Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Healing


__ADS_3

"Kamu masih belum selesai?" Tanya Kiana dari seberang sana saat sambungan video call yang Jovian lakukan terhubung.


Pria itu tersenyum tipis, lalu masuk kedalam saung, dan duduk di sana dengan nyaman, menikmati cuaca hangat dengan hembusan angin yang terasa begitu menusuk.


Riuh suara dahan-dahan pohon di sekelilingnya bergesekan terdengar, membuat suasana perkebunan terasa semakin kental.


"Maaf. Sepertinya aku tidak bisa pulang sekarang, pekerjaan masih sangat banyak, tidak hanya memantau dan melihat-lihat pabrik. Tapi Papi akan ada perluasan area kebun, aku harus turun tangan untuk menyaksikan, … dan Papi juga ada disini!" Sedikit takut untuk menjelaskan, tapi tentu saja dirinya harus melakukan itu, atau jika tidak Kiana akan semakin marah.


Raut ceria di wajah Kiana seketika menghilang, bergantikan dengan ekspresi kekecewaan yang tampak begitu mendominasi.


"I'm so sorry, Baby! Aku tidak tahu kalau ternyata pekerjaannya sebanyak ini. Sebenarnya saat tahu aku tidak membawa kamu, Papi meminta aku untuk segera kembali, tapi tidak mungkin juga aku membiarkan Papi mengerjakan sendirian. Sementara anaknya yang paling dekat dan bisa di andalkan hanya aku, … mungkin kalau saja Javier tidak jauh di Belanda sana juga pasti datang kesini untuk mengurus pertanian." Jelas Jovian.


Pria itu tidak mau istrinya marah hanya karena dia ingkar janji dari apa yang dia katakan sebelumnya.


"Hhhheuh, … ucapan kamu membuat aku sangat berharap. Padahal aku mau masakin sesuatu buat kamu."


Dia cemberut, lalu terlihat membenamkan wajah di atas bantal, dan terdengarlah suara teriakan cukup kencang. Membuat Jonathan yang tengah asik berdiri di tengah-tengah para pekerja menatap ke arah putranya berada.


"Ah sebel!"


"Jovian?" Pria tua itu mengerutkan kening.


Jovian tersenyum canggung, kemudian menggerak-gerakan tangannya ke arah Jonathan seolah memberi tahu jika tidak sedang terjadi apapun.


"Kamu bohong, ah!" Teriak Kiana lagi.


"Jovian!?" Sang ayah kembali memanggil.


Dan orang yang di maksud kembali menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Apa yang kamu lakukan sampai menantuku berteriak seperti itu?"


Jonathan segera berjalan mendekat, sambil sesekali menggerutu.


"Hanya sedikit kesalahpahaman!" Ujar Jovian.


Pandangannya terus menengadah, mengikuti kemana Jonathan bergerak, sampai akhirnya dia merebut benda pipih dari genggaman Jovian. Dan tampaklah raut wajah sendu Kiana di memenuhi layar handphone itu.


"Kia?" Sapa Jonathan sambil tersenyum.


"Ah Aki-aki itu mulai lagi!" Gumam Jovian seraya memutar kedua bola matanya.

__ADS_1


"Hey? Kamu sedang kesal kepada Jovian? Ya, memang dia sangat menyebalkan orangnya." Jonathan terus berbicara kepada Kiana melalui sambungan video call.


Kiana yang awalnya terlihat sangat kesal. Tiba-tiba saja tersenyum, dan sembari mengangguk-anggukan. Sementara Jovian bersandar pada pembatas saung yang terbuat dari bambu, dengan raut wajah memelas.


"Papi sedang bekerja?"


"Iya. Ada sedikit rezeki, dan kebun tehnya Papi perluas lagi, agar nanti cucu-cucu Papi makmur." Pria itu tersenyum lagi. "Jangan marah yah? Jovian sedang membantu Kakek tua ini, … jadi mungkin tidak bisa pulang cepat." Sambung Jonathan, yang langsung di jawab anggukan oleh Kiana.


"Kalau memang sibuk tidak apa-apa."


Dan jawaban itu terdengar jelas, membuat Jovian membulatkan mata dengan segera.


"Apa? Begitu saja? Sementara tadi kamu langsung merajuk? Mengatakan kalau aku ini bohong?" Teriak Jovian dengan raut frustasi.


"Ya kamu memang bohong. Katanya mau pulang hari ini, tapi tidak! Coba awal-awal nggak usah janjiin kapan kamu mau pulang, aku nggak bakalan nungguin." Jawab Kiana.


Jovian menghirup dan menghembuskan nafasnya beberapa kali, memejamkan mata, lalu menyapu wajahnya cukup kencang.


Hampir saja Jovian kembali membuka mulut untuk menjawab, namun dengan segera Jonathan mengacungkan satu jari telunjuknya, memperingati sangat putra agar tidak kembali berbicara, yang mungkin saja akan menambah kesalahan perempuan cantik yang saat ini berada jauh di Tangerang sana.


"Ya sudah. Sekarang Kia boleh pergi dulu, kemanapun yang Kia mau. Mungkin berbelanja pakaian, ke salon, atau mendatangi Dokter kulit untuk memeriksakan kulit Kia yang sehat dan cantik itu yah, … kirimkan nomor rekeningnya, nanti Papi transfer." Ucap Jonatha sambil tersenyum-senyum, seperti sedang membuat anak gadisnya agar tidak merasa terus kesal.


Namun, reaksi lain Jovian perlihatkan. Matanya membelalak, hendak merebut handphone dari genggaman sang ayah, tapi Jonathan tidak memberikannya dengan mudah.


"Eh tapi Papi nggak usah transfer yah. Kia juga ada uang, … kartu On Jovian juga ada di aku, jadi nggak usah di kirim, oke? Itu simpan untuk Papa beli bubur ayam besok pagi." Ujar Kiana seraya memperlihatkan senyuman manisnya.


"Kalau begitu boleh di tutup teleponya, sudah selesai Jovian pasti pulang."


"Baby tunggu, jangan dengarkan Papi!"


Nahas, nyatanya sambungan telepon itu terputus, membuat Jonathan dengan segera memberikan benda pipih itu kembali kepada sang pemilik.


"Haih!"


"Sudah. Setidaknya Kiana tidak merasa kesal lagi." Katanya.


Mata Jovian mendelik, dengan helaan nafas yang terdengar sangat kencang.


"Bagaimana Papi tahu kalau Kiana tidak kesal lagi!" Cicit Jovian. Dia menghela nafas, lalu meremat rambutnya sangat kencang.


***

__ADS_1


Kiana berjalan menuruni tangga, dengan keadaan yang sangat berbeda. Rambut mulai memanjang yang di cepol tidak terlalu rapi, hingga menyisakan beberapa helai anak rambut di setiap sisi kiri dan kanan.


Belum lagi makeup yang sedikit terlihat lebih tebal. Lipstik berwarna coklat, dengan garis eyeliner menghiasi kelopak mata, tak lupa maskara yang membuat bulu mata Kiana menjadi lentik, juga ukiran alis yang tampak begitu sempurna, membuat perempuan itu benar-benar berbeda pada hari ini.


Semilir wewangian menyeruak, menyapa indra penciuman Herlin juga Danu yang sedang duduk santai di sofa ruang tengah.


"Sayang? Kamu mau pergi?" Herlin langsung berelasi, ketika menyadari keberadaan putrinya.


Pun dengan Danu yang sedang menatap layar iPad nya, dia mengalihkan perhatian dengan segera ke arah Kiana.


"Hemmm, … aku mau jalan-jalan dulu yah!?" Izin Kiana.


"Kemana? Sudah izin Jovian dulu?" Danu menarik lepas kacamata bacanya.


Kiana segera mengangguk. Meskipun sesungguhnya dia merasa ragu, karena yang memberinya ide untuk pergi adalah ayah dari suaminya.


"Mau Papa minta Denis untuk menemani?"


"Hanya mampir ke satu mall saja. Lihat-lihat pakaian, atau mungkin mampir ke salon! Aku udah lama nggak rawat rambut aku, … terus kayaknya pas pulang mampir dulu ke apartemen, sekalian penuhin stok makanan disana. Masa uangnya dikasih ke aku, tapi kebutuhan isi perut malah nggak aku pikirin, padahal sudah kewajiban aku." Jelas Kiana.


Kedua orang tuanya diam, melirik satu sama lain, sebelum akhirnya tersenyum dan menganggukan kepala, sebagai tanda setuju.


"Kamu butuh uang tambahan dari Papa?"


"Tidak usah. Kartu Papa masih ada di aku, jadi ini juga masih bisa dipakai kalau memang keadaannya sangat darurat." Ujar Kiana.


"Baiklah."


"Kalau begitu Kia berangkat dulu."


"Iya."


Herlin dan Danu mengangguk bersamaan, seraya menatap kepergian putri mereka dengan perasaan sedikit tidak percaya. Segala sesuatu yang ada dalam diri Kiana kini sudah berubah perlahan-lahan, dari sikap dan bertutur kata, juga penampilan yang terlihat semakin dewasa dengan sentuhan make-up yang Kiana aplikasikan di wajah.


"Papa sadar nggak? Kalau Kiana kelihatan lebih cantik sekarang. Wajahnya selalu berseri-seri, juga tubuh yang terlihat sedikit berisi."


"Ya, dia bahagia dengan pilihan kita. Dan apa yang kita lakukan sepertinya tidak membuat Kiana merasa tertekan, … tentu saja, dia mencintai Jovian! Dan itu bagus." Ucap Danu dengan senyuman di bibir yang tak hentinya terlihat.


Pria itu meraih handphone yang tergeletak di atas meja. Dan mulai menghubungi seseorang, sampai Danu mendekatkan benda pipih itu ke arah daun telinganya.


"Halo?" Seseorang terdengar menyapa dari sambungan teleponnya.

__ADS_1


"Pergi, tapi jangan sampai Kiana menyadarinya. Pastikan dia tetap aman, dan jauhkan dari bahaya apapun." Pinta Danu.


Sementara Herlin hanya diam mendengarkan. Dia sudah merasa tidak aneh, karena memang itu yang selalu suaminya lakukan. Mengawasi Kiana agar putri mereka terus berada di zona aman, jauh dari hal buruk, mengingat pesaing bisnisnya yang cukup banyak, dan mereka dapat melakukan apa saja untuk meruntuhkan pertahanannya.


__ADS_2