Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Hal serius.


__ADS_3

"Ya? Kenapa Jo?"


Seseorang terdengar menyapa terlebih dulu, ketika Jovian melakukan panggilan telepon.


"Ada beberapa hal yang harus Jovian bicarakan dengan Mami dan Papi."


Ucapnya dengan penuh keyakinan. Pasangan Jovian menatap lurus kedepan, dimana sebuah gedung-gedung pencakar langit terlihat jelas melalui kaca kamarnya.


"Apa serius?"


"Iya, ini sangat serius. Jadi hari ini Jovian pulang, mungkin siang atau sore akan sampai disana kalau tidak macet."


Pria itu menjelaskan, dengan pikiran yang tiba-tiba saja tertuju pada sosok gadis yang akhir-akhir ini menjadi prioritasnya, memenuhi pikirannya dan salah satu orang yang melakukan interaksi paling dekat.


Jasmine Kiana Danuarta.


Gadis mungil, berparas cantik, namun selalu mempunyai ekspresi wajah menyebalkan. Tapi tiba-tiba saja semuanya berubah, akhir-akhir ini Kiana bersikap lebih manis, dan cenderung selalu terlihat malu-malu jika mereka sedang bersama.


"Jo? Masih disana?"


Dan panggilan itu membuyarkan lamunan Jovian.


"Ya, … aku masih disini."


"Baiklah, Mami tunggu di rumah. Ingat untuk selalu berhati-hati saat berkendara, jangan memacu mobil tuamu dengan kecepatan tinggi." Wanita itu terdengar tertawa.


"Dia nggak tua, Mam!"


"Dia mobil tua, Jo. Sudah banyak tipe yang sama tapi dengan tampilan yang berbeda. Bukankah kamu sudah bekerja lagi? Gajimu besar? Maka belilah mobil baru."


Jovian memutar kedua bola matanya.


"Untuk apa ganti?"


"Tidak ada, hanya menyarankan saja."


"Ya sudah kalau begitu teleponnya Jovian matikan dulu, tunggu di sana. Dan salam untuk Papi, jangan katakan aku mau pulang kepada siapapun!"


"Ada sesuatu yang mau Mami beri tahu juga tapi usahakan jangan marah karen …"


"Nanti saja. Aku berangkat sekarang agar cepat sampai."


Jovian memotong ucapan ibunya.


"Ah baiklah, tadinya Mami hanya takut kamu terkejut."


"Tidak akan."


Dan setelah itu sambungan telepon benar-benar terputus. Jovian segera bergegas, membawa semua keperluannya, kemudian beranjak pergi.


***


Kiana duduk di tepi kolam ikan, dimana terdapat koi dengan corak yang indah dan memiliki ukuran yang cukup besar. Dia memasukan kedua kakinya, sambil terus menatap ikan-ikan cantik yang tampak berenang kesana dan kemari.


"Hey?" Tiba-tiba saja Jovian muncul, dan menyapanya dengan lembut.


Suara itu cukup membuat Kiana terkejut. Pasalnya sudah sejak semalam sosok pria yang selalu membuat hatinya berdebar itu berpamitan untuk segera pulang ke kampung halaman untuk membicarakan rencana pernikahan mereka, agar bisa segera dilangsungkan sesuai permintaan Danu, sang ayahanda.


Kiana menoleh, dan dia mendapatkan Jovian duduk di kursi kayu yang memang berada disana.


"Om? Bukannya mau pulang? Kenapa kesini?" Gadis itu langsung membuat kedua kakinya naik, berdiri dan berjalan menghampiri sang kekasih hati.

__ADS_1


Senyum Kiana tertahan, dengan ekspresi wajah malu-malu.


"Saya memang mau berangkat." Katanya seraya mengikuti kemana Kiana bergerak, dan benar-benar menatap gadis itu lekat-lekat setelah duduk di sampingnya.


Kaos hitam kedodoran, dengan celana jeans super pendek, membuat kaki jenjang nan putih Kiana terpampang dengan jelas.


"Manis banget mau pamitan secara langsung. Padahal semalam Om sudah kirim pesan kalau hari ini Om nggak bisa kesini sialnya mau pergi. Mana pake bilang jangan nakal lagi!" Ucapnya dengan senyum yang kembali tertahan.


Satu sudut bibir Jovian tertarik, membentuk sebuah lengkungan tipis.


"Saya tidak sedang mau pamit, … tapi mengajakmu untuk pergi bersama." Jovian menjelaskan.


Yang seketika membuat Kiana tampak sangat terkejut, terlihat dari ekspresi wajahnya.


"Aku?" Kiana menunjuk dirinya sendiri.


Jovian menjawab dengan anggukan pelan.


"Ya, … maaf tidak bertanya dulu, saya malah langsung datang kesini, seolah sedang memaksa seorang gadis untuk ikut!"


"Aku nggak janji bisa ikut, … selain gugup untuk bertemu calon mertua, aku juga tidak tahu caranya izin sama Papa atau Mama!" Jelas Kiana.


"Tidak perlu izin."


Kiana terlihat bingung.


"Maksudnya? Aku tidak berani kalau tidak izin lebih …"


"Sudah. Saya yang meminta izin, apa kamu tidak mendengar? Padahal saya dan Pak Danu berbicara di ruang tengah cukup lama."


Kiana bungkam, dengan rasa keterkejutan dan tidak percayanya.


"Cepat! Ganti pakaian, … dan jangan lupa barang-barang yang diperlukan, seperti tas, baju ganti, dan dompet atau apapun itu." Titah Jovian.


"Uang aku kan ada di Om!" Kiana berujar.


"Tidak ada, hanya kartu."


"Iya maksudnya itu."


Jovian mengangguk.


"Jangan lupa bawa jaket. Disana dingin!"


"Tidak usah banyak bawa baju kan?"


"Hemmm, … hanya dua malam kita disana!"


"Baiklah."


Kiana segera bangkit, kemudian berjalan melewati pintu masuk, dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang terletak di lantai 2.


Dan setelah bersiap-siap hampir 30 menit lamanya. Kiana segera kembali, dengan pakaian dan rambut yang sudah ditata tapi, juga polesan make up tipis seperti biasa. Dia terlihat menenteng sebuah tas berukuran sedang, lalu diletakkan di sofa ruang tengah dan mencari-cari keberadaan orang tuanya.


"Mama? Papa dimana?" Gadis itu berteriak.


"Kami sudah di depan, Kia!" Suara Danu terdengar menyahut.


Kiana tidak berteriak lagi, dia kembali menyambar tas miliknya, lalu berjalan ke arah pintu utama, dimana kedua orang tuanya terlihat duduk di kursi teras depan bersama pria yang mengajaknya pergi secara dadakan hari ini.


"Sementara kamu berbicara hal ini, mungkin saya akan mencicil sedikit demi sedikit. Dari WO sama catering." Kata Herlin dengan semangat.

__ADS_1


"Apa tidak menunggu sampai semuanya benar-benar deal?"


"Apa orang tuamu tidak akan menyetujui Kiana menjadi menantunya?" Herlin balik bertanya.


Jovian tentu saja tersenyum ketika mendengar Herlin bertanya demikian, belum lagi ekspresi wajahnya yang tiba-tiba berubah.


"Tentu saja tidak. Orang tua saya menyerahkan semua keputusan kepada saya, termasuk ketika mencari pasangan."


"Kalau begitu seharusnya tidak ada masalah kalau kami menyiapkan segala keperluan."


"Ini pernikahan kami. Pernikahan saya dan Kiana, jadi biarkan saya yang mengeluarkan biaya, jangan kalian. Mau jadi apa saya jika harus bergantung kepada kalian."


"Oh soal itu tengah saja. Kita kan ada dua rangkaian acara. Untuk sementara ini kita akan memulai dengan akad saja, … setelah Kiana wisuda baru gelar pesta. Apa kamu mengerti, Jo?" Herlin menatap pria itu lekat-lekat.


Sementara Kiana terus berdiri memperhatikan ketiganya bergantian.


"Untuk akad sekarang, kan hanya beberapa orang terdekat yang di undang. Jadi biarkan kami pihak perempuan, … seperti acara tunangan juga kan begitu, keluara perempuan yang menanggung. Dan untuk resepsi, kami putuskan semuanya kepada kamu, Jo!"


"Apa bisa seperti itu?"


Jovian masih merasa sangat ragu. Pasalnya ketika pernikahannya dulu bersama Eva, jelas dia yang melakukan semuanya. Dari biaya tunangan, sampai resepsi sekalipun.


"Emmmm …"


"Jangan terlalu banyak berpikir. Cepatlah berangkat, jarak Tangerang-Bandung itu sangat jauh!"


"Baik. Kalau begitu saya izin bawa Kia dulu, mungkin lusa baru kembali, jika tidak ada halangan."


Jovian segera bangkit, dia berjalan ke arah mobilnya terlebih dahulu.


"Aku pergi dulu yah!"


Kiana memeluk ayahnya, kemudian Herlin secara bergantian. Yang di balas dengan kecupan penuh cinta dan kasih dari keduanya.


"Kia. Ingat, jaga sikapmu oke? Yang kamu datangi calon mertuamu, jangan mempermalukan dirinya sendiri, ingat itu." Herlin berpesan.


Wanita itu mengusap pundak, kemudian turun kelengan seraya terus menatap Kiana dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya." Kiana mengangguk. "Kalau begitu aku pamit yah! Jangan kangen."


Gadis itu segera melangkahkan kaki, mendekati Jovian yang sudah berdiri di sisi kiri mobil dengan pintu yang sudah dia buka.


"Bye!" Kiana melambaikan tangan, kemudian dia masuk setelah memberikan tasnya kepada Jovian, untuk pria itu simpan di bagasi mobil bersama barang-barang miliknya.


Herlin melambaikan tangan ke arah mobil sana, tersenyum tapi dengan air mata yang mulai berjatuhan.


Mobil hitam milik Jovian mulai melaju, mendekati pintu gerbang rumah yang tertutup. Lalu keluar dan melesat setelah salah satu security membukakan pintu besar itu untuk mereka.


"Ahhh, … putriku sudah dewasa." Kata Herlin.


"Memang. Mungkin untuk menikah hitungannya masih terlalu muda, tapi itu salah satunya cara menyelamatkan Kiana dari pergaulan bebas." Jelas Danu.


"Aku takut bagaimana jika mereka tidak berhasil."


"Tidak boleh berbicara seperti itu. Berbicaralah yang baik-baik, karena setiap ucapan itu adalah Doa."


Danu merangkul istrinya, dan membawa wanita itu kembali kedalam rumah.


"Hmmm, … semoga Kiana tidak seperti aku! Yang harus berjuang 5 tahun dulu baru bisa mendapatkan dia."


"Ya, semoga saja kandungannya baik."

__ADS_1


"Kamu tahu, Pah? Terkadang aku takut orang tua Jovian menuntut sesuatu yang tidak bisa kita lakukan. Apalagi Jovian yang jelas-jelas mengatakan jika dirinya sudah tidak mau bermain-main lagi. Tahu arti kata itu bukan? Dia berbicara jika ingin segera memiliki anak secara tidak langsung."


"Kamu, dan Kia itu berbeda. Walaupun kamu adalah ibunya, tidak menjamin jika dia akan seperti dirimu. Setidaknya doakan dia saja, jangan menyamaratakan semua, Ma!"


__ADS_2