
Klek!!
Jovian mendorong pintu apartemennya, kemudian melangkah masuk ke dalam.
"Nah ini dia. Kita repot disini menyiapkan segala macam, tapi yang punya acara malah baru datang!" Sindir Leni.
Wanita itu terlihat menata beberapa kue yang baru saja di belinya, untuk dia jadikan sebagai buah tangan. Pada kunjungan malam hari ini ke kediaman Kiana, calon istri dari putra keduanya.
"Tadi bawa Kiana ke butik dulu, Mam." Jawab Jovian sembari terus melangkahkan kakinya ke arah salah satu pintu ruangan yang terbuka lebar.
"Cepat siap-siap. Javier sampai disini itu tandanya kita harus segera berangkat." Wanita itu terus mengomel.
"Jamuan makan malamnya kan jam delapan malam. Kenapa kalian ini sangat terburu-buru!"
"Kamu ini linglung atau bagaimana? Periksakan jam di arlojimu jika masih mengira sekarang jam lima sore."
Jovian tidak menjawab lagi. Karena itu akan percuma saja, atau bahkan membuat kekesalan sang ibu semakin bertambah. Dia duduk di tepi ranjang, kemudian menatap jam yang menggantung di dinding kamarnya.
19.15 WIB.
"Astaga!" Pria itu seketika bangkit, kemudian menghambur masuk ke dalam pintu kamar mandi.
***
Suasana di rumah besar milik Danu tampak sedikit berbeda. Lampu-lampu menyala terang benderang hpir si setiap tempat. Sementara di sudut lain rumah, sebuah meja prasmanan terlihat berjejer rapih, yang didalamnya terdapat berbagai macam jenis lauk.
Ada dua mangkuk besar yang dijadikan sebagai tempat sup daging, sementara satu mangkuknya lagi berisikan kuah soto berwarna kuning, lengkap dengan mie bihun, suwiran ayam, irisan tomat dan bahan-bahan pelengkap lainnya.
Juga jangan lupakan berbagai macam jenis minuman, dari yang panas sampai yang dingin. Potongan buah-buahan, puding yang di tata tapi. Sekilas membuat hunian itu seperti hotel yang memberikan banyak jamuan di dalamnya.
"Bagaimana? Semuanya sudah siap? Sebentar lagi tamu kita akan tiba?" Herlin terus memantau kinerja para asisten rumahnya, yang dibantu petugas catering.
"Sudah, Bu."
__ADS_1
"Baiklah. Sara serahkan semuanya kepadamu. Periksakan apa yang kurang, atau apa yang harus dilengkapi, … saya lihat Kiana dan Papanya dulu."
Setelah mengatakan itu Herlin segera beranjak menaiki setiap anak tangga, untuk menuju lantai 2 rumah besarnya.
"Kamu sudah selesai?"
Langkah Herlin terhenti sebelum dirinya meraih handle pintu, karena Danu keluar dari dalam sana sebelum dirinya benar-benar masuk.
"Sudah." Danu mengangguk-anggukan kepala.
"Kalau begitu segeralah kebawah, aku mau periksakan Kiana dulu."
"Ya sudah. Pastikan keadaan dia pantas untuk malam ini! Yang kita temui itu keluarga calon suaminya." Tukas Danu.
Herlin mengangguk, wanita itu berbalik badan untuk mendekati pintu kamar yang tepat berada di dekat tangga. Lalu mengetuknya beberapa kali, sampai akhirnya benda itu terbuka dari arah dalam.
Semerbak harum langsung menyapa indra penciuman Herlin. Dengan keadaan Kiana yang juga terlihat sudah sangat siap. Kemeja putih polos lengan panjang, dipadukan dengan celana kulot berwarna hitam. Tak lupa rambut dengan tatanan rambutnya, dimana sebuah jepit menempel kokoh di belakang, menyatukan kedua ujung rambut dari sisi kiri dan kanan, sehingga membuat gadis itu benar-benar terlihat sangat memukau malam ini. Apalagi dengan riasan wajah yang terlihat sedikit mencokok di bagian bibir, memberikan kesan dewasa pada gadis itu pada malam hari ini.
"Kamu sudah siap sayang?" Herlin masuk, berjalan mengikuti Kiana dari belakang.
"Tolong pakaikan ya, Ma!" Pintanya sambil tersenyum manis.
Tentu saja Herlin mengulum senyum. Dia meraih sebuah kalung dengan liontin berwarna merah dan berbentuk bulat, yang dia dia ketahui sebagai hadiah dari suaminya, Danu. Ketika gadis itu menginjak usia dewasa.
Ibu dan anak itu saling menatap dari arah pantulan cermin, saling tersenyum. Namun raut wajah Herlin sedikit berbeda, tiba-tiba saja tatapan Herlin menjadi sendu, dengan mata yang berkaca-kaca.
"Rasanya baru kemarin kamu Mama lahirkan. Lalu bisa merangkak, belajar berjalan. Setelah itu masuk TK, SD, SMP, SMA. Dan sampailah pada waktu dimana kamu akan benar-benar bertanggung jawab dengan hidupmu sendiri." Suaranya bergetar.
Lalu dia menepuk pundak Kiana setelah selesai memasangkan pengait kalung. Membuat Kiana segera berbalik, dan menatap wajah ibunya.
"Aku hanya akan menikah setelah ini. Bukan pergi jauh sampai tidak dapat Mama dan Papa temui."
Tangannya bergerak, menyentuh kedua pipi Herlin, dan mengusap air matanya dengan lembut menggunakan ibu jari.
__ADS_1
"Jangan menangis. Bukankah kalian menjadi lebih tenang? Karena sekarang aku benar-benar menjalani hidup ini dengan baik? Tidak seperti dulu yang hanya sibuk bersama mereka yang membawa aku ke dalam sebuah lingkaran pergaulan bebas?"
Helin tersenyum, kemudian mengangguk.
"Kalian selalu mengarahkan aku kepada hal yang baik. Tapi justru aku mendapatkan hal-hal buruk dari lingkungan pertemanan. Aku membuat masyarakat resah karena aku melakukan balap liar, yang menjanjikan sejumlah uang, lalu masuk sebuah hiburan malam, dan mulai mencicipi minuman-minuman memabukan. Bahkan aku hampir terjeret sebuah kasus penyalahgunaan obat-obatan terlarang."
Dua wanita berbeda usia itu saling menatap. Menyelami netra masing-masing, dimana terlihat sebuah kilatan masa lalu yang menjadikan sebuah rasa sesak yang teramat sangat.
"Maaf karena aku justru tidak bisa menjadi anak yang kalian inginkan. Seharusnya dari dulu aku menjauhi itu semua, bukan karena aku merasa takut dengan ancaman Om Jovian."
Herlin terkekeh.
"Tapi memang jalan hidup kita sudah ada yang atur. Bayangkan jika kamu tidak melakukan itu semua? Papa tidak akan meminta Denis mencarikan seorang Bodyguard. Dan kalian tidak akan sampai di titik sekarang!"
Kiana mengangguk.
"Mungkin jika tidak. Om Jovian masih bahagia dengan pernikahannya, … atau kalaupun memang berpisah seperti sekarang. Mereka pasti akan kembali! Mama tahu? Aku sempat bertemu dengan mantan istri Om Jovian, bahkan dia membawa sebuah kabar dan meminta rujuk. Tapi bagusnya kemarin Om Jovian menolak, … kalau tidak malam ini tidak akan pernah terjadi." Kiana tertawa pelan.
Namun tentu saja dengan perasaan berdebar, dengan rasa ketakutan yang sangat besar.
"Jangan mengotori pikiranmu dengan hal-hal semacam itu. Fokuslah kepada hubungan kalian saat ini, … atau kalau tidak kamu akan selalu mempunyai sisi pandangan buruk terhadap Jovian, dan itu akan membuat kalian bertengkar tanpa sebab.
Kiana mengangguk.
Tok tok tok!!
Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali. Membuat Kiana dan Herlin segera menoleh ke arah suara terdengar.
"Kenapa Mbak?" Tanya Herlin saat Ipah berada disana, berdiri di ambang pintu dengan raut canggung.
"Itu, … Pak Jovian dan rombongan sudah ada di bawah." Kata Ipah, yang langsung dijawab Herlin juga Kiana dengan anggukan.
......................
__ADS_1
...Jangan lupak, like, komen, hadiah dan Vote!!...