Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Sabilulungan


__ADS_3

Suara instrumen suling kecapi khas kota Pasundan, terdengar syahdu mengalun memenuhi setiap sudut area sekitar rumah panggung milik Jonathan. Dimana kursi pelaminan sudah terlihat di hiasi bunga-bunga mawar warna-warni, dan yang mendominasi adalah warna putih.


Tirai-tirai tipis dibiarkan membentang, yang terlihat indah ketika bergerak tak tentu arah, kala semilir angin terus terasa berhembus.


Kursi-kursi sudah berjajar rapi, memenuhi pekarangan rumah depan yang cukup luas. Lalu di sisi lain terdapat satu tempat yang dikhususkan untuk stand makanan. Beberapa orang terlihat sibuk, berjalan kesana dan kemari mengerjakan setiap pekerjaan yang di tugaskan.


Sementara di dalam rumah panggung sana. Kiana tengah duduk menghadap kaca, dengan seseorang yang tengah fokus memoleskan make up pada wajahnya.


"Gimana? Udah nyaman belum Shay?" Seorang perias pria bertanya, setelah berhasil memasangkan bulu mata ada Kiana.


"Udah, … ini lebih nyaman dari pada yang tadi. Yang tadi rasanya berat, makanya aku minta ganti." Jelas Kiana.


Klek!!


Pintu kamarnya terbuka, dan munculah Leni dengan keadaan yang sudah rapi. Kebaya brokat berwarna putih, dengan bawahan kain batik berwarna coklat, tak lupa penutup kepala yang di tata sedemikian rupa, sehingga membuat wanita itu tampak sangat berbeda hari ini.


Kiana menatap ibu mertuanya dari pantulan cermin.


"Dimana Jovian?" Leni bertanya sambil berjalan mendekati menantunya.


Senyuman wanita itu terus terlihat, tampak jelas kebahagiaan yang dia rasakan. Karena setelah sekian lama, kini dirinya dapat kembali menggelar acara yang cukup meriah untuk putra keduanya.


"Sedang mandi. Mami sudah selesai? Cepat sekali?" Kiana bertanya tanpa menoleh, dia hanya mengandalkan cermin di hadapannya untuk melakukan kontak mata.


"Makeup untuk kami tidak akan seperti kamu, Kia. Pengantin itu harus lebih cantik, … dan semuanya harus sempurna. Karena akan menjadi ratu satu hari." Ujar Leni, kemudian ia mendudukan diri di tepi ranjang, seraya menatap kegiatan perias yang terlihat begitu lihainya menuangkan kemampuan seolah terlihat sedang melukis di wajah Kiana.


Klek!!


Handle pintu kamar mandi tampak bergerak.


Dan keluarlah Jovian dari dalam kamar mandi sana, dengan hanya menggunakan bathrobe.


"Dimana bajunya?" Lantas pria itu langsung bertanya.


"Menggantung disana!" Kiana menoleh ke arah pintu, dimana gaunnya juga terlihat menggantung disana.


Jovian mengangguk.


"Mami harus keluar dulu?" Tanyanya, sambil membawa pakaian dengan warna senada.


"Tidak perlu, aku pakai di kamar mandi saja, … Mami bisa diam disini menemani Kiana."


Jovian kembali melenggang masuk ke dalam kamar mandi untuk segera berpakaian, karena hari sudah mulai beranjak siang. Bahkan di luar cahaya matahari sudah terlihat memancar dengan malu-malu.


"Makeup nya sudah beres, shay! Ayo kita. Pakai kebayanya, … jam delapan sudah harus benar-benar siap soalnya." Pria gemulai dengan pakaian feminim itu berbicara kepada Kiana.


Kiana menurut, dia bangkit dari duduknya, sementara sang perias berjalan anggun membawa kebaya brokat berwarna putih, yang menggantung di balik gaun pengantin berwarna biru navy.


"Pakai kainnya jangan terlalu kencang ya? Hamilnya sudah empat bulan." Leni memberi tahu.

__ADS_1


"Sesuai ukuran, Mam. Ini kan sudah berbentuk rok, bukan kain batik yang harus dililit manual seperti dulu." Sang perias berujar.


"Ah iya, Mami lupa jaman sekarang serba praktis, kan yah?!" Katanya.


Kiana menatap ibu dari suaminya, lalu tersenyum seraya berdiri untuk bersiap memakai pakaian yang akan membuat satu momen kenangan seumur hidup.


***


Setelah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya. Kini Kiana sudah benar-benar selesai. Kebaya putih yang begitu terlihat pas di tubuh mungilnya, di padukan dengan kain batik, dan yang membuat Kiana bergitu pangling adalah riasan wajah, juga siger Sunda yang bertengger di atas kepala, yang tentunya tertutup oleh kerudung.


Pun dengan Jovian, pria itu terlihat gagah dengan setelan pakaian adat berwarna senada, dilengkapi kain batik pendek yang melingkar di pinggangnya, sehingga membuat keduanya begitu serasi.


Jovian berdiri di belakang Kiana, dengan Leni yang berusaha membuat penampilannya sempurna. Pandangannya tidak pernah beralih, Jovian terus menatap Kiana yang saat ini berpenampilan sangat berbeda.


Garis alis yang sempurna, riasan mata yang indah, dan semuanya yang ada di Kiana saat ini terlihat sangat sempurna. Perempuan itu tampak sangat memukau, apalagi dengan bulatan di perut bagian bawah yang mulai terlihat.


"Dia menggemaskan." Gumam Jovian, tapi masih bisa di dengar Leni dengan sangat jelas.


Kepala Leni sedikit menengadah, menatap wajah Jovian yang sedang tersenyum-senyum sendiri.


"Dasar genit!" Leni mencubit pipi Jovian.


Membuat pria itu menundukan pandangan, dan mengusap pipinya yang terasa sedikit panas karena ulah sang ibu. Raut wajah berbinar ya tiba-tiba saja berubah, menjadi ekspresi kesal bukan kepalang.


"Selesai, kamu tampan persis seperti tujuh tahun silam." Leni mengusap pundak Jovian, bergerak sampai tangan bagian bawah.


"Sakit tahu, Mam!"


Jovian menghela nafas, lalu memutar kedua matanya.


"Bagaimana? Nyaman? Atau ada yang terasa mengganjal?" Pria di hadapannya memastikan, setelah memakaikan siger Sunda di kepala Kiana, yang saat ini justru terlihat seperti mahkota yang begitu indah.


Kiana mengangguk.


"Sudah nyaman."


"Tidak pusing? Atau merasa sakit telinga?"


"Tidak."


Pria gemulai itu tersenyum bahagia, sambil terus menatap keadaan Kiana, dan memastikan semuanya benar-benar tidak ada yang terlewatkan.


"Makeup sudah, kebaya sudah, siger beres, bunga sedap malam juga selesai. Jadi, … sepertinya kamu sudah siap untuk menemui tamu-tamu undangan! Kamu lebih cantik kalau pakai kerudung, Shay!" Dia memuji, dengan suara yang terdengar mendayu-dayu.


Klek!!


"Apa sudah selesai? Penghulu sudah datang?" Jonathan menyembulkan kepalanya di balik pintu.


Semua orang menoleh ke arah suara terdengar.

__ADS_1


"Sudah." Jawab Leni.


"Lho, kenapa ada penghulu lagi?" Kiana bingung.


"Hanya formalitas, dan untuk dokumentasi saja. Di reka ulang agar lebih afdol." Jovian menjelaskan.


Kiana mengangguk.


"Ya sudah, ayo kita ke bawah sekarang." Pinta Leni.


Lalu dia menggiring anak dan menantunya keluar dari dalam sana. Yang segera di sambut Danu juga Herlin yang tengah menunggu di sofa ruang tengah.  


"Oh putriku!" Herlin mendekat, menyentuh wajah Kiana, seraya memindai wajah cantik itu penuh ke kaguman.


"Mama cantik kalau pakai kerudung!" Kiana tersenyum.


"Cocok?" Herlin bertanya. "Kamu juga sangat cantik, Kia!"


Kiana mengangguk.


"Sudah Papa bilang, setelah ini di lanjutkan saja." Danu ikut berbicara.


"Pelan-pelan Papa, tidak bisa sekaligus!" Sergah Herlin.


"Baiklah, ayo kita ke bawah. Penghulu sudah datang, dan acara akan benar-benar di mulai." Ajak Jonathan.


Herlin juga Danu mengangguk, lalu mereka keluar dari rumah panggung itu bersama-sama.


***


"Ananda Jovian Alton, saya nikahkan engkau, dengan putri kandung saya, Jasmine Kiana Danuarta, dengan mas kawin satu unit mobil Lexus, cincin berlian, dan uang senilai 230.000.000, dibayar tunai!" Danu menghentakan tangannya.


Jovian menarik nafasnya dalam-dalam.


"Saya terima nikah dan kawinnya putri Bapak, Jasmine Kiana Danuarta, dengan mas kawin tersebut, … tunai!" 


Dengan lantang Jovian kembali mengikrarkan janji suci pernikahan bersama Kiana. Di hadapan para orang tua, penghulu, saksi, dan kerabat-kerabat yang datang menghadiri.


Setelah setelah, penghulu segera memimpin doa. Diiringi dengan suara isak tangis dari Leni. Tak hentinya dia mengucapkan syukur, karena Jovian kini sudah benar-benar bahagia dengan keluarga barunya. Bahkan sebentar lagi keluarga kecil mereka akan dikaruniai seorang anak, yang tentu saja sudah Jovian inginkan sejak masih bersama Eva.


Setiap prosesi pernikahan berjalan dengan khidmat dan lancar. Adat Sunda yang begitu kental, membuat Herlin dan Danu merasakan sesuatu yang sangat berbeda.


Para warga kampung mulai berdatangan, datang untuk memenuhi undangan, sehingga membuat area rumah Jonathan terlihat sangat ramai. Bahkan Kiana dan Jovian terus berdiri, menerima setiap uluran tangan, dengan doa yang mereka sertakan.


......................


Jangan lupa mampir ke judul terbaru!!


Cuyung kalian banyak-banyak ♥️

__ADS_1




__ADS_2