
"Jo? Boleh aku bertanya?"
Jovian tidak menjawab, dia hanya terus menatap wajah Eva dengan perasaan kesal.
"Bagaimana dengan acara resepsinya? Apa gagal karena aku? Karena kejadian kemarin? Aku …"
"Berhentilah membual!" Geram Jovian, suaranya terdengar begitu rendah, dengan raut wajah yang terlihat semakin menyeramkan.
Eva bungkam.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" Tegas Jovian.
Eva mengedarkan pandangan, dengan senyum gugupnya.
"Maksudmu apa? Aku tidak mengerti?"
"Kau memata-matai aku dan Kiana? Dan merencanakan banyak hal gila?" Katanya tanpa banyak basa-basi.
Eva menggelengkan kepala.
"Apa yang kau inginkan? Sampai kau datang dan membuat semuanya berantakan, padahal aku tidak pernah mengusik hidupmu, tapi kenapa kau mengusik hidupku! Apa yang kau lakukan itu sungguh sudah sangat keterlaluan, Eva! Kau membuat Kiana pergi dan berniat menceraikan ku!"
Wanita itu terus diam. Sampai akhirnya Denis datang, dengan membawa Hilmi bersamanya, yang seketika membuat Eva tidak lagi bisa melakukan apapun.
"Adline menjebakku!" Gumam Eva.
"Tidak. Kami hanya sedang ingin menegakkan kebenaran!" Sergah Denis.
Dia menarik kursi yang sempat diduduki Javier, kemudian duduk disana, di susul Hilmi setelahnya.
Eva meraih tasnya dengan segera, dia hampir saja pergi jika saja Jovian tidak meraih pergelangan tangannya, dan menarik wanita itu kembali dengan bibir yang terlihat meringis.
"Sakit!" Dia berusaha melepaskan diri.
"Kau mengenali dia?" Tanya Jovian, dia semakin mengencangkan cengkeramannya.
"Lepas!" Kata Eva. "Mas? Mbak? Tolong saya?" Kata Eva.
Nahas, tidak ada satupun pekerja yang datang untuk menolong. Bahkan mereka tidak terlihat menampakan batang hidungnya sedikitpun.
"Siapa? Mereka? Aku sudah meminta mereka untuk diam. Kau lupa Eva? Aku ini siapa? Dan sebesar apa kekuasaan ayah mertuaku? Menangkap manusia licik sepertimu mudah saja, aku hanya perlu menggunakan banyak uang, dan semuanya selesai!" Kata Jovian.
"Kalian menjebakku!" Wanita itu berteriak lagi. "Denis? Kenapa kau melakukan ini? Aku tidak ada urusan denganmu?"
Denis menatap Eva, kemudian terkekeh geli sambil melipat kedua tangannya di atas dada.
"Akhiri saja, Eva! Apa yang kau lakukan itu hanya sia-sia. Entah bersama Kiana, atau pun tidak. Jovian tidak akan pernah kembali kepadamu!" Denis dengan seringai khasnya.
"Dan untuk soal urusan. Sepertinya ada, karena kau sudah mengganggu gadis yang sudah lama aku jaga. Jadi sudah jelas itu urusanku juga!"
Dan itu membuat Eva semakin geram. Dia terus bergerak-gerak berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Jovian.
"Om? Tatonya ada?" Dengan polosnya Hilmi bertanya.
__ADS_1
"Menurutmu bagaimana? Saya tidak akan menyentuhnya atau menahan dia pergi jika dia bukan pelakunya."
"Sudahlah, Eva! Kau membuat dirimu kesulitan oleh tindakan bodohmu ini!" Ujar Denis lagi.
"Hemmm, … Tante pasti ingat aku kan? Aku yang Tante suruh simpan foto Kiana di kampus. Aku ingat ada tato kecil di belakang telinga waktu itu!"
"Tidak, aku tidak kenal kau!" Eva mengelak.
"Jujur saja Tante. Atau ruangan gelap yang akan dipilih setelah ini!" Ucap Hilmi sambil bergidik ngeri, mengingat dia juga pernah berada di dalam sana.
Eva terus meronta-ronta.
"Masih tidak mau mengakuinya?" Geram Jovian.
"Baiklah Denis, siapkan mobil kita bawa dia ke markas. Dan kurung sampai dia mati disana!"
Mata Eva membulat, perasaannya terhenyak saat mendengar ucapan dari mantan suaminya. Tentu saja, dia tahu betul apa yang Jovian katakan tidak pernah main-main.
"Aku tidak peduli berapa tahun aku akan mendekap di penjara. Hanya saja membuat kau enyah dari dunia ini sudah membuat aku merasa lega, … karena apa yang kau lakukan harus dibayar dengan hal setimpal. Foto itu, mengikutiku sampai ke Pangalengan, bahkan kau pergi lebih dulu kesana hanya untuk mendapatkan kembali hati kedua orang tuaku. Lalu malam itu! Kau membuat skenario yang sangat menjijikan."
Denis keluar dari tempat itu lebih dulu, di susul Hilmi, kemudian Jovian yang segera menyeret Eva keluar dari tempat yang telah dia sewa hanya untuk mengetahui kebusukan dari mantan istrinya.
"Tidak Jovian jangan lakukan ini! Ingat bahwa aku pernah menjadi wanita yang paling berharga dalam hidupmu!" Katanya, sambil terus berusaha melepaskan genggaman tangan Jovian.
Namun, Jovian tidak menjawab. Dia terus menarik Eva dengan kasar, sampai kedua sepatunya terlepas begitu saja.
"Jovian!"
Sebuah mobil Pajero hitam pekat terlihat melaju dengan lambat, lalu berhenti di dekat Eva juga Jovian yang masih terlibat tarik menarik.
"Tidak Jovian, aku mohon!"
"Sudah aku katakan, aku mengetahui akan setiap rencana busukmu. Jadi sebelum kau melakukan itu lebih jauh lagi, sebaiknya aku membuat kau mati lebih dulu!"
Jovian menarik handle pintu mobil, dan membukanya.
"Baiklah. Maafkan aku!" Dan ucapan itu keluar dari mulut Eva.
Namun Jovian terus menarik pergelangan tangan Eva, berusaha membuat wanita itu masuk. Sementara Eva terus bertahan dengan isak tangis yang mulai terdengar.
"Baiklah maafkan aku! Aku memang melakukan semuanya, tapi biarkan aku hidup, dan menebus segala kesalahanku, aku janji akan hidup lebih baik lagi."
Jovian diam.
"Kenapa kau melakukan itu? Kiana tidak tahu apa-apa, tapi kau menyeret dia kedalam masalah kita. Oh tidak, masalah yang kau buat sendiri, karena menurutku antara aku dan kau sudah tidak ada lagi urusan apa-apa." Kata Jovian tanpa melepaskan Eva sedikitpun.
Eva menangis pelan.
"Aku menyesal, Jo!"
"Kau tahu? Apa yang kau lakukan itu benar-benar berakibat tidak baik pada pernikahan kami? Semua acara yang sudah dijadwalkan terbengkalai begitu saja. Dan itu karena kau!"
"Aku hanya tidak bisa menerima, jika kamu sudah menemukan cintamu lagi! Aku terkejut, awalnya kau tetap sendiri, seolah masih mengharapkanku, tapi tiba-tiba saja Kiana hadir, dan dia mulai mengalihkan pikiranmu dariku."
__ADS_1
Mendengar itu Jovian tertawa getir.
"Kau yang membuangku, kau yang pergi, dan kau pula yang membuat semua keputusan itu! Lalu apa salah jika aku menerima seseorang yang mungkin saja akan menyembuhkan luka yang aku derita? Dimana akal sehatmu, Eva? Kau pergi, tapi kau berharap aku terus mengejarmu. Memangnya kau ini siapa? Apa yang sudah kau korbankan untukku? Kau sudah mendapatkan semuanya! Rumah, uang, kendaraan. Lalu apa lagi? Jadi pergilah tanpa harus mengganggu hidupku lagi!" Jovian berteriak kencang.
Amarahnya sudah tidak bisa dia bendung. Apalagi saat dirinya teringat kepada Kiana, yang saat ini sedang menciptakan dinding pembatas agar mereka benar-benar tidak bertemu atau melakukan interaksi satu sama lain seperti biasanya.
"Maaf!"
"Aku ingin sekali memasukannya kedalam penjara. Tapi itu hanya akan sia-sia saja, ayahmu tidak akan tinggal diam, mereka akan kembali menyakiti perasaan orang tuaku dengan mengatakan banyak hal buruk. Ayahmu boleh saja membenciku, berbicara apa saja, tapi tidak dengan mereka! Mereka tidak pantas mendapatkan itu! Pikir saja, … apa menurutmu pantas ayahmu melakukannya? Sementara orang tuaku memperlakukanmu dengan sangat baik? Berhentilah Eva, kau sudah menyakiti banyak manusia!"
"Aku tahu, aku minta maaf!"
Jovian menghempaskan tangan Eva dengan sangat kencang, sampai membuat tubuh Eva sedikit terguncang.
"Jika kau tidak bisa berbuat baik untuk aku, atau untuk dirimu sendiri. Maka lakukan itu untuk kedua orang tuaku, ingatlah betapa lembutnya mereka memperlakukanmu."
Eva menunduk.
Jovian menyapu wajahnya kencang, lalu meremat rambut dan berteriak frustasi. Dia sangat ingin menghancurkan Eva, sebagaimana dia telah menghancurkan perasaan Kiana terhadapnya. Namun dia tidak bisa, ada banyak hal yang harus di pertimbangkan sampai dirinya tidak dapat bertindak gegabah.
"Maafkan aku." Kata Eva lagi sambil terus menangis.
Sementara dua orang di dalam mobil diam menunggu.
"Pergilah! Jangan pernah menampakkan diri di hadapan keluargaku. Atau aku akan melakukan sesuatu yang akan membuat kamu menyesal dalam seumur hidup."
Eva diam menatap wajah Jovian.
"Aku sangat ingin membunuhmu. Tapi aku manusia yang mempunyai akal. Aku suami Kiana, dimana gadis itu tidak pernah memintaku melakukan hal buruk, jadi pergilah."
Wanita itu mengusap kedua pipinya yang basah.
"Maaf karena sudah membuat kamu kecewa."
"Pergilah, jangan pernah menemui siapapun lagi. Entah itu Adline, Sita, atau siapapun dengan alasan apapun. Aku melarangmu, atau aku akan benar-benar membunuhmu dan membuang jasadmu sampai tidak bisa di temukan oleh siapapun. Ingat Eva, aku juga manusia biasa, aku memiliki amarah, aku memiliki dendam, dan aku memiliki sosok iblis di dalam diriku."
Eva mengangguk, kemudian dia bergegas pergi, meninggalkan tempat itu dan sepatunya begitu saja.
Lagi-lagi Jovian mengusap wajahnya dengan kencang. Lalu memejamkan mata, menarik dan menghembuskan nafas beberapa kali, berusaha membuat dirinya tenang seperti semula. Dimana Kiana selalu ada bersama dirinya, meskipun dia tahu betul, jika saat ini Kiana sedang berada jauh disana, menghadap Tuhan dan mengadukan rasa sedih yang dia alami.
"Nggak apa-apa, Om. Tidak semua kejahatan harus dibalas dengan kejahatan. Lihat Kiana, kami selalu memperlakukannya dengan tidak baik, tapi dia selalu membalasnya dengan sesuatu yang tidak kami duga."
Jovian menghe nafasnya.
"Denis, antarkan anak ini pulang. Dan temui aku di apartemen setelah ini!"
Jovian menutup pintu mobil tersebut, lalu dia beralih pada mobil miliknya.
"Apa aku harus menyusulmu, hum? Rasanya aku sudah tidak bisa menahan rasa rindu ini lagi. Kamu terlalu lama menghukumku, sayang!" Jovian bermonolog.
......................
Cuyung kalian ♥️🍅
__ADS_1