadis yang sangat manis, Jo! Jangan pernah membuat Kiana merasa jika dirinya hanya kamu jadikan sebagai pelarian saja." Jonathan memperingati, dan kali ini dengan ketegasan yang selalu pria itu perlihatkan.


"Aku janji." Balas Jovian dengan nada rendah.


Jonathan bangkit dari duduknya, meraih cangkir dan segera beranjak pergi memasuki rumah, mendekati istrinya yang sedang membuat hidangan pagi bersama seorang wanita yang selalu membantunya di setiap pagi hingga sore hari, lalu pulang setelah semuanya selesai.


Sementara Jovian langsung mematung, karena dia tahu jika ayahnya sedang kecewa saat ini. Dan tidak ada yang bisa dia lakukan, karena sebagian besar yang Jonathan katakan memang benar adanya.


***


Klek!!


Pintu kamar yang saat ini sedang Kiana tempati terbuka. Dan muncullah seorang gadis dengan wajah sembab khas bangun tidur, dengan bando telinga beruang yang berada di atas kepalanya, menahan rambut-rambut agar terlihat sedikit lebih rapih.


Pandangannya meneliti setiap tempat, menatap rumah yang terlihat selalu rapih, dengan jendela dan pintu sudah terbuka, membuat angin pagi terasa semakin berhembus kencang.


Dia berjalan ke arah depan, dan dia menemukan Jovian duduk di kursi kayu, menatap lurus kedepan. Lalu menoleh ketika menyadari keberadaan seseorang yang berdiri di ambang pintu.


"Morning, Om!" Kiana menyapa terlebih dulu, ketika pandangan mereka beradu.


Jovian tersenyum, satu tangannya dia ulurkan, meminta Kiana untuk segera mendekat.


"Kamu sudah bangun?" Pandangannya mengikuti kemana Kiana berjalan.


"Aku nggak bisa tidur lagi. Kaki aku rasanya beku, aneh padahal semalam tidak begitu." Katanya, lalu duduk di kursi yang sempat Jonathan duduk tadi.


"Saya lupa tidak memberitahu ketat laci kaos kaki." Jovian terkekeh. "Mau pakai sekarang? Siapa tahu kaki kamu masih terasa beku!"


Kiana tersenyum.


"Nggak usah."


"Yakin? Apa kamu juga mau minum sesuatu?"


Lagi-lagi Kiana hanya tersenyum, sembari terus menatap Jovian dengan ekspresi wajah sumringah, berbeda dengan raut wajahnya semalam.


Namun Jovian bangkit dari duduknya.


"Tunggu,saya ambilkan teh manis dulu untuk kamu." Setelah mengatakan itu dia langsung masuk dan berjalan ke arah dapur berada.


Dan setelah menunggu beberapa menit. Akhirnya Jovian kembali, membawa satu cangkir teh manis yang langsung dia letakan diatas meja.


"Minumlah, agar kamu tidak merasa terlalu kedinginan disini." Jovian kembali duduk.


"Terimakasih, Om. Tapi kayanya kebalik, harusnya aku yang siapin teh manis buat Om, … kok malah aku!" Dia tertawa pelan.


"Saya sudah, jadi santai saja."


Kiana mengangguk lagi, dia meraih cangkirnya, meniup-niup beberapa kali, kemudian menyeruput dengan sangat perlahan.


"Disini kalau pagi enak yah! Udaranya masih bersih, langitnya bagus, … banyak suara ayam, burung sama jangkrik." Kiana kembali meletakan cangkirnya di atas meja.


Mereka kembali saling menatap, memindai satu sama lain kemudian tersenyum.


"Itu sebabnya saya tidak pernah pulang kampung. Karena sekali saja kamu menapakan kaki di kampung halamanmu, maka kamu tidak akan pernah bisa pergi dengan waktu yang cepat." Jovian berujar.


Raut wajahnya terlihat sangat berbeda, bahkan senyuman kini terus mendominasi wajah pria itu.


"Om lahir disini?" Kiana menatap kekasih hatinya lekat-lekat.


Bahkan Jovian terlihat sangat tampan, hanya karena mengenakan Hoodie dan celana training serba hitam.


"Tidak. Saya lahir di Nederland, besar dan sekolah disana sampai SMP. SMA saya pulang, dan melanjutkan pendidikan disini."


Kiana mengangguk-anggukan kepala, mendengarkan Jovian bercerita, sembari menikmati teh manis hangatnya.


"Om jago IT, kan yah? Apa itu bisa jadi Bodyguard juga? Setahu aku bukannya harus menempuh pendidikan militer yah? Atau semacamnya kaya Om Denis juga kan begitu. Eh apa Om jadi Bodyguard lewat jalur Om Denis?"

__ADS_1


Jovian tidak langsung menjawab, dia hanya diam sambil menatap wajah tanpa make-up dengan bando menggemaskan milik gadis yang duduk di sampingnya. Tubuh yang mungil, jemari yang lentik, kulit putih bersih, rambut pendek kecoklatan. Sekilas Kiana terlihat seperti anak sekolah menengah atas, bukan gadis dewasa yang sudah hampir menyelesaikan kuliahnya.


"Saya juga sekolah militer. Sempat mau Paspampres juga, …"


"Apa!?" Mata Kiana membulat sempurna. "Pasukan pengaman presiden?" Kiana hampir saja berteriak, tapi dia segera menguasai diri.


Jovian mengangguk.


"Keren."


"Tapi setelah itu saya bekerja pada orang lain sekitar 3 tahun, menikah, dan mengundurkan diri, … berdiam di dalam apartemen hampir setiap hari, seperti orang yang tidak berguna hanya karena patah hati." Jovian terkekeh getir.


"Tapi setelah itu Denis menemui saya, menawarkan sebuah pekerjaan. Tapi saya merasa sedikit aneh, menjadi ajudan pribadi dari putri seorang pengusaha ternyata tidak memerlukan senjata api. Tidak seperti saat saya menjaga beberapa petinggi di negeri ini, setidaknya ada satu yang selalu saya bawa hanya untuk berjaga-jaga."


Gadis itu terus menatap Jovian tanpa merasa bosan. Mendengarkan dia bercerita sepertinya hal yang sangat menyenangkan bagi Kiana, karena mungkin setelah ini keduanya akan semakin dekat, karena Jovian sudah mulai terbuka, dan memberitahukan siapa dia sebenarnya.


"Om menyesal pernah mengundurkan diri? Lalu bekerja sama Papa?"


"Untuk yang pertama, ya. Karena saya begitu bodoh, telah melepaskan itu semua, padahal itu pekerjaan yang saya mau, … tapi untuk pertanyaan kedua, seperti tidak. Karena saya mendapatkan hal yang lebih luar biasa."


"Apa? Gaji yang lebih besar?"


"Salah satunya iya, tapi intinya bukan itu." Jovian menatap Kiana dengan senyuman tertahan.


"Terus?"


Kiana yang mulai menyadari pun tampak tersenyum, dengan ekspresi malu-malu. Bahkan kedua pipinya terlihat merona, persis seperti tomat yang sudah sangat matang.


"Saya bisa menikahi putrinya. Tanpa harus bersusah payah melakukan banyak hal! Kamu tahu? Menikahi putri seorang pengusaha itu harus ada kesetaraan, apalagi pengusaha batubara seperti Papamu!" Jovian mengingat perjuangannya dulu, ketika hendak menikahi Eva yang tidak lain adalah putri dari pengusaha juga.


Kiana tak lagi mampu berkata-kata. Isi kepalanya tiba-tiba terasa kosong, karena debaran di dada yang terus meningkat.


"Kia?"


"Hum?"


"Kamu sudah tidak marah? Sekali lagi saya minta maaf atas apa yang aku lakukan. Mungkin seharusnya saya tidak menerima ajakan dia untuk makan bersama, atau sedikit memberi jarak sampai Eva tidak bisa berbuat lebih jauh lagi seperti kemarin." Tatapannya tiba-tiba menjadi sendu.


Kiana menggelengkan kepala.


"Kayaknya memang aku yang berlebihan. Om sama Tante Eva nggak salah, … pikiran aku aja nggak beres sampai bisa mikir yang nggak-nggak."


Jovian tersenyum.


"Kemarilah!" Dia meraih tangan Kiana, kemudian menariknya perlahan, sampai membuat gadis itu bangkit, dan berjalan mendekatinya.


"Om!" Suaranya memekik, ketika Jovian tiba-tiba saja memeluk pinggangnya, dan menempelkan wajah di perut.


"Jangan pernah katakan kita tidak akan pernah berhasil. Jangan pernah katakan juga kalau apa yang sedang kita coba adalah sia-sia. Cukup satu orang yang bisa pergi dari hidup saya, … cukup Eva! Tidak dengan kamu Kiana."


Gadis itu diam, menundukan kepala, lalu mengedarkan pandangan ke setiap arah.


"Om nanti ada orang yang melihat kita. Malu!"


"Paling hanya Mami dan Papi, … atau tetangga sini. Jadi biarkan saja."


"Malu Om!" Kiana celingukan, seraya berusaha melepaskan diri dari lilitan tangan Jovian.


Dan setelah terus berusaha, akhirnya Jovian melepaskan Kiana, membiarkan gadis itu kembali duduk di kursi semula.


"Mau jalan-jalan?" Tanyanya kemudian.


"Kemana? Masih pagi, matahari juga baru muncul."


"Lihat kebun teh." Jovian segera bangkit, lalu mengulurkan tangannya. "Cepatlah, jika sudah melihat pemandangan di atas, saya di jamin kamu betah dan tidak akan mau cepat pulang." Dia menggerakkan jemari tangannya.


Kiana mengangguk, dia menghabiskan sisa teh manisnya yang sudah dingin lebih dulu, bangkita kemudian beranjak pergi setelah dia menerima uluran tangan kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2