Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Rencana


__ADS_3

Hari yang sama di tempat lain. Tepat pukul 16.00 sore hari waktu Indonesia bagian barat.


Dering notifikasi handphone berbunyi nyaring. Membuat sang pemilik segera menghampiri benda pipih itu yang diletakkan diatas meja kaca ruang tv.


Kedua sudut bibir Leni tertarik berlawanan, membentuk sebuah senyuman lebar, saat mendapati nomor dari menanti pertamanya berusaha menyambungkan panggilan Video. Dengan segera Leni menggeser tombol hijau, dan wajah sang cucu segera memenuhi layar ponsel.


"Amih?" Anak kecil berparas tampan itu berteriak dengan senyuman manis yang Axel perlihatkan.


"Iya, Axel?" Sahut Leni sembari memberikan senyuman yang tidak kalah manisnya.


Axel terlihat meletakan handphone, membuatnya tersandar pada vas bunga, kemudian dia mundur beberapa langkah, untuk memperlihatkan apa yang sedang dia pakaian. Yaitu sepasang seragam sekolah yang Axel kenakan.


Dan tidak lama setelah itu Adline terlihat mendekat, kemudian duduk tepat di kursi yang sempat Axel tempati, sampai perempuan itu menghalangi Axel yang sedang menunjukan sesuatu kepada sang Nenek.


"Halo Mih? Sedang apa? Bagaimana kabar Mami dan Papi?" Sang menantu segera bertanya.


"Mam!" Axel menjerit.


"Kami sehat. Mami baru selesai masak untuk nanti makan malam. Kalau Papi sedang di saung kebun belakang, … tadi ada Mang Adang datang, biasalah bahas jual beli tanah, atau mungkin membahas kebun teh yang sekarang sudah Jovian pegang." Jelas Leni.


Adline mengangguk.


"Mama? Aku lagi kasih tau Amih kalau aku pulang sekolah." Axel mendekat, kemudian dia mengomel kepada ibunya.


"Oh ya? Kirain Mama kamu iseng." Adline menjawab.


Sementara Leni hanya terus tersenyum melihat itu.


"No!"


"Baiklah. Amih? Lihat, Axel baru pulang sekolah, hari ini pintar karena tidak menangis dan meminta pulang." Adline menjelaskan, membuat Axel yang tadinya cemberut segera menyunggingkan senyumnya.


"Ah pintar sekali cucu Amih."


Axel semakin melebarkan senyumannya.


"Kalian baik-baik saja disana?" Leni bertanya kepada menantunya.


"Sangat baik. Mami tidak lihat? Aku naik dua kilo bulan ini, nggak tau kenapa padahal pola makan aku normal."


Leni tersenyum.


"Biarkan saja, itu tandanya kamu senang hidup bersama Javier." Katanya. "Oh iya, dia di toko sekarang?"


"Iya, tadi ada banyak barang turun. Jadi tidak bisa jemput Axel."


"Amih, Amih! Bulan depan kan Axel ulang tahun, kalau mau di rayakan di sana boleh?"


Setelah mengatakan itu Axel segera menoleh kepada ibunya.


"Sekalian ke rumah Nenek sama Kakek." Lanjut Axel.


"Baru beberapa hari masuk sekolah, masa sudah ambil cuti. Padahal belum waktunya!" Kata Adline seraya menatap Axel lekat-lekat.


"Semalam aku bilang Papa, … katanya boleh kok. Papa bilang nanti kita pulang ke Pangalengan, … memangnya Mama tidak rindu Kakek sama Nenek? Padahal waktu itu kita cuma mampir sebentar kesana?"


"Datanglah, sekarang kita kalau berkumpul banyakan. Ada Uncle Jo, Aunty Kia, … terus jika berhasil nanti Axel akan punya adik." Jelas Leni.


Seketika anak itu terdiam. Dia masih tidak mengerti kenapa sekarang semuanya terus berubah-ubah. Yang dia tahu awalnya sang paman selalu hidup bersama dengan seorang yang dia panggil Tante Eva, bahkan keduanya seperti tidak terpisahkan sama sekali, lalu setelah itu pamannya menjadi hidup sendiri, dan sekarang Axel dibuat semakin tidak mengerti, mengapa bisa sosok perempuan lain masuk ke dalam hidup dari paman kesayangannya.


"Amih? Aunty itu siapa?" Dengan polosnya Axel bertanya.


Leni diam, dia berusaha mencari jawaban yang pas untuk cucunya.

__ADS_1


"Mungkin nanti akan mengerti sendiri, Mih. Sudah berapa kali Axel bertanya kepada Javier, dan kami selalu berusaha menjelaskan dengan baik. Namun tetap saja dia tidak mengerti kenapa Aunty nya berubah menjadi Kiana, dan kenapa tidak Eva lagi." Jelas Adline.


"Begitu yah?" Ujar Leni sambil tersenyum tipis.


"Hemmm, … dia benar-benar belum bisa di kasih tau tentang keadaan Jovian dan Eva. Kalau diteruskan, nanti pertanyaan yang dia buat terus berputar-putar." Kata Adline.


"Ya sudah. Amih tutup dulu teleponnya ya, mau panggil Apih, … Axel jangan lupa makan terus bobo siang ya, Cu! Sekolahnya yang pinter, salam buat Papa yah! Baik-baik disana!" Pamit Leni seraya melambaikan tangan.


Axel mengangguk, kemudian anak itu melambai-lambaikan tangannya ke arah kamera.


"Amih sehat-sehat ya. Nanti Axel minta Papa buat pulang kesana, see you."


"Dadah!"


Dan setelah itu sambungan telepon pun terputus. Lalu Leni letakan kembali handphonenya di atas meja, dan beranjak pergi mendekati pintu belakang yang terbuka lebar.


"Ih, baru mau panggil!" Ucap Leni saat melihat suaminya tengah menaiki setiap anak tangga.


"Kenapa di panggil-panggil? Kaya sama anak kecil saja!"


"Ya mau panggil aja, tadi Axel telepon. Dia baru saja pulang! Masih pakai seragam sekolah TK, anak itu sangat menggemaskan persis seperti Javier waktu kecil."


Jonathan berjalan melewati istrinya, terus masuk ke dalam, dan duduk di kursi meja makan. Dimana terdapat beberapa macam olahan disana yang masih menimbulkan kepulan asap berbau lezat.


"Duduklah, ada banyak hal yang harus kita bicarakan." Pinta Jonathan.


Dia bahkan menggeser kursi meja makan, kemudian menepuk-nepuk benda itu, meminta Leni untuk segera mendekat.


"Apa? Mau membeli tanah lagi?" Leni menerka-nerka, lalu tertawa pelan sambil berjalan mendekati suaminya, dan duduk tepat di kursi samping Jonathan.


"Membeli tanah dimana? Memangnya ada yang jual?"


"Entah. Ya siapa tau Mang Adang datang mau ngasih tau ada tanah yang mau di jual, dan menawarkan tempat itu sama Papi."


"Kami hanya membicarakan perkembangan kebun teh setelah Jovian yang mengawasi. Upah para pekerja yang dia naikan berpengaruh sangat bagus, dan sepertinya Jovian lebih mengerti apa yang para pekerja inginkan." Jelas Jonathan.


Leni mengangguk.


"Terus, apa yang mau Papi bicarakan? Apa serius? Tentang pernikahan Jovian nanti?"


"Bukan. Tapi mungkin saja bersangkutan dengan itu, karena ini tentang masa depan anak dan menantu kita." Kata Jonathan.


Leni tidak menjawab lagi, dia memutuskan untuk mendengarkan apa yang akan Jonathan sampaikan.


"Kita masih punya sedikit ruang kosong. Entah itu di bagian kebun belakang, atau tanah yang tersisa di depan rumah. Niat Papi mau membuatkan mereka rumah disini, bagaimana? Apa Mami setuju kalau sedikit lahan perkebunan di ambil. Bisa kita buatkan rumah untuk Jovian dan Javier." Jonathan mengutarakan keinginannya.


"Memangnya mereka mau?"


"Mungkin. Mereka akan butuh ruang pribadi jika pulang kesini, … jadi sepertinya ide untuk membuatkan mereka rumah cukup bagus. Mengingat saat ini Jovian hanya memiliki satu unit apartemen yang tidak cukup luas, mereka akan membutuhkan ruang yang cukup besar setelah memiliki anak nanti." Jonathan berujar.


Wanita itu memperhatikan wajah suaminya dengan seksama. Sembari mendengarkan apa yang Jonathan ingin lakukan untuk kedua anaknya yang sudah berkeluarga, dan sepertinya ide itu memang bagus. Namun kembali lagi, apa Kiana akan mau di ajak tinggal di area kampung seperti layaknya mereka berdua yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di desa sana. Jauh dari keramaian, dan hingar-bingar kota besar.


"Tapi alangkah lebih baik kita tanyakan dulu kepada Jovian dan Javier. Siapa tau mereka mau membeli rumah dimana mereka tinggal saat ini." Leni memberi sana.


Yang tentunya langsung Jonathan jawab dengan anggukan kepala, karena apa yang istrinya katakan ada benarnya juga.


***


Sore harinya sekitar pukul 17.00 WIB.


Jovian menarik tangan Kiana, saat pintu rumah Denis di buka oleh seorang asisten rumah, dan mereka segera di persilahkan untuk masuk.


"Silahkan duduk." Ucap sang asisten rumah.

__ADS_1


"Terimakasih." Kiana memperlihatkan senyumannya.


"Saya panggil Pak Denis nya dulu."


Dan setelahnya, asisten rumah itu berjalan menjauh, mendekati sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka, lalu kembali keluar dan berjalan memasuki pintu ruangan yang ada di paling belakang.


Tidak lama setelah itu Denis tampak keluar dari ruangan yang sempat dimasuki asisten rumahnya tadi. Dia berjalan mendekat dengan senyuman hangat yang Denis berikan.


"Hey pengantin baru!" Denis melebarkan tangan, membuat Jovian segera mendekat, untuk kemudian saling merangkul.


"Maaf aku baru sempat datang." Kata Jovian sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya.


"Tidak apa-apa. Doa kan saja, semoga setelah ini tidak ada kejadian seperti ini, … rasanya tidak tega melihat Sita yang selalu kuat dan tegar terus menangis dan mengeluhkan rasa sakit yang luar biasa." Kata Denis.


Mereka mengurai pelukannya, menatap satu sama lain kemudian kembali tersenyum. Setelah itu Denis beralih pada perempuan cantik yang berdiri di samping sahabatnya.


"Aku turut berduka cita, Om." Ucap Kiana.


Denis tersenyum.


"Terimakasih, Kia."


Kiana langsung mengangguk.


Tidak lama, seorang perempuan kembali datang. Membawa satu nampan berisikan gelas minuman untuk Kiana dan Jovian yang baru saja tiba.


"Silahkan minumnya." Dia bersimpuh di dekat meja, kemudian meletakan dua gelas Lemon tea, dan satu piring berisikan bolu bakar.


"Terimakasih, padahal tidak usah repot-repot. Kami kesini hanya ingin melihat keadaan Tante Sita." Kata Kiana.


Denis dan sang asisten rumah hanya tersenyum. Kemudian setelahnya perempuan itu segera berlalu, kembali ke arah ruangan yang terletak di bagian belakang.


"Silahkan duduk, dan di minum dulu."


"Tapi aku mau lihat keadaan Tante Sita, Om!" Kiana menatap Denis.


Seorang yang sempat di tugaskan untuk menjaganya.


"Yakin? Tidak mau minum dulu?"


"Nggak, Om. Nanti saja kalau sudah bertemu Tante Sita."


"Baiklah. Kalau begitu ayo kita ke kamar, dia sedang bedrest, dan tidak boleh kelelahan karena masih dalam masa pemulihan."


Denis berbalik badan, berjalan ke arah pintu kamarnya berada. Yang seketika Jovian ikuti, bersama sang istri yang tidak henti menggenggam tangannya.


Klek!!


Pintu ruangan itu Denis dorong sampai terbuka dengan sangat lebar. Dan disanalah Sita, duduk setengah berbaring di atas tempat tidur, bersama Dendi yang juga terlihat berada disana.


"Liha, siapa yang datang!" Denis membiarkan Jovian dan putri dari atasanya masuk.


Membuat Sita dan putranya mengalihkan pandangan ke arah dimana suami dan dua tamunya berada.


"Ya ampun, kita kedatangan pengantin baru!" Senyum di bibir Sita langsung terlihat.


Kiana berjalan mendahului, mendekati tempat tidur, membungkuk dan merangkul tubuh perempuan yang sangat dia kenali.


"Get well soon, Tante. Maaf baru bisa jenguk!" Ucap Kiana kepada wanita itu.


"Tidak apa-apa, sekarang kalian sudah datang." Sita mengusap-usap punggung Kiana.


Kiana melepaskan rangkulan itu, sampai keduanya dapat saling menatap, dan memperlihatkan senyum satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2