Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Kebiasaan


__ADS_3

Danu keluar dari dalam mobilnya, berdiri menengadahkan pandangan, menatap sebuah bangunan yang terletak di tengah-tengah pemukiman cluster elite. Rumah yang cukup besar, memiliki lampu-lampu berwarna kuning di setiap sudutnya, tak lupa dengan sebuah taman kecil juga pohon-pohon bonsai berukuran sedang yang tertanam di sana, membuat seulas senyuman samar terlihat di kedua sudut bibir pria paruh baya itu.


Tentu saja dia bahagia, karena putri semata wayangnya hidup dengan layak bersama pria yang ia pilihkan.


Setelah itu Danu melangkah mendekati pintu utama yang terlihat sedikit terbuka, kemudian masuk sehingga suara beberapa orang yang sedang berbincang terdengar.


"Mama pas hamil aku gimana? Seneng bau parfum Papah nggak?"


"Tidak, Mama justru tidak suka baunya. Bahkan melihat wajahnya saja Mama merasa malas, bikin mual."


"Oh ya? Aku kok malah suka banget sama Jovian yah. Kayaknya dia makin wangi sama makin ganteng."


Kiana dan Herlin terus tertawa, sementara Jovian menggelengkan kepala dengan wajah bersemu merah.


"Halo, selamat malam?" Ucap Danu sambil berjalan mendekati sofa ruang tengah dimana anak, menantu dan istrinya berada.


Kiana yang duduk membelakangi pun segera menoleh, dan raut wajahnya seketika berubah.


"Papa!" 


Dia hampir saja melompat dari atas sofa hanya untuk mendatangi ayahnya. Namun, teriakan Jovian dan juga Herlin berhasil membuat Kiana mengurungkan niatnya.


"Astaga anak ini, senang sekali menguji adrenalin!" Pekik Herlin sedikit kesal.


Bahkan saking kesalnya Herlin sampai memukul lengan Kiana, tapi tidak ada reaksi apapun selain Kiana yang mengusap bekas pukulan sambil tersenyum-senyum.


Dada Herlin berdebar hebat, dengan pikiran buruk yang berputar-putar di dalam isi kepala.


Sementara Danu hanya terkekeh melihat tingkah laku dari Kiana. Nyatanya hubungan yang sempat merenggang, kini sudah kembali seperti semula. Dimana Kiana selalu memperlihatkan ekspresi lebih ketika rasa rindu terhadap ayahnya begitu menggebu-gebu.


"Sabar, Papa juga sedang berusaha meraihmu. Tapi ingat, Papa sudah tidak muda lagi sampai tak mampu berjalan cepat seperti Jovian," katanya, kemudian dia meraup tubuh mungil yang saat ini sedikit berisi.


Kiana memeluk erat pundak ayahnya, menumpahkan segala rasa rindu, padahal mereka tidak pernah saling berjauhan lebih dari satu Minggu lamanya.


Kiana akan selalu datang ke rumah kedua orang tuanya, atau bahkan meminta Herlin dan Danu untuk datang berkunjung. Apalagi saat Jovian melakukan perjalanan jauh ke Pangalengan sana sehingga harus meninggalkan Kiana karena satu dan lain hal.


"Kamu sehat?" Danu menatap manik berbinar Kiana, yang langsung dijawab anggukan oleh anak perempuannya.


Lalu tangannya bergerak menyentuh perut Kiana yang sudah semakin membesar, mengusap-usap lembut dengan perasaan yang tidak dapat Danu mengerti.


Pria itu terlihat sangat bahagia, tapi senyuman dengan mata berkaca-kaca seolah mengungkapkan apa yang sedang pria itu rasakan. Bagaimana tidak, bayi yang selalu dia timang-timang, menjaga dan merawatnya dengan baik sampai gadis itu besar. Sekarang gadis kecilnya akan segera melahirkan kehidupan yang lain.


"Kenapa mereka tidak bergerak? Biasanya kalau Papa sentuh mereka langsung tidak bisa diam?" Dengan raut panik Danu bertanya.


Pandangan Kiana mengikuti kemana ayahnya bergerak, kemudian tersenyum saat melihat pria paruh baya yang duduk di sampingnya terus memperlihatkan ekspresi wajah khawatir.


"Mereka kekenyangan, makanya tidak bisa bergerak-gerak."


"Oh ya?"


Kiana mengangguk lagi.


Sementara Herlin dan juga Jovian memperhatikan interaksi ayah dan anak itu sambil tersenyum-senyum.


"Makan apa?" Danu terus mengusap-usap perut Kiana.


"Tadi Mama datang bawa jajanan, banyak banget. Kue lumpur, serabi solo, lumpia …"


"Ya, kamu memang selalu begitu bukan? Makan sampai lupa diri?"


Mendengar itu Kiana tertawa kencang. 


Danu mengubah posisi duduknya, sehingga dia mampu menatap Jovian yang juga sedang menatapnya.


"Bagaimana? Sudah ke Dokter?" 

__ADS_1


"Belum. Jadwalnya baru besok," Jovian menuturkan.


Danu mengangguk-anggukan kepala.


"Berapa Minggu kalian disana? Papa harap sih tidak lama-lama yah," kata Danu sambil tertawa.


Membuat Herlin segera menepuk pundaknya dengan kencang.


"Eh, Papa haus nggak? Mau minum apa? Kopi, teh panas atau minuman dingin?" Tanya Kiana.


"Tidak usah, hari ini Papa sudah banyak minum yang manis-manis."


"Air mineral saja kalau begitu," usul Jovian.


Pria itu bangkit dari duduknya, kemudian berjalan mendekati showcase yang terletak tidak jauh dari area sana.


"Padahal kalau mau Papa bisa ambil sendiri," seru Danu saat Jovian meletakan satu botol mineral dingin di meja berbahan dasar kaca.


Jovian tersenyum.


"Kalian berangkat hanya berdua saja, Jo?"


"Ya, hanya kami. Tadinya mau ajak Papi, tapi karena kebun sayur sebentar lagi panen jadi tidak bisa di tinggal," jelas Jovian.


"Lalu soal Denis bagaimana? Dia setuju pekerjaanmu dia yang ambil?"


Danu membuka tutup botol, kemudian minumannya perlahan-lahan.


"Denis setuju saja, Pah. Mungkin karena tidak ada pilihan juga."


Danu mengangguk.


"Apa kita butuh orang lain? Maksud Papa untuk menemani Denis?" 


"Tidak perlu!" Sanggah Herlin.


"Cukup Denis, dan Jovian saja yang tahu seluk-beluk perusahaan. Kalau ambil orang baru untuk membantu Mama khawatir, sekarang banyak orang yang curang Pah, kita tidak boleh gegabah. Bagaimana nanti kalau yang melamar pekerjaan itu mata-mata dari pesaing bisnis Papa? Jadi sudah biarkan saja."


Danu dan Jovian saling menatap. Begitu juga dengan Kiana yang asik memperhatikan mereka bertiga, sampai sorot matanya terus bergerak melihat orang tua dan suaminya bergantian.


"Maksud Mama tidak perlu tambah orang baru, kalau mau boleh ambil orang yang sudah lama ikut kita."


"Siapa? Pak Yanto? Mana bisa dia membantu Denis. Beda bidang Mama." Danu berkelakar.


"Mungkin nanti bisa kita bicarakan lagi. Kita lihat bawahan Denis ada yang berpotensi atau tidak. Kalau ada bagus, kalau tidak ada mungkin harus merekrut orang baru. Bagian kantor, mengatur data dan memeriksakan agar semuanya tidak keliru itu tidak semua orang mampu, Mam." Jovian ikut berbicara.


Herlin diam sambil berpikir.


"Kita punya banyak orang yang sudah bekerja lama dengan kita. Tapi bukan di bagian office, melainkan mereka yang langsung terjun di lapangan. Bisa saja kalau dipaksakan, tapi takutnya malah semakin rumit," kata Danu.


"Ini salah Papa, kurang tegas kepada Ebra sampai kinerja dia belum benar-benar baik. Tidak tahu kemampuannya yang sudah mentok, atau dia merasa keponakan Papa sampai di beberapa waktu terkadang anak itu bersikap semena-mena."


"Begitulah kalau mempekerjakan saudara sendiri. Dikerasin salah, nggak di tegasin malah bersikap seenaknya," Herlin mendelik.


"Ah kenapa kita jadi bahas ini? Kan barusan lagi bahas soal ke Belanda."


"Kalau Papa tidak bisa tegas. Kalau begitu Mama minta kamu yang bersikap sangat keras sama orang-orang yang tidak bisa kerja dengan maksimal, Jo!"


Mereka bertiga terus berdebat, sehingga tidak menyadari jika Kiana sudah terlelap dalam keadaan duduk bersandar.


Ipah datang dari arah dapur, berniat merapikan meja makan yang masih dipenuhi piring-piring berisikan jajanan pasar yang Herlin bawa. Namun, fokusnya segera terganggu saat melihat tiga orang yang berbicara dengan serius, sementara wanita hamil di samping mereka terlelap dengan sangat dalam.


"Non Kia tidur!" 


Suara Ipah membuat tiga orang itu menoleh ke arahnya secara bersamaan.

__ADS_1


"Itu non Kia beneran tidur atau cuma tutup mata aja?" Lanjut Ipah.


Jovian, Herlin juga Danu segera memeriksakan. Dan benar saja, perempuan itu terlelap dengan dengkuran halus yang terdengar.


"Astaga, kita membiarkannya tidur dalam keadaan seperti ini!" Cicit Herlin.


Mata terpejam erat, dengan raut wajah yang terlihat sangat tenang.


"Jo, cepat pindahkan Kiana. Kasihan dia, kalau terlalu lama nanti badannya sakit-sakit, terutama di bagian pinggang yang akan mengganggu aktivitasnya," wanita itu terlihat sangat khawatir.


Tanpa menunggu lama Jovian bangkit, mendekati Kiana, lalu membungkuk dan mengangkat tubuh ibu hamil itu dengan sangat hati-hati.


Danu menoleh, hal yang sama Herlin lakukan. Mereka saling menatap, lalu tersenyum setelahnya saat merasa lucu dengan kelakukan Kiana. 


"Satu-satunya yang tidak berubah dari Kia. Dia selalu tertidur saat mendengar orang berbicara banyak hal," ucap Danu sambil terkekeh.


"Kayaknya dia ngerasa lagi di bacain dongeng, Pah!"


Danu semakin terkikik. Bahkan dia berusaha menahan suaranya sampai mata berkaca-kaca.


"Papa kira kalau sudah menikah tidak akan begitu."


Tidak lama Jovian kembali keluar dari kamar mereka, dan segera bergabung bersama kedua mertuanya.


"Apa dia sering begitu?"


Jovian terlihat berpikir.


"Hanya setelah dia hamil, Pah."


"Oh, mungkin kebiasaan itu muncul kembali setelah dia hamil yah. Padahal dulu Kiana sering seperti itu, dia bisa tertidur dimana saja, asal ada orang mengobrol dua pasti seperti itu."


"Oh ya?" Jovian tampak tidak percaya.


"Kamu tidak akan percaya, Kiana pernah tidur di kursi meja makan. Hanya karena kami berbincang lama disana!" 


Herlin kembali mengenang masa-masa itu, dimana Kiana belum mengenal jalanan, dan terbawa arus sehingga perempuan itu berubah menjadi sangat membangkang untuk setiap larangan yang diterapkan.


"Baiklah, sekarang kita bahas soal keberangkatan kalian ke Belanda ya?" Danu kepada Jovian.


Jovian hanya menurut, dan pria itu mulai mendengarkan setiap saran yang diberikan oleh ayah mertuanya. Termasuk harga tiket yang akan ia bayar tanpa terkecuali.


"Sudah malam, kami pulang yah!" Danu segera bangkit, begitu juga dengan Herlin. 


"Kenapa tidak menginap saja?" 


Jovian mengikuti langkah kedua orang tua Kiana yang berjalan ke arah pintu utama yang tertutup dengan rapat.


"Rumah kosong kalau kami disini. Nanti sebelum ke Belanda menginap dulu ya, disana?" Pinta Herlin.


Jovian mengangguk.


"Titip salam untuk Bibi sama Ipah. Kiana juga yah, baik-baik kalian disini! Kalau ada sesuatu jangan singkat untuk memberitahu kami."


Jovian mencium punggung tangan Danu dan Herlin bergantian, tapi saat ia hendak mundur sang ayah mertua justru merangkulnya.


"Ingat, kami tidak sama dengan mertuamu dulu. Jadi jangan pernah merasa segan, … sampai saat ini kamu masih terlihat canggung, padahal Papa tidak pernah menuntut apa-apa selain membantu mengurus tambang," Danu menepuk-nepuk pundak menantunya.


Jovian tidak menjawab.


"Baik, kami pamit."


Danu melepaskan rangkulannya, lalu dia menggandeng tangan Herlin untuk membawanya masuk ke dalam mobil mereka.


Jovian terus berdiri di teras depan rumahnya, menatap mobil sang mertua yang mulai mundur perlahan, lalu keluar dari pekarangan rumah, dan berbelok memasuki jalanan komplek setelah membunyikan klakson mobil beberapa kali.

__ADS_1


......................


Ayoooo sawerannya lagi!!!


__ADS_2