
"Kamu menjadi sangat pendiam. Apa aku membuat kesalahan?" Tanya Jovian, sambil terus mengendalikan mobilnya yang saat ini sedang melaju dengan kecepatan sedang.
Kiana yang memfokuskan pandangan ke arah depan segera menoleh, sampai pandangan keduanya saling beradu.
"Tidak. Aku hanya sedang berpikir!" Kiana kembali mengalihkan pandangannya ke arah depan.
"Apa?"
Jovian mulai membuka obrolan, setelah cukup lama saling terdiam.
"Besok kita pulang?" Kiana segera mengalihkan topik pembicaraan.
Dia terlihat jengah jika harus membahas sosok wanita yang mulai terlihat begitu akrab dengan Jovian, semetara pria itu terlihat tidak menyadari apapun.
"Kenapa? Kamu tidak betah disini?"
"Nggak. Disini cuacanya enak, sejuk. Pemandangan di dekat rumah juga bagus." Kiana berujar.
"Lalu?"
"Nggak lalu-lalu! Aku mau pulang saja."
"Saya jadi semakin yakin kalau kamu sedang merasakan sesuatu. Mood kamu memburuk seketika. Apa karena Eva? Apa karena kita mengantarkan Eva malam ini?"
Kiana memejamkan mata, lalu menghela nafasnya.
"Salah nggak sih kalau aku cemburu?" Dia mengubah posisi duduknya menjadi menghadap ke arah Jovian.
Pria itu melirik sekilas, lalu kembali fokus mengendalikan mobilnya, menatap lurus kedepan, kemudian sudut bibirnya tampak sedikit tertarik.
Dan tentu saja Kiana menyadari itu.
"Kamu cemburu? Kepada Eva?"
"Aku nggak tau ini di sebut cemburu atau tidak. Cuma ya rasanya perasaan aku nggak nyaman, apalagi lihat Om pelukan segala, … kalau mau pulang ya pulang aja, pamitan kaya biasa nggak usah pake cium pipi kiri dan kanan."
Mendengar itu Jovian tertawa.
"Kalo posisinya di balik gimana? Om suka nggak kalau aku cipika-cipiki sama Kevin atau Hilmi? Atau pria lain deh!"
"Kalau saya tidak apa-apa. Cuma begitu, itu hal yang biasa dan lumrah orang lain lakukan." Kata Jovian sambil terus terkekeh. "Bukan ciuman bibir juga, seperti yang suka kita lakukan akhir-akhir ini." Sambung Jovian lagi.
Mungkin menurut Jovian itu terlihat biasa dan lucu. Namun berbeda dengan Kiana, dia merasakan hatinya semakin sakit, perasaannya bimbang, dan mungkin memperjelas keadaan yang ada.
"Itu Om bilang karena emang nggak ada perasaan sama aku!" Kiana tersenyum getir. "Ih sumpah yah, kata-kata jangan mencintai seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya itu benar ada, sakit banget sampe aku nggak bisa deskriikan rasa sakitnya kaya gimana."
Kiana kembali membenarkan posisinya. Duduk bersandar dengan pandangan lurus kedepan. Sementara Jovian tak dapat lagi berkata-kata, dia memilih diam sampai mobil yang dia kendalikan memasuki pekarangan rumah kedua orangtuanya.
Kiana turun lebih dulu, berjalan tergesa menaiki tangga kayu, lalu masuk kedalam rumah panggung itu, dimana Leni dan Jonathan langsung menyambutnya pada malam hari ini.
"Baru mau Mami telepon." Katanya.
"Emmm, … Kia pamit masuk kamar dulu yah! Belum mandi sore, kayaknya badan Kia pada lengket." Kiana beralasan.
"Mandi?" Leni mengulangi ucapan calon istri dari anaknya.
"Apa tidak dingin? Biasanya orang-orang yang pertama berkunjung akan merasa kedinginan, … tapi dari sejak sampai kamu malah terlihat biasa saja." Jonathan tersenyum.
"Benarkah? Tapi aku merasa suasananya sangat panas?" Kiana terkekeh canggung, dia berusaha menyembunyikan perasaannya saat ini.
"Kalau begitu Kiana masuk ya. Mami, … Papi!"
Dan dia segera menghambur masuk kedalam kamar, setelah mendapatkan anggukan dari Jonathan dan Leni.
"Kiana?" Panggil Jovian.
"Kenapa teriak-teriak? Ini sudah malam, … lagi pula Kiana tidak kemana-mana, dia hanya masuk kedalam kamar, dia mau mandi katanya." Leni menatap putra keduanya lekat-lekat.
Jovian diam, kemudian mengalihkan pandangan ke arah sebuah pintu, yang tidak lain adalah kamarnya yang dia pinjamkan kepada Kiana.
"Kamu ini sudah 37 tahun. Tapi sekarang justru kelihatan seperti pemuda yang sedang khawatir kepada kekasihnya. Dimana Jovian yang selalu terlihat santai?"
Dia hampir saja mendekat dan menerobos masuk, namun segera Leni tarik dan menjauhkan putranya dari sana.
"Tidak boleh. Anak gadis kamu lakukan seperti itu, dia pasti butuh privasi." Leni membawa Jovian sampai dia duduk bersama suaminya.
"Aku hanya harus bicara."
"Bicaranya bisa nanti."
Jovian menatap pintu kamarnya lagi.
"Kalian sudah makan?"
Jovian menjawab dengan sebuah anggukan pelan.
__ADS_1
"Eva mengajak aku dan Kiana makan bersama tadi sebelum dia masuk ke dalam stasiun kereta."
Leni diam, lalu dia menoleh ke arah suaminya, kemudian menggelengkan kepala.
"Kalian ada masalah?" Leni bertanya lagi.
Jovian mengangguk pelan.
"Hanya sedikit kesalahpahaman."
Leni menghela nafasnya.
"Aku salah?" Jovian menatap ibunya.
"Papi tidak tahu jalan pikiranmu seperti apa. Tapi bisa-bisanya kamu menyakiti dia dengan makan bersama Eva. Walaupun kalian bertiga, dan Kiana ikut bersama, … tapi setidaknya hargai dia sebagai calon istrimu. Bukankah itu tujuanmu kemari? Memperkenalkan dia, dan akan segera melangsungkan pernikahan?" Jonathan berujar, sambil mengingat-ingat ucapan putranya tadi siang saat mereka makan bersama.
"Jadi aku salah?"
Wanita di dekatnya langsung menepuk kepala Jovian cukup kencang.
"Kamu ini malah bertanya." Cicit Leni dengan kesal.
***
Malam beranjak semakin larut, bahkan jarum jam sudah menunjukan pukul 22.00 malam. Dan suasana di sekitaran sana memang benar-benar terasa begitu sunyi, namun entah kenapa Kiana masih belum bisa memejamkan mata.
Entah karena memang belum terbiasa dengan tempat baru, atau karena suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.
Tubuh Kiana sudah berbaring nyaman di atas tempat tidur berukuran besar, bergulung selimut yang sedikit meninggalkan wewangian milik Jovian. Bahkan Kiana beberapa kali menciumnya, karena gadis itu begitu menyukai bau yang selalu menempel pada pria dewasa yang akhir-akhir ini sudah masuk ke dalam dunianya.
Dia bangkit, menyibak selimut, kemudian menurunkan kedua kaki, lalu berjalan ke arah pintu, dan keluar.
"Saya kira kamu sudah tidur?"
Suara Jovian tiba-tiba terdengar. Membuat Kiana segera menoleh ke arah sofa yang terletak tidak jauh dari meja televisi.
Jovian berbaring di sana, dengan selimut tebal terletak menutupi tubuh, memegang ponsel dengan televisi yang terlihat mati.
Kiana mematung.
"Ah kenapa juga aku keluar." Dia merutuki dirinya sendiri.
Kiana mundur satu langkah, maraih ujung pintu dan hendak kembali mengurung diri. Namun, dengan segera Jovian bangkit, melompat dari atas sofa dan menahan pintu ruangan itu dengan sekuat tenaga.
"Om, aku mau tidur!" Kiana dengan ketus.
"Tidak mau. Aku mau tidur saja, besok aku harus pulang dan itu membutuhkan tenaga yang sangat banyak karena menempuh perjalanan yang sangat jauh."
Kiana terus berusaha mendorong pintunya, tidak membiarkan Jovian masuk meski pada kenyataan kamar itu adalah miliknya.
"Kiana!"
Dan dengan sekali dorongan kuat, pintu kamar itu benar-benar terbuka lebar.
"Kau ini kenapa?" Tanya Jovian dengan suara rendah.
"Tidak kenapa-kenapa. Aku hanya sedang malas berbicara dengan Om. Aku lagi berusaha terbiasa, karena mungkin setelah ini aku harus menerima apapun yang akan terjadi."
Kening Jovian mengkerut.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak tahu kapan. Tapi susah pasti Om dan Tante Eva akan kembali bersama, … Om hanya sedang berusaha menutupi rasa yang masih ada, dan itu tidak akan berhasil. Cepat atau lambat Om tidak akan tahan untuk tidak menyapa atau …"
Jovian membekap mulut Kiana dengan telapak tangannya.
"Berhentilah berbicara. Kamu semakin ngawur!"
Kiana menepisnya dengan kencang, membuat tangan Jovian segera tersingkir dari mulutnya.
"Aku berusaha untuk tetap tenang, dan berprasangka baik. Namun nyatanya sebuah bukti lebih jelas lagi aku lihat, bahkan Om masih mencintai mantan istri Om, dibandingkan aku yang sebentar lagi akan Om nikahi!" Kiana mencerca dengan suara memekik pelan.
Untuk beberapa saat Jovian diam, menatap Kiana dengan perasaan serba salah.
"Om bilang ingin mencoba. Dan aku tegaskan percobaan itu tidak benar-benar berhasil! Sebaiknya kita …"
"Tidak!" Jovian menggelengkan kepalanya. "Saya tidak mengizinkan kamu mengucapkan apapun setelah ini! Kita hanya sedang salah paham, yang kamu lihat tidak seperti itu." Dia meraih tangan Kiana, dan berusaha menggenggamnya meski dia terus di tolak.
Dan akhirnya Kiana diam.
"Mau mie rebus? Dingin-dingin begini makan mie rebus sangat cocok. Biar aku masakan dan setelah itu kita harus bicara, … kamu harus mendengarkan saya Kiana."
"Dih! Masa bujuknya pakai mie rebus, … murah amat." Celetuk Kiana, kemudian dia mendelikkan matanya.
"Seandainya disini ada restoran mewah, mall atau bioskop. Maka saya akan membawa kamu sekarang juga! Sebenarnya ada tapi jauh, … jadi manfaatkan saja dulu yang ada."
__ADS_1
Kiana menggelengkan kepala, dia meraih tangannya untuk menolak, namun dengan cepat Jovian kembali menyambar tangannya, dan membawa gadis itu keluar dari kamar.
***
Jovian berdiri di hadapan kompor, dengan panci berisi air mendidih yang sudah meletup-letupkan uang ke udara. Sementara Kiana berdiri di sampingnya, menatap Jovian yang mulai memasukan mie satu-persatu.
"Tolong ambilkan mangkuk disana, dan sendoknya disana!" Jovian menunjuk beberapa laci.
Kiana tidak banyak berbicara, dia menuruti apa yang Jovian perintahkan.
"Masukin bumbunya juga. Jika kamu mau tambah rawit ada di kulkas."
"Iyaaa, … Bapak Jovian Alton!" Kiana memutar bola matanya.
Dia meraih bumbu mie rebus yang tergeletak di meja dekat kompor begitu saja. Lalu membuka dan menuangkannya ke dalam mangkuk.
Jovian berbalik badan, menatap Kiana dengan ekspresi datar dan kedua tangan yang dia lipat di atas dada.
"Masih kesal yah!?" Tanya Jovian, dengan pandangan yang tidak teralihkan sama sekali.
Gadis itu diam, dia berpura-pura sibuk dengan hanya menuangkan satu bumbu mie dengan sangat perlahan-lahan.
"Kiana?"
"Jangan berisik, Om." Sergah Kiana.
"Baiklah saya minta maaf kalau saya salah."
Kiana menggeser dua mangkuk tadi, lalu menengadahkan pandangan, menatap Jovian yang juga sedang menatap ke arahnya.
"Om minta maaf? Berarti Om ngakuin kalo Om emang salah. Om masih cinta sama Tante Eva!"
"Saya tidak meminta maaf untuk itu."
"Lalu?" Kiana menyelami iris Jovian dengan seksama.
"Saya meminta maaf karena membuat kamu berpikir bahwa saya masih mencintai Eva!" Jelas Jovian.
"Ya ya ya. Sekarang angkat mie nya!"
Jovian menoleh, kemudian langsung mematikan kompor, dan mengangkat panci untuk segera memindahkan mie kedalam mangkuk.
Dua mangkuk Jovian letakan di atas meja makan, tak lupa dengan sendok juga sumpit. Sementara Kiana terlihat mengisi gelas dengan air teh panas yang berada di dalam sebuah termos.
"Terimakasih." Kata Jovian ketika Kiana meletakan satu gelas teh panas di hadapannya.
"Hemm, … terimakasih juga mie nya!"
Kiana menarik kursi di samping Jovian, lalu duduk di sana.
***
Kiana menerima mangkuk yang baru saja selesai Jovian basuh, lalu mengeringkannya dengan sehelai handuk berukuran kecil, kemudian memasukkannya kembali ke dalam laci.
Sementara Jovian terlihat memutar kran lain.
"Sudah selesai?" Jovian bertanya.
"Sudah."
Kiana mendorong laci di hadapannya, sampai benar-benar tertutup rapat, kemudian diam dengan perasaan sedikit canggung.
"Kamu sudah mengantuk?"
"Belum, tapi sepertinya aku akan mencoba untuk tidur." Ucap Kiana.
"Mau bicara? Maksud saya benar-benar bicara tentang apa yang kamu rasakan. Kamu tahu? Memendam masalah tidak baik, dan itu akan menjadi bom waktu yang akan meledak jika suatu saat nanti kamu sudah tidak bisa menahannya."
Mereka saling menatap satu sama lain. Dan tentu saja Kiana merasakan hal yang sangat berbeda.
"Sudah hampir tengah malam. Tidak baik terus berbicara sementara Mami dan Papi sudah istirahat. Kasihan!"
Kiana mulai beranjak pergi, berjalan mendekati pintu kamarnya.
"Tidak disini. Mungkin di kursi depan, … sepertinya saya harus menjelaskan banyak hal. Agar sikap menyebalkanmu kembali hilang seperti sebelumnya." Jovian kembali menahan.
"Hhhheuh, … aku memang menyebalkan. Tapi kenapa Om mau menikahi aku? Kenapa Om mau istri yang sangat menyebalkan seperti aku?" Dengan santainya Kiana menjawab.
"Astaga Kiana …"
"Aku kasih tau ya, Om. Seandainya aku nggak inget kata-kata Mama sebelum kita berangkat kesini, aku udah pasti bertindak pas liat Tante Eva genit sama Om! Tapi aku nggak mungkin lakuin itu, … apa yang akan Papi dan Mami pikirin soal aku? Jadi daripada kita berantem terus, berselisih paham terus. Ini sudah malam nggak enak sama yang lain, biarin aku masuk dan bicaranya besok pagi saja setelah pikiran sama perasaan aku membaik." Kiana langsung pergi.
Sementara Jovian membiarkannya untuk pergi tanpa menahannya lagi. Menatap punggung Kiana, sampai gadis itu benar-benar menghilang di balik pintu kamar yang kembali ditutup dengan rapat.
Trek!!
__ADS_1
Pintu terdengar di kunci, dan itu membuat Jovian menggelengkan kepalanya.
"Kiana lebih rumit dari Eva." Jovian terlihat mulai frustasi.