
"Handphone aku sepi tahu, semenjak kita berangkat kesini." Kiana menatap suaminya, lalu tertawa cukup kencang.
Dia merasa sangat heran dengan keseharian yang tiba-tiba saja berubah dengan sangat drastis. Sang ayah yang selalu mengirimkan pesan, atau bahkan menghubunginya via sambungan telepon, kini seolah tidak peduli padahal dirinya sedang berada di tempat jauh bersama orang lain.
"Memangnya siapa yang mau mengganggu pengantin baru yang sedang berbulan madu? Apa kamu berharap mereka mengirimkan pesan terus-menerus? Atau menelepon setiap waktu?" Ujar Jovian. "Ayolah, yang benar saja, mereka sengaja melakukan itu karena membiarkan kita memiliki waktu bersama untuk satu Minggu kedepan." Kata Jovian lagi, dengan mata bergerak menatap televisi dan wajah Kiana bergantian.
Mereka berdua memilih kembali ke atas tempat tidur, berleha-leha di atas sana, sambil menyaksikan film kesukaan Kiana yang berada di salah satu aplikasi berbayar.
"Mama, Papa, Papi, Mami. Mereka nggak mau tanya kabar kita gitu? Dua hari lho Papa nggak kirim pesan atau apapun, biasanya hampir setiap jam, atau waktu dimana mereka tidak dapat menemukan aku." Ucap Kiana lagi.
Entah kenapa tiba-tiba saja Kiana merindukan masa-masa itu.
Dia menatap layar ponselnya, terlihat mengotak-atik dan mengirimkan pesan kepada nomor Herlin juga Danu bersamaan.
"Mereka tahu kita sedang berbulan madu!" Pria itu terkekeh.
"Ya masa nggak mau tahu kabar anaknya!" Cicit Kaiana, lalu dia meletakan benda pipih itu di nakas yang terletak tepat di sampingnya.
Sementara Jovian tidak menjawab lagi, dia hanya fokus mengarahkan pandangan ke depan, dimana sebuah film romantis di putar. Pun dengan Kiana, setelah mengirimkan beberapa pesan kepada orang tuanya, dia kembali beringsut mendekati Jovian, lalu fokus pada film yang sedang berjalan saat ini. Dengan posisi meletakan wajah di dada bidang suaminya.
Semua pintu dan jendela ruangan itu tertutup rapat, tak lupa dengan tirai tipis yang membentang menghalangi teriknya cahaya matahari yang terasa silau dan menusuk indra penglihatan, sampai langit-langit kamar dan sekitarnya menjadi temaram, karena hanya sedikit cahaya yang masuk melalui celah kecil ventilasi udara.
Beberapa adegan romantis terlihat, yang seketika membuat suasana semakin mencekam, apalagi saat scene c**man dua sejoli yang menjadi pemeran utama. Jovian dan Kiana tak bersuara sedikitpun. Keduanya benar-benar tegang seperti tengah menonton film bergenre horor.
Tidak, lebih tepatnya Jovian, pria itu menatap ke arah televisi sana dengan ekspresi wajah datarnya dan terlihat sangat serius, tanpa bersuara sedikitpun, sementara Kiana mulai menoleh, bermaksud memastikan keadaan suaminya.
"Aku kira kamu tidur!" Kata perempuan itu dengan seulas senyum tipis yang Kiana perlihatkan.
Jovian melirik dengan sudut matanya.
"Kamu tegang banget!" Kiana tertawa, seraya memukul lengan Jovian cukup kencang. "Ini romantis, sayang! Kenapa ekspresi kamu begitu banget? Biasa aja nontonya." Sambung Kiana dengan suara tawa yang terus terdengar.
Jovian masih diam, dengan mata yang kembali dia fokuskan ke arah televisi.
"Kenapa tontonanmu seperti ini semua?" Kata Jovian dengan nada bicara yang terdengar frustasi.
Perempuan itu diam, menatap Jovian yang saat ini sedang berbicara kepada dirinya.
"Gara-gara After kamu mau kita melakukannya sebelum menikah. Dan apalagi ini? Bahkan film yang sekarang lebih parah, … entah berapa scene panas yang sudah tayang tadi!" Dia menyapu wajahnya cukup kencang, lalu menghela nafasnya.
"Tentu saja, ini tentang Mafia. Kalau After itu tentang remaja, … kata aku!" Ujar Kiana seraya menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu membuat suasananya semakin panas!"
Kiana menatap suaminya lekat-lekat. Sampai Jovian kembali menoleh tak kala merasa pandangan Kiana terus tertuju kepada dirinya.
"Sejak kapan kamu menyukai film seperti ini, hum?"
Jovian memutar tubuhnya dari berbaring terlentang menjadi miring, sampai dia dapat melihat wajah cantik Kiana dengan sangat jelas.
Manik Kiana bergerak-gerak. Menelisik lebih jauh netra hitam kelam milik Jovian. Dan itu mampu membuat debaran di dadanya terus meningkat.
"Sejak Om bilang mau berusaha mencintai aku. Aku pikir menonton film seperti ini akan membuka wawasan baru untukku. Mengingat umur kita yang terpaut tujuh belas tahun, … aku kira cuma ciuman seperti film yang lain. Ternyata enggak, … aku cuma mau memantaskan diri, nggak ada niatan jelek kok Om!" Kiana segera menjawab.
Dan setelah itu mereka diam. Menatap satu sama lain dengan perasaan juga pikiran masing-masing.
"Kamu nekad!" Pria itu berbisik. "Bagaimana kalau kamu tidak bersamaku sekarang? Atau waktu itu?"
Kiana menggelengkan kepala, dia bergeser semakin mendekatkan diri pada tubuh suaminya, menyentuh pinggang Jovian, memeluknya sampai mereka kini saling menempel.
"Sudah aku jelaskan. Otak, hati dan pikiran aku amburadul kalau sudah sama kamu. Aku nggak bisa berpikir jernih lagi!" Katanya jujur.
Jovian tidak menjawab, dia hanya terus menatap Kiana dengan pandangan yang tidak bisa pria itu jelaskan oleh kata-kata.
"Kalau kamu merasa gila sekarang. Aku sudah gila jauh sebelum saat ini tiba! Aku bahkan bingung, apakah betul cinta itu segila ini? Apakah setiap kali bertemu da*a orang lain juga berdesir? Seperti dipenuhi kupu-kupu berterbangan di dalam sini?" Kiana mengusap dadanya sendiri. "Atau aku yang aneh karena sudah merasakan itu semua?" Mata Kiana terlihat semakin sayu.
Tangan Jovian segera menyentuh pinggang Kiana, terus turun kebawah, lalu menyingkap dress rumahan yang dia pakai saat ini, menelusupkan tangan ke dalam sana, sampai pria itu dapat mengusap kulit tu**h istrinya yang sangat hangat.
Untuk beberapa saat Kiana menahan nafas, saat rasa geli terasa menyapu permukaan kulit perutnya.
"Apa kita akan melakukannya lagi?" Tiba-tiba saja Kiana bertanya demikian. Dengan kening menjengit dan kedua pipi yang memerah.
__ADS_1
Jovian tersenyum.
"Jika kamu mengijinkan." Jovian berbisik.
Tanpa banyak bicara Kiana langsung meraih pundak suaminya, menarik pria itu sampai bibir mereka kembali bertemu, saling beradu dan merasai satu sama lain.
Mata Jovian terpejam, juga tangan yang tak pernah diam sama sekali. Mengusap punggung Kiana, beralih ke pinggang, dan berakhir meremat bo**ng yang saat ini terasa seperti berubah ukuran. Pria itu bergerak mengubah posisi, hingga saat ini Kiana ada di bawah kungkungannya tanpa menghentikan kegiatannya sama sekali.
"Hal ini akan menjadi list wajib. Tidak ada hari untuk melewatkannya!" Ucap Jovian ketika dia melepaskan pautan mereka.
Kiana menggigit b**irnya kencang. Dia benar-benar merasakan jantungnya hampir meledak.
"Tapi ingatkan aku jika kamu tidak mau. Kamu tidak boleh diam jika kamu tidak merasa baik-baik saja, saat kamu merasa lelah atau apapun itu." Pria itu berujar, yang seketika dijawab anggukan oleh istrinya.
Jovian tersenyum lagi. Satu tangannya bergerak menyentuh pipi Kiana, lalu mengusapnya lembut menggunakan ibu jari.
"Ruangannya tidak memakai peredam. Kamu bisa sedikit menurunkan volume d**ahannya nanti?" Dia berbisik tepat di hadapan wajah istrinya.
Kiana mengangguk dengan segera.
"Good girl."
Dia menegakkan tubuhnya, menarik lepas pakaian yang menutupi bagian atas sana, lalu kemudian melemparkannya ke sembarang arah. Hal yang sama dia lakukan kepada Kiana, menarik lepas dress rumahan super mini, hingga menyisakan sepasang kain berenda tipis berwarna peach.
Jovian memintai t**uh indah milik istrinya di bawah langit-langit ruangan yang temaram. Membuat debaran di d**anya terus meningkat, apalagi saat melihat Kiana yang begitu pasrah, dengan sorot mata yang sudah di penuhi kabut g**rah.
"Jangan menatapku seperti itu!" Cicit Kiana, yang tiba-tiba saja merasa sangat gugup.
Jovian tidak menjawab. Dia hanya kembali mengungkung tubuh istri mungilnya, lalu kembali melanjutkan cumbuan yang sempat terjeda.
Hembusan nafas Kiana terasa semakin memburu, menyapu wajah Jovian yang kini hampir tidak berjarak sama sekali.
"Emmmmhhhh …." Leguhan Kiana mulai terdengar.
Jovian kembali melepaskan tautan bibir mereka. Beralih mencium pipi sang istri, kemudian kedua mata, lalu kening sebelum akhirnya kembali pada bibir Kiana. Satu tangannya bertumpu, menahan bobot tubuhnya sendiri. Sementara tangan yang lain mulai melepaskan kain terakhir yang masih Jovian kenakan.
Setelah itu Jovian beralih menelusupkan tangannya ke arah belakang, berusaha mencari sebuah pengait kain yang masih membungkus si kembar menggemaskan milik istrinya.
"Baby? Ukurannya semakin bertambah. Apa kamu tidak merasakannya?" Katanya, lalu meremat benda itu dengan perasaan gemas, membuat Kiana memejamkan mata sambil merintih cukup kencang.
"Jangan terlalu kencang!" Kiana merengek.
Dan suara itu terdengar mendayu-dayu, seolah Kiana sengaja melakukannya hanya untuk membuat api gairah suaminya semakin membara.
"Dia sangat menggemaskan, kau tahu!" Rahangnya terlihat mengeras.
Jovian menyentuh ujung ****** ***** Kiana. Untuk kemudian melepaskan benda itu, dan melemparkan ke arah lain sampai tergeletak di atas lantai kamar yang terbuat dari marmer.
Pria itu kembali membungkuk, melanjutkan kegiatan yang tertunda. Dengan keadaan masing-masing yang sudah polos tanpa sehelai benangpun.
Kiana memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat. Menikmati setiap sentuhan yang Jovian berikan.
Dia segera memposisikan diri, bersiap menerobos inti tubuh Kiana, tanpa melepaskan cumbuannya sama sekali.
"Nggghhhh …"
Leguhan itu terdengar kencang, keluar dari mulut Kiana saat Jovian melepaskan bibir istrinya terlebih dahulu.
Mereka diam untuk beberapa saat, lalu kemudian tersenyum dan kembali saling menyentuh satu sama lain dengan perasaan menggebu-gebu. Dan setelah beberapa saat terdiam, Jovian mulai menggerakan pinggulnya dengan perlahan-lahan. Berusaha bermain dengan santai dan tidak terburu-buru.
Senyuman Kiana perlahan memutar. Keningnya mengkerut, kedua alisnya bahkan terlihat hampir saling bersentuhan, saat perasaan yang luar biasa mulai memenuhi diri.
Sekujur tubuhnya terasa sangat sensitif, bahkan rintihan itu terus keluar saat Jovian menyentuhnya semakin jauh dan lebih nakal lagi.
"Oh sayang!" Kiana meracau.
Sementara pria di atasnya tampak tengah menikmati aktivitasnya dengan memejamkan mata.
Suara-suara deburan ombak, kicauan burung camar, dan gemuruh pepohonan tertiup angin menemani Kiana dan Jovian yang sedang bercinta pada hampir tengah hari siang ini.
"Mmmmhhhh, … sayang …" rintihan itu kembali terdengar.
__ADS_1
Jari-jari Kiana menancap kuat di kedua lengan Jovian. Membuat pria itu terlihat meringis, namun sama sekali tidak berniat menghentikan permainannya yang membuat Kiana kalang kabut tenggelam di dalam lautan asmara yang begitu menggelora.
Jovian merasakan miliknya dicengkram sangat kuat. Disertai kedutan yang begitu kencang. Hingga insting alaminya bekerja, dan mempercepat hentakannya.
Wajah Kiana memerah, tubuhnya bergetar dan bergerak-gerak tak tentu arah dengan kepala mendongak ke arah belakang, juga mata yang terpejam erat
"Sayangghhhhh …"
Leguhan panjang Kiana terdengar. Berbarengan dengan sesuatu yang terasa pecah di dalam sana.
Jovian tersenyum, dia kembali mencumbu Kiana. Menyentuh setiap jengkal tubuh sang istri, dan mempermainkannya seolah Jovian merasa tidak pernah puas.
Nafasnya bahkan terdengar memburu, juga tersengal-sengal hasil dari pelepasan pertamanya.
Pria itu menarik wajahnya sedikit lebih menjauh. Membuat Jovian dapat kembali melihat wajah sang istri, yang saat ini tampak memerah dan dibasahi oleh keringat.
"Mau lanjut sekarang atau mau istirahat dulu?" Jovian bertanya dengan senyum jahil.
Mata Kiana membulat sempurna.
"Kamu belum?" Suaranya tersengal-sengal.
Jovian menjawab dengan senyuman samar.
"Hhheuh! Aku kira sudah." Katanya dengan suara pelan.
Jovian bangkit, menegakan tubuhnya, lalu menyentuh pinggul Kiana, untuk dia angkat sampai tubuh perempuan itu berubah posisi menjadi membelakangi.
"Oh God!!" Kiana merintih pelan.
Dia membenamkan wajah di atas bantal, m*remat kain pelapis kasur dengan sangat kencang saat Jovian menghujamnya dari arah belakang tanpa aba-aba. Sekuat tenaga dia menahan diri, agar tidak bersuara kencang, yang mungkin saja akan didengar para penjaga villa.
Jovian mencengkram kedua sisi pinggang istrinya cukup kencang, lalu menarik dan mendorongnya dengan perlahan. Namun lama kelamaan Jovian semakin menggila, dia bergerak dengan ritme permainan yang semakin meningkat.
Ekspresi Jovian tampak berubah dengan seketika. Wajah berwarna merah padam, dengan kening menjengit kencang sampai kedua alisnya benar-benar saling menyentuh.
Plak!!
Dia menampar b**ong Kiana sangat kencang, menyisakan sebuah tanda kemerahan di sana.
"Jovian!" Kiana menjerit.
Plak!!
Pria itu menamparnya lagi. Sampai jeritan kesakitan terdengar kembali.
"Jovian stop!" Kiana berteriak, saat pria itu semakin menambah temponya.
Kiana merasakan jiwa di dalam dirinya seolah akan terlepas. Keluar dan terbang bersama perasaan yang terus menggila.
"Oh, i'm done Baby … i'm done!" Suaranya terdengar semakin rendah.
Dan setelah itu suara kamar menjadi sangat hening, tergantikan dengan hembusan nafas tersengal-sengal dari keduanya. Setelah lolongan panjang keluar, bersamaan dengan sesuatu yang Jovian pancarkan di dalam inti tubuh istrinya, sampai cairan itu mengalir kembali keluar, ketika Jovian menarik sesuatu yang sedari tadi mengobrak Abrik Kiana ke arah luar.
"Astaga lututku." Keluh perempuan itu saat dia bangkit, lalu berbaring tepat di samping Jovian.
"Sakit?" Tanya Jovian, dengan senyuman samar yang dia perlihatkan.
Dia menarik selimut sampai menutupi keduanya. Menyembunyikan tubuh polos dari hembusan air conditioner.
Kiana tersenyum malu-malu, tangannya melayang dan memberikan pukulan di dada bidang milik Jovian. Sebelum akhirnya dia menenggelamkan wajah di sana, dan memejamkan mata karena rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang.
"Istirahatlah, nanti malam kita pergi ketempat yang kamu mau." Dia mengusap puncak kepala istrinya.
Cup!!
"Terima Kasih. Selamat tidur!"
......................
Like, komen ... tabur-tabur 😘😘
__ADS_1
Cuyung kalian ♥️♥️